Selasa, 07 Oktober 2014

My wedding

Tidak terasa, usia pernikahan saya dengan suami sudah menginjak satu tahun pada beberapa hari yang lalu. Selama satu tahun itu, ada beberapa kerabat yang menanyakan kepada saya mengenai segala pernak pernik di acara walimahan kami dulu. Oleh karena itu, sambil kembali mengingat kenangan satu tahun yang lalu, sekarang saya ingin sedikit menceritakan beberapa "printilan" dari acara walimah pernikahan saya dan suami. Here we go..

Hal yang paling pertama kali saya urus setelah mendapat lampu hijau dari orangtua untuk menikah dengan lelaki pilihan saya adalah mencari-cari tempat resepsi. Untuk di daerah Jakarta, mencari gedung pertemuan untuk pernikahan terkadang membutuhkan waktu yang lumayan cukup lama. Terlebih lagi, orangtua saya menginginkan acara walimahan saya diadakan pada sabtu malam  yang merupakan waktu paling laris di beberapa gedung pertemuan (mengingat keluarga dan kerabat suami saya banyak yang berdomisili di Bandung sehingga jika acara diadakan pada sabtu malam, masih ada waktu istirahat sebelum kembali beraktivitas di hari senin). Setelah survey ke beberapa gedung untuk mencari tanggal yang kosong dengan luas dan lokasi yang sesuai, akhirnya pilihan saya jatuh kepada Balai Sudirman Panti Prajurit di wilayah Tebet walaupun tanggal yang tersedia sudah berada di bulan Oktober 2013, padahal saya mulai mencari gedung dari bulan Desember 2012.

Gedung Balai Sudirman Panti Prajurit

Setelah urusan gedung selesai dan saya sudah dilamar secara resmi oleh keluarga suami, barulah saya mulai mempersiapkan beberapa hal besar lainnya. Alhamdulillah, di bulan Maret 2013, ada sebuah wedding expo yang diadakan di Gedung Bidakara. Sebagai permulaan, saya dan ibu saya mencoba mencari beberapa vendor pernikahan di sana. Menurut saya, wedding expo ini benar-benar sangat membantu karena hampir semua vendor berkumpul dan kami bahkan bisa mendapatkan beberapa harga promo di pameran ini. Saya dan ibu saya berencana mencari vendor untuk fotografi, dekorasi, catering dan tata rias di wedding expo kali ini. 

Untuk masalah catering, kami tidak terlalu ambil pusing, karena sudah pernah ada pengalaman saat pernikahan kakak saya sekitar 3 tahun yang lalu. Saat itu, keluarga saya menggunakan jasa Kiki Catering. Alhamdulillah, kami merasa puas dengan pelayanan dari vendor ini sehingga  insya Allah kami akan kembali bekerjasama dengan Kiki Catering, terlebih lagi vendor ini termasuk salah satu rekanan Gedung Balai Sudirman. 


Stand Kiki Catering di Gedung Balai Sudirman
Selanjutnya, saya dan ibu saya mulai mencari vendor untuk tata rias dan busana pernikahan. Untuk vendor yang ini, saya tidak bisa menggunakan perias yang sudah pernah digunakan kakak saya sebelumnya karena kakak saya menggunakan adat Jawa sedangkan rencananya saya akan menggunakan adat Sunda. Sebelumnya, ibu saya pernah menanyakan kepada temannya tentang perias yang digunakan di acara pernikahan anaknya. Menurut ibu saya, adat sunda dan tata rias yang digunakan oleh pengantin saat itu terlihat sangat bagus dan ternyata vendor yang digunakan oleh teman ibu saya adalah Miarosa. Saya juga sudah pernah menanyakan rekomendasi teman-teman saya yang sudah menikah mengenai vendor tata rias dan busana. Oleh karena itu, di wedding expo ini, saya dan ibu saya mencari beberapa vendor yang sudah direkomendasikan, termasuk Miarosa. Setelah berkeliling ke tiga vendor, akhirnya saya dan ibu saya pun memilih Miarosa karena tertarik dengan penawaran yang ditawarkan dan juga terhipnotis oleh petugas marketing yang terlihat begitu ramah. Di vendor ini, kami akan menyerahkan urusan tata rias, busana dan adat pernikahan. Untuk urusan tata rias, saya benar-benar sangat memperhatikan semua detilnya. Alhamdulillah, perias dari Miarosa berhasil memenuhi beberapa permintaan khusus saya, seperti pemakaian jilbab yang menutup dada dan juga tidak mengerik alis untuk tata rias wajah. 

Tata rias saya dan busana suami by Miarosa
Busana + tata rias saya dan suami by Miarosa
Adat Pernikahan Sunda yang dipandu tim adat dari Miarosa
Jujur saja, untuk masalah  dekorasi, saya benar-benar bingung. Vendor yang sudah pernah digunakan di acara pernikahan kakak saya ternyata bukan rekanan Gedung Balai Sudirman. Akhirnya, saya mencoba meminta rekomendasi dari pihak Gedung Balai Sudirman itu sendiri. Setelah mencoba mendatangi beberapa stand vendor dekorasi yang sudah pernah saya hubungi sebelumnya via telepon, pilihan saya pun jatuh kepada Shafira Maharani Decoration. Lagi-lagi, saya memilih vendor ini karena terpesona dengan keramahan dan teknik "jemput bola" yang dilakukan oleh pihak marketingnya. Alhamdulillah, hasil dekorasinya pun sungguh memuaskan. Saya memilih jenis pelaminan gebyok tradisional karena rencananya di acara walimahan nanti, saya akan menggunakan busana adat sunda dan menjalani sedikit rangkaian adat sunda, yaitu kehadiran lengser saat kirab pengantin menuju pelaminan dan pembukaan oleh tarian merak. 

Dekorasi Pelaminan Gebyok Tradisional by Shafira Decoration
Dekorasi pada jalur VIP menuju pelaminan
Vendor terakhir yang akan kami cari di wedding expo ini adalah untuk fotografi. Lagi-lagi, vendor yang dulu pernah digunakan kakak saya tidak rekanan dengan Gedung Balai Sudirman sehingga saya harus mencari vendor baru. Saya pun mencoba mencari rekomendasi dari beberapa  teman kakak saya yang juga menggunakan Balai Samudra sebagai tempat walimahannya. Tanpa memilih-milih lagi ke stand lain, saya pun langsung menuju vendor Adiza Photography yang sudah direkomendasikan oleh dua orang kakak kelas saya. Alhamdulillah, setelah mendapatkan sedikit penjelasan mengenai paket yang ditawarkan, saya dan ibu saya pun langsung setuju untuk memilih Adiza sebagai vendor fotografi kami. Menurut saya, Adiza memang sudah menjadi vendor yang begitu profesional, bahkan untuk setiap penambahan yang tidak tertera di paket awal, kami akan mendapatkan penambahan biaya juga. Hehe.. 

Beberapa foto hasil Adiza Photography
Untuk vendor fotografi ini memang hanya mengerjakan foto dan video selama acara berlangsung, dari mulai akad nikah, acara adat sampai resepsi malam. Sedangkan untuk prewed, saya dan suami menganut paham "no prewed". Namun, untuk mengisi beberapa spot di gedung dengan foto, kami berencana untuk meletakkan beberapa foto kami dari bayi sampai foto akad nikah kami di pagi harinya. Hampir semua foto yang kami gunakan adalah foto-foto yang sudah ada, hanya tinggal di edit dan dicetak. Bahkan, yang lucunya, saya dan suami sama-sama memiliki foto bayi dengan pose yang sama. ^^




Alhamdulillah, empat vendor sudah kami temukan di wedding expo Bidakara ini. Hal ini cukup membuat saya tenang. Selanjutnya, kami hanya tinggal memfollow up beberapa hal teknis. Dari ke empat vendor ini, hanya bagian tata rias dan busana yang membutuhkan banyak waktu untuk follow up, sedangkan untuk tiga vendor lainnya sudah dapat kami tuntaskan segala hal teknisnya di wedding expo kedua yang kami datangi sekitar di bulan Juni-Juli 2013 di Balai Sudirman dan finishing dilakukan saat technical meeting di dua pekan sebelum hari H. 

Untuk souvenir, saya berencana untuk memberikan sesuatu yang berbeda. Saat pernikahan kakak saya dulu, souvenir pernikahannya adalah tanaman hias kecil. Keluarga saya memang sangat menyukai tanaman, oleh karena itu, sepertinya saya pun akan mencari jenis tanaman hias lagi untuk dijadikan souvenir. Alhamdulillah, suami saya pernah mendatangi sebuah kebun bunga di daerah Lembang yang ternyata menyediakan beberapa jenis tanaman hias yang bisa dijadikan sebagai souvenir pernikahan yaitu Rumah Bunga Rizal di daerah Maribaya. Akhirnya, saya dan keluarga pun menyempatkan untuk pergi ke Rumah Bunga Rizal dan mengurus souvenir pernikahan ini. Saya memilih untuk menggunakan jenis succulent dibandingkan kaktus, karena menurut saya succulent terlihat lebih cantik. Setelah menyesuaikan jenis dan ukurannya, kami pun menuntaskan perihal souvenir ini yang nantinya akan dikirim ke Jakarta saat hari H. Alhamdulillah, beberapa tamu merasa senang dengan souvenir ini. Bahkan, salah satu saudara dari Sumedang berhasil menumbuhkan succulent ini hingga berukuran tiga kali lebih besar dari ukuran awal. 

Souvenir succulent by Rumah Bunga Rizal
Terakhir, sebenarnya ini bukanlah sesuatu yang saya persiapkan sendiri, melainkan hadiah dari suami saya tercinta, yaitu mahar pernikahan. Saat sebelum menikah, calon suami saya menanyakan kepada saya mengenai mahar yang saya inginkan. Saya pun menjawab bahwa saya ingin 5 gram emas dan 10 dirham yang diambil dari tanggal pernikahan kami kelak yaitu 5 Oktober. Saya memilih untuk diberikan logam mulia karena terinsipirasi dari pernikahan di zaman Rasulullah. Setelah saya mengungkapkan keinginan saya itu, tiba-tiba suami saya menawarkan sebuah mahar yang jauh melebihi ekspektasi saya namun tetap memenuhi permintaan saya. Dia menawarkan sebuah mozaik berukuran kurang lebih 1,5 m persegi dengan gambar wajah saya dan suami yang disusun dari 2013 koin uang 100 rupiah. Alhamdulillah, saya sungguh senang dengan mahar yang akan diberikan oleh suami saya. Ide yang ditawarkan suami saya benar-benar belum pernah terbayang sedikitpun oleh saya dan saya benar-benar excited mengenai mahar yang unik ini. Beberapa bulan sebelum hari H, saya pergi ke daerah Padasuka, Bandung, untuk melihat langsung contoh mozaiknya dan membicarakan masalah mahar ini di Oenique Wedding. Alhamdulillah, hasilnya pun sangat bagus dan memuaskan. Sampai saat ini, mahar ini masih terpasang dengan kuat di salah satu dinding rumah kami. Terima kasih banyak suamiku. 

Mahar mozaik wajah yang terdiri dari 5 gram emas, 10 dirham dan 2013 koin uang 100 rupiah by Oeniquewedding

Alhamdulillah, kira-kira itulah beberapa "printilan" yang saya dan keluarga saya urus untuk hari besar saya dan suami  di tanggal 5 Oktober 2013. Walaupun terdapat beberapa kekurangan di sana sini, namun kami sekeluarga tetap bersyukur karena secara garis besar, acara yang sudah kami persiapkan sejak beberapa bulan sebelumnya dapat berjalan cukup lancar. Alhamdulillah. Semoga tulisan saya kali ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang sedang mempersiapkan hari besarnya. ^^

Selasa, 18 Maret 2014

Our First Journey (part 2 )

Day 2 ( 07-10-13 )

Setelah makan pagi sekitar pukul 10, kami pun segera bersiap untuk meninggalkan wilayah Pegunungan Tengger dan melanjutkan perjalanan menuju air terjun Madakaripura. Aktivitas yang cukup melelahkan selama di Bromo membuat kami tertidur selama 4 jam perjalanan.

Kami tiba di lokasi kedua ini sekitar pukul 2 siang. Cuaca saat itu cukup teduh, cenderung mendung. Awalnya tour guide kami sempat ragu mengenai kondisi cuaca ini karena jika hujan turun deras maka satu-satunya jalan yang akan kami gunakan menuju lokasi air terjun bisa saja menjadi longsor. Alhamdulillah, setelah bertanya kepada petugas disana, mereka masih mengijinkan kami untuk melewati akses yang sebenernya pun sudah pernah tertimpa longsor beberapa waktu lalu ketika hujan sering turun dengan sangat deras.

Sebenarnya untuk mencapai lokasi air terjun, pengunjung dapat menggunakan sebuah jalur pejalan kaki yang disusun rapi dengan coneblock. Namun, lokasi jalur pejalan kaki ini memang berada di pinggir tebing dan sungai. Jadi, sebelah kiri jalan adalah tebing dan sebelah kanan jalan adalah sungai dengan aliran air yang tidak terlalu deras. Setelah kejadian longsor beberapa waktu lalu, jalur pejalan kaki ini pun tertutup sebagian oleh longsoran tanah, sehingga para pengunjung kini harus menggunakan jalur air sungai untuk mencapai lokasi air terjun. Kami pun mulai menapaki jalur pejalan kaki selama belum terhalang oleh longsoran tanah, jika sudah terhalang, maka kami akan turun ke sungai dan melanjutkan perjalanan melewati batu-batu kali yang cukup besar. Jika jalur pejalan kaki sudah kembali bisa dilewati, kami kembali naik ke atas dan melalui jalur daratan sampai nanti akan bertemu lagi dengan longsoran tanah, turun lagi ke sungai, dan begitulah seterusnya.

Ternyata, perjalanan wisata alam kali ini benar-benar menguras tenaga. Setelah beraktivitas fisik di Gunung Bromo, kini di air terjun Madakaripura, kami pun kembali harus naik turun demi mencapai lokasi. Walaupun cukup melelahkan, tapi semuanya bisa dijalani karena pada akhirnya water tracking yang tidak direncakan ini pun menjadi terasa sangat seru.

Beberapa meter sebelum lokasi air terjun, tour guide kami mengatakan bahwa di depan, kami akan lewat di bawah kucuran air terjun sehingga kami pasti akan basah jika tidak menggunakan jas hujan atau payung. Akhirnya, kami menyewa jas hujan yang memang disediakan oleh para penyewa di sekitar lokasi.Seru sekali lewat di bawah kucuran air terjun. Dengan kaki yang sudah basah karena masuk ke dalam aliran sungai, bagian kepala kami pun juga merasakan dinginnya air terjun seperti sedang mandi dengan shower.


Setelahnya, kami pun tiba di lokasi utama air terjun Madakaripura ini. Katanya, di air terjun inilah Patih Gajah Mada bersemedi selama beberapa waktu, bahkan tour guide kami pun menunjukkan tempat Patih Gajah Mada bersemedi yang terletak sekitar 3-4 meter di atas permukaan tanah. Setelah puas bermain dengan nuansa gunung, pasir dan savana di Pegunungan Tengger tadi pagi, kini saatnya untuk bermain-main dengan air terjun yang sangat jernih di Air Terjun Madakaripura ini. 



Setelah mengambil beberapa gambar dan sedikit bermain air, kami pun memutuskan untuk kembali ke depan karena waktu sudah semakin sore dan hujan mulai turun rintik-rintik. Di perjalanan pulang menuju tempat parkir, hujan turun semakin besar walaupun tidak terlalu deras. Kami pun berhenti sejenak di sebuah warung kecil untuk menunggu hujan reda , sambil memakan beberapa gorengan dan meminum secangkir minuman hangat untuk sedikit menghangatkan tubuh kami yang mulai kedinginan setelah bermain air tadi.


Di saat hujan mulai reda, kami memulai kembali perjalanan pulang melalui jalur yang sama , yaitu jalur sungai dan jalur pejalan kaki yang terpotong longsoran tanah. Sesampainya di tempat parkir, kami langsung mengganti pakaian kami yang cukup basah dan bersiap memulai perjalanan lagi menuju kota Malang. Akhirnya, wisata alam kedua kami pun selesai. Alhamdulillah, walaupun track yang harus kami lewati tadi tidak pernah diperkirakan sebelumnya, tapi semuanya masih terasa sangat seru dan menyenangkan, terlebih lagi karena kami menjalaninya bersama-sama. ♥♥

Hari kedua ini belum selesai, kami masih akan melanjutkan perjalanan menuju kota Malang. Rencananya kami akan mampir sebentar di hotel tempat kami menginap di daerah Malang, lalu mencoba keindahan lampion di Batu Night Spectacular. Tour guide yang sedari kemaren menemani perjalanan kami memang hanya akan menemani kami selama di Gunung Bromo dan Air Terjun Madakaripura saja. Selanjutnya, kami akan mencoba bertualang berdua saja di daerah Malang. Saat kami menceritakan rencana petualangan kami untuk malam ini dan esok hari, yaitu bermain-main di Jatim Park 2 yang juga berlokasi di Batu, tour guide kami menyarankan untuk menginap di hotel yang berada di daerah Batu saja, agar tidak bolak-balik ke kota Malang.

Akhirnya, setelah 3 jam perjalanan, kami pun tiba di Malang dan langsung menuju daerah Batu, sambil mencari hotel di daerah sana. Ternyata di dalam lingkungan Jatim Park 2 juga terdapat sebuah hotel, Pohon Inn Hotel. Sebuah hotel dengan konsep yang cukup menarik, terlihat seperti sebuah pohon besar dengan beberapa kamar di dalamnya. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk menginap disana. Setelah meletakkan barang bawaan, kami kembali melanjutkan perjalanan ke BNS untuk menikmati keindahan lampion di malam hari walaupun waktu yang tersisa hanya sedikit. 

Setelah puas menikmati indahnya malam bersama berbagai lampion lucu berbentuk karakter, kami pun memutuskan untuk pulang ke hotel dan beristirahat. Besok, kami masih akan melanjutkan petualangan kami di sebuah kebun binatang yang terletak persis di sebelah hotel tempat kami menginap. 

Day 3 ( 08-10-13 ) 

Hari ini kami berencana untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk bermain mengelilingi Jatim Park 2. Nanti sore, jadwal pesawat kami untuk terbang kembali ke Jakarta adalah pukul 5 sore dan kami akan terbang dari Bandara Juanda di Surabaya. Mengingat jarak tempuh yang cukup jauh, supir mobil rental kami menganjurkan agar kami sudah berangkat menuju Juanda dari jam 2 siang. Jatim Park 2 baru akan buka jam 9 dan kami harus sudah check out dari hotel jam 1 siang. Yah, memang petualangan di Jatim Park 2 ini akan terasa sangat sebentar, tapi kami akan tetap mencoba memanfaatkan waktu yang tersisa. Setelah masuk ke dalam Jatim Park 2, menurut kami, kebun binatang ini terlihat sangat rapi dan modern. Jalur yang disediakan akan mengarahkan pengunjung untuk melihat semua hewan yang ada di dalam kebun binatang ini. Di sini juga disediakan sebuah alat transportasi yang mirip skuter beratap untuk satu orang, jika pengunjung mulai merasa lelah untuk mengelilingi kebun binatang yang cukup luas ini. Dengan waktu yang sangat terbatas, kami pun mencoba menikmati tingkah lucu para hewan yang tidak akan pernah bosan untuk dilihat.

 
Tidak terasa, waktu pun berlalu dan kami sudah harus segera check out dari Pohon Inn Hotel. Setelah keluar dari hotel, kami menyempatkan untuk membeli oleh-oleh khas Jatim Patk 2 dan khas Malang untuk orang-orang terkasih di Jakarta. Akhirnya, perjalanan panjang pertama kami pun selesai. Terima kasih Jawa Timur. Alhamdulillah, sebuah kenangan indah telah mewarnai lembaran awal kehidupan kami berdua. Semoga lembaran-lembaran yang akan hadir selanjutnya akan selalu indah, seindah perjalanan kami kali ini. ♥♥


Our First Journey (part1)

Alhamdulillah, setelah tertunda selama hampir 5 bulan, saya akan menceritakan perjalanan pertama saya dengan suami di awal kehidupan kami. 

5 Oktober 2013, saya menikah dengan lelaki idaman saya yang juga merupakan pilihan Allah, Dani Ferdian. Untuk memulai kehidupan baru, saya dan suami berencana untuk memulainya dengan sesuatu yang menyenangkan dan tak terlupakan. Kami merencakan untuk berjalan-jalan ke daerah pegunungan setelah rangkaian acara pernikahan kami selesai. Entahlah, walaupun tracknya akan lebih melelahkan dibandingkan ke pantai, tapi saya sedang bosan dengan nuansa pasir dan laut. Saya ingin mencari suasana yang sejuk dan menenangkan. Terlebih lagi, saya pernah memiliki mimpi untuk bisa 'naik gunung'. Namun, setelah disesuaikan dengan kondisi fisik saya yang belum pernah mendaki gunung layaknya para pencinta alam, maka saya memilih untuk menaiki gunung Bromo yang katanya tidak terlalu sulit untuk pemula seperti saya. Setelah dari Bromo, saya berencana untuk pergi ke air terjun Madakaripura yang sudah direkomendasikan oleh sepupu saya dan selanjutnya akan menuju kota Malang untuk menikmati beberapa tempat wisata disana. So, here we go...

Day1 ( 06-10-13)
Saya dan suami mulai berangkat dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Juanda, Surabaya pada pukul 10.05. Sebuah pemandangan lucu mulai terlihat dari barang bawaan kami. Saya yang terbiasa menggunakan koper saat pergi keluar kota, terlihat membawa satu koper hitam berukuran sedang yang berisi seluruh baju dan perlengkapan ala perempuan yang cukup banyak. Sedangkan suami saya yang sudah cukup sering melakukan aktivitas alam, hanya menggendong sebuah carrier merah berukuran sedang yang berisi beberapa baju, jaket dan sarung tangan sebagai bekal kami untuk mendaki Bromo nanti. Sepertinya, perjalanan koper versus ransel kami akan dimulai.

Setelah tiba di Bandara Juanda, kami langsung dijemput oleh tour guide dari Ekuator Indonesia yang saya dapatkan rekomendasinya dari teman semasa SMA saya yang saat ini pun sudah memiliki travel agent di Bandung ( Teras Nusantara ). Kami langsung menuju Hotel Java Banana yang terletak tidak terlalu jauh dari Gunung Bromo. Ternyata, hotel ini adalah hotel dengan desain yang paling modern di antara hotel lainnya. Saya memilih hotel ini setelah mendapatkan rekomendasi dari beberapa teman. Setelah sekitar 4 jam perjalanan, kami tiba di penginapan ala 'koper' ini. Sesampainya disana, kami langsung beristirahat dan bersiap untuk perjalanan dini hari esoknya.

Day 2 ( 07-10-13 )
Pukul 3 dini hari, kami sudah dibangunkan oleh resepsionis melalui morning call. Kami pun langsung bersiap untuk menuju ke tempat melihat sunrise di pegunungan Tengger yang disebut dengan lokasi penanjakan 1. Dengan jaket tebal, sarung tangan, kaus kaki dan sepatu/sandal gunung, kami pun berangkat menuju lokasi dengan menggunakan sebuah mobil jeep. Perjalanan ke atas memakan waktu sekitar 45 menit. Sesampainya di lokasi, kami turun di tempat parkir jeep dan berjalan kaki menuju lokasi penanjakan 1 . Alhamdulillah, karena ini bukanlah weekend dan musim liburan, maka jumlah wisatawan pun tidak terlalu banyak dan jumlah wisatawan asing terlihat lebih mendominasi. Kami tiba di atas sekitar pukul 4.10. Sambil menunggu waktu Shubuh, kami singgah sebentar di warung kopi untuk memakan pisang goreng hangat dan meminum secangkir jahe hangat untuk mengganjal isi perut sekalian menghangatkan tubuh kami.


Setelah memperkirakan waktu Shubuh ( di sana tidak akan terdengar adzan karena penduduknya mayoritas beragama hindu ), kami pun beranjak menuju tempat shalat yang dekat sekali dengan lokasi penanjakan 1. Saat mengambil air wudhu, air yang dirasakan benar-benar dingin dan membuat saya langsung menggigil. Kami pun shalat berjamaah ditemani angin gunung yang sangat dingin. Setelah selesai Shalat, kami bersiap untuk melihat keindahan sunrise yang katanya adalah sunrise terbaik ketiga sedunia. Di dalam area Penanjakan 1 ini, para wisatawan terlihat mulai memenuhi setiap spot untuk mengabadikan keindahan sunrise di pagi ini. Beberapa wisatawan terlihat menggunakan kamera SLR dengan lensa yang bermacam-macam dan saya pun mencoba untuk ikut mengabadikan kekuasaan Allah di pagi hari ini dengan kamera poket saya. Masya Allah, sungguh luar biasa keindahan alam yang telah diciptakan Allah untuk kita. Saat melihat sang surya muncul, sebuah perasaan bahagia dan syukur langsung memenuhi hati saya. Sebuah kehidupan yang luar biasa telah Allah anugerahkan kepada saya, termasuk sebuah kesempatan untuk bisa melihat keindahan sunrise di pagi ini bersama suami tercinta. Alhamdulillah.



Dari Penanjakan 1 ini juga, kami bisa melihat Gunung Bromo, Gunung Batok, dan bahkan Gunung Semeru. Sungguh indah pemandangan yang dapat kami lihat dari atas sini. Setelah matahari mulai bergerak semakin tinggi, wisatawan pun mulai berkurang dan kami segera memanfaatkan kosongnya daerah itu untuk berfoto bersama dengan latar belakang Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Alhamdulillah, sebuah kenangan indah di atas pegunungan ini dapat kami bawa ke Jakarta.


Setelah puas berfoto di area penanjakan 1, kami pun turun menuju tempat parkir mobil jeep. Namun, kami sempat singgah sebentar di sebuah warung untuk memakan jagung bakar, cukup untuk mengisi perut yang mulai lapar. Setelah masuk kembali ke dalam mobil jeep, kami langsung menuju wilayah Gunung Bromo. Melewati lautan pasir, kami berencana untuk berhenti sejenak di sebuah wilayah yang disebut 'pasir berbisik'. Mengapa disebut pasir berbisik?. Ternyata, itu karena halusnya pasir ini menghasilkan suara berbisik saat tertiup oleh angin. Saya pun mencoba berjalan di atas pasir berbisik itu dan kehalusan pasir ini cukup membuat saya kesulitan saat harus kembali menanjak ke atas.


Selesai menikmati area pasir berbisik, kami pun beranjak ke sebuah savana yang terletak tidak jauh dari area pasir berbisik ini. Di sana , katanya, ada bukit yang bertumpuk-tumpuk dan berwarna hijau yang sering disebut sebagai bukit telletubies. Ya, memang ternyata bentuknya mirip sekali dengan bukit-bukit yang menjadi rumah bagi para telletubies di film mereka. Masya Allah, pemandangan ini benar-benar sungguh menyejukkan mata dan hatiku. Hamparan rumput begitu luas dan hijau meneduhkan. Pegunungan ini memang cantik. Dengan tampilan yang sangat berbeda dengan pasir berbisik yang bernuansa abu-abu, savana ini terlihat begitu hijau di area pegunungan Tengger.


Selanjutnya kami kembali ke jeep untuk berangkat menuju lokasi utama, yaitu Gunung Bromo. Di sana, ada banyak sekali kuda yang memang disewakan untuk menjadi kendaraan bagi para pengunjung yang ingin mencapai kaki Gunung Bromo tanpa berjalan kaki. Saya pun memilih untuk menaiki kuda, selain untuk menyimpan tenaga, saya memang ingin sekali naik kuda. Di dalam perjalanan menuju kaki Gunung Bromo, kami melewati sebuah pura yang sangat besar. Pura ini sering digunakan oleh para penduduk yang beragama hindu untuk melaksanakan ibadah di hari-hari besar agama mereka. Pura ini memang terlihat sangat mencolok di tengah-tengah lautan pasir dan gunung-gunung yang menjulang.


Sesampainya di kaki Gunung Bromo, kami pun bersiap untuk menaiki anak tangga yang katanya berjumlah sekitar dua ratusan untuk mencapai puncak. Bismillah, perjalanan akan dimulai. Di sepanjang tangga ini, ada tiga tempat untuk beristirahat dan karena saya sudah kama tidak berolahraga, saya pun selalu beristirahat sejenak di ketiga pos itu, hehe. Setelah perjuangan melawan lelah dan dingin, akhirnya saya tiba di puncak gunung ini. Alhamdulillah, ternyata saya bisa. ^^

Menikmati kawah Gunung Bromo dan pemandangan yang cukup menyejukkan mata di puncak gunung ini telah membuat saya merasa sangat senang. Akhirnya, mimpi saya untuk bisa naik gunung sudah terlaksana. Saya pun mencoba mengabadikan pencapaian mimpi saya itu melalui kamera poket saya. Namun, di balik semua keindahan ini, ada sebuah pemandangan yang kurang enak dipandang mata , yaitu coret-coretan para pengunjung di pagar yang ada di bagian puncak Gunung Bromo ini, sungguh sangat disayangkan, vandalisme itu masih saja menodai keindahan pegunungan ini.

Tidak berapa lama setelah kami turun dari Gunung Bromo, matahari terasa semakin menghangatkan tubuh kami. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk kembali ke hotel dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami ke tujuan kedua, yaitu air terjun madakaripura. Alhamdulillah, akhirnya Gunung Bromo ini berhasil memberikan kenangan yang sangat indah di awal kehidupan baru kami, semoga kehidupan kami pun akan selalu indah, seindah pemandangan di pegunungan Tengger ini, Aamiin...


...to be continued..  

Kamis, 23 Januari 2014

Menjadi seorang istri..

Sudah hampir 4 bulan saya belajar menjadi seorang istri yang sholehah, mencoba dan selalu berusaha untuk mewujudkan mimpi saya untuk menjadi perhiasan terindah bagi orang yang sangat saya cintai, suami saya. Alhamdulillah, rasa bahagia terus menerus mengiringi kehidupan rumah tangga kami, bukan karena kami berlimpahan harta, bukan karena kami sukses berkarir, dan bukan karena seorang anak yang telah Allah karuniakan kepada kami. Saya bahagia karena Allah selalu bersama kami setiap saat. Sabar dan syukur benar-benar selalu mewarnai perasaan kami di setiap kondisi yang kami alami, di saat senang maupun di saat kami mendapatkan musibah. Semakin hari menjalani kehidupan bersama suami tercinta, saya semakin merasakan betapa besar kasih dan sayang yang telah Allah berikan kepada saya. Mendapat kasih sayang dari Allah yang sangat saya cintai berupa seorang suami yang juga sangat saya cintai bebnar-benar menjadi puncak kebahagiaan bagi seorang wanita muslim seperti saya. Dulu, saya sempat merasa minder, apakah saya mampu menjadi istri yang pas untuk suami saya kelak. Entahlah, lingkungan kami cukup berbeda, sepertinya saya memang harus mengejar banyak ketertinggalan saya. Tapi, saya pun percaya, jika Allah mengijinkan saya untuk menjadi istrinya, berarti Allah telah memberi kepercayaan kepada saya bahwa saya memang mampu dan pas untuk menjadi istrinya, aamiin.   

Kebahagiaan yang tidak akan pernah saya dapatkan sebelum menikah, kini akan selalu menemani saya setiap harinya. Rasa bahagia saat bisa membahagiakan suami, rasa syukur saat merasakan cintaNya, dan perasaan dicintai yang membuat saya merasa terlindungi. Setelah menjadi seorang istri, banyak hal baru yang saya dapatkan di kehidupan saya. Ada satu hal yang benar-benar harus saya perhatikan dengan baik, diri saya kini bukan hanya milik saya sendiri, maka untuk melakukan segala hal, ada seseorang yang harus saya perhatikan dan jaga perasaannya, bahkan seluruh waktu, tenaga dan pikiran saya benar-benar telah menjadi milik keluarga kecil saya kelak. Walaupun saya harus berada jauh dari keluarga dan teman-teman saya, saya tidak pernah merasa sendiri ataupun sedih, terlebih lagi, komunikasi kini dapat dijalankan tanpa harus bertatap muka. Di sini, saya pun memiliki keluarga dan lingkungan baru yang membuat saya semakin dan semakin bersyukur. Bukankah berada di lingkungan yang selalu mendekatkan diri kita kepada Allah adalah sebuah kebahagiaan?. Bagi saya, tujuan hidup saya saat ini adalah menggapai surgaNya bersama suami tercinta. Kami pun selalu berusaha untuk terus berjalan bersama ke arah sana. Dan bagi seorang istri, ridho Allah terletak pada ridho suaminya, maka untuk mencapai surgaNya, saya harus menjadi seorang istri yang selalu mendapatkan ridho suaminya, seperti yang pernah disabdakan oleh baginda Rasulullah, "Jika ada seorang istri meninggal dunia, sedang suaminya dalam keadaan ridho kepadanya, maka dia (istri tersebut) pasti masuk surga". Sungguh indah bukan ridho sang suami?   

Menikah memang telah menjadi cita-cita saya sejak lama, namun sepertinya dulu saya hanya ingin menikah tanpa pernah mempersiapkan dengan benar bagaimana caranya menjadi seorang istri yang baik, walaupun saya sudah berusaha dengan membaca buku tentang pernikahan, sepertinya itu tidak cukup. Alhamdulillah, seorang suami yang telah Allah kirimkan untuk menjadi imam dalam hidup saya adalah seorang lelaki yang begitu sabar menuntun saya menuju jalan yang lebih baik. Begitu banyak pelajaran hidup yang akhirnya baru saya dapatkan di bulan-bulan menuju pernikahan sampai setelah pernikahan , seperti bagaimana caranya menghargai diri sendiri sebagai seorang muslimah, menghargai orang lain, mencoba memahami keinginan, kebutuhan dan perasaan pasangan, menjaga kehormatan diri baik di dunia nyata maupun dunia maya dan menjaga kehormatan keluarga. Saya juga banyak belajar bagaimana menjaga sebuah komitmen, selalu mengedepankan kepercayaan kepada pasangan, menjunjung tinggi kejujuran dalam diri, baik dalam berucap maupun berbuat dan seberapa pentingnya komunikasi dalam sebuah hubungan. Suami saya selalu mengajak saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala hal karena bagaimanapun juga sayalah yang nantinya akan menjadi madrasah bagi anak-anak kami kelak. Saya dituntun untuk bisa menjadi seorang muslimah yang bisa lebih menjaga diri dari interaksi dengan lawan jenis, seperti yang pernah diceritakan di jaman Rasulullah mengenai seorang istri yang bahkan selalu menunda untuk menerima tamu laki-laki di rumahnya karena ingin meminta ijin kepada suaminya terlebih dahulu, walaupun laki-laki yang akan masuk ke dalam rumahnya adalah seorang anak kecil. Bagi saya interaksi lawan jenis itulah yang benar-benar harus dijaga dengan baik, baik di dunia nyata maupun di dunia maya karena pada kenyataannya fitnah sangat mudah terjadi jika ada peluang. Saya juga semakin memahami bagaimana cara yang terbaik untuk mendapatkan quality time dengan keluarga tercinta dan bagaimana cara memanfaatkannya dengan maksimal. Saya percaya, setiap detik kehidupan kita memang akan selalu menjadi waktu berharga untuk terus belajar, karena semesta ini adalah universitas hidup yang paling utama. Begitupun dengan kehidupan pernikahan yang sedang saya jalani saat ini. Sejak awal, saya memang selalu menginginkan agar pernikahan ini mengantarkan saya untuk menjadi seorang istri , ibu dan muslimah yang jauh lebih baik. Alhamdulillah, sampai saat ini, Allah masih mengijinkan saya untuk mewujudkan keinginan saya itu.   

Kini, di beberapa hari menuju 4 bulan pernikahan kami, saya  hanya ingin menjadi seorang istri yang jauh lebih baik lagi. Saya akan berusaha untuk menjadi istri yang sholehah seperti yang Rasulullah jelaskan dalam hadits, "Sebaik-baik wanita ialah yang menyenangkanmu, saat kamu melihatnya; yang mematuhimu saat kamu perintah; yang  menjaga diri dan hartamu saat kamu tiada (di rumah)". Ibu saya pun pernah berpesan kepada saya untuk selalu melakukan yang terbaik untuk suami, karena kelak suami pun akan melakukan hal yang sama, seperti yang Allah firmankan dalam surat favorit saya, Ar-Rahman ayat 60, bahwa "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)". Saya akan terus berusaha mewujudkan hal-hal yang telah saya pelajari sampai saat ini agar semua pembelajaran itu tidak hanya terlintas begitu saja, namun masuk ke dalam pikiran saya dan terlihat dalam setiap perilaku saya, semoga Allah memperkenankan, aamiin. Saya juga akan terus belajar hal-hal baru yang akan membuat saya semakin dekat kepada ridho suami saya dan akan bermuara kepada ridhoNya. Sambil menanti kehadiran buah hati yang masih Allah simpan untuk kami berdua, saya akan terus belajar dan mempersiapkan diri untuk menjadi ibu yang baik dan menjadi madrasah pertama yang akan membentuk kepribadian anak-anak kami kelak. Semoga kelak keluarga kami akan melahirkan anak-anak yang begitu mencintai Allah, Rasulullah dan mencoba meneladani segala hal dari Rasulullah tercinta. Aamiin.   



"Terima kasih atas segalanya suamiku, semoga Allah perkenankan kita untuk terus bersama hingga ke surgaNya kelak, terima kasih karena telah menjadi suami, sahabat, guru dan imam terbaik dalam hidupku"

Senin, 23 Desember 2013

6 hari menjadi calon ibu

Semua perempuan pasti ingin menjadi seorang ibu karena itulah yang membuat dirinya merasa menjadi perempuan seutuhnya, begitupun dengan saya. Sebelum menikah, sekitar 5 hari sebelum hari H, saya menjalani pemeriksaan TORCH (TOxoplasma, Rubella, CMV, HSV ) untuk mempersiapkan kondisi saya sebelum hamil kelak. Ternyata, salah satu virus telah berada di dalam tubuh saya saat tes itu dijalankan, nilai IgM CMV saya positif. Setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan, saya harus menjalani pengobatan antivirus dan menunda kehamilan selama satu bulan. Sebuah perasaan khawatir pun sempat menghampiri saya tapi saya percaya Allah akan selalu memberikan yang terbaik kepada hambaNya. Dengan terus berprasangka baik terhadap rencanaNya, akhirnya setelah selama satu bulan menjalani pengobatan, alhamdulillah, hasil CMV saya pun sudah negatif dan saya sudah boleh hamil. Usia pernikahan kami memang baru menginjak dua bulan, tapi saya dan suami sudah berprogram untuk segera memiliki momongan. 

Minggu, 15 desember 2013 ( hari 1) 
Sejak beberapa hari yang lalu, saya mulai merasakan tanda2 yg aneh dari tubuh saya. Mudah lelah, kram perut dan beberapa tanda lain yang membuat saya kurang nyaman beraktivitas. Menstruasi bulanan pun sudah terlambat dua hari. Saya mulai berpikir, apakah saya hamil?, tapi saya tidak ingin terlalu berharap. Melihat kondisi saya yang sering kram perut, akhirnya suami saya memutuskan untuk segera mengecek kehamilan dengan testpack. Pagi-pagi sekali, setelah bangun tidur, saya pun menggunakan testpack yang sudah dibeli semalam. Alhamdulillah, ada dua garis yg muncul di testpack itu, walaupun garis yg satunya samar. Suami saya langsung mengonsultasikan kesamaran garis kedua itu kepada teman-teman sejawatnya sesama dokter. Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa saya positif hamil, walaupun ada baiknya untuk melakukan testpack lagi setelah 3 hari. Alhamdulillah akhirnya kabar bahagia itu pun datang juga. Saya langsung mengabari keluarga dan teman terdekat mengenai hasil testpack pagi ini sekalian meminta doa untuk kelancaran kehamilan saya. Alhamdulillah, ya Rabb, akhirnya Kau tunjukkan padaku kuasaMu, semoga kehamilan ini dapat berjalan dengan lancar sampai proses persalinan kelak, aamiin. 

Senin, 16 Desember 2013 ( hari 2 ) 
Sejak kemarin sore sampai saat ini, saya sudah mulai rajin mencari-cari informasi tentang kehamilan trimester pertama via internet. Saya juga mulai mencari dokter kandungan yang kira-kira sesuai dengan kebutuhan saya. Alhamdulillah, kakak kandung dan kakak ipar saya juga sedang hamil jadi saya pun bisa banyak bertanya-tanya kepada mereka mengenai kehamilan pertama saya ini. Saya juga banyak mengumpulkan informasi dari sahabat-sahabat saya yang sudah memiliki anak. Alhamdulillah,ternyata rasanya sungguh menyenangkan saat saya mempelajari semua hal mengenai kehamilan ini. Begitu banyak hal yang harus saya perhatikan saat ini, mulai dari makanan yang saya makan sampai aktivitas yang boleh saya lakukan. Ya Allah, sungguh luar biasa persiapan yang harus dilakukan seorang ibu dalam menyambut bayinya tercinta, terima kasih karena aku pun bisa merasakannya kini. 

Selasa, 17 Desember 2013 ( hari 3 ) 
Awalnya, suami saya merencanakan untuk memeriksakan kondisi kehamilan saya ke dokter kandungan hari ini, namun kakak saya menyarankan untuk menunggu sampai hari Jumat agar usia perkiraan kehamilan saya sudah cukup untuk dilihat kondisi kantung kehamilannya. Akhirnya, kami pun membatalkan rencana untuk ke dokter kandungan hari ini. Saya mulai mencoba untuk menyesuaikan aktivitas harian di rumah dengan kondisi kehamilan ini. Perlahan saya mulai memilah apa saja yang boleh saya lakukan dan boleh saya makan selama hamil. Sebenarnya sampai hari ini pun, saya masih sangat tidak menyangka bahwa Allah akan memberikan anugerah kepada kami secepat ini, tapi saya yakin, apapun yang sudah menjadi keputusanNya maka saya pasti mampu menjalaninya dan ini sudah pasti yang terbaik. Aamiin 

Rabu, 18 Desember 2013 ( hari 4 ) 
Tiba-tiba, saat saya baru bangun tidur, saya merasakan bagian di bawah kuping kanan saya terasa sangat sakit dan bengkak, apakah saya terkena flu? Atau radang tenggorokan?. Saya pun langsung menceritakan keluhan saya kepada suami. Setelah diperiksa olehnya, suami saya mengatakan bahwa kondisi tenggorokan saya baik-baik saja, tapi kemungkinan besar saya terkena virus parotitis. Ya Allah, saya terkena parotitis saat hamil muda. Saya cukup khawatir dan takut kalau parotitis ini akan membahayakan kehamilan saya. Tapi, setelah saya mencari informasi via internet, insya Allah, parotitis ini tidak membahayakan kehamilan. Siangnya, saat suami saya sedang bertugas di Puskesmas, saya merasa sangat lemas. Untuk makan pun rasanya sangat sulit karena bengkak di kelenjar parotis ini membuat bukaan mulut saya menjadi sangat kecil dan makanan menjadi sulit dikunyah. Tapi, demi kehamilan ini, saya berusaha sekuat tenaga untuk dapat tetap makan dengan baik. Setelah saya ingat-ingat lagi, kemungkinan penyakit parotitis ini ditularkan oleh pasien saya di klinik sekitar dua minggu yang lalu. Ya, sepertinya saat itu kondisi tubuh saya memang kurang sehat. Malam ini, demam pun menyerang saya. Suhu tubuh saya mencapai 38 derajat celsius. Saya pun meminum parasetamol yang paling aman untuk dikonsumsi ibu hamil. Tapi, demam saya tidak juga membaik. 

Kamis, 19 Desember 2013 ( hari 5) 
Sampai pagi ini, kondisi saya tidak juga membaik. Setiap efek obatnya habis, demam akan kembali menyerang tubuh saya. Kondisi saya pun melemah. Akhirnya, suami saya memutuskan untuk membawa saya ke dokter kandungan pagi ini juga. Suami saya pun ijin untuk tidak bertugas di puskesmas. Kami berangkat menuju Rumah Sakit Hasan Sadikin dengan harapan dapat menemui dokter kandungan yang kami inginkan. Sesampainya di sana, ternyata dokter kandungan yang kami inginkan tidak praktek. Alhamdulillah, masih ada dokter kandungan yang lain yang dapat kami temui siang itu. Saya diperiksa dengan menggunakan USG dan ternyata kantung kehamilan sudah terbentuk. Usianya tiga minggu. Alhamdulillah, Ya Allah, betapa bahagianya hatiku saat melihat kantung kehamilan itu. Saya benar-benar hamil. Dokter hanya menyarankan saya untuk meminum asam folat dan penguat rahim, sepertinya kandungan saya baik-baik saja. Untuk parotitis yang saya derita, dokter mengijinkan untuk meminum antibiotik yang paling aman untuk dikonsumsi ibu hamil. Alhamdulillah, akhirnya kami mendapat pencerahan mengenai hal ini. Saya pun pulang dari RSHS dengan perasaan yang sangat bahagia. Rasanya tidak sabar untuk bisa kontrol kembali bulan depan untuk mendengar detak jantung janin yang ada di dalam perutku. Namun, di perjalanan pulang, demam kembali menyerang. Kondisiku kembali melemah. Semoga saja, setelah aku meminum antibiotiknya nanti malam, kondisiku akan jauh lebih membaik. Aamiin. Terima kasih ya Allah, aku sangat bahagia dapat bertemu dengan calon bayiku hari ini. Alhamdulillah. 

Jum'at, 20 Desember 2013 ( hari 6 ) 
Semalam, kondisi saya sudah lebih membaik. Begitupun dengan pagi ini. Sepertinya puncak demam penyakit parotitis ini pun sudah lewat. Walaupun saya sudah tidak demam, tapi kondisi badan saya masih cukup lemas. Setelah sarapan, saya pun kembali tidur di kasur. Saya juga mulai merasakan kembali kram di perut saya. Kata dokter, ini adalah hal yang wajar karena rahim saya sedang membesar. Sekitar jam 10 saya terbangun dan masih merasakan kram di perut saya. Tidak lama kemudian, saya merasakan ada flek yang keluar. Saya mulai panik. Saya langsung bertanya kepada kakak ipar saya mengenai hal ini. Namun, menurutnya jika flek yang keluar tidak banyak, insya Allah tidak masalah. Akhirnya, saya pun mencoba untuk tidur lagi dan mengistirahatkan badan saya. Saya khawatir flek ini keluar karena saya kelelahan. Jam 12.30, ibu mertua saya membangunkan saya untuk makan siang, tiba-tiba saya merasakan kram perut yang belum juga hilang dan flek yang masih keluar. Saya kembali panik. Saya langsung menghubungi kakak saya dan menceritakan semuanya. Menurutnya, kalau flek saja tanpa kontraksi, itu tidak menjadi masalah. Tapi, kalau flek yang keluar disertai dengan kontraksi, lebih baik saya bedrest saja, tidak turun dari kasur sama sekali. Saya pun langsung menghubungi suami saya dan suami saya yang saat itu baru selesai shalat jumat, langsung berencana untuk pulang. Sambil beristirahat di atas kasur, saya mencoba untuk makan bubur karena saya harus minum obat siang ini. Sekitar jam 1 siang, tiba-tiba darah mulai keluar. Saya langsung memanggil ibu mertua saya dan mengatakan kalau sekarang bukan hanya flek tapi sudah darah. Saat itu pun saya langsung berpikir bahwa saya akan kehilangan calon bayi saya. Awalnya darah yang keluar hanya sedikit, tapi setelah saya mencoba memakai pembalut, darah semakin banyak mengalir dan gumpalan-gumpalan darah pun sudah keluar. Saya langsung menghubungi suami saya yang saat itu sedang di dalam perjalanan. Saya menceritakan semuanya. Entah bagaimana, saat itu Allah memberikan ketenangan dalam diri saya. Seketika saja, saya pun mengikhlaskan segalanya. Rasa sakit dari kontraksi perut ini masih terus menyertai pendarahan ini. Ibu mertua saya pun terlihat sangat khawatir dengan keadaan saya. Siang itu, saya sampai harus berganti pembalut sebanyak lima sampai enam kali. Pendarahan yang terjadi begitu hebat dan menguras tenaga saya. Saat masih berada di perjalanan, suami saya meminta saya untuk segera bersiap-siap karena setelah suami saya sampai di rumah, kami akan segera berangkat menuju RS Hermina Pasteur. Sekitar jam 3, suami saya sampai di rumah. Saat itu, saya pun masih berada di kamar mandi untuk mengganti pembalut yang ke sekian kalinya. Gumpalan darah yang keluar sudah semakin banyak. Setelah siap, saya pun dipapah suami saya menuju mobil dan kami langsung berangkat menuju Rumah Sakit bersama dengan ibu mertua saya. Sesampainya di RS Hermina Pasteur, saya langsung dibawa masuk ke ruang IGD dan diperiksa oleh dokter jaga di sana. Alhamdulillah, dokter yang kemarin baru saja kami temui di RSHS juga praktek di sini sore ini. Setelah beliau datang, saya pun dibawa ke dalam poli dan diperiksa kembali dengan menggunakan USG. Dokter mengatakan bahwa kantung kehamilan saya sudah kolaps, tidak bisa dipertahankan lagi. Sisa jaringan pun masih ada di dalam rahim saya sehingga dokter menyarankan untuk dilakukan kuretase. Akhirnya, operasi kuretase pun direncanakan akan dilakukan pada pukul 19.00. Dokter masih belum bisa memastikan apa penyebab dari keguguran yang saya alami karena ini adalah kehamilan pertama, keguguran pertama dan usia kehamilan pun masih sangat muda, 3 minggu. Banyak sekali kemungkinan yang bisa menjadi penyebab keguguran ini, bisa karena infeksi parotitis yang saya alami, bisa karena kelainan kromosom atau hal lainnya. Hasilnya mungkin akan bisa diketahui setelah jaringan di dalam rahim saya ini berhasil dikeluarkan dan diperiksa di bagian patologi anatomi. Alhamdulillah, kuretase di bawah anestesi umum pun berjalan dengan lancar. Rasa sakit yang saya rasakan sejak jam 1 siang hingga jam 7.30 malam pun akhirnya sudah berhenti. Ternyata keguguran itu rasanya sakit sekali. Saya belum pernah merasakan sakit sehebat itu. Malamnya, saya sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan untuk beristirahat. Ditemani oleh suami, ibu mertua dan ibu kandung saya, rasanya sungguh menenangkan. Saya yakin, Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hambaNya, termasuk bagi saya dan suami. Keguguran ini saya anggap sebagai sebuah ujian dari Allah sebagai bukti cintaNya. Saya dan suami pun bersyukur masih diberikan kesempatan untuk merasakan menjadi calon orangtua dalam waktu 6 hari. Allah ingin menunjukkan kepada kami, bahwa kami bisa menjadi orangtua namun sepertinya waktunya belum tepat sehingga Allah mengambil kembali calon janin yang sempat dititipkanNya di dalam rahim saya. Terima kasih ya Allah, terima kasih banyak atas segalanya, terima kasih karena Kau telah mengijinkan hamba untuk menjadi calon ibu selama 6 hari. Alhamdulillah. :")

Jumat, 20 September 2013

Rumah Bunda :")

"Bun, Fikri pulang agak malam ya, kerjaan di kampus belum selesai." 
" Ya sudah, hati-hati ya nak, jangan terlalu malam." 

Ku tutup telepon dari anak laki-lakiku, Fikri. Dia sudah berada di tingkat akhir kuliahnya sehingga dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk berada di kampus. Biasanya, di saat matahari akan terbenam, Fikri sudah pulang dan mulai menemaniku di rumah yang sederhana ini. Dia akan menceritakan semua kegiatannya di kampus, tentang dosen pembimbing yang sangat dia takuti, tentang tugas kuliah yang tidak pernah ada habisnya, atau bahkan terkadang dia juga menceritakan tentang teman perempuan yang cukup menarik perhatiannya. 
Fikri, tidak terasa, kini kau sudah tumbuh besar menjadi seorang pemuda. 

Aku hanya tinggal berdua dengannya saat ini. Suamiku sudah meninggal karena kanker yang dideritanya setahun yang lalu. Anak perempuanku, Fiza, sudah menikah dan pindah bersama suaminya ke Maluku Utara. Rumahku ini terasa semakin sepi. Tapi di rumah inilah sejuta kenangan tentang keluarga kecilku tetap hadir menemani. Setelah pensiun dari pekerjaanku, kini kesibukanku hanyalah mengurus rumah, mengurus Fikri dan sedikit membaca buku-buku Islam. 

Tanpa terasa, sudah satu tahun suamiku pergi. Kalau dia masih ada di sini sore ini, di saat Fikri belum pulang, pasti dia akan mengajakku menonton acara favoritnya di televisi atau hanya sekedar memintaku untuk membuatkan teh hangat sebagai temannya membaca koran sore. Aku merindukan masa-masa itu. 
Ah, bi, andai kau masih ada disini. Sebentar lagi sudah mau bulan puasa. Aku merindukan kebersamaan kita dua tahun lalu, saat kau masih mengimami setiap shalat tarawih kita di rumah, saat Fiza dan Fikri masih bergantian membantuku menyiapkan makanan untuk berbuka. Aku merindukanmu, bi. Aku merindukan kehangatan suasana di rumah ini. 

Ah, sudahlah, daripada berangan-angan yang tidak ada manfaatnya, lebih baik aku ambil koran sore dan surat-surat yang belum ku ambil dari kemarin di depan rumah. Aku langkahkan kaki menuju halaman rumah dan saat aku buka kotak pos hitam di depan pagar rumah, aku temukan tiga surat. Ada surat tagihan telepon, undangan pernikahan keponakanku di Jakarta dan sebuah surat dengan amplop berwarna cokelat. Ini surat dari Fiza, Alhamdulillah. 

Ya, Fiza, anakku yang satu ini memang selalu ku rindukan. Setelah menikah dua tahun yang lalu, dia tinggal di sebuah desa yang cukup terpencil di Maluku Utara untuk menemani suaminya yang bekerja di sebuah perusahaan tambang nikel di sana. Di tempat tinggalnya, terkadang sinyal ponsel pun tidak ada. Kalau bukan untuk sesuatu yang sangat penting dan mendadak, dibandingkan dengan mengirim e-mail atau menelepon saat dia sedang berada di kota, dia lebih suka mengirimiku surat, katanya biar lebih seru. 

"Asslamualaykum, Bunda sayang, apa kabarnya di Bandung? Bunda sehat kan? Fikri bagaimana? Dia nggak nakal kan bun? Kalau dia bikin pusing bunda, kasih tau Fiza ya, biar nanti Fiza omelin. Hehe.. Oiya Bun, kemarin bang Dhika dimintain bantuan sama warga sekitar supaya aku bisa mengajar mengaji anak-anak di Masjid dekat sini. Alhamdulillah, Bun, akhirnya aku bisa mengajar lagi, walaupun gajinya memang masih sangat kecil. Di sini, walaupun mayoritas muslim, tapi mereka masih kekurangan tenaga untuk mengajar Al-Qur'an. Doakan aku berhasil di sini ya, bun. Aamiin.. " 

Alhamdulillah, akhirnya Fiza mendapatkan kegiatan baru yang disukainya. Beberapa waktu lalu, saat dia berkesempatan pulang ke rumah, dia sempat mengatakan kepadaku bahwa dia sangat rindu mengajar. Dulu, sebelum menikah, dia adalah seorang guru di SD dekat rumah kami. Dia sangat suka mengajar. Sejak lulus SMA, dia mengatakan kepadaku bahwa dia ingin menjadi guru. Berbeda dengan adiknya, Fikri, yang sangat mengidolakan Abi nya sehingga memilih masuk teknik. 

" Oiya, Bun, mungkin lebaran tahun ini, Fiza nggak bisa pulang karena bang Dhika diminta atasannya untuk tetap di sini sampai lebaran. Padahal, Fiza udah kangen banget sama Bunda, semoga Allah kasih jalan untuk bisa pulang ya Bun. Sampaikan salam kecup untuk Fikri, semoga skripsinya cepat selesai. Oiya, ada salam juga dari bang Dhika. Ya sudah, baik-baik di sana ya Bunda sayang, terimakasih untuk doa-doanya. Fiza sayang Bunda, Wassalamualaykum" 

Ya, lebaran tahun ini, Fiza tidak bisa pulang. Itu berarti hanya akan ada aku dan Fikri. Sepinya rumah ini. Ah, ya sudahlah, Fiza sudah punya kehidupan baru dengan suaminya, aku harus bisa mengikhlaskannya. Dia sedang berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya, seharusnya aku bisa mendukungnya. Ku lihat jam di dinding menunjukkan pukul 17.00, Fikri pasti masih lama akan tiba di rumah. 

*** 

"Allahu akbar, Allahu akbar " 
Adzan Maghrib membangunkanku. Ya Allah, aku tertidur setelah membaca surat dari Fiza tadi sore. Aku langsung bergerak menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan bersiap shalat maghrib. Tiba-tiba bel pintu rumahku berbunyi..

 "Assalamualaykum, Bundaaa..". Itu suara Fikri. Aku kembali berjalan ke ruang tamu dan membukakan pintu untuknya. 

"Waalaykumussalam, lho, Fik, sudah pulang?" 

"Iya Bun, tadi tiba-tiba dosen pembimbing Fikri ada acara mendadak, jadi Fikri nggak jadi bimbingan sampai malam"

 "Oh, Alhamdulillah kalau begitu, ya sudah, ambil air wudhu sana, Shalat Maghrib yuk ". 

Suasana berjamaah kali ini memang tidak pernah sama dengan dulu. Sekarang aku hanya tinggal berdua. Tidak ada lagi mengaji berempat di mushola rumah ini. " Ya Allah, berkahilah kehidupan kami , sampaikanlah kami pada bulan penuh ampunanMu dan kumpulkanlah kami kembali di dalam surgaMu, Aamiin. Aku sangat merindukan anakku, ya Rabb". Ku panjatkan doa penuh harap kepada Sang Maha Kuasa seusai shalat. Tiba-tiba terdengar lagi suara bel pintu rumah kami. Fikri yang sudah selesai melipat sarung dan sajadahnya langsung bergerak menuju depan rumah dan membukakan pintu.

"Assalamualaykum, Bundaaa" 

Itu adalah suara Fiza. Alhamdulillah ya Rabb, terima kasih. Aku langsung memeluknya. 

"Waalaykumussalam, kok tiba-tiba pulang ke rumah bunda tanpa kasih kabar. Katanya kamu nggak bisa pulang sama Dhika" , menantuku pun mencium tanganku setelah kulepaskan pelukan Fiza. 

" Iya, Bun. Tadi pagi, tiba-tiba, atasan bang Dhika memberikan tugas mendadak. Senior bang Dhika yang harusnya dinas di Bandung, tiba-tiba masuk Rumah Sakit kemarin malam. Jadi, tadi pagi, bang Dhika diminta untuk menggantikannya dan dinas di sini selama dua bulan. Maaf Bun, tadi aku nggak sempat telepon Bunda" 

"Alhamdulillah, iya nggak apa-apa nak, ibu udah senang sekali kamu bisa pulang berdua dengan Dhika sebelum puasa" 

"Aku nggak cuma berdua Bun.."

 "Sama siapa lagi?" , aku melihat ke sekeliling dan tidak menemukan siapapun. 

" Ini, Bun ", Fiza memegang perutnya. 

"Aku bertiga, sama calon cucunya Bunda", Fiza melanjutkan bicaranya.

 "Alhamdulillah" Aku kembali memeluk Fiza dengan mata yang berkaca-kaca, lalu aku pegang perutnya yang sudah mengandung janin berusia empat minggu itu. 

Maghrib itu, aku kembali merasakan betapa besar anugerah yang diberikan olehNya. Walaupun di Ramadhan tahun ini, suamiku telah pergi meninggalkan kami semua, tapi kini ada anggota baru di dalam kehangatan rumahku. Rumahku kembali mendapatkan cahayanya.Terima kasih ya Allah.