Senin, 31 Desember 2012

Perihal cinta #4

Sepertinya sudah lama sekali saya tidak membicarakan topik ini. Beberapa waktu lalu, tanpa sengaja, saya menemukan sebuah buku bertemakan cinta dari tumpukan buku di rumah saya dan ada beberapa kalimat yang sangat menarik untuk saya tulis kembali disini.

Kali ini saya akan membicarakan soal arti cinta. Ada yang mau mendefinisikan apa itu cinta? Kata seorang teman, cinta berarti taat, seperti cinta seorang hamba kepada penciptanya. Cinta kita kepada Allah akan menjadikan kita seorang manusia yang taat. Cinta seorang rakyat kepada pemimpinnya pun akan menjadikan mereka taat. Cinta seorang anak kepada orangtuanya pun begitu, melahirkan sebuah ketaatan. Temanku yang lain berpendapat, bahwa cinta berarti memberi. Seorang yang mencinta maka akan selalu berusaha memberi kepada yang dicinta. Baik itu sebuah kebahagiaan, ketaatan, kasih sayang, dan yang lainnya.

Di buku yang sedang saya baca , seorang muslimah memberikan beberapa definisi mengenai cinta. Menurutnya, cinta adalah segala emosi suci antara dua insan yang saling mengharapkan kesuksesan dan kebahagiaan untuk yang lainnya. Cinta adalah gejolak perasaan yang menyelimuti hati dan menjaganya dari badai kehidupan serta kedinginan. Cinta adalah tatapan lembut yang merasuki dua orang pencinta. Cinta adalah lirik kata-kata yang menghiasi hati, mampu menabur benih senyuman bagi siapapun yang mendengarnya, menghilangkan segala kesedihan dan memantapkan cita-cita. Cinta adalah perasaan nyaman dan tenteram di samping orang yang paling kita cintai. Cinta adalah rasa malu seorang wanita dan pipinya memerah ketika nama kekasihnya disebutkan. Cinta adalah gemetarnya tangan seorang lelaki dan linangan air mata kebahagiaan tiap kali terlintas bayangan wajah kekasih wanitanya. 

Sedangkan, Ibnu Qayyim rahimahullah, menuturkan bahwa cinta adalah kehidupan yang bersemayam dalam hati dan makanan ruh. Hati tidak akan pernah merasakan kenikmatan, kesenangan, kebahagiaan dan kehidupan kecuali bila di dalamnya terdapat cinta. Bila hati kehilangan cinta, sakitnya lebih hebat ketimbang mata yang kehilangan cahayanya, telinga yang kehilangan pendengarannya, hidung yang kehilangan penciumannya dan lisan yang kehilangan kefasihannya. Bahkan hati akan rusak bila sunyi dari cinta suci. Kebimbangannya akan lebih berat daripada kerusakan tubuh karena kehilangan ruh. 

Begitu banyak definisi cinta yang digambarkan di buku ini dan saya cukup sepakat dengan beberapa definisi di antaranya. Bagaimana dengan kamu?  Apa ada yang sesuai dengan definisi cinta menurutmu? Atau malah memberikan inspirasi baru bagi yang masih menebak-nebak arti cinta? 

Jumat, 14 Desember 2012

5 cm untuk Indonesia !

"Kamu taruh di sini,, jangan menempel di kening. Biarkan dia menggantung.. mengambang.. 
5 centimeter di depan kening kamu" ( 5cm. Donny Dhirgantoro )





Sejak pertama kali saya membaca buku ini di tahun 2005, saya langsung tertarik dengan filosofi dari "5 cm" ini. Sebuah keyakinan akan pencapaian mimpi. Saat kita meletakkan mimpi itu 5 cm di depan kening kita, maka kita akan selalu melihat mimpi itu setiap hari, setiap saat, dan kita akan selalu mengatakan pada diri kita bahwa kita bisa mencapai mimpi itu apapun hambatannya. 

Cerita persahabatan memang selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi saya . Dan hebatnya, Donny Dhirgantoro berhasil menggabungkan nilai persahabatan ini dengan cinta, mimpi, keindahan alam dan juga rasa nasionalisme yang tinggi. Imajinasi saya benar-benar dijamu dengan sangat baik oleh cerita lima sahabat ini. Cerita pendakian ke puncak tertinggi di Pulau Jawa, yaitu puncak Mahameru , juga telah membuat saya, untuk pertama kalinya,  ingin merasakan naik gunung dan berada di atas awan. 

Saya memang bukan pengamat film, tapi setelah saya menyaksikan cerita 5 cm yang akhirnya di filmkan dan diperankan oleh beberapa aktor muda Indonesia., saya bisa mengatakan bahwa film ini sama sekali tidak mengecewakan saya sebagai pembaca buku 5cm. Hampir semua detil yang ada di buku benar-benar diambil oleh Rizal Mantovani ke dalam film ini, bahkan nilai humor yang disajikan di buku juga berhasil disajikan kembali ke dalam film ini dengan sangat baik. Aktor muda yang memerankan tokoh lima sahabat ini pun tidak jauh berbeda dengan tokoh lima sahabat yang ada di benak saya ketika membaca bukunya dulu. Kemampuan akting mereka telah berhasil membuat saya begitu mendalami film ini.

Keindahan panorama Indonesia ditampilkan dengan sangat cantik di film ini. Berkali-kali, saya harus menahan rasa haru karena menyadari betapa cantiknya Indonesia. Berkali-kali pula, saya dibuat kembali merinding ketika melihat kemegahan alam Indonesia. Dan, saya bisa begitu merasakan kebahagiaan dan keharuan lima sahabat ini ketika akhirnya tiba di puncak Mahameru. Sejak awal membaca buku ini, saya sudah membayangkan, jika cerita di buku ini dijadikan film, maka film itu pasti akan menarik dan mengetuk kembali rasa nasionalisme para pemuda Indonesia yang selama ini mungkin sudah terkubur dalam. 

Selesai menonton film ini, ada banyak hal yang berlalu lalang di pikiran saya. Tentang cinta dan persahabatan. Tentang mimpi dan harapan. Tentang kecintaan pada tanah air Indonesia.Terima Kasih Donny Dhirgantoro, terima kasih Rizal Mantovani dan seluruh aktor yang berhasil membuat saya memvisualisasikan imajinasi saya tentang 5 cm.Terima kasih Indonesia !!

"Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.
Dan, sehabis itu yang kamu perlu cuma
kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya
tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya
leher yang akan lebih sering melihat ke atas
lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja
dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya
serta mulut yang akan selalu berdoa "
_5cm. Donny Dhirgantoro_

Kamis, 29 November 2012

Jaga kesehatan gigi dan mulut yuk!

DHE ( Dental Health Education) adalah pendidikan mengenai kesehatan gigi dan mulut yang selalu diberikan dokter gigi kepada pasiennya di  awal perawatan. Hal ini dilakukan karena menurut seorang ahli kesehatan masyarakat, perilaku pasien sangat mempengaruhi tingkat kesehatannya dan pengetahuan pasien cukup mempengaruhi perilakunya. Setelah beberapa kali melayani konsultasi gratis mengenai kesehatan gigi mulut dengan teman-teman non fkg, rasa-rasanya kurang afdhol, kalau saya, sebagai mahasiswa koas fkg yang sudah beberapa kali  memberikan DHE kepada pasien di klinik kampus , tidak membahas mengenai hal-hal dasar kesehatan gigi dan mulut dalam blog ini. Yang akan saya bahas kali ini lebih ke arah pencegahan karena mencegah lebih baik daripada mengobati. 

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai kesehatan gigi mulut, saya hanya ingin mengingatkan bahwa gigi adalah bagian dari dalam tubuh kita yang mengandung lebih banyak material anorganik dibandingkan dengan material organik. Oleh karena itu, ketika struktur gigi mengalami kerusakan,  maka gigi tidak akan bisa  memperbaiki kerusakan struktur tersebut hingga kembali seperti semula, berbeda dengan kulit manusia yang jika terluka bisa sembuh dengan sendirinya. Gigi yang sehat adalah anugrah dari Allah , maka seharusnya, kita bisa mensyukurinya dengan cara menjaga kesehatan gigi tersebut. Mau sebaik apapun gigi tiruan yang sudah ditemukan oleh para ilmuwan saat ini, gigi asli yang merupakan ciptaan Allah tetap tidak ada tandingannya. 

