Minggu, 22 Mei 2011

Career Plan

Beberapa waktu yang lalu, aku dan teman-temanku mengikuti sebuah seminar dengan tema "dental career development". Walaupun aku hanya mengikuti seminar di hari pertama, aku cukup bersyukur karena dari seminar itu, aku mendapatkan banyak sekali ilmu tentang dunia kerja yang akan kuhadapi selanjutnya.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyusun rencana-rencana hidupku ke depan sebagai seorang dokter gigi. Sejak aku masuk sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi di tahun 2007, hingga saat ini, ada beberapa langkah yang ingin aku lakukan sebagai pengalaman kerjaku setelah lulus dari FKG UI tahun depan, Aamiin.. :)

Pertama , aku ingin sekali PTT di Daerah Timur Indonesia. Sebagai mahasiswa Universitas negeri yang biaya kuliahnya disubsidi oleh pemerintah, aku merasa memiliki kewajiban untuk mengabdikan diriku pada masyarakat yang membutuhkan. Dan PTT adalah salah satu jalan untuk menunaikan kewajiban itu. Kenapa di Timur Indonesia? Karena banyak daerah terpencil di sana yang masih sangat kekurangan tenaga kesehatan. Selain itu, keindahan alam yang pernah kunikmati saat melakukan Kerja Sosial di Maluku Utara membuatku merindukan kembali wilayah Timur Indonesia. Dan, alasan tambahan, karena pendapatan untuk dokter gigi PTT disana cukup menjanjikan. Hehehe,, sekalian ngumpulin uang untuk praktek atau ngambil spesialis.


Kedua , aku ingin bekerja di PoliKlinik Insan Cendekia. Selain mengabdi pada negara dengan menjadi dokter PTT, aku juga ingin mengabdi pada sekolahku yang telah memberikan begitu banyak ilmu dan pengalaman berharga dalam hidupku. Aku ingin bekerja disana sebagai alumni, dan kebetulan lulusan sekolahku yang mengambil jurusan kedokteran gigi masih terbilang sedikit. Jadi, aku ingin sekali bisa bekerja disana sebagai dokter gigi. Alasan lain adalah karena aku selalu merindukan suasana Insan Cendekia. :)

Selanjutnya, aku juga memiliki keinginan untuk bisa mengambil kuliah spesialis terus praktek di rumah dan di rumah sakit. Atau, tidak perlu kuliah spesialis, menjadi dokter gigi umum dan praktek di rumah juga di rumah sakit. Dan aku juga sempat memiliki keinginan untuk menjadi dosen. Yah, emang banyak maunya ya? hehehe... Ya, siapa tau aja, semua keinginanku ini bisa dikabulkan olehNya.. Aamiin... :D
PTT - jadi dokter gigi di IC - kuliah spesialis - praktek di rumah / rumah sakit - jadi dosen..

Rencana hanya rencana. Manusia hanya bisa berusaha dan hasil akhir tetap menjadi kehendakNya. Terlebih lagi, aku adalah seorang perempuan yang nantinya akan bergantung pada keputusan sang kepala rumah tangga. Orangtuaku selalu mengingatkan bahwa semua rencana yang mungkin telah kususun ke depan bisa saja berubah karenanya dan aku harus dengan ikhlas menerima segalanya. Tapi, kalo ternyata rencanaku ini memang bisa dijalankan, Alhamdulillah.. :))



Senin, 16 Mei 2011

3 little dreams

Mungkin terlalu berlebihan untuk menyebutnya sebagai impian di dalam hidupku, tapi memang 3 hal inilah yang ingin aku lakukan suatu saat nanti. Semoga Allah menghendaki, aamiin...

1. Pergi ke luar negeri
Aku belum pernah menginjakkan kakiku di negeri lain selain Indonesia. Bahkan untuk negara dekat seperti Singapura atau Malaysia sekalipun, aku belum pernah. Sempat ada keinginan yang sangat besar untuk bisa segera memiliki paspor dan mengalami perjalanan ke luar Indonesia, tapi setelah ijin dari orangtuaku tidak turun dan mendengarkan penjelasannya, aku pun langsung memasukkan keinginan ini ke dalam daftar "my little dreams". Negeri pertama yang ingin sekali aku kunjungi adalah negeri para Nabi, Saudi Arabia, tentunya untuk menunaikan ibadah haji. Semoga suatu saat nanti, aku bisa mewujudkannya. Aamiin..



2. Menonton pertandingan sepakbola secara live di stadion bola Indonesia maupun di luar negeri. Aku sangat menyukai sepakbola sejak duduk di bangku SD kelas 4. Setiap ada pertandingan besar PSSI di Senayan, aku selalu ingin menonton secara live dengan teman-temanku. Tapi, dengan alasan keamanan dan yang lainnya, aku pun belum mendapatkan ijin dari orangtuaku untuk bisa mewujudkan keinginanku ini. But, it's ok. Aku tetap bisa menontonnya di rumah .. :) Selain di Senayan, tentu aku juga ingin merasakan menonton bola di Stadion luar negeri seperti di San Siro, Milan atau stadion lainnya di Eropa.



