Selasa, 16 Agustus 2016

Dormi(s)tory. Cerita Kita di Jalan Cendekia

Assalamualaykum, selamat berjumpa lagi bloggers! Tidak terasa ternyata saya sudah meninggalkan blog ini cukup lama. Yah, mengurus anak memang cukup menyita waktu saya selama 1 tahun terakhir. Alhamdulillah, kini jagoan kecil saya udah menginjak usia 19 bulan, sudah semakin besar, semakin sholeh dan semakin pintar, aamiin. 

Sebenarnya saya sudah lama ingin sekali kembali menulis. Namun ternyata mendapatkan ide untuk menulis itu cukup sulit terlebih jika saat ini kehidupan saya hanya berkisar antara mengurus suami dan anak di rumah. Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja saya membaca di halaman Facebook bahwa alumni sekolah saya (MAN Insan Cendekia) sudah membentuk sebuah komunitas blogger dan berencana untuk menerbitkan sebuah buku bersama. Wah, sepertinya ini merupakan sebuah kesempatan agar saya bisa kembali aktif di dunia menulis ini. 

Alhamdulillah , salah satu teman angkatan saya menjadi contact person di komunitas tersebut. Tanpa ragu, saya pun langsung menyatakan ketertarikan saya untuk ikut bergabung di komunitas itu. Awalnya saya kira saya harus mengirimkan karya saya kepada komunitas itu untuk nantinya diseleksi apakah layak atau tidak untuk dimasukkan ke dalam buku yang akan mereka cetak. Namun, ternyata saya langsung dimasukkan ke dalam grup whatsapp komunitas blogger IAIC (Ikatan Alumni Insan Cendekia) yang saat itu sedang sibuk membicarakan proyek pertama mereka. 

Seru sekali rasanya bisa bergabung di dalam satu grup yang terdiri dari sekitar 19 angkatan. Selain membicarakan topik tulisan, kadang grup ini juga menjadi ajang curhat teman-teman blogger IAIC mengenai seluruh seluk beluk pembuatan buku ini. Selain itu, grup ini juga menjadi sarana untuk berbagi banyak hal. Mulai dari ilmu parenting, teknologi dan lainnya. Alhamdulillah, walaupun kami tidak bertatap muka, namun rasa kekeluargaan sesama alumni IC pun tetap terasa. 

Kini, buku dengan judul Dormi(s)tory : Cerita Kita di Jalan Cendekia, sudah selesai dicetak dan mulai dibagikan kepada guru-guru kami tersayang. Ketika saya kembali membaca satu persatu tulisan senior maupun junior saya di buku tersebut, tiba-tiba saya merasa sedang kembali ke masa 11 tahun yang lalu, saat saya masih menjadi siswa di sekolah itu. Ya, saya memang selalu merindukan masa-masa itu. Semua memori benar-benar seperti terputar kembali. 

Alhamdulillah, respon dari para guru juga testimonial dari para petinggi sekaligus orangtua alumni IC membuat kami merasa sangat terharu. Kami tidak menyangka bahwa tulisan yang kami kumpulkan ini bisa memberikan kesan dan kenangan yang cukup baik. Respon baik inilah yang membuat kami menjadi lebih semangat untuk menyelesaikan proyek kedua kami. Selain dibagikan kepada guru, buku ini juga dijual kepada adik-adik calon siswa/siswi IC saat proses penerimaan siswa baru beberapa waktu yang lalu dan kepada para alumni ( tentunya ) juga siapapun yang ingin mengetahui kehidupan kami di sekolah tercinta. 

Bagi yang ingin memesan, silakan buka http://bit.ly/PesanDormistory2. 

Selamat Membaca!!

*very late post. Sorry :) 

Anak dan dokter gigi

Mengenalkan anak kepada dokter gigi memang sebaiknya dilakukan sejak dini. Beberapa mengatakan bahwa usia yang paling tepat adalah saat anak berusia 2 tahun. Hal ini dilakukan agar kelak ketika anak memiliki masalah dengan giginya maka anak akan terbiasa untuk berada di lingkungan ruang dokter gigi dan tidak memiliki pandangan  bahwa dokter gigi itu menakutkan. Tidak bisa dipungkiri, dokter gigi mungkin memang cukup sering ditakuti oleh anak-anak, padahal beberapa dari mereka belum pernah merasakan perawatan di dokter gigi. Mungkin hal ini disebabkan oleh suara bising dari alat di runag dokter gigi, alat-alat yang terlihat tajam di atas meja atau mungkin karena anak-anak juga sering ditakut-takuti oleh orangtuanya tentang sosok dokter gigi yang menyeramkan. 

Dalam perawatan gigi anak, peran orangtua sangat dibutuhkan. Yang dimaksud peran di sini bukan berarti bahwa orangtua harus ikut membantu dokter gigi agar anak mau duduk di kursi gigi dan membuka mulutnya dengan cara memaksa dan mengancam. Perawatan tidak akan berjalan lancar jika anak merasa dipaksa. Peran orangtua yang diharapkan oleh para dokter gigi adalah membantu meyakinkan anak bahwa perawatan dengan dokter gigi akan berjalan dengan baik dan kondisi giginya akan segera membaik. Ajak anak untuk berkomunikasi dengan bahasa mereka tapi jangan ada unsur kebohongan di dalamnya. Biarkan dokter gigi yang menjelaskan kepada anak mengenai perawatan yang akan dilakukan. Orangtua sangat diharapkan dapat mendukung suasana di dalam ruang dokter gigi dengan pendampingan yang menenangkan, tanpa ada unsur paksaan, nada mengancam atau mencoba membantu dokter gigi menjelaskan prosedur perawatan kepada anak yang terkadang malah salah. 

Pada kunjungan pertama seorang anak ke dokter gigi, diharapkan orangtua dapat bersabar, karena dokter gigi secara perlahan akan mencoba memberi perkenalan awal kepada anak. Jangan terlalu berharap bahwa tujuan datang ke dokter gigi di kunjungan pertama dapat berjalan dengan lancar. Untuk menghindari rasa "kapok ke dokter gigi", sebaiknya di kunjungan pertama, perawatan yang dilakukan lebih kepada perawatan perkenalan, jadi tidak asal cabut yang akhirnya nanti mungkin membuat anak menjadi takut ke dokter gigi. 

Hal yang cukup sering membuat anak takut adalah suntikan. Dalam prosedur pencabutan, dokter gigi memiliki beberapa cara agar anak dapat  melewati prosedur tersebut dengan sakit yang minimal. Orangtua sangat diharapkan agar tidak memberikan cerita bohong kepada anak mengenai rasa sakit. Jangan janjikan kepada anak bahwa perawatan tidak sakit sama sekali. Walaupun pada beberapa kasus, ada anak yang merasa tidak sakit sama sekali saat proses pencabutan, namun ada juga yang masih merasa sedikit sakit saat proses pembaalan (anestesi). Jika anak sudah dibekali cerita bahwa proses pencabutan tidak akan terasa sakit namun pada kenyataannya dia harus mengalami pengalaman yang tidak nyaman, dikhawatirkan anak akan kapok ke dokter gigi dan menganggap bahwa semua perawatan di dokter gigi itu menyakitkan serta timbulnya ketidakpercayaan anak terhadap dokter gigi dan orangtuanya. 

Perawatan gigi anak akan maksimal saat kerjasama antara anak, dokter gigi dan orangtua dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, untuk para orangtua, mari bangun kerjasama yang baik dengan dokter gigi saat mengantar anak untuk menjalani perawatan giginya. Kuncinya adalah tanpa paksaan, tidak berbohong dan bersikap tenang. Salam gigi sehat! 

Kamis, 24 September 2015

Dominan

Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Itu adalah hal yang sangat ditekankan oleh sekolah saya semasa SMA dulu. Sebisa mungkin, untuk pemilihan ketua apapun, yang boleh menempati posisi pimpinan itu adalah kaum adam. Jujur saja, ini adalah hal yang cukup baru dan sedikit menimbulkan konflik dalam diri saya. Saat duduk di bangku SD dulu, saya pernah menjadi pemimpin di kelas dan di kelompok drum band. Bahkan, ketika menginjak bangku SMP, saya sempat terpilih menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi siswa. Pengalaman yang saya dapatkan sejak kecil inilah yang akhirnya membentuk kepribadian saya menjadi cukup dominan di antara teman-teman. 

Seiring berjalannya waktu, pemikiran saya soal kepemimpinan pun mulai berubah. Saya sudah mulai sepaham dengan ajaran yang diberikan di SMA saya dulu. Namun, ketika masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu kuliah, sepertinya saya harus kembali mengalami penyesuaian. Di kampus saya yang mayoritas terdiri dari mahasiswi, mau tidak mau, untuk beberapa kepanitiaan maupun organisasi, pemimpinnya adalah seorang wanita. Walaupun di kampus, saya tidak pernah menjadi pemimpin sebuah organisasi, namun untuk di kepanitiaan, saya sempat memegang jabatan menjadi seorang pemimpin. Aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan dan kepanitiaan akhirnya kembali memunculkan sifat dominan dalam diri saya yang sudah sempat teredam selama di SMA dulu.

Di akhir masa kuliah, saya, sebagaimana wanita pada umumnya, mulai memikirkan konsep pernikahan dan berkeluarga. Sebenarnya, sejak duduk di SMA, ibu dan kakak saya sudah pernah mengingatkan akan peran seorang wanita dalam kehidupan pernikahannya nanti, yaitu bahwa wanita memiliki peran dan tugas utama sebagai seorang istri dan ibu. Karena hal inilah, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang dokter gigi agar memiliki waktu kerja yang fleksibel sehingga kelak saya bisa tetap bekerja dan memberikan manfaat untuk masyarakat tanpa perlu meninggalkan kewajiban utama saya sebagai ibu dan istri di rumah. Lalu, kini muncul sebuah pertanyaan. Apakah saya bisa bertemu dengan seorang lelaki yang jauh lebih dominan dari diri saya? 

Menurut saya, dalam sebuah pernikahan, tentulah seorang suami yang harus menjadi pemimpin utama, dan istri bertugas menjadi pendampingnya. Jadi, sudah pasti, suami saya adalah lelaki yang jauh lebih dominan dari saya. Berkaca kepada kehidupan pernikahan ibu dan kakak saya, saya yakin bahwa kelak saya akan bertemu dengan lelaki yang lebih dominan itu. Alhamdulillah, Allah pun menunjukkan kuasaNya. Di akhir masa kuliah saya menjadi dokter gigi, Allah mempertemukan saya dengan seorang lelaki yang walaupun lahir di tahun yang sama dengan saya, namun terlihat jauh lebih dewasa dan lebih dominan daripada saya.

Sejak awal merencanakan masa depan, saya sudah memiliki pemikiran bahwa setelah menikah, saya akan mengikuti apapun arahan suami saya. Intinya, rencna hidup saya ke depan, ada di tangan suami saya. Lucu ya? Saya yang sebelumnya adalah seorang wanita yang cukup dominan dalam kehidupan kemahasiswaan kini malah akan menyerahkan kehidupan saya ke depan kepada lelaki yang mungkin baru saja saya kenal kurang dari satu tahun. Saya menganggap pernikahan sebagai ibadah terbesar dalam hidup saya yang harus saya jalani dengan optimal. Dengan menikah lalu menjadi istri dan seorang ibu, insya Allah, jalan saya untuk mensyukuri kehidupan dan beribadah kepada Allah akan terbuka dengan sangat luas. Ada banyak sekali perintah Allah dan sunnah Rasulullah yang menyatakan bahwa istri yang baik adalah yang taat kepada suaminya. Oleh karena itu, saya meyakini bahwa untuk menjadi istri yang baik, suami dan keluarga benar-benar harus menjadi prioritas dalam hidup saya dan itu berarti saya harus bisa mengurangi banyak sifat dominan dalam diri saya. 

Alhamdulillah, pernikahan saya sudah berjalan selama 1 tahun lebih. Pada masa-masa di awal pernikahan, saya dan suami memang mengalami banyak penyesuaian. Saya belajar untuk bisa lebih menempatkan diri sebagai istri dan suami saya juga belajar untuk bersabar menghadapi sikap saya yang terkadang masih terbawa dominan. Walaupun proses penyesuaian ini membutuhkan waktu dan kerja keras, namun, alhamdulillah, akhirnya penyesuaian itu berhasil kami lewati bersama. Jujur saja, setelah menikah, banyak sekali perubahan dalam kehidupan saya. Dulu, saya adalah seorang wanita yang dominan dan juga cukup mandiri dalam beberapa hal. Sedangkan, kini, saya menjadi wanita yang benar-benar bergantung kepada suami saya, terlebih lagi, setelah menikah, saya langsung hijrah ke Bandung dan memulai segalanya lagi dari awal. 

Saya sama sekali tidak menyesali perubahan yang saya alami. Menurut saya, sikap dominan yang dulu saya miliki memang dibutuhkan di masa mahasiswa dalam aktualisasi diri saya sebagai mahasiswa. Dan, kini, saat saya sudah menjadi seorang istri dan ibu, saya pun harus kembali mengaktualisasikan diri saya dengan cara yang berbeda. Alhamdulillah, saya tidak mengalami keresahan, saat kini harus berada lebih sering di rumah untuk mengurus suami dan anak daripada berkegiatan di luar rumah seperti yang sering saya lakukan dulu . Saya sangat bersyukur, terkadang suami saya masih mengajak saya berkegiatan sosial di luar atau sekedar membantunya mempersiapkan sebuah materi atau acara yang akan dijalaninya.

Kini, saya mencoba memaksimalkan ibadah saya di rumah sebagai seorang istri yang akan menjadi asisten pribadi terbaik suami tercinta dan juga sebagai seorang ibu yang dapat mendidik anak-anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dan, insya Allah, saya akan selalu mengingatkan anak-anak saya agar kelak di saat mereka dewasa nanti, mereka harus dapat menempatkan diri sesuai tugas dan kewajiban yang mereka miliki. Semoga Allah selalu memberkahi  keluarga kecil kami. Aamiin. 


Rabu, 08 Juli 2015

Our first Semester

Tidak terasa, 6 bulan sudah berlalu sejak pertama kali kita bertemu, nak. Itu berarti, sudah 6 bulan juga kehidupan ibu mulai berubah. Kini, kamu adalah poros kehidupan ibu. Selama 1 bulan pertama, kehidupan ibu benar-benar hanya berada di sekitarmu. Alhamdulillah, malam-malam panjang dengan iringan tangisanmu yang masih beradaptasi dengan lingkungan baru telah berhasil kita lewati bersama. Menyusuimu, menemanimu tidur, memandikanmu, mengganti popokmu dan sesekali mengajakmu bercanda telah menjadi rutinitas ibu setiap harinya. Sungguh luar biasa rasanya saat menyadari bahwa kini ada seorang bayi mungil yang kehidupannya sangat bergantung pada ibu. Segalanya memang tidak mudah,nak. Ada kalanya, ibu merasa tidak mampu memenuhi kebutuhanmu,  ibu merasa sedikit lelah dari aktivitas baru ini, atau ibu merasa kurang maksimal dalam memberikan perawatan terbaik untukmu. Namun, alhamdulillah, setiap pagi, wajahmu yang lucu dan penuh kepolosan itu selalu menjadi penyemangat ibu. Alhamdulillah nak, kehadiranmu telah memberikan ibu banyak pelajaran untuk terus mensyukuri nikmat Allah. 

Mengamati perkembangan tubuh dan kemampuan motorik sensorikmu setiap harinya telah menjadi hobi baru untuk ibu. Dari seorang bayi yang sangat mungil seberat 3 kg, kini kamu sudah bertumbuh menjadi seorang anak lucu seberat 8 kg. Dari yang hanya bisa menangis sambil memejamkan mata, kini kamu sudah bisa tertawa, marah, manja, dan terkadang bertingkah laku lucu yang membuatmu semakin menggemaskan. Dari yang hanya bisa bermain dengan posisi tidur di kasur, kini kamu lebih suka bermain sambil duduk, atau bergerak heboh saat dige2ndong ibu atau abimu. Alhamdulillah, kamu tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai usiamu, nak. Semoga kelak, kamu akan terus tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat, cerdas dan shalih, aamiin. 

Kamu tahu nak, momen yang paling menyedihkan buat ibu adalah saat kamu sakit di usia 4 bulan. Kamu sempat mengalami demam yang cukup tinggi hingga tubuhmu menggigil, kamu terlihat sangat berbeda dari biasanya, tidak ceria dan lebih banyak menangis. Saat itu, rasanya ibu ingin sekali agar penyakitmu itu pindah saja ke ibu, tapi abi mengingatkan ibu  kalau ibu tidak boleh sakit karena kalau ibu sakit, siapa yang akan mengurusmu nanti. Ibu merasa sangat bersalah, nak. Mungkin Ibu kurang maksimal menjaga dirimu sehingga akhirnya kamu jatuh sakit. Namun, alhamdulillah, dengan bantuan dan doa dokter pribadi kita, pahlawan kita bersama, yaitu abi mu, akhirnya kamu pun sembuh dengan ijin Allah. 

Anakku sayang, alhamdulillah,selama 6 bulan ini, abi mu begitu banyak memberikan bantuan dan dukungan kepada ibu dalam menghadapi peran baru ini. Terkadang bahkan abi mu pun ikut tidur malam karena kamu masih terjaga hingga larut malam. Kamu memang sudah kompak dengan abi mu sejak dari dalam kandungan. Beberapa kali, saat ibu harus mengerjakan sesuatu, kamu bisa dengan 'anteng' nya bermain dengan abi. Saat berat badanmu sudah cukup membuat ibu merasa kepayahan untuk menggendongmu, maka abi mu lah yang dengan sigapnya menggendongmu saat kita sedang berjalan-jalan ke luar rumah. Terima kasih abi sayang karena sudah menjadi ayah siaga dan suami terhebat! 

Ibu menyadari benar bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah dan itulah yang membuat ibu semakin mencintai nenekmu. Tapi, ibu yakin, Allah akan selalu membimbing ibu dan abi mu untuk menjadi orangtua terbaik untukmu. Aamiin. Hari ini kamu sudah berusia 6 bulan. Itu berarti, kamu akan memulai pengalaman baru sebagai seorang bayi yaitu makan. Ya, kini ibu bukan lagi satu-satunya sumber asupan nutrisi untukmu. Mungkin ibu akan selalu merindukan 6 bulan kemarin yang sudah kita lewati bersama. Namun, masih ada tahun-tahun ke depan yang menanti perjalanan kehidupan kita,nak. Ayo, semangat, kita pasti bisa menjalaninya dengan baik dan 3 baik lagi setiap harinya. 

Selamat 6 bulan, anakku sayang, Kenzie Muhammaad Azzamu Ilmi. Ibu dan Abi mencintaimu. 







Minggu, 08 Februari 2015

Akhirnya kita bertemu, nak

Sejak jam 12 malam, aku mulai kembali merasakan kontraksi yang cukup teratur. Tapi, walaupun kontraksi ini memang terasa lebih kencang, aku masih bisa menahannya sampai shubuh. Hari ini usia kehamilanku sudah mencapai minggu ke 39 hari ke 7 dan besok adalah hari perkiraan lahir (HPL) bayi laki-laki ku. Apakah bayi ini akan lahir hari ini? Entahlah, sejak 2 minggu yang lalu, aku sudah sering merasakan kontraksi yang teratur dan flek pun sudah sering keluar, tapi ternyata, bukaan jalan lahirnya baru sebesar 1 cm (bukaan satu). Ya, sejak minggu ke 38, aku sudah sering merasakan kontraksi-kontraksi yang cukup teratur ini. Bahkan, ibu dan kakakku sudah berangkat ke Bandung karena mengira aku akan melahirkan. Aku pun sudah cukup sering bolak-balik kontrol ke rumah sakit karena merasakan kontraksi yang lumayan kencang. Tapi, selama hampir 2 minggu itu, bukaanku tidak juga naik dan aku hanya disuruh kembali pulang ke rumah, menunggu datangnya kontraksi yang tidak bisa lagi ku tahan. Gemas rasanya menanti kelahiran putra kecilku ini. Setiap hari, aku mengajaknya mengobrol, memintanya untuk segera bergerak ke bawah dan membuatku merasakan kontraksi yang hebat. Selama 2 minggu itu pula, ibu dan ibu mertuaku rajin mengecek kondisiku setiap harinya, apakah hari ini ada rasa mulas atau tidak. Benar-benar penantian yang tak akan ku lupakan. Seorang teman yang juga pernah merasakan pengalaman seperti ini (bukaan satu selama hampir 2 minggu) menceritakan padaku, bahwa nanti saat waktunya tiba, naik bukaan jalan lahir akan lebih cepat. Ya, semoga saja, kelak nanti prosesnya akan berjalan dengan cepat.

Setelah shalat shubuh, akhirnya aku memutuskan untuk mengajak suamiku kembali kontrol ke rumah sakit, walaupun aku tidak terlalu berharap bahwa aku akan masuk rumah sakit hari ini. Karena sedang menginap di rumah mertuaku dan ada rencana untuk mengunjungi saudara di daerah Taman Sari, pagi ini, bukan hanya aku dan suamiku yang akan ke rumah sakit, tapi kedua mertuaku, adik iparku, dan kakak iparku bersama istri dan anaknya juga ikut mengantarku ke rumah sakit. Perkiraanku, setelah kontrol ini, aku akan disuruh kembali pulang dan baru kembali masuk rumah sakit di sore harinya, setelah berkunjung ke TamanSari. 

Setibanya di rumah sakit, aku pun langsung mendaftar untuk kontrol dengan dokter spesialis kandungan perempuan yang sedang jaga saat itu, karena dokter yang biasa menanganiku sedang tidak praktik. Sambil menunggu dokter yang ternyata sedang ada operasi, aku disarankan untuk menjalani pemeriksaan CTG untuk mengetahui kondisi janin dalam rahimku dan juga kekuatan kontraksinya. Sebelumnya, aku sudah pernah menjalani pemeriksaan ini, di waktu 2 minggu yang lalu itu, dan hasilnya kontraksi yang kurasakan masih kurang kuat. Namun, hari ini, hasil CTG nya menunjukkan bahwa kontraksiku sudah cukup sering dan kuat. Apakah benar aku akan melahirkan hari ini? Ah, sebaiknya, aku tunggu saja pemeriksaan dengan dokter nanti. 

Begitu masuk ruang dokter, aku menceritakan semua riwayat kontraksi yang sudah kurasakan sejak 2 minggu yang lalu dan kontraksi yang sudah kembali kurasakan sejak jam 12 malam tadi. Awalnya, saat memeriksa bukaan, dokter mengatakan bahwa bukaannya masih saja di ukuran 1 cm. Ya, sepertinya memang bukan hari ini, pikirku saat itu. Tapi, dokter ini penasaran karena kekuatan kontraksiku sudah cukup baik. Akhirnya, dia menelusuri lebih dalam lagi dan ternyata bukaannya sudah masuk ke ukuran 4 cm (bukaan empat) namun posisi mulut rahimku masih belum lurus dengan jalan lahir sehingga agak sulit diraba. Bukaan empat! Aku cukup terkejut. Itu berarti, aku akan langsung masuk ruang bersalin dan kemungkinan hari ini aku akan melahirkan putra pertamaku. Bismillah.

Setelah memberitahu keluarga yang mengantarku ke rumah sakit, pukul 10 pagi,  aku langsung masuk ke ruang bersalin ditemani suami dan ibu mertuaku. Aku pun mengabari ibu dan kakakku yang masih berada di Jakarta. Di dalam ruangan bersalin, aku diminta untuk berganti baju dan mulai melakukan beberapa persiapan untuk proses persalinan. Rasa-rasanya masih belum percaya bahwa akhirnya hari ini datang juga. Saat ini, aku masih bisa berjalan-jalan, makan siang dan mengobrol dengan beberapa teman via ponselku. Ditemani mertuaku, aku masih menikmati kontraksi yang belum terlalu hebat ini dengan menonton televisi, walaupun sesekali, ibu mertuaku membantu mengelus punggungku saat kontraksi itu tiba. Setelah shalat jumat, suamiku yang sejak tadi mengurus administrasi rumah sakit, kini sudah berada di ruang bersalin, ikut menemani dan mengusap punggungku untuk sedikit mengurangi sakitnya kontraksi.

Pukul 14, bidan masuk dan kembali mengecek pembukaan. Alhamdulillah, ternyata bukaanya naik dengan cukup lancar. Menurut bidan, prosesnya akan cepat. Bidan pun langsung menghubungi dokter spesialis kandungan yang akan membantuku melahirkan. Kontraksi yang kurasakan memang semakin kencang dan sering namun aku masih bisa menahannya dengan mengatur pernapasanku. Rasa deg-degan akan menghadapi persalinan masih belum terlalu mengganggu pikiranku. Keluargaku yang dari Jakarta mengabari bahwa mereka mungkin akan tiba di Bandung malam hari. Bismillah, semoga semuanya berjalan lancar.

Sejak kontraksi semakin sering dan kuat, aku sering sekali melihat jam dan berharap waktu pengecekan pembukaan oleh bidan sudah dekat. Dan setiap pembukaan dicek, aku selalu berharap, bukaanya sudah naik dengan cepat. Semakin sore, bukaanku memang naik dengan lancar, dan itu berarti kontraksi yang kurasakan pun sudah semakin sering dan kuat. Tapi, aku masih bisa menghadapi rasa sakit ini dan aku benar-benar sangat menantikan bukaan ini menjadi lengkap.

Mendekati maghrib, bukaanku sudah mencapai bukaan delapan dan ternyata ini adalah saat yang paling sulit buatku. Di bukaan delapan ini, air ketubanku akhirnya pecah dan kepala bayi bergerak semakin ke bawah. Kontraksi yang kurasakan semakin kuat lagi dan yang paling sulit adalah menahan diri untuk tidak mengejan. Sungguh ini adalah hal yang sangat sulit. Coba saja dibayangkan, ada sesuatu sebesar kepala bayi yang sudah berada di bawah dan menunggu untuk didorong keluar namun pintu keluarnya masih belum terbuka sempurna. Menahan buang air besar saja sudah sulit apalagi ini menahan untuk tidak mendorong kepala bayi. Aku cukup stres di masa ini karena semakin aku ingin menahan mengejan, aku malah secara refleks mengejan sehingga terjadi pembengkakan di jalan lahir dan bukaanku akan semakin sulit untuk naik. Kontraksi yang kurasakan ternyata dirasa masih kurang oleh dokter sehingga aku pun diberi obat tambahan untuk mempercepat kontraksinya dan melunakkan pembengkakan yang ada di jalan lahir. Suamiku yang juga seorang dokter benar-benar sangat membantuku sejak awal. Aku benar-benar tidak ingin ditinggal olehnya, bahkan saat dia ingin mengambil minum sekalipun, maaf ya sayang. Selama proses kontraksi setelah bukaan delapan ini, suamiku selalu membantuku untuk mengatur napas dan berkonsentrasi untuk tidak mengejan. Sambil memegang perutku, suamiku bisa merasakan kapan kontraksi itu datang dan hilang dan dia memanduku untuk mengatur napas agar aku tidak mengejan. Bahkan, dia yang mencontohkannya kepadaku cara mengatur napas. Setelah obat masuk, kontraksiku menjadi semakin sering sehingga aku pun menjadi semakin sering harus menahan untuk tidak mengejan dan itu membuatku semakin stres. Bagaimana kalau aku tidak bisa menahan untuk tidak mengejan? Apakah aku masih bisa melahirkan? Sungguh, aku benar-benar sudah sampai pada tahap pasrah. Kalaupun aku harus berakhir di meja operasi untuk operasi caesar, aku sudah pasrah, yang penting bayi ini bisa keluar dengan selamat. Saat itu, aku terus menerus bertanya pada suamiku "sampai kapan aku harus menahan untuk tidak mengejan ini?". Aku benar-benar terlihat hampir menyerah, namun ibu, ibu mertua dan suamiku terus menerus menyemangati dan meyakinkan bahwa aku pasti bisa. Beberapa kali aku ditawari untuk makan malam karena aku terakhir makan jam 12 siang tadi, sedangkan waktu sudah semakin malam dan untuk proses melahirkan ini aku memang butuh tenaga yang cukup. Tapi, aku berkali-kali menolak untuk makan karena sepertinya aku tidak akan sanggup menahan kontraksi ini sambil makan. Menjalani proses menahan mengejan ini membuat ibuku akhirnya keluar ruangan bersalin karen tidak tega melihat kondisiku yang sepertinya sudah hampir menyerah.

 Sekitar jam 10 malam, setelah melewati beberapa jam menahan diri untuk tidak mengejan sambil terus berkonsentrasi mengatur napas, tiba-tiba beberapa bidan masuk ruangan dan mengatakan akan berganti shift jaga. Setelah itu, bidan yang jaga malam mencoba mengecek pembukaanku. Dan, ternyata, sudah bukaan lengkap! Aku sudah boleh mengejan. Alhamdulillah, akhirnya waktu yang dinanti ini datang juga. Aku sempat berpikir bahwa aku tidak akan sampai ke bukaan lengkap karena aku masih saja gagal untuk menahan mengejan, tapi ternyata aku bisa. Sungguh, rasanya sangat lega sekali. Akhirnya aku boleh mengejan dan insya Allah sebentar lagi aku akan melihat bayiku. Setelah itu, bidan dan dokter spesialis langsung memanduku untuk mengejan setiap kontraksi itu datang, tentu saja, suamiku masih berada di sampingku dan memanduku selama proses melahirkan, dialah yang mengingatkanku semua instruksi selama mengejan. Alhamdulillah, pukul 22.18 , setelah kurang lebih 4 kali rangkaian mengejan, dibantu episiotomi, aku berhasil mengeluarkan bayi laki-lakiku dari dalam rahim. Alhamdulillah, sungguh lega dan bahagia rasanya. Jujur saja, setelah melahirkan, aku malah menjadi lebih segar dibandingkan saat-saat harus menahan mengejan itu, walaupun kakiku masih saja bergetar karena menahan rasa sakit. Setelah bayiku dikeluarkan, dokter dan bidan mulai mengeluarkan plasenta dan menjahit luka episiotomi. Dan, akhirnya tibalah saatnya bagiku untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD). Sungguh, rasa bahagia itu tidak terkira saat bayiku diletakkan di dadaku dan ku peluk dengan sangat hangat. Akhirnya kita bertemu, anakku. Inilah janji ibu kepadamu nak, bahwa setelah kau lahir, ibu akan memelukmu dengan penuh cinta. Alhamdulillah, akhirnya aku sudah menjadi seorang ibu.

Pengalaman melahirkan normal sungguh tak akan pernah terlupakan, mulai dari bukaan satu yang bertahan selama hampir dua minggu, sulitnya menahan mengejan di bukaan delapan, betapa pasrahnya diriku saat masa sulit itu dan betapa luarbiasanya suamiku yang terus mendampingiku selama proses itu. Aku merasa sangat beruntung memiliki suami seorang dokter yang banyak sekali membantu proses kehamilan dan persalinanku. Terimakasih suamiku sayang, kamu benar-benar sudah menjadi suami siaga, dokter pribadi yang sabar dan ayah yang hebat. Setelah melahirkan, aku juga semakin menyadari bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Sejujurnya, aku masih belum percaya bisa mengeluarkan bayi seberat 3 kg dari dalam rahimku melalui jalan yang hanya berukuran 10 cm, terlebih lagi, selama hamil dan bahkan sebelum menikah, aku yang jarang berolahraga ini, sering mengalami hipoglikemi dan hampir pingsan di tempat umum. Suami, ibu dan kakakku saja sempat mengkhawatirkan kemampuanku untuk persalinan normal karena hal itu, namun ternyata Allah mengizinkanku untuk bisa melewati proses yang hampir membuatku menyerah. Hal lain yang kusadari adalah perjuangan seorang ibu benar-benar pantas dihargai sehingga Rasulullah pun menempatkan posisi ibu tiga kali lebih utama daripada ayah. Ya, aku semakin mencintai ibuku, terima kasih ma, semoga aku pun bisa menjadi ibu yang hebat sepertimu. Terima kasih Allah,untuk segala berkahMu ini. Alhamdulillah.

"Selamat datang di dunia Allah, anakku sayang, Kenzie Muhammad Azzamul Ilmi"

Untuk para ibu hamil yang sedang menantikan kelahiran buah hatinya, semangat ya, persiapkan lahir batin untuk masa pertemuan dengan bayi kita dan serahkan segalanya kepada Allah, yakinlah kalau prasangka Allah itu sesuai prasangka hambaNya. Jadi, berpikirlah positif bahwa kita pasti bisa melewatinya. Dan percayalah, rasa sakit yang dirasakan selama proses melahirkan itu akan hilang seketika saat bayi kita yang lucu lahir dengan selamat. Semangat!!


Kenzie, Ibu & Abi


Senin, 08 Desember 2014

a letter to my son

To : My lovely son 

Anakku yang tercinta, setelah mengalami keguguran di bulan Desember 2013 lalu dan menunda kehamilan selama 3 bulan, Alhamdulillah, Allah kembali memberikan kepercayaan kepada Ibu untuk bisa mengandung yang kedua kalinya, yaitu mengandung dirimu, nak. Begitu bahagianya perasaan Ibu dan Abimu saat menemukan dua garis di alat tes kehamilan itu. Tanpa menunggu lama, kami pun langsung ke dokter untuk memastikan kondisimu. Alhamdulillah, gambaran kantung kecil yang terlihat di layar USG saat usiamu baru mencapai 5 minggu itu benar-benar membuat kami merasa bersyukur.  Insya Allah, kami akan semakin berhati-hati menjaga kehamilan ini sampai sembilan bulan ke depan, sayang. Bismillah.

Sejak pulang dari dokter, Ibu pun langsung berusaha untuk menerapkan beberapa tips kehamilan sehat yang sudah pernah Ibu dapatkan sejak kehamilan pertama dulu, seperti mengatur pola makan, pola istirahat, pola aktivitas dan yang lainnya. Ya, ini adalah salah satu usaha Ibu untuk menjaga kondisimu. Ibu tidak ingin kembali mengalami kehilangan, nak. Berbeda dengan kehamilan pertama yang hanya berlangsung beberapa hari, di saat mengandungmu kini, Ibu mulai merasakan beberapa gejala khas trimester pertama. Mual dan muntah benar-benar Ibu rasakan selama kurang lebih empat bulan pertama. Bahkan, hal ini menyebabkan berat badan Ibu yang seharusnya naik malah turun sebanyak 2 kg di saat usiamu 11 minggu, namun Alhamdulillah, kondisimu sehat dan berat badanmu masih normal. Tapi,dokter berpesan bahwa berat badan Ibu tidak boleh turun lagi, akhirnya dengan bantuan dan pengawasan ketat dari Abimu, Ibu pun berusaha keras untuk bisa menaikkan kembali berat badan Ibu.

Anakku sayang, setiap tiba waktunya untuk kontrol ke dokter, Ibu pasti merasa waswas dan penasaran, apakah kondisimu baik-baik saja? apakah nutrisimu cukup?. Namun, dibalik rasa khawatir itu, Ibu merasa sangat senang karena akan bertemu denganmu,nak. Rasanya pertemuan singkat ini benar-benar menjadi obat atas segala ketidaknyamanan yang Ibu rasakan kemarin. Kondisi yang cukup rawan di trimester pertama benar-benar membuat Ibu sangat berhati-hati dalam segala hal termasuk mengurangi perjalanan jauh. Selain untuk menghindari kelelahan selama perjalanan, kini Ibu mudah sekali merasakan mabuk perjalanan walaupun jaraknya hanya di dalam kota. Setiap merasakan sedikit kram pada perut, Ibu akan langsung beristirahat dan mengkhawatirkan kondisimu. Ibu hanya bisa berdoa semoga Allah menjagamu dan kondisi kita akan selalu sehat sampai masa persalinan nanti. Mengingat kondisi sakit (parotitis) yang pernah Ibu rasakan di kehamilan pertama dulu, kini Ibu juga semakin berhati-hati dalam menjaga kesehatan. Namun ternyata di trimester pertama ini, Ibu mengalami kaligata ( gatal dan bentol di seluruh badan). Awalnya Ibu mencoba untuk tidak meminum obat dan bertahan dengan rasa gatal ini, tapi sampai malam, bentol-bentol ini malah semakin banyak dan mengganggu. Akhirnya, Abimu pun meyakinkan Ibu untuk meminum obat alergi yang aman bagi ibu hamil. Bismillah, dengan sedikit perasaan khawatir, Ibu pun meminum obat alergi itu dan Alhamdulillah, dirimu tetap baik-baik saja.

Beberapa orang mengatakan bahwa trimester kedua adalah trimester yang paling nyaman dan indah. Ya, itu memang benar, nak. Walaupun mual dan muntah itu masih ada dan berat badan Ibu masih sulit bertambah, Ibu merasakan sebuah kebahagiaan baru, yaitu tendangan-tendangan mungilmu dari dalam perut Ibu. Lucu sekali rasanya merasakan gerakan aktifmu dalam perut Ibu yang terkadang lebih sering aktif sesaat setelah Ibu makan atau saat kamu mendengarkan ayat suci Al-Qur'an. Sungguh luarbiasa rasanya, menyadari bahwa ada seorang makhluk hidup yang sedang bertumbuh dan berkembang di dalam tubuh Ibu. Terima kasih nak, kehadiranmu benar-benar membuat Ibu semakin menyadari betapa besarnya kuasa Allah. 

Memasuki bulan kelima, Alhamdulillah nafsu makan Ibu bisa kembali normal karena mual dan muntah yang semakin berkurang. Gerakanmu yang semakin aktif dan beragam di bulan ini benar-benar menjadi penambah kebahagiaan Ibu setiap harinya. Kamu selalu menenangkan Ibu dengan gerakan mungilmu itu saat Ibu sedang cemas atau merasa sepi dan itulah yang akhirnya membuat Ibu semakin berhati-hati dalam mengatur mood swing selama kehamilan ini, karena Ibu tidak ingin kamu ikut merasa tidak nyaman. Kondisi Ibu pun semakin fit sehingga Ibu bisa beraktivitas normal kembali termasuk melakukan perjalanan jauh ke luar kota dan menemani Abimu dalam beberapa aktivitasnya. Namun, karena perut yang mulai besar, kini Ibu mulai merasakan sedikit kelelahan saat menaiki tangga. Tapi, itu semua tidak menjadi masalah nak. Ibu sangat menikmati trimester kedua ini. Di minggu ke 20, dokter memberitahu Ibu mengenai jenis kelaminmu. Ya, insya Allah kamu akan menjadi seorang anak laki-laki yang sholeh. Itulah doa yang langsung terucap dari mulut Ibu dan Abimu setelah mendengar kabar itu. Semoga Allah perkenankan doa kami berdua , Aamiin.

Anakku tercinta, di bulan ke enam, perut Ibu yang semakin membesar sudah mulai membuat Ibu harus mengubah posisi tidur dan sesekali merasa sesak di saat posisimu sedikit menekan diafragma. Ibu bersyukur karena itu berarti kamu bertumbuh dengan sehat. Bahkan, perut yang semakin besar ini terkadang juga membuat Ibu sedikit kesulitan saat harus melakukan pekerjaan sebagai dokter gigi. Lucunya, di saat Ibu sedang menangani pasien dengan waktu perawatan yang cukup lama, terkadang kamu menendang-nendang dengan keras seakan mengajak Ibu untuk segera menyelesaikan perawatan itu lalu segera pulang beristirahat. Kamu memang semakin aktif, nak. Bahkan, terkadang di malam hari, saat Ibu ingin beristirahat, kamu malah aktif bergerak di dalam perut Ibu. Kalau sudah begitu, biasanya Abimu akan mengelus perut Ibu dan mengajakmu untuk beristirahat. Dan setelah itu, kamu pun akan kembali tenang. Ya, sepertinya sejak dalam kandungan, kamu sudah kompak dengan Abimu.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga kita di trimester tiga. Ini adalah fase terakhir dari kehamilan Ibu. Kondisi di trimester tiga ini sedikit mirip dengan trimester pertama. Kondisi Ibu mulai mudah lelah karena perut yang semakin besar dan ternyata Ibu kembali mengalami mual dan muntah. Namun, Alhamdulillah, keluhan-keluhan itu selalu bisa Ibu atasi. Di bulan ke tujuh, Ibu mulai merasakan gerakanmu yang sedikit berbeda. Gerakanmu terasa lebih teratur selama beberapa menit, seperti orang yang sedang cegukan. Ternyata kamu memang mengalami cegukan di dalam rahim Ibu karena katanya kamu sedang melatih organ pernafasanmu. Terkadang, di saat cegukanmu terasa lama dan sering, Ibu sering merasa kasihan, kamu pasti lelah. Tapi, apa yang bisa Ibu lakukan selain mengelus perut sambil mengajakmu berbicara. Gerakanmu juga semakin beragam,nak. Mungkin karena ukuran tubuhmu yang semakin besar, kini kamu lebih sering menggeliat di dalam perut Ibu. Terkadang, gerakanmu itu begitu terlihat dari permukaan perut Ibu, seperti bergelombang. Tidak jarang pula, sikutan atau gerakan menggeliatmu menekan kantung kemih Ibu sehingga Ibu langsung ingin buang air kecil. Namun, semakin aktif gerakanmu, semakin tenang perasaan Ibu, karena itu berarti kamu sehat-sehat saja di dalam rahim Ibu, sayang. Saat kontrol ke dokter kandungan, ternyata posisi kepalamu masih di atas, sedangkan seharusnya kepalamu sudah berada di bawah sehingga memudahkan proses persalinan secara normal nanti. Ibu sempat merasa khawatir tidak bisa melahirkan dengan normal karena posisi sungsangmu itu, tapi dokter kandungan memberitahu Ibu bahwa posisimu masih bisa berubah dengan beberapa cara. Bismillah, semoga kepalamu bisa berputar lagi ke bawah ya sayang, semangat!

Waktu terus berjalan dan sekarang kita sudah memasuki bulan ke delapan. Kini, perut Ibu semakin membesar,begitu pun dengan ukuran tubuhmu. Alhamdulillah, kamu terus bertumbuh sesuai usiamu dan posisi kepalamu pun sudah berada di bawah. Kamu memang pintar!  Besarnya perut Ibu kini mulai membuat pinggang dan punggung Ibu sering terasa sakit dan pegal. Setiap akan mengubah posisi dari duduk ke berdiri, atau dari tidur ke duduk pun, kini mulai terasa sulit dan melelahkan. Ternyata, inilah yang disebut kelemahan yang bertambah-tambah, seperti yang telah Allah firmankan dalam Al-Qur'an. Ukuranmu yang semakin besar pun kadang menekan beberapa titik di perut Ibu sehingga terasa cukup sakit. Kalau sudah begitu, biasanya Ibu akan mengelus perut dan memintamu untuk mengubah posisimu sehingga rasa sakit itu hilang. Alhamdulilllah, kamu selalu bisa memahami permintaan Ibu. Terima kasih anakku sayang.

Beberapa saat lagi, kita akan bertemu secara langsung , putraku tercinta. Di bulan ke sembilan, pinggang, punggung, dan pinggul Ibu terasa semakin mudah sekali pegal dan sakit. Sepertinya karena beban yang Ibu bawa semakin berat. Alhamdulillah, dengan sabarnya, Abimu sering membantu memijat punggung dan pinggang Ibu untuk sedikit mengurangi rasa sakit dan pegal itu. Di bulan ini, kamu memang sedang dalam tahap penggemukan diri, sehingga kini Ibu semakin mudah lapar. Beberapa kali, Ibu juga merasakan perut Ibu terasa sangat kencang dan ada sedikit rasa mulas, katanya itu adalah kontraksi palsu yang akan menjadi sarana Ibu untuk melatih diri menghadapi kontraksi yang sebenarnya saat melahirkan nanti.

Anakku sayang, tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa Ibu akan berada di kondisi seperti saat ini, mengandungmu selama hampir sembilan bulan, dan memiliki perut yang begitu besar. Ini benar-benar menjadi pengalaman dan kenangan yang luarbiasa untuk Ibu dan Abimu, nak. Kini, Ibu dan Abimu tinggal menunggu waktu kontraksi ritmis itu datang sambil mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari pertemuan kita nanti. Semoga nanti kamu lahir dengan sehat, berat badan yang cukup dan tentunya Ibu berharap, proses persalinan nanti akan lancar dan mudah untuk kita berdua ya nak, aamiin. Doakan Ibu agar nanti stamina Ibu kuat dalam menghadapi semua proses persalinan itu ya nak, sampai jumpa beberapa waktu lagi, anak Ibu yang tercinta. Ibu dan Abi sangat mencintaimu.

Bandung, 6 Desember 2014 (minggu ke 37)
Your lovely mom