Ada beberapa poin yang harus diingat dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut :

1. Setelah digunakan untuk mengunyah makanan selama seharian, maka gigi kita harus dibersihkan dari sisa-sisa makanan yang nantinya bisa dimanfaatkan kuman untuk membuat lubang di gigi. Caranya adalah dengan menyikat gigi di waktu yang  benar dengan cara yang benar. Waktu yang tepat untuk menyikat gigi adalah setelah makan pagi dan sebelum tidur. Lebih baik lagi, jika setelah makan, diberikan jeda waktu sekitar 30 menit sebelum akhirnya menyikat gigi. Lalu, cara menyikat gigi yang benar adalah dengan gerakan ke atas bawah untuk gigi depan dan gerakan memutar untuk gigi bagian belakang. Sikat seluruh permukaan menggunakan sikat gigi dengan bulu sikat yang halus dan sudah diberi pasta gigi berfluoride. Jangan lupa untuk menyikat permukaan gigi bagian dalam yang dekat dengan lidah dan langit-langit. Harus diingat : Jangan menyikat dengan gerakan ke kanan kiri karena ini adalah cara yang salah. 

Adik2 di SD yang bersemangat menyikat gigi..

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kalau tidak karena memberatkan umatku, tentu aku memerintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak sholat.”

Untuk kondisi gigi yang rapat dan berjejal, ada baiknya menggunakan dental floss untuk membantu membersihkan sisa makanan yang berada di sela-sela gigi dan sulit dibersihkan dengan sikat gigi. 


2. Jagalah kualitas air liur kita dengan minum air putih yang cukup setiap harinya (2,5 liter /  hari). Kualitas dan kuantitas air liur cukup berperan dalam menjaga kebersihan mulut. Selain dengan meminum air putih yang cukup, mengunyah permen karet yang mengandung xylitol juga dapat membantu menjaga kualitas dan kuantitas air liur.

3. Perhatikan makanan yang kita konsumsi. Kita boleh memakan makanan manis, tapi perhatikan frekuensinya. Jika setiap hari memakan makanan yang manis, ada baiknya diberikan jeda waktu selama 2 jam antara konsumsi makanan manis tersebut dan mulai mencari bahan pengganti gula untuk mengurangi konsumsi gula. Contoh konsumsi rutin makanan manis adalah minum teh manis setiap hari, minum minuman soda setiap hari, dll. Selain makanan manis, kita juga harus memperhatikan makanan asam karena asam juga dapat mengakibatkan rusaknya struktur gigi. Makanan yang sangat disarankan untuk membantu menjaga kesehatan gigi mulut kita adalah sayur mayur dan buah-buahan. 

4. Kalau kita sudah menjaga kesehatan gigi dan mulut kita dengan baik, jangan lupa untuk tetap memeriksakan kondisi gigi kita ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali ( bukan promosi lho), minimal untuk membersihkan karang gigi karena karang gigi tidak dapat dibersihkan dengan sikat gigi saja, melainkan  harus menggunakan alat yang ada di dokter gigi. Karang gigi ini bisa tumbuh di dalam mulut kita karena air liur kita mengandung kalsium dan dapat membentuk karang gigi. Kalau karang gigi ini dibiarkan terus tumbuh hingga banyak, maka selain berdampak buruk pada penampilan, karang gigi juga bisa menyebabkan bau mulut dan merusak jaringan gusi dan sekitarnya sehingga terjadilah yang namanya radang gusi ( gingivitis ) dengan gusi yang bengkak dan kemerahan. Jadi, jangan lupa untuk ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali ya!! Jangan menunggu sampai ada rasa sakit , karena mencegah lebih baik dari mengobati kan?



Kondisi kesehatan gigi dan mulut sangat mempengaruhi keadaan nutrisi tubuh kita secara keseluruhan, kalau gigi ada yang sakit, makan pun jadi tak enak, beraktifitas pun terganggu. Kondisi gigi dan mulut juga akan menjadi salah satu bagian dari penampilan kita yang akan diperhatikan oleh lawan bicara kita. Jadi, ayo syukuri nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita berupa gigi yang sehat dan kuat dengan menjaganya dan merawatnya dengan baik. 

Bismillah,, jaga kesehatan gigi dan mulut yuk! 

Kamis, 22 November 2012

Ujian komprehensif, Hujan dan Jakarta



Siapa yang tidak tahu bahwa Jakarta itu sangat identik dengan kemacetan. Berbagai usaha sudah dilakukan oleh pemda Jakarta untuk mencoba menangani permasalahan ini, seperti peraturan 3 in 1 di daerah sudirman-thamrin, pembuatan jalan bebas hambatan di hampir seluruh wilayah kota Jakarta, pengadaan bus transjakarta dan commuter line. Tapi ternyata  usaha-usaha ini masih belum mampu menjadi solusi bagi  masalah kemacetan di Jakarta. Saya, sebagai pengguna rutin jalanan di jakarta, mungkin sudah cukup memahami kondisi Jakarta yang seperti ini. Saat hari raya idul fitri sajalah, Jakarta bisa terlihat lengang karena penduduknya banyak yang mudik ke kampung halaman. Selain hari itu, maka hari-hari sisanya adalah "tiada hari tanpa macet" di Jakarta.



Kemacetan yang biasa terjadi sudah menjadi pemakluman tersendiri buat saya yang bertempat tinggal di kota sebelah, Tangerang , namun beraktivitas di Jakarta. Dengan jarak kurang lebih 40 km, waktu yang saya butuhkan dari Salemba ke rumah biasanya berkisar 1-1,5 jam. Namun beberapa hari terakhir, yang saya alami bukanlah macet yang biasa, karena dilengkapi dengan hujan yang mengguyur jalanan Jakarta.  Hujan membuat para pengendara motor berteduh hampir  di bawah setiap jembatan, terowongan dan fly over yang mengakibatkan jalur yang tadinya ada tiga menjadi tinggal dua. Hujan juga membuat jalanan Jakarta tergenang dan mobil-mobil akan berjalan lebih lambat dibanding biasanya. 


Hari Selasa, 13 nov 2012, saya berencana untuk pulang lebih sore dari kampus karena akan belajar bersama dengan teman-teman di perpustakaan untuk mempersiapkan ujian komprehensif keesokan harinya. Tiba-tiba, hujan deras mulai mengguyur jalanan Jakarta sejak ashar. Saya masih berharap hujan akan reda disaat saya akan pulang kerumah. Tapi sampai pukul 17.00, hujan belum juga berhenti. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang menggunakan taksi. Kemacetan mulai terjadi dimana-mana karena hujan deras yang tidak kunjung reda. Alhamdulillah, akhirnya saya tiba di rumah tercinta pada pukul 19.30. 2,5 jam perjalanan cukup membuat saya lelah walaupun hanya duduk di dalam taksi. Mengingat besok akan ada ujian dengan 100 soal  yang harus diselesaikan dalam waktu 100 menit, maka saya pun segera beristirahat dan mempersiapkan diri untuk ujian besoknya. 

Ujian komprehensif dilakukan selama 2 hari, oleh karena itu,  Senin, 19 nov 2012, saya kembali belajar dengan teman-teman saya untuk persiapan ujian esok hari. Tapi, kali ini saya dan teman-teman mencoba belajar dirumah teman saya di daerah Cikini. Lagi-lagi, hujan mengguyur jalanan Jakarta sejak ashar. Rencananya, hari ini saya akan pulang dengan ayah saya yang akan menunggu saya di kantornya di daerah Monas. Setelah kegiatan belajar selesai dan melihat langit yang semakin gelap, saya memutuskan untuk mulai beranjak ke kantor ayah saya dengan menggunakan taksi dari arah Cikini sekitar Pukul 17.00. Biasanya, perjalanan cikini - monas akan membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit. Tapi, sepertinya hujan di sore ini akan membuat waktu perjalanan saya sedikit lebih lama.

Saya benar-benar tidak menyangka bahwa pada pukul 18.00, saya masih berada di daerah Menteng yang mungkin hanya berjarak sekitar 3 km dari tempat saya naik taksi pertama kali. Lampu lalu lintas di daerah Menteng Huis menuju Tugu Tani sudah menunjukkan warna merah dan hijau bergantian sebanyak 6 kali, namun taksi saya tidak menunjukkan adanya pergerakan sedikitpun. Setelah menelpon ayah saya yang sudah menunggu di kantornya sejak 1 jam yang lalu, akhirnya pada pukul 18.40 saya memutuskan untuk belok ke arah masjid cut meutia dan bermaksud untuk melewati kebon sirih. Tapi ternyata kondisinya tidak jauh berbeda, masih saja macet tanpa ada pergerakan yang signifikan. Bapak supir taksi pun mulai menyerah. Sempat terpikirkan oleh saya untuk turun dari taksi dan naik ojek, tapi hujan masih rintik dan kondisi yang kurang aman di malam hari membuat saya membatalkan niat saya itu. Dari bapak supir taksi, diketahui bahwa jalanan kebon sirih pun macet total dan tidak ada jalan lain lagi selain lewat Thamrin. Bapak supir taksi memberi saran agar saya turun saja di hotel Pullman di depan bundaran Hotel Indonesia, lalu menyambung dengan taksi lain atau bus transjakarta menuju kantor ayah. Akhirnya, setelah bertanya dengan ayah saya lewat telepon, saya pun menyetujui saran bapak supir taksi.

Alhamdulillah, pukul 19.50 saya sudah sampai di depan bundaran HI dan turun dari taksi yang argonya sudah mencapai angka 85.000. Ya, 85.000 rupiah untuk perjalanan dari Cikini menuju HI dalam waktu 3 jam. Sebenarnya saat itu, saya sedang berpuasa dan baru membatalkan puasa saya dengan sebuah permen yang ada di tas saya. Tapi, dari depan hotel Pullman menuju jembatan penyebrangan, saya tidak ingat lagi kebutuhan saya untuk membeli minum karena yang ada di otak saya saat itu hanyalah 'bagaimana caranya saya bisa sampai di kantor ayah saya secepatnya'. Ayah saya sudah dengan sabar menunggu saya di kantornya selama 3 jam. 

Di atas jembatan penyebrangan, sambil melihat arus jalanan Thamrin di bawahnya yang menuju Monas, saya mulai bingung untuk memilih antara naik bus transjakarta atau naik taksi. Setalah bolak balik, akhinya saya memutuskan untuk masuk ke dalam antrian para calon penumpang bus transjakarta. Antriannya cukup panjang sampai ke atas jembatan karena loket ditutup sementara sampai kondisi di dalam halte tidak terlalu penuh. Sambil menunggu, saya menelpon kakak saya dan menceritakan kondisi yang saya alami, sambil bercanda, dia menyarankan saya untuk jalan kaki saja ke kantor ayah. Sempat terpikir juga untuk mengikuti sarannya karena sekitar 2 tahun yang lalu, saya pernah mengikuti aksi gerakan anti rokok dan melakukan longmarch dari bundaran HI ke monas, jadi saya sudah bisa membayangkan bagaimana kondisinya kalau saya harus jalan kaki ke kantor ayah. Tapi, kondisi yang sudah malam dan kelelahan setelah duduk di taksi selama 3 jam membuat saya bertahan untuk tetap berada di antrian itu. Setelah beberapa menit menunggu bus transjakarta yang datangnya cukup jarang dan kondisi jalanan thamrin yang tiba-tiba kosong membuat saya menjadi bimbang. Tetap mengantri dengan sabar atau menyerah dan mencoba mencari taksi di sebrang? 

Pukul 20.15, saya tidak juga masuk ke dalam halte karena loket masih ditutup, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari antrian lalu bergerak menuju depan Plaza Indonesia (sebrangnya Hotel Pullman). Alhamdulillah, hujan sudah berhenti, tapi jalanan di depan saya cukup becek dan menyebabkan saya harus beberapa kali tersiram air genangan karena mobil-mobil yang bergerak cepat di jalanan. Saya terus berusaha untuk memberhentikan taksi yang melewati jalanan di depan saya, tapi taksi-taksi yang lewat  terus menolak. Akhirnya pukul 20.30, saya memutuskan untuk berjalan kaki saja sambil terus berusaha untuk menghentikan taksi yang lewat.


Sebenarnya ada sedikit rasa takut saat harus menyusuri jalanan Thamrin di malam itu, tapi alhamdulillah, dari ujung Plaza Indonesia sampai depan kantor ayah saya, selalu ada orang lain yang juga berjalan di depan saya atau di belakang saya. Sambil terus berdzikir meminta perlindungan Allah, akhirnya saya pun menyusuri jalanan Thamrin bersama beberapa mas dan mbak kantoran yang juga berjalan menuju arah yang sama. Dengan kondisi baju yang basah karena sisa hujan dan keringat, perut yang mulai kelaparan, mulut yang mulai kehausan dan kaki yang kelelahan , alhamdulillah, akhirnya saya sampai di kantor ayah saya pukul 20.55. Begitu masuk ke dalam mobil, alhamdulillah , ayah saya sudah membelikan saya seporsi nasi goreng dan sebotol air putih untuk saya berbuka puasa. Alhamdulillah, setelah itu perjalanan ke rumah tidak terlalu macet karena lewat tol bandara. Saya tiba di rumah pukul 22.00 dan langsung beristirahat tanpa sempat membuka lagi bahan ujian untuk esok harinya.     




Dulu saya pernah mengalami perjalanan antar kota yang paling lama, yaitu saat saya ada acara di Depok menggunakan angkutan umum selama  3 jam 45 menit . Dan sekarang sudah ada pengalaman baru, saya menjalani 5 jam perjalanan dari Cikini ke rumah saya. Alhamdulillah, selama perjalanan itu, saya malah sering tertawa mengingat betapa lucunya pengalaman perjalanan  saya kali ini. Mulai dari menghindari daerah Tugu Tani tapi malah kena macet yang sama di Menteng sampai kebingungan saya antara naik bus transjakarta atau taksi yang akhirnya malah berujung dengan jalan kaki di malam hari. Terima kasih Jakarta untuk pengalaman yang tidak terlupakan. Semoga Jakarta bisa lebih baik lagi dalam penataan transportasinya. Semoga kata kemacetan tidak lagi identik dengan kota Jakarta, Aamiin... 

Minggu, 11 November 2012

Rumah Kita

Beberapa hari yang lalu, tanpa disengaja saya melewati sebuah sekolah mengaji yang terletak di sebuah gang kecil tempat pasien saya tinggal. Saat itu saya sedang menjemput pasien saya yang masih kelas 1 SD untuk dibawa ke klinik. Awalnya, saya tidak terlalu memperhatikan sekolah mengaji itu, tapi ketika saya melewatinya untuk kedua kali, saya menjadi teringat dengan kegiatan belajar mengajar yang dulu pernah saya lakukan dengan teman-teman kampus di daerah pemukiman seperti ini. 

Namanya Rumah Kita. 


Saat itu, saya masih berada di tingkat awal kuliah dan menjadi pengurus BEM FKG di departemen pengabdian masyarakat  (pengmas). Ada tiga orang senior saya angkatan 2003 yang tiba-tiba mengajak saya dan teman-teman dari pengmas untuk rapat membicarakan sebuah konsep rumah belajar. Tiga senior saya itu memaparkan ide mereka mengenai adanya sebuah rumah belajar yang dibuat oleh BEM FKG untuk masyarakat sekitar Salemba, mereka adalah petinggi BEM sebelumnya yang belum sempat merealisasikan ide ini. Awalnya sasaran kami adalah anak-anak jalanan yang tidak sekolah, tapi ternyata menjangkau anak-anak jalanan di daerah Jakarta sangat sulit, karena mereka sudah lebih dikuasai oleh preman-preman yang sulit diajak berkomunikasi. Akhirnya, kami mencoba mencari anak-anak di sekitar Salemba yang tidak mampu untuk sekolah. Tapi, kenyataannya, disaat program BOS sudah berjalan di Jakarta, sangat sulit menemukan anak-anak yang masih tidak sekolah, kalaupun ada, meraka adalah anak-anak yang memang tidak mau untuk sekolah bukan karena tidak mampu untuk membayar biaya sekolah. Akhirnya, kami turunkan lagi sasarannya. Kami mencoba untuk menjadikan rumah belajar ini sebagai tempat les gratis untuk anak-anak SD di daerah Salemba. 

Kami bersembilan ( enam orang anggota pengmas BEM FKG UI 2008/2009 dengan tiga orang senior angkatan 2003 ) mulai mencari tempat yang bisa dijadikan sebagai rumah belajar ini. Kami mulai mencari dan menyusuri jalanan di sekitar pemukiman padat Salemba sampai akhirnya di Salemba Bluntas lah, rumah belajar ini bisa diwujudkan. Setelah berbicara dengan pengurus RT dan RW, kami mendapatkan ijin untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar setiap sore di balai warga Salemba Bluntas. Akhirnya, rumah belajar ini bisa segera direalisasikan. Kami juga mulai mempersiapkan segala sarana dan prasaran untuk rumah belajar ini. Kami mengadakan studi banding ke TIS ( Teknik Informal School ) yang dimiliki Fakultas Teknik UI untuk mempelajari sistem rumah belajar mereka, baik mengenai kurikulum maupun sistem belajar mengajarnya. Kami juga mulai menjaring mahasiswa yang ingin berpartisipasi menjadi pengajar di rumah belajar ini. 

Alhamdulillah, di bulan Desember 2008, rumah belajar yang kami namakan RUMAH KITA ini pun dibuka. Perwujudan rumah belajar ini memang melalui proses yang cukup lama. Konsep rumah belajar ini mulai dirintis saat saya masih menjadi staf departemen pengmas dan akhirnya baru bisa mulai berjalan saat saya sudah menjadi kepala departemen pengmas BEM FKG. Kegiatan belajar mengajar mulai berjalan dengan baik. Anak-anaknya cukup antusias dalam mengikuti kegaiatan belajar mengajar ini. Kami membantu anak-anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan mempersiapkan ujiannya. Di akhir semester, kami memanggil orangtua anak-anak untuk memberikan buku laporan dari rumah belajar ini. Karena kami adalah mahasiswa kedokteran gigi, maka terkadang kami juga menyisipkan materi penyuluhan mengenai kesehatan gigi dan mulut kepada anak-anak dan para orangtuanya. Namun sayangnya, sejak awal jumlah tenaga pengajar masih saja kurang. Dan ternyata, sampai detik ini, tahun 2012, setiap saya menanyakan kabar rumah kita kepada adik kelas, permasalahan pengajar ini masih saja ada. 

Saat ini, RUMAH KITA sudah berusia hampir 4 tahun. Saya sendiri, memang sudah tidak terjun langsung di dalamnya. Bahkan, sejak masuk klinik, saya sudah jarang sekali ikut mengajar disana. Terkadang, saya ingin sekali mengajar lagi dan bermain-main dengan anak-anak disana, tapi akhirnya yang bisa saya lakukan hanyalah memantau perkembangan dan keberlangsungan RUMAH KITA dari pengurus BEM saat ini. Semoga suatu saat nanti, saya bisa kembali lagi memberikan kontribusi nyata untuk rumah belajar ini dan semoga rumah belajar ini bisa terus hadir untuk masyarakat Salemba. Aamiin.. 


Sabtu, 06 Oktober 2012

Kehilangan

Setiap orang pasti pernah mengalami kehilangan, baik kehilangan sesuatu yang dianggap kecil dan tidak terlalu penting sampai kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya. Beberapa hari yang lalu, sahabat saya kehilangan dompetnya, kakak kelas saya kehilangan ponselnya dan bahkan paman saya harus kehilangan anaknya. Setiap ada kehilangan, maka selalu ada pelajaran tambahan. Beberapa orang menganggap bahwa kehilangan  sesuatu yang sangat dicintai merupakan satu bentuk teguran dari Allah bahwa kita kurang amanah menjaga titipan Allah. Kehilangan juga mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang pernah kita miliki di dunia ini hanyalah titipan dari Allah yang akan kembali kepadaNya. Kehilangan mengajarkan kita akan arti sebuah kesabaran, keihklasan dan keyakinan kepada Allah atas segala rencanaNya. 

Menurut saya, ikhlas adalah pelajaran yang sangat sulit untuk dilalui. Saat mengalami kehilangan barang  seperti uang, ponsel atau perhiasan saja, terkadang kita sulit untuk ikhlas. Apalagi kehilangan orang yang kita cintai, rasanya ikhlas menjadi semakin sulit untuk dirasakan. Saya teringat sebuah film yang diadaptasi dari novel dengan judul "hafalan salat delisa". Film ini menggambarkan sebuah kehilangan besar yang dirasakan oleh seorang anak kecil. Anak ini harus kehilangan ibu, tiga kakak dan sebelah kakinya karena bencana tsunami di Aceh. Mungkin, untuk perempuan seperti saya, menonton film ini sama saja dengan menangis tiada henti. Tapi, hikmah yang bisa saya ambil dari film ini adalah sebuah keikhlasan yang bisa ditunjukkan oleh sang anak dalam menghadapi cobaan di hidupnya. Delisa memang masih anak-anak yang terkadang mudah terbawa emosi tapi dia dapat dengan sabar dan ikhlas menjalani hidup barunya dengan bahagia tanpa ibu, tiga kakak dan sebelah kakinya.

Berbicara tentang kehilangan dan keikhlasan, saya juga langsung teringat kepada kekasih tercinta, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang mengalami banyak kehilangan besar di hidupnya. Ayah, Ibu dan kakeknya meninggal saat beliau masih anak-anak. Bahkan, seluruh kerabatnya perlahan meninggalkan beliau saat beliau menyiarkan agama Allah. Seorang wanita yang amat dicintainya, Siti Khadijah , juga meninggalkan beliau di awal masa kenabiannya. Beliau juga kehilangan paman yang sangat dicintai dan mencintainya, Hamzah, di perang Uhud. Dan dari segala cobaan yang dihadapinya, Rasulullah tetap menjadi seorang manusia yang sabar dan ikhlas. Rasulullah tidak pernah mempertanyakan kehilangan yang dialaminya kepada Allah.

Rasulullah memang seorang Nabi, seorang manusia yang sempurna. Tapi, sebagai pengikutnya, ada baiknya kita berusaha untuk mencontoh kesabaran dan keikhlasan yang dimiliki Rasulullah. Semoga semua teman dan kerabat yang sedang mengalami kehilangan diberikan kekuatan untuk sabar dan ikhlas menghadapi segalanya karena semua hanyalah titipan Allah yang akan kembali kepadaNya. Aamiin..

Selasa, 25 September 2012

Apa yang salah dengan jilbab saya?

Penggunaan jilbab di masyarakat Indonesia memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam waktu 20 tahun terakhir ini. Yang saya ingat, di tahun 90an, penggunaan jilbab masih sering dipermasalahkan oleh berbagai kalangan. Beberapa sekolah negeri, melarang siswinya untuk mengenakan jilbab. Beberapa kantor juga melarang pegawainya mengenakan jilbab. Muslimah yang mengenakan jilbab di masa itu sering sekali diasosiasikan dengan teroris, penganut ajaran aneh, atau orang-orang keluaran pesantren yang kuno. Di masa itu, orangtua pun akan sangat bertanya-tanya ketika anaknya yang baru saja beranjak dewasa memutuskan untuk berjilbab, disangka mengikuti pengajian tertentu lah, atau prasangka buruk lainnya. Yang boleh menggunakan jilbab dimasa itu adalah ibu-ibu yang sudah tua dan sudah pergi haji. Seingat saya, itulah persepsi masyarakat Indonesia mengenai jilbab di tahun 90an.

Menginjak tahun 2000an, masyarakat Indonesia sudah bisa lebih membuka pikirannya mengenai perintah jilbab yang sudah jelas terdapat di kitab suci umat muslim, Al-Quran. Penggunaan jilbab di kalangan para muslimah pun semakin ramai, walaupun memang masih ada beberapa kantor yang melarang pegawainya berjilbab atau masih ada juga orangtua yang beranggapan bahwa jilbab adalah penghalang bagi anak putrinya untuk mendapatkan jodoh. Alhamdulillah, saya sudah mulai mengenakan jilbab sejak tahun 2002. Saat itu saya duduk di kelas 1 SMP, dan dari sekitar 40 siswa perempuan angkatan saya, hanya 4 orang siswa yang menggunakan jilbab. Saat itu, penggunaan jilbab memang sudah tidak menjadi hal yang aneh, tapi masih terhitung sedikit dan tidak seramai saat ini. Bahkan, saat saya mengikuti lomba di sekolah yang mayoritas siswanya adalah non muslim, jilbab saya cukup menarik perhatian mereka karena mereka belum pernah melihat orang berjilbab seperti saya. 

Sepuluh tahun kemudian, tahun 2010, alhamdulillah, semakin banyak masyarakat muslim di Indonesia yang memahami perintah wajib dari penggunaan jilbab ini. Bahkan pemikiran mengenai jilbab yang sangat sering dianggap tidak modis pun sudah berubah. Di tahun ini, makin banyak public figure yang akhirnya memutuskan untuk berjilbab dan semakin banyak pula desainer-desainer muda yang berusaha untuk menunjukkan kepada seluruh masyarakat bahwa penggunaan jilbab juga bisa tampil modis. Tren jilbab pun menjadi semakin ramai di kalangan muslimah Indonesia. Bahkan, ada beberapa orang yang akhirnya memutuskan berjilbab karena tren jilbab ini. Jilbab pun tidak lagi diasosiasikan dengan teroris dan ajaran sesat.

Penggunaan jilbab di negara yang mayoritas non muslim pun sudah mengalami banyak perkembangan. Walaupun di tahun 2001, kejadian teror di Amerika sempat membuat jilbab sangat ditentang oleh beberapa negara maju, saat ini, berdasarkan pengalaman teman-teman saya, jilbab sudah lebih dihargai dan toleransi mereka pun sangat baik terhadap kebebasan beragama. 

Tapi ternyata sampai saat ini,  di negara kita sendiri, Indonesia, masih ada beberapa pihak yang menganggap jilbab sebagai sesuatu yang aneh dan tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam sebuah iklan televisi. Saya mengalaminya sendiri. Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman saya diminta untuk mewakili kampus  dalam wawancara dengan sebuah perusahaan besar yang berkaitan dengan dunia kedokteran gigi mengenai program kerjasama yang sudah dilaksanakan selama beberapa kali. Disaat saya sudah siap untuk memulai sesi wawancara, tiba-tiba pihak dari perusahaan tersebut meminta teman saya untuk mencarikan lagi satu orang mahasiswa yang akan menggantikan saya karena saya tidak jadi di wawancara dengan alasan jilbab. Seumur hidup saya menggunakan jilbab, baru kali ini ada seseorang yang mempermasalahkan jilbab yang saya kenakan. Saat itu, saya cukup merasa terganggu dengan pernyataannya dan akhirnya saya pun pergi tanpa menanyakan alasannya. Ternyata, alasan mereka adalah karena sebenarnya yang akan dilakukan bukanlah wawancara melainkan pengambilan gambar untuk iklan produk mereka, dan oleh karena itu , untuk "branding" produk mereka, mereka meninginkan sesuatu yang netral dan tidak mewakili apapun. 

Saya masih tidak habis pikir dengan pola pemikiran mereka. Saya bukanlah orang pemasaran yang mengerti mengenai strategi pemasaran yang baik, tapi saya masih belum memahami letak kesalahan jilbab saya dalam iklan mereka. Kalau produk mereka adalah shampoo atau pewarna rambut, mungkin saya bisa memahami. Tapi, produk mereka adalah sesuatu yang berkaitan dengan kedokteran gigi. Ternyata, di tahun 2012 ini, masih saja ada beberapa orang yang mempermasalahkan jilbab. Semoga Allah segera memberi mereka hidayah, aamiin.




Kamis, 20 September 2012

HIV dan kedokteran gigi


Saat saya belum menjadi seorang mahasiswa kedokteran gigi, setiap mendengar kata HIV/AIDS, yang ada dalam pikiran saya adalah sebuah penyakit mematikan yang sangat menular dan biasanya diderita  para pecandu narkoba dan pelaku seks bebas. Memang menyedihkan pengetahuan yang saya miliki sebagai orang awam saat itu. Alhamdulillah, setelah menjadi seorang mahasiswa kedokteran gigi, saya memiliki kesempatan untuk mempelajari lebih banyak mengenai penyakit yang satu ini.

Setelah mempelajari teori mengenai penyakit virus ini di bagian penyakit mulut, saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan penderitanya saat saya bertugas di poli bedah mulut RSCM dan RSU Tangerang. Reaksi yang saya dapatkan dari teman-teman saya kurang lebih sama, yaitu kaget karena bisa bertemu dengan penderitanya secara langsung dan tidak berani sedikitpun untuk menangani pasien tersebut. Para dokter dan perawat yang sudah lebih sering bertemu dengan pasien ini memang bisa bersikap lebih biasa dan mereka pun sudah memahami prosedur yang harus dijalankan saat menangani pasien dengan penyakit ini, misalnya menggunakan alat yang sudah dipisahkan sendiri, menggunakan sarung tangan dan masker dua lapis serta menggunakan baju plastik pelindung dan kacamata saat akan melakukan pencabutan yang mungkin dapat terkena cipratan darah pasien. Saat itu, saya beranggapan bahwa penanganan pasien ini atau yang biasa disebut dengan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) harus dilakukan di rumah sakit dengan prosedur yang cukup rumit. Tapi ternyata saya memiliki pandangan yang salah.

Saya pernah mendapat cerita dari seorang teman bahwa ODHA sering mengeluhkan kesulitan mereka untuk mendapatkan perawatan di bidang kedokteran gigi karena mereka diminta untuk menyediakan alat sendiri. Selain itu, mereka juga sering merasa dibedakan oleh para praktisi kesehatan karena penyakit yang mereka derita. Saya sendiri pun masih kurang memahami hal ini dan akhirnya saya bertanya kepada seorang dosen di kampus saya yang memiliki perhatian dan pengetahuan lebih mengenai hal ini yaitu drg.Gus Permana, Ph.D, Sp.PM. Dari kuliah privat singkat yang saya dapatkan dari beliau, ada beberapa hal yang sangat penting untuk diketahui oleh calon dokter gigi seperti saya, yaitu:

1.  Untuk penanganan pasien HIV sebenarnya bisa dilakukan di klinik pribadi asalkan sang dokter memahami prinsip universal precaution dan kontrol infeksi yang sesuai dengan SOP. Universal precaution adalah prinsip yang menganggap semua pasien memiliki status penyakit yang sama sehingga penggunaan sarung tangan, masker, sterilisasi alat dan dental unit selalu dilakukan ke semua pasien tanpa terkecuali. Untuk penanganan di klinik pribadi, sebisa mungkin rekam medik pasien mengenai status HIV nya dapat diketahui, seperti hasil pemeriksaan darah lengkap mencakup jumlah leukosit, CD4, dsb. Hal ini dilakukan untuk mengetahui status penyakit pasien yang akan menentukan apakah tindakan invasif dapat dilakukan di klinik, atau harus dirujuk ke RS. Misalnya, ODHA dengan jumlah leukosit yang sangat rendah dan sudah berada di tahap AIDS sebaiknya dirawat di Rumah Sakit.

2. Terkait dengan alat-alat yang digunakan untuk perawatan gigi dan mulut , sebenarnya selama alat tersebut sudah disterilisasi dengan prosedur yang sesuai, maka tidak perlu ada pembedaan alat untuk pasien dengan HIV, terutama alat-alat bedah yang tidak tersedia dalam bentuk disposable. Namun, alat-alat pemeriksaan yang tersedia dalam bentuk disposable tetap disarankan untuk digunakan jika kesulitan dalam proses sterilisasi. Dalam penggunaan alat-alat ini, proses sterilisasi harus benar-benar diperhatikan dengan baik. Misalnya, penggunaan autoklaf dan larutan sterilisator yang sesuai.

3. Penularan HIV hanya bisa terjadi melalui cairan tubuh ( darah, sperma, ASI, dll), bahkan pada kondisi awal, saat aktivitas virus berada di titik bawah, kemungkinan terjadinya penularan cukup rendah. Menurut drg.Gus Permana, Ph.D, Sp.PM , penularan hepatitis dirasa lebih mudah untuk terjadi dibandingkan penularan HIV. Oleh karena itu, kekhawatiran yang dirasakan para praktisi kesehatan terhadap pasien dengan HIV dianggap terlalu berlebihan.

Berdasarkan pemaparan yang telah disampaikan oleh drg.Gus Permana, Ph.D, Sp.PM, dapat disimpulkan bahwa perlakuan berbeda yang dirasakan oleh ODHA dari para praktisi kesehatan dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka mengenai cara penanganan pasien HIV, oleh karena itu sebagai seorang calon dokter gigi, pengetahuan mengenai kontrol infeksi dan status penyakit sistemik pasien  serta cara penanganannya harus menjadi perhatian utama.

Maksimalkan potensi kita sebagai calon praktisi kesehatan sehingga kelak kita dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada seluruh masyarakat tanpa ada pengecualian. Semangat teman sejawat!! 

Senin, 03 September 2012

OMAR


Membaca buku dan menonton film tentang sejarah islam membuat saya kembali merindukan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Dari sinilah, saya bisa lebih mendalami kisah perjuangan islam pada masa awal  dan mengenali lebih dalam sosok Rasulullah dan para sahabatnya. Sebelumnya, saya sudah pernah menulis tentang kesempurnaan Rasulullah sebagai seorang manusia utusan Allah. Dan kali ini, saya ingin menceritakan seorang sahabat Rasul yang terkenal keras dan tegas tapi juga bisa bersikap lembut. Dialah yang dikenal dengan sebutan amirul mukminin, Umar bin Khattab.

Dalam buku yang saya baca dan film berjudul 'OMAR' yang baru saja saya tonton di bulan Ramadhan lalu, sosok Umar bin Khattab digambarkan sebagi seorang muslim yang luar biasa. Perjuangannya bersama Rasulullah dan kepemimpinannya saat beliau sudah menjadi khalifah benar-benar menunjukkan pribadinya yang tegas, bersahaja, keras tapi juga bisa bersikap sangat lembut dan ramah.


Hal yang paling diingat dari seorang Umar adalah sifatnya yang keras. Beliau lah yang pernah menghunuskan pedangnya untuk membunuh Rasulullah disaat beliau belum masuk islam. Tapi, beliau jugalah yang pernah mengancam akan memotong anggota tubuh siapapun yang mengatakan bahwa Rasulullah telah meninggal saat berita wafatnya Rasulullah menyebar di umat muslim karena ketidakpercayaannya pada berita tersebut. Sesaat setelah beliau diangkat menjadi khalifah, beliau mengumpulkan anak-anaknya dan mengatakan kepada mereka bahwa siapapun dari anaknya yang melanggar hukum Allah, maka beliau akan menghukumnya sampai anak tersebut akan berkata 'seandainya aku bukan anak seorang amirul mukminin,maka aku akan bebas melakukan apa saja'. Beliau juga pernah memarahi anaknya, Abdullah bin Umar, saat kembali dari perang di yamamah. Saat itu, sang amirul mukminin menanyakan soal keberadaan adiknya, Zaid bin Khattab, yang lebih dulu masuk islam.
'Dimana zaid?', tanya Umar kepada anaknya.
'Zaid telah syahid di Yamamah', jawab anaknya.
'Zaid syahid dan kau hidup, dan kau tidak malu kepadaku?!'
Begitulah sifat keras dan 'galak' seorang Umar yang pernah membuat umat muslim meragukannya untuk menjadi khalifah pengganti Abu Bakar As-Shiddiq yang terkenal dengan kelembutannya.

Tapi, Umar bin Khattab juga seorang yang berhati sangat lembut, terlebih ketika beliau sudah menjadi seorang amirul mukminin. Dalam pidato pertamanya sebagai seorang khalifah, beliu mengatakan bahwa beliau akan bersikap keras kepada siapapun yang melanggar hukum Allah dan sunnah Rasulullah, namun beliau juga akan bersikap sangat lembut kepada siapapun yang menaati hukum Allah dan sunnah Rasulullah, beliau akan menjadi orang yang paling lembut bagi mereka. Hampir setiap malam, Umar memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan dan kegagalannya dalam memimpin umat sambil berlinang airmata. Beliau pun selalu merenung penuh kekhawatiran setelah memutuskan suatu keputusan untuk umat muslim. Beliau juga pernah membantu memasakkan makanan untuk sebuah keluarga kecil yang  kelaparan dan melindungi seorang anak kecil dari gangguan teman-temannya. Bahkan, pada saat terjadi kemarau panjang yang menyulitkan umat, Sang Amirul mukminin pernah menyuapi seorang anak yang tidak mau makan dan beliau juga berjanji untuk tidak makan apapun kecuali air dan gandum untuk ikut merasakan penderitaan umatnya. Inilah kelembutan yang terkadang tidak terlihat dari pribadi Umar.

Beliau juga sangat tegas dalam menjalankan ajaran Islam. Beliau pernah menghukum seseorang yang membiarkan tiga budaknya kelaparan sampai mereka harus mencuri dan memakan unta orang lain dengan cara, pemilik budak ketiga budak itu harus membayar ganti rugi kepada pemilik unta. Amirul mukminin juga pernah menegur seseorang dengan perut yang gendut karena hal itu dapat menjadikannya sulit bergerak dan malas beribadah serta menunjukkan hal yang berlebihan dalam makan. Beliau pun sangat marah ketika ada seorang pedagang susu yang mencampur susunya dengan air sebelum dijual di pasar. Ketegasannya dalam memimpin umat benar-benar menjadi hal yang sangat langka untuk kita temui saat ini.

Namun, walaupun Umar adalah sesosok khalifah yang sangat keras, tegas dan disegani, beliau tidak pernah menggunakan jabatannya tersebut untuk kesenangan duniawi. Beliau adalah orang yang sangat bersahaja. Setelah menjabat menjadi seorang khalifah, beliau meninggalkan kegiatan berniaganya, namun beliau tidak mengambil gajinya sebagai seorang khalifah dari baitul mal, sampai-sampai istrinya harus mengingatkan dirinya bahwa keluarganya sudah kelaparan. Saat beliau memanggul sekarung tepung untuk keluarga kecil yang kelaparan, beliau sama sekali tidak ingin dibantu oleh siapapun karena menurutnya itu adalah kewajibannya sebagai amirul mukminin. Bahkan, kesederhanaan beliau dalam berpakaian telah mengecoh seorang utusan perang yang ingin mengabarkan kemenangan. Saat itu, seorang utusan datang ke kota untuk membawa kabar dari medan perang. Mendekati Madinah, seorang kakek di pinggir jalan dengan pakaian bertambal-tambal bertanya kepada sang utusan mengenai kabar yang dibawanya, tapi utusan tersebut menolak untuk memberitahukan berita tersebut dengan rinci karena dia harus segera bertemu dengan khalifah. Kakek itu terus mengikuti utusan sampai ke kota dan sesampainya di kota, dengan gagahnya, di tengah kerumunan, utusan itu berkata, 'aku ingin bertemu khalifah Umar'. Para penonton pun tertawa dan mengatakan, 'itu dia tepat di belakangmu'. Sungguh bersahaja kehidupan seorang khalifah Umar bin Khattab. Kesederhanaan yang mencontoh kehidupan Rasulullah.

Semakin mengenal sosoknya, semakin membuat saya merindukannya. Kerinduan akan seorang pemimpin umat yang luar biasa. Saya sempat berpikir, jika Rasulullah hidup di zaman sekarang, mungkin beliau akan sangat sedih melihat kondisi umat yang dicintainya , sedangkan jika Umar hidup di zaman sekarang ini, bukan hanya sedih tapi mungkin beliau akan sangat marah atas segala kekacauan yang diperbuat umat muslim saat ini.

Ya Allah, sampaikanlah salawat dan salam kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersama para sahabatnya dan berikanlah kesempatan kepada kami untuk bertemu dengn mereka di surgaMu, aamiin... 

Sabtu, 04 Agustus 2012

Kekuatan Doa

Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah acara di televisi berisi ceramah singkat dari ustadz favorit saya, Yusuf Mansyur, yang membahas mengenai kekuatan doa. Ust.Yusuf Mansyur menceritakan banyak kisah yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh doa dalam kehidupan kita. Bahkan, ketika kita sedang terjebak hujan sehingga tidak bisa keluar dari sebuah gedung, berdoalah kepada Allah, meminta kepadaNya untuk sejenak menghentikan hujan. Allah Maha Berkuasa, maka menghentikan hujan adalah sebuah hal yang sangat mudah bagiNya. Jika kita meyakini Kekuasaan Allah, mengapa kita jarang sekali meminta kepadaNya?

Sesaat setelah menonton acara tersebut saya menjadi tersadar, betapa sedikitnya doa yang saya panjatkan kepadaNya padahal keinginan yang ada di dalam hati saya begitu menggunung. Betapa ruginya saya, melewatkan waktu-waktu yang dianugerahkan olehNya tanpa berdoa kepadaNya. Akhirnya, saya bertekad untuk memperbanyak doa saya kepadaNya. Besok adalah hari kerja saya di bagian klinik anak. Di klinik anak ini, cobaan demi cobaan sudah pernah kami lewati sebagai koas. Mulai dari kondisi anak yang terkadang 'ogah-ogahan' untuk dirawat, dosen-dosen yang cukup perfeksionis dalam meng-acc hasil pekerjaan kami dan kondisi alat bahan yang kurang memadai. Perawatan yang sudah direncanakan di hari sebelumnya terkadang tidak bisa terpenuhi seluruhnya, bisa jadi hanya 50% saja atau bahkan bisa gagal sama sekali jika tiba-tiba sang anak tidak mau datang ke klinik. Untuk mewujudkan tekad saya, maka saya berdoa kepada Sang Maha Kuasa agar besok, seluruh rencana perawatan saya dapat terlaksana.

Besok paginya, saya terpaksa menggunakan taksi ke kampus karena tidak ada yang bisa mengantar. Mengingat kondisi jalanan Jakarta yang selalu macet, saya tidak berani mengambil resiko untuk pergi ke kampus menggunakan busway. Di dalam taksi, pak supir menanyakan kepada saya mengenai rute yang saya pilih untuk ke kampus. Biasanya saya lewat Tanah Abang untuk menghindari kemacetan di Sudirman. Walaupun di Tanah Abang juga sedikit padat, namun setidaknya tidak sepadat jalanan Sudirman. Alhamdulillah, pagi itu, jalanan Jakarta bisa dikatakan sangat lancar, pak supir taksi juga berpikiran hal yang sama dengan saya. 
"Alhamdulillah lancar ya mbak, doa saya dikabulkan Allah ini"
"iya pak, alhamdulillah"
"beneran lho mba, saya beneran berdoa tadi pagi. Sebelum ke Jakarta ini, saya cuma muter-muter di Tangerang-Bandara aja mbak, cuma dapet sedikit setorannya, trus saya berdoa, semoga setelah ini saya dapet penumpang ke jakarta, tapi jalanannya yang lancar, abis itu saya bisa pulang ke rumah. Eh, saya beneran ke Jakarta dan jalanannya lancar ini mbak. Jarang-jarang Jakarta bisa lancar begini."
Subhanallah, baru saja kemarin malam, saya mendengar kisah mengenai kekuatan doa dari acara televisi dan sekarang saya bisa mendengarkannya langsung dari orang yang bersangkutan. 

Akhirnya, saya tiba di kampus pukul 8 dan berencana untuk mulai bekerja di pukul 8.30-11. Kenyataannya, hari itu, saya bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 1 siang, mengerjakan dua pasien anak dengan berbagai hambatan, mulai dari anak yang datang terlambat, diskusi mendadak dengan dosen dan alat kedokteran gigi ( mikromotor ) saya yang dipinjam oleh teman dan sedikit menghambat pekerjaan saya. Tapi, dari semua hambatan yang saya hadapi di hari itu, ada sebuah hal penting yang membuat jerih payah saya terbayar dengan lunas. Alhamdulillah, semua target rencana perawatan saya di hari itu terlaksana.

Sebenarnya, hambatan-hambatan yang saya hadapi di hari itu hampir membuat saya memulangkan pasien kedua saya karena tidak memungkinkan untuk saya rawat (karena masalah waktu), tapi saya mencoba untuk tetap mengerjakannya. Dengan pertolongan dari Allah melalui teman dan situasi klinik yang cukup membantu saya, akhirnya saya berhasil mengerjakan dua pasien di hari itu dengan target perawatan yang berhasil saya capai. Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Allah. Hari ini, walaupun dihadapi dengan beberapa hambatan, akhirnya rencana perawatan yang sudah saya susun sebelumnya bisa terlaksana seluruhnya. 

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Mulai dari acara televisi mengenai kekuatan doa yang saya tonton tadi malam, pengalaman supir taksi tadi pagi,  sampai keberhasilan saya mencapai target perawatan di klinik siang ini, semuanya benar-benar menunjukkan kepada saya bahwa doa sangat berperan dalam kehidupan kita. Inilah kekuatan doa, inilah Kekuasaan Allah. 

Rabu, 25 Juli 2012

Sulawesi !!

Dua tahun yang lalu, saya berhasil menginjakkan kaki saya di tanah toraja, Sulawesi. Walaupun hanya transit di bandara Hasanuddin Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta dari Ternate, saya cukup senang sudah pernah menghirup udara segar di pulau berbentuk huruf K ini. Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu, saya lagi-lagi dianugerahi kesempatan untuk berkunjung bahkan menginap selama 7 hari di pulaunya Jong Celebes ini dalam kegiatan yang sama yaitu Kerja Sosial. Bagi saya, kersos tahun ini merupakan kersos yang ketiga setelah kersos 2008 di Banjarmasin dan kersos 2010 di Maluku Utara.


Keindahan alam Sulawesi benar-benar membuat saya dan teman-teman tidak merasa rugi  meninggalkan kegiatan klinik kami selama seminggu demi kegiatan sosial ini. Sesampainya di kota Palu, kami langsung memanfaatkan kesempatan yang ada untuk berkeliling kota Palu, menikmati pisang goreng dengan saus khasnya di pinggir pantai Talise , durian parigi yang cukup membuat kami ketagihan dan megahnya jembatan Palu yang katanya adalah jembatan lengkung ketiga di dunia. 

Jembatan Palu IV

Wilayah yang dijadikan sasaran dari kersos tahun ini adalah Sigi, Parigi Moutong, Donggala dan Poso. Dari keempat wilayah tersebut, yang sudah pernah saya dengar namanya sebelum kegiatan ini hanyalah Poso karena konflik yang pernah terjadi disana. Dan ternyata, saya ditempatkan di Poso bersama 3 orang teman seangkatan saya. Saya sempat mengkhawatirkan masalah keamanan disana jika mengingat kejadian konflik beberapa tahun yang lalu, tapi panitia sudah menyatakan bahwa saat ini, Poso sudah menjadi wilayah yang aman. 

Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih 6 jam, akhirnya saya dan teman-teman tiba di Poso. Begitu sampai di kecamatan, kami disambut dengan sangat baik oleh warga setempat. Sepertinya, Poso memang sudah menjadi wilayah yang aman. Desa yang menjadi pusat kegiatan kami adalah perkampungan kaum kristiani. Selama 4 hari disini, saya tidak bisa mendengar adzan sama sekali, karena tidak ada masjid. Tapi, walaupun begitu, masyarakat disini sangat menghargai kami yang mayoritas beragama islam. Kami benar- benar merasa dijamu, warga disini tidak ragu untuk memberikan bantuan kepada kami, sungguh berbeda dengan pembicaraan orang-orang diluar sana mengenai Poso. Jalan raya di desa yang saya tinggali ini hanya satu, yaitu jalan trans sulawesi yang selalu dilewati oleh truk-truk besar yang mengangkut muatannya dari ujung Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Utara. Cuaca di desa ini pun tidak terlalu panas karena dekat dengan pegunungan. Sepertinya, kegiatan selama 4 hari di desa ini akan menjadi sangat menyenangkan.


Jalan Trans Sulawesi

Hari kedua di Poso, sebelum melaksanakan pengobatan, kami diundang oleh bupati untuk mengikuti apel rutin di kabupaten bersama seluruh perangkat pemerintahan. Dengan menggunakan jaket kuning kebanggaan, kami pun ikut apel di lapangan kantor kabupaten Poso. Buatku, apel pagi itu menjadi sebuah kenangan yang cukup lucu untuk dikenang, karena hal ini baru pertama kali terjadi selama 3 kali saya mengikuti kersos, apalagi dengan warna kuning mencolok dari jaket alamamater yang kami gunakan, kami berhasil menjadi pusat perhatian di apel pagi hari itu. Setelah apel pagi selesai, kami mulai melaksanakan kegiatan utama kami, yaitu pengobatan dan penyuluhan. Sorenya, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk menikmati keindahan Danau Poso. Kata orang sini, belum ke Poso kalau belum melihat Danau Poso. Apa yang hebat dari danau ini? Ternyata, danau ini adalah danau terluas di Sulawesi dengan panjang 32 km dan lebar 16 km. Bahkan untuk melihat ujung dari danau ini, kami hanya bisa melihat gambaran pegunungan yang menjadi batas danau nun jauh disana. Sebenarnya, di dekat danau ini, ada wisata air terjun yang bertingkat-tingkat seperti niagara falls, namanya air terjun saloupa tapi karena lokasinya yang sangat jauh, kami tidak berhasil pergi kesana.

Danau Poso

Hari ketiga, kami masih ingin menikmati sore terakhir kami di Poso, karena besok siang, kami akan pulang kembali ke Palu setelah melakukan kegiatan pengobatan di pagi harinya. Akhirnya, kami pergi ke sebuah pantai yang ada di Poso ini,  walaupun tidak terlalu besar, tapi kami cukup terhibur dengan hamparan pasir yang cukup indah dan menyegarkan. Refreshing di pantai sore itu sedikit melepas kelelahan kami setelah mengerjakan 100an pasien hari itu. Dan sebagai pelengkap, kami juga mencari makanan ringan untuk menutup jalan-jalan sore hari itu,  Pisang goreng khas Sulawesi.



Pantai di Poso

Setelah selesai melaksanakan kegiatan di masing-masing wilayah, sekuruh rombongan kembalu berkumpul di Palu untum memulai penjelajahan kota Palu. Kami berkunjung ke museum SulTeng, Sou Raja ( rumah raja ) dan terakhir, kami bermain di pantai yang sangat indah di Donggala, yaitu pantai Tanjung Karang. Jalan-jalan di kota Palu ini memang sukses menjadi penghilang penat dan stres kami, para koas tingkat akhir, sweet escape !!

Pantai Tanjung Karang

Jika di tahun 2008 saya mengikuti kersos sebagai seorang peserta dan di tahun 2010 sebagai panitia advance, di tahun 2012 ini, saya memiliki peran yang lain. Tahun ini, saya berangkat dengan 130 orang rombongan Kersos FKG UI 2012 sebagai seorang mahasiswa klinik tingkat akhir yang bertugas menjadi operator. Dalam sebuah bakti sosial, menurut saya, tugas sebagai operator merupakan tugas yang paling utama karena langsung berhubungan dengan pasien. Hampir di setiap bakti sosial, kami, mahasiswa klinik, akan merasa 'sudah menjadi dokter gigi', karena kami dipanggil 'dok' dan kami harus bisa merawat pasien dari semua kalangan dengan peralatan dan bahan yang seadanya dengan kasus yang bermacam-macam. Begitupu dengan kerja sosial tahun ini. Pengalaman yang saya dapatkan selama kersos ini benar-benar merupakan pengalaman yang tidak ternilai. Saya harus menangani kasus pasien yang tidak pernah saya temukan di klinik kampus dan saya harus bisa saya menyelesaikan perawatannya sendiri. Disini jugalah, saya akhirnya menggunakan alat-alat bedah mulut yang tadinya tidak pernah saya gunakan selama di klinik kampus. It's such a great experience!!

Malam terakhir di Palu, panitia mengadakan sebuah acara penutupan yang dihadiri oleh seluruh rombongan kersos dan perangkat pemerintahan provinsi Sulawesi Tengah. Malam penutupan ini diisi oleh sambutan-sambutan dan juga hiburan yang salah satunya dipersembahkan oleh adik-adik angkatan 2010 dan 2011 sebagai peserta preklinik. Kepanitiaan kersos tahun ini dipegang oleh angkatan 2008 dan 2009, walaupun saya dan 3 orang teman dari angkatan 2007 juga masih menjadi bagian dari kepanitiaan ini sebagai steering committe. Buat saya, malam penutupan kersos 2012 telah menjadi malam yang cukup mengharukan. Saya mulai memutar kembali semua kenangan tentang kersos yang sudah pernah saya jalani sejak tahun 2008 dan saya akhirnya menyadari bahwa insya Allah ini adalah kersos terakhir saya sebagai mahasiswa. Saat saya melihat jaket kuning yang digunakan oleh seluruh panitia di malam ini, saya juga menyadari bahwa ini adalah kepanitiaan terakhir saya sebagai seorang mahasiswa. Ini adalah peran terakhir saya sebagai mahasiswa kepada masyarakat. Mungkin terkesan berlebihan, tapi emosi saya memuncak ketika melihat persembahan yang diberikan oleh adik-adik 2010 dan 2011 di atas panggung. Seketika itu juga, saya langsung mengingat masa-masa di saat saya dan rekan-rekan lainnya menyambut mereka di kampus dan memberikan pembinaan kepada mereka untuk bisa melanjutkan peran kemahasiswaan. Ya, lagi-lagi, saya terharu karena menyadari bahwa mereka, adik-adik yang dulu datang ke kampus dengan seragam hitam putih sudah akan menggantikan posisi rekan-rekan 2009 dalam menjalani organisasi kemahasiswaan. Saat persembahan mereka berakhir, saya benar-benar merasa sangat terharu. Kersos terakhir ini telah berhasil menutup kenangan kemahasiswaan saya dengan cukup baik. Semoga, segala yang telah saya dan angkatan saya berikan kepada dunia kemahasiswaan FKG UI termasuk kersos 2012 ini bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Terima kasih Palu.
Terima kasih panitia kersos 2012 ( teman-teman 2008, 2009).
Terima kasih teman-teman 2010, 2011.
Terima kasih...