3. Menikmati pemandangan alam dari atas gunung
Semenjak SMA dulu, teman-temanku sering sekali mengajakku untuk mendaki gunung dan menikmati pemandangan alam dari atas gunung, tapi sampai saat ini pun, aku belum bisa mewujudkannya. Semoga suatu saat nanti, aku bisa mewujudkannya walaupun hanya sekali. Aamiin..


3 hal ini belum bisa aku realisasikan saat ini karena beberapa hal, terutama mengenai ijin dari orangtua. Sebagai orangtua yang sangat menyayangiku dan masih memiliki tanggung jawab penuh atas diriku , mereka belum menurunkan ijin kepadaku untuk mewujudkan 3 keinginanku itu karena mereka belum bisa mendampingiku untuk mewujudkannya. Insya Allah, ketika tanggung jawab atas diriku telah berpindah kepada orang lain , aku baru bisa mewujudkan ketiga impianku itu. Aamiin.. Dan saat itulah, aku akan segera mengajak kedua orangtuaku untuk ikut mewujudkan keinginanku itu terutama keinginanku yang pertama. Aamiin....

Selasa, 03 Mei 2011

Rules and the Breaker


Hidup kita selalu didampingi oleh suatu tatanan hukum yang disebut dengan Rules atau Peraturan. Ada yang tertulis seperti hukum negara, undang-undang dan lainnya, namun ada juga yang tidak tertulis , misalnya tata krama, adab , dan sebagainya. Menurut saya, keberadaan peraturan dalam hidup kita adalah sebuah keharusan untuk menciptakan hidup yang lebih teratur dan baik. Namun ada beberapa orang yang meyakini bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar. Ya, mereka adalah orang-orang yang akan saya sebut sebagai “the breaker”.
Bagi saya, ada 2 tipe dalam golongan “the breaker”. Yang pertama adalah para pelaku yang memang tidak setuju dan memiliki pendapat yang bertentangan dengan peraturan yang ada, misalnya seperti peraturan yang melarang para perokok untuk merokok di tempat umum . Mereka tidak setuju dengan peraturan tersebut karena mereka merasa bahwa asap rokoknya tidak mengganggu orang lain sehingga mereka dengan tenang akan melanggar peraturan yang ada yaitu tetap merokok di tempat umum. Untuk tipe pelanggar macam ini, saya masih lebih bisa memaklumi perilaku mereka karena yang menjadi masalah adalah pemahamannya. Mereka adalah orang yang belum paham, jadi yang harus dilakukan adalah memberikan pemahaman lebih kepada mereka sampai mereka memahami maksud dari peraturan tersebut. Namun, sayangnya orang-orang tipe pertama ini biasanya tidak mengungkapkan ke-tidak setuju-an nya terhadap peraturan yang ada, sehingga mereka pun tidak mendapatkan penjelasan dari pihak pembuat peraturan.
Ada lagi satu tipe yang menurut saya lebih parah dibandingkan yang pertama, yaitu para pelaku yang sebenarnya sudah paham maksud dari peraturan yang dibuat dan setuju dengan adanya peraturan tersebut namun tidak mau melakukannya karena mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Misalnya adalah peraturan yang melarang masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. “The Breaker” ini mengetahui dampak yang akan terjadi jika mereka masih membuang sampah sembarangan, namun karena hati dan pikirannya dimenangkan oleh egoisme diri sendiri , misalnya kemalasan, akhinya mereka telah menjadi “the breaker” yang menurut saya lebih merugikan. Mereka adalah orang yang paham namun pura-pura tidak paham atau sudah paham namun tidak sadar atau yang lebih parah, mereka adalah orang yang paham, sadar namun tidak mau. Biasanya mereka adalah orang-orang yang lebih sulit untuk ditangani karena kekuatan egoisme yang ada dalam diri mereka. Satu-satunya cara yang mungkin dilakukan adalah dengan memberikan tekanan lebih kepada mereka atau dengan sistem imbalan yang disebut reward and punishment.
Sampai saat ini, saya masih sering menemukan 2 tipe “the breaker” ini. Dalam bahasa mudahnya tipe pertama adalah orang yang tidak tahu dan tipe kedua adalah orang yang tidak mau. Tipe kedualah yang lebih sering membuat saya terheran-heran dengan perilaku “breaking the rules” yang mereka lakukan dengan bangga, santai dan dengan wajah “innocent”. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita dalam menghadapi tipe kedua ini dan semoga Allah segera memberikan penyadaran kepada mereka. Amin...
Allah telah menciptakan dunia ini dengan segala keteraturannya. Sebagai makhluk ciptaanNya, bukankah kita seharusnya juga menjadi pribadi yang taat peraturan?