Senin, 06 November 2017

Mengasuh si kecil anugerah dari Allah


Memasuki usia kehamilan 30 minggu, saya mulai kembali membaca buku-buku tentang melahirkan, menyusui dan mengurus bayi. 3 tahun memang belum bisa dikatakan cukup lama untuk membuat saya melupakan hal-hal tersebut, namun selain kondisi yang sedikit berbeda di kehamilan kali ini, tidak ada salahnya saya me refresh kembali ingatan saya mengenai hal ini.

Alhamdulillah, saat berusia 25 tahun, saya mendapatkan hadiah buku dengan judul Panduan Terlengkap Pasca Melahirkan karya penulis Nurul Chomaria, S.Psi yang diberikan oleh sahabat-sahabat terdekat saya dan di saat anak pertama saya berusia 2 bulan, saya juga mendapatkan sebuah buku dengan judul Buku pintar ASI dan Menyusui dari penulisnya langsung yaitu mba Fatimah Berliana Monika, seorang konselor ASI dengab sertifikat internasional yang di tahun 2015 silam mengisi materi bersama dengan suami saya mengenai 1000 hari pertama kehidupan di Masjid Salman ITB. Dua buku ini lah yang menjadi pedoman saya dalam memulai perjalanan baru sebagai ibu.

Kali ini saya akan sedikit berbagi apa-apa saja yang menjadi perhatian saya dalam mengurus bayi. Selain dari 2 buku ini, saya juga mendapatkan ilmu dari berbagai sumber lain seperti dari pengalaman orang terdekat, diskusi dengan teman-teman maupun sumber-sumber lain dari internet. So, here we goo.. 

1. Perah memerah ASI 
Bagi semua ibu baru, ASI pasti menjadi perhatian utama. Terlebih lagi di masa sekarang kampanye mengenai ASI begitu marak dilakukan. Hampir semua ibu merasakan sedikit kekhawatiran mengenai ASI ini, begitu juga dengan saya. Namun alhamdulillah banyak dukungan di sekitar yang meyakinkan saya bahwa insya Allah, saya pasti bisa memberikan ASI eksklusif kepada anak saya. 

Di hari persalinan, saya cukup menyesal karena lupa membawa pompa ASI ke rumah sakit, padahal walaupun ASI nya belum banyak yang keluar tapi dengan diperah, maka ASI tersebut akan terangsang untuk keluar. Prinsipnya adalah semakin sering diperah maka ASI akan semakin terangsang untuk keluar. Jadi sebisa mungkin sering seringlah memerah walaupun ASI yang dihasilkannya sedikit. Menurut mba Monik (konselor ASI), minimal memerah itu 15-20 menit dan usahakan tiap 2-3 jam sekali. 

Karena selama 3 bulan pertama saya benar-benar di rumah saja mengurus si kecil, maka bayi saya lebih sering menyusu langsung sehingga kadang saya tidak berkesempatan untuk memerah. Padahal sebenarnya bisa saja lho memerah sambil menyusui langsung. Hal ini baru saya lakukan di bulan ke 3 pasca melahirkan. Kurangnya frekuensi saya memerah dan juga karena sering menyusui langsung, stok ASIP saya terhitung sangat sedikit sehingga ketika sudah mulai praktik dokter gigi dan harus meninggalkan bayi di rumah, stok ASIP saya benar-benar kejar tayang. Terlebih lagi, terkadang bayi saya masih merasa kurang setelah menyusu langsung sehingga biasanya walaupun ada saya di rumah, bayi kecil ini masih meminta ASIP. 

Produksi ASI saya memang tidak banyak. Kalau sedang di rumah saja, karena sering menyusui langsung, kadang saya hanya bisa memerah sebanyak 60-70 ml. Oleh karena itulah, stok ASIP saya lebih banyak dalam takaran 60-70 ml per botolnya. Kalau saya pergi praktik selama kurang lebih 3 jam, maka saat pulang barulah ASI hasil perah saya bisa mencapai 100-120 ml. Hal inilah yang membuat kulkas freezer 1 pintu yang sudah ada di rumah hanya terisi penuh 1 kolom saja. ^^ 

Namun, alhamdulillah, dengan kondisi yang seperti itu, anak saya, Kenzie, berhasil melalui ASI eksklusifnya hingga usia 2 tahun 1 bulan. Jadi , jangan patah semangat!! Insya Allah kalau kita yakin, Allah pun akan ikut memberikan ridhoNya. Jangan lupa juga untuk selalu "happy", karena semakin stress si ibu saat ASI nya kurang maka produksi ASI nya pun akan menjadi semakin sedikit. 

2. Donor ASI? 
Saat ini, donor ASI memang sudah sering ditemukan di tengah kehidupan para ibu-ibu muda, dengan pertimbangan bahwa ASI hasil donor itu lebih baik dibandingkan pemberian susu formula. Saya sendiri menerima donor ASI dari kakak saya yang di saat saya baru melahirkan, anaknya baru berusia 5 bulan. Alhamdulillah, produksi ASI kakak saya cukup melimpah sehingga masih bisa memberikan 16 botol ASIP nya untuk mendukung program ASI eksklusif keponakannya. Di awal2 masa menyusui memang banyak ibu yang mengeluhkan bahwa produksi ASInya masih sedikit, hal ini wajar saja karena proses stimulasi dari pompa ASI maupun dari sang bayi pun masih baru sedikit dilakukan. Oleh karena itulah, biasanya di awal masa kelahirannya, banyak bayi yang mengalami jaundice atau kuning yang ditandai dengan nilai bilirubin yang di atas 20 mg/dL untuk bayi di atas usia 3 hari. Hal ini bisa disebabkan salah satunya karena kurangnya asupan ASI. Alhamdulillah, anak pertama saya tidak mengalami fase ini karena mendapat donor ASI dari kakak saya. 

Masalah donor ASI ini memang harus sangat diperhatikan terlebih bagi kaum muslim yang mengenal adanya saudara sepersusuan. Menurut saya, yang bisa menjadi ibu susu bagi anak saya kelak haruslah seseorang yang benar-benar saya kenal baik dan diketahui jelas identitasnya, bukan orang yang baru saya kenal. Saya sendiri pun memutuskan untuk menerima donor ASI karena sang ibu adalah kakak saya sendiri. Tapi hal ini dikembalikan lagi ke pribadi masing-masing ya. 

3. Memberikan ASIP untuk pertama kalinya kepada si kecil
Untuk menghindari bingung puting, memang sebaiknya bayi tidak langsung diberikan ASIP melalui dot. Walaupun teknologi dot saat ini sudah banyak macamnya tapi tetap saja konsistensi dot yang terbuat plastik dengan yang dimiliki Ibu sungguh berbeda sehingga bisa membuat bayi merasa bingung puting. 

Oleh karena itu, di awal-awal masa memberikan ASIP (pertama kalinya adalah saat saya harus kontrol 1 pekan pasca persalinan ke rumah sakit), ibu saya yang menjaga bayi di rumah menggunakan sendok untuk menyuapi ASIPnya. Bisa juga menggunakan pipet atau suntikan tanpa jarum. Memang agak sedikit kewalahan karena terkadang bayi menjadi sangat tidak sabaran ketika disuapi dengan sendok. Namun alhamdulillah lama-lama bayi mulai terbiasa. Setelah kurang lebih 1 bulan, di saat anak saya sudah semakin akrab dan kenal dengan menyusui langsung dari ibunya, barulah saya menggunakan dot untuk memberikan ASIP. 

Sebenarnya, pemberian ASIP memang sebaiknya tidak menggunakan dot sama sekali, karena ada alat yang lebih baik yaitu cup feeder. Tapi saat itu, saya merasa selama bayi saya tidak bingung puting dan frekuensi pemberian ASIPnya juga tidak terlalu sering, maka saya tetap menggunakan dot. (Salah satu alasan lain tidak menggunakan cup feeder adalah karena penggunaannya lebih rumit menurut saya, hehehe) 

4. Kualitas ASI
Yang harus diperhatikan dari ASI bukan hanya kuantitasnya yang mencukupi kebutuhan bayi, namun juga termasuk kualitasnya. Di saat bayi saya berusia 1 bulan dan kontrol ke dsa untuk sekalian vaksin, dokter mengatakan bahwa kenaikan BB bayi saya masih kurang padahal ASI saya dirasa cukup memenuhi kebutuhannya. Dokter mengatakan bahwa mungkin bukan di kuantitas ASI nya yang menjadi masalah, melainkan dari kualitasnya. Lalu apa yang mempengaruhi kualitas ASI ini? Tentu saja makanan yang dimakan oleh sang ibu. Saat itu, untuk meningkatkan kualitas ASI saya, dokter menganjurkan agar saya mengonsumsi telur ayam sebanyak 2 kali dalam satu hari. Hal ini juga masih dibarengi dengan sayur-sayuran hijau dan makanan bergizi lainnya. 

Alhamdulillah, setelah menerapkan anjuran dokter, BB bayi saya pun naik dengan baik dan sesuai dengan standar BB per usia dari WHO. Jadi, bagi para ibu-ibu menyusui, selalu perhatikan asupan makanannya ya, karena ASI masih menjadi satu-satunya sumber nutrisi bagi bayi kita. 

5. Popok kain, pospak atau cloth diaper?
Jika ada yang menanyakan hal di atas, maka jawaban saya adalah ketiga-tiganya. Di awal kelahiran, saya menggunakan popok kain agar bisa memantau kondisi kecukupan ASI dari frekuensi BAB dan BAK si kecil, selain itu , saat tali pusarnya belum lepas, rasanya lebih aman menggunakan popok kain. 

Setelah berusia 1 bulan, barulah saya mulai mengganti popok kain ini dengan kombinasi cloth diaper dan pospak (popok sekali pakai). Kombinasi ini saya lakukan karena dengan menggunakan cloth diaper, selain mengirit biaya pospak, saya melatih dan membiasakan diri saya sendiri untuk mengecek kondisi bayi dan mengganti cloth diapernya setiap 4 jam sekali karena biasanya jika sudah lebih dari 4 jam, cloth diaper ini akan mulai bocor. Kalau menggunakan pospak seharian, saya bisa lupa mengecek atau mengganti per 4 jam karena biasanya pospak bisa menahan air pipis bayi hingga 8 jam, sedangkan memang sebaiknya untuk bayi baru lahir, popok harus diganti per 4 jam untuk menghindari ruam popok. Saat sudah mulai malam dan sudah waktunya tidur, barulah saya ganti menggunakan pospak hingga pagi agar tidak mengganggu tidur bayi. Selain itu, frekuensi BAK bayi saat tidur pun lebih sedikit. 

Saya bertahan menggunakan kombinasi ini hingga anak saya berusia 6 bulan. Setelah 6 bulan, saya hanya menggunakan pospak saja karena pup bayi yang mulai padat karena sudah mulai makan akan cukup menyulitkan saat harus mencuci cloth diapernya. 

6. Bedak bayi & minyak telon perlukah?
Sejak sebelum melahirkan, saya memang pernah membaca bahwa penggunaan bedak bayi sebenarnya tidak disarankan karena dapat terhirup bayi dan menimbulkan gangguan di paru-parunya. Kakak saya juga memberitahu saya mengenai hal ini sehingga saya memang tidak pernah menggunakan bedak bayi kepada anak saya kecuali saat anak saya terkena penyakit roseola dan diresepkan bedak oleh dokternya di usia 1 tahun. Namun untuk minyak telon, saya masih menggunakannya bahkan hingga anak saya berusia 2 tahun. Kondisi cuaca yang cukup dingin di Bandung menjadi alasan utama saya untuk memberikan minyak telon kepada bayi. 

Namun ternyata, menurut mba Monika, penggunaan bedak bayi, minyak telon dan krim atau lotion lain untuk bayi tidaklah diperlukan. Satu-satunya yang bisa diberikan kepada bayi adalah krim ruam popok yang mengandung zinc dan hanya diberikan ketika bayi mulai ruam popok. Memang terkadang, para ibu tergoda dengan iklan di televisi dengan adanya bedak, minyak telon, baby lotion, baby oil, cologne dan bahkan hair lotion yang seolah memang dibutuhkan oleh bayi. Pada kenyataannya, kosmetik-kosmetik tersebut tidak diperlukan, bahkan penggunaannya dapat menyebabkan dermatitis pada kulit bayi yang masih sangat sensitif. Untuk memberikan kehangatan kepada bayi bisa dengan memakaikan baju panjang saja. Jadi ternyata memang lebih baik untuk membiarkan bayi kita apa adanya saja tanpa diberikan krim dan bedak disana sini kecuali memang ada instruksi khusus dari dokter anak. 

7. Sarung tangan kaki dan bedong 
Saat membeli perlengkapan kebutuhan bayi di usia kehamilan 7 bulan ke atas, biasanya sarung tangan dan sarung kaki menjadi satu hal yang dimasukkan ke dalam list kebutuhan bayi yang diperlukan. Saya pun membeli sekitar 3 pasang saat hamil anak pertama dulu. Dari rumah sakit pun, selama 2 hari dirawat di sana pasca persalinan, bayi kecil saya pun selalu dipakaikan sarung tangan.

Setelah sampai rumah, selama beberapa hari awal, saya masih sering memakaikan sarung tangan ini sedangkan sarung kaki sangat jarang karena biasanya kaki bayi sudah tertutup bedong. Namun ternyata sebenarnya lebih baik agar tangan bayi lebih sering dibiarkan bebas tanpa tertutup sarung tangan sehingga tangannya bisa bebas bereksplorasi. Penggunaan sarung tangan bisa saja diperlukan jika khawatir bayi akan mencakar wajahnya sendiri tapi selama kukunya dipotong dengan rutin, hal ini bisa dicegah tanpa harus bergantung pada penggunaan sarung tangan. Oleh karena itulah, di kehamilan kedua ini saya tidak terlalu mementingkan untuk membeli sarung tangan dan kaki ini. 

Lalu soal bedong membedong, sepertinya sudah cukup banyak artikel yang menjelaskan mengenai bahayanya membedong bayi dengan ikatan yang terlalu kencang seperti yang sering dilakukan orang-orang terdahulu. Dengan alasan agar kakinya lurus maka pemakaian bedong bayi seperti menjadi keharusan di awal masa kelahiran. Saya sendiri pun membedong anak pertama saya selama kurang lebih di 3 minggu awal. 

Di beberapa hari awal, bedongnya menutupi sampai tangan tapi lama kelamaan hanya untuk menutupi bagian kaki saja agar tangannya bisa bergerak bebas. Namun ternyata penggunaan bedong ini tidak terlalu diperlukan. Saat ada kunjungan pasca persalinan dari bidan rumah sakit ke rumah saya, bu bidan sedikit menegur saya karena saat itu saya masih membedong anak saya yang sudah berusia 3 minggu. Menurutnya hal itu membatasi gerak anak dan kalau mau memberikan kehangatan, cukup pakaikan saja celana panjang dan kaus kaki. Jadi, sepertinya kalau memang mau membedong anak di awal masa kelahirannya, mungkin cukup di 1 minggu pertama saja, hanya untuk proses adaptasi awal sang ibu saat menggendong bayi yang baru lahir dan juga untuk proses adaptasi awal si kecil dengan dunia di luar rahim. Tapi jangan lupa dilonggarkan ya bedongnya ^^

8. Tidur tengkurap dan SIDS
Di awal masa kelahirannya, saat tidur, anak saya selalu diposisikan tidur telentang menggunakan bantal peang dan dikelilingi oleh guling kecil dan selimutnya. Selama kurang lebih 1 minggu awal, posisi tidur anak saya akan selalu seperti ini, baik tidur siang maupun malam. Ketika menjelang hari akikah, alhamdulillah, saya dan si kecil mendapat kunjungan dari rekan-rekan di klinik tempat saya bekerja. Saat itulah, dokter pemilik klinik menyarankan saya untuk menidurkan bayi dalam posisi tengkurap, insya Allah bayi akan lebih nyenyak. Hal ini disebabkan karena saat bayi mengalami refleks moro ( refleks seperti terkejut dan mengangkat kedua tangannya ), jika tidur tengkurap, bayi akan tetap merasa nyaman karena dadanya seperti masih di dalam pelukan ibu, berbeda jika tidur telentang. 

Cara menidurkan tengkurap adalah setelah bayi tertidur, letakkan di tempat tidurnya lalu perlahan miringkan badan bayi dan ubah posisinya menjadi tengkurap dengan terlebih dulu menjaga tangannya agar tidak sampai terlipat. Karena saat tidur tengkurap jika bayi pipis maka pipisnya bisa menyebar sampai ke perut jika menggunakan popok kain, maka untuk mengakalinya bisa menggunakan popok kain tambahan yang dilipat menyerupai pembalut dan diletakkan di dalam popok kain yang dipakai sehingga pipisnya akan terserap ke bagian itu, atau kalau memang sudah pakai cloth diaper atau pospak, insya Allah lebih aman. 

Sepulangnya rombongan klinik dari rumah, saya langsung mempraktikkan anjuran dari dokter ini. Alhamdulillah, tidur anak saya memang menjadi lebih nyenyak dan saya terus memakai cara ini hingga si kecil sudah bisa berguling-guling sendiri saat tidur. Namun, ada yang harus diwaspadai orangtua jika menggunakan cara ini yaitu Sudden Infant Death Syndrome (SIDS). SIDS ini adalah kondisi saat bayi tiba-tiba meninggal tanpa penyebab yang jelas di usia kurang dari 1 tahun. Biasanya terjadi saat tidur dan sering dikaitkan dengan kondisi bayi saat tidur seperti tidur tengkurap, terkena asap rokok, kepanasan, tertutup selimut ataupun bantal tidurnya, dan lainnya. Untuk mencegah hal ini, ada baiknya, ibu selalu mengecek kondisi bayi saat tidur tengkurap setiap 2 jam. Walaupun ini mengganggu tidur sang ibu tapi setidaknya si kecil bisa lebih nyenyak.

9. Bouncer dan car seat
Saat hamil anak pertama, saya memang tidak mempersiapkan untuk membeli bouncer karena di klinik tempat saya praktik ada sebuah poster yang menjelaskan bahwa penggunaan bouncer dan carseat di usia kurang dari 4 bulan ternyata kurang baik untuk pertumbuhan tulang belakang bayi. Menurut poster tersebut, bentuk bouncer dan carseat akan membuat bayi berada pada posisi duduk dan membuat berat badannya tertumpu pada salah satu sisi saja sehingga tulang punggungnya bisa bengkok. Oleh karena itu, menurut penjelasan di poster, paling cepat menggunakan bouncer atau carseat adalah saat bayi sudah bisa bertumpu pada dua lengannya. 

Walaupun tidak membeli bouncer sendiri, ternyata saya mendapatkan hadiah bouncer dari beberapa teman. Pada akhirnya bouncer ini tidak saya gunakan di awal kelahiran. Kira-kira di usia 3 bulan, saya mencoba memakai bouncer ini untuk mengajak si kecil bermain tapi ternyata dia tidak betah berada di atas bouncer ini dan akhirnya bouncer ini pun tidak saya gunakan lagi. Kalau untuk carseat, saya pernah mencoba menggunakannya saat si kecil berusia 4-5 bulan namun lagi-lagi bayi kecil saya tidak betah. 

Untuk penggunaan carseat dan bouncer memang sebaiknya lebih diperhatikan lagi kebutuhannya bagi setiap orangtua. Jika memang akan menggunakan, maka jangan lupa perhatikan jenis dudukan bouncer atau carseat yang sesuai dengan usia bayi. Dan jangan lupa untuk selalu memperhatikan kondisi bayi saat sedang di dudukkan di carseat atau bouncer. 

10. Hobi "makan tangan"
Sejak usia 3-4 bulan, bayi akan mulai sering memasukkan tangannya ke dalam mulutnya sendiri. Banyak orangtua yang akhirnya sering melarang bayi melakukan hal ini karena alasan kebersihan. Namun ternyata, dalam sebuah artikel pernah dijelaskan bahwa hal tersebut adalah hal yang normal bagi bayi karena dia sedang mengeksplorasi segala sesuatu di sekitarnya menggunakan tangannya termasuk mulutnya sendiri. Selain itu, hal ini juga akan membiasakan mulut bayi untuk dimasuki sesuatu benda asing sehingga kelak saat waktu MPASI tiba, mulut bayi akan menjadi lebih siap. Salah satu contohnya adalah bayi menjadi tidak mudah muntah saat dalam fase MPASI. 

Setelah membaca artikel tersebut, saya pun mencoba untuk membiarkan bayi saya memasukkan tangan ke dalam mulutnya, yang penting kondisi tangannya bersih dan tidak habis memegang sesuatu yang kotor. Alhamdulillah, saat memasuki fase MPASI, anak saya tidak pernah tiba-tiba muntah saat disuapi makanan. Jadi, yang penting perhatikan saja kebersihan tangan bayi setiap saat. ^^ 

Kira-kira itulah 10 hal sederhana mengenai asuh mengasuh si kecil yang ingin saya bagikan di tulisan ini. Semoga bermanfaat :) 


Selasa, 16 Agustus 2016

Dormi(s)tory. Cerita Kita di Jalan Cendekia

Assalamualaykum, selamat berjumpa lagi bloggers! Tidak terasa ternyata saya sudah meninggalkan blog ini cukup lama. Yah, mengurus anak memang cukup menyita waktu saya selama 1 tahun terakhir. Alhamdulillah, kini jagoan kecil saya udah menginjak usia 19 bulan, sudah semakin besar, semakin sholeh dan semakin pintar, aamiin. 

Sebenarnya saya sudah lama ingin sekali kembali menulis. Namun ternyata mendapatkan ide untuk menulis itu cukup sulit terlebih jika saat ini kehidupan saya hanya berkisar antara mengurus suami dan anak di rumah. Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja saya membaca di halaman Facebook bahwa alumni sekolah saya (MAN Insan Cendekia) sudah membentuk sebuah komunitas blogger dan berencana untuk menerbitkan sebuah buku bersama. Wah, sepertinya ini merupakan sebuah kesempatan agar saya bisa kembali aktif di dunia menulis ini. 

Alhamdulillah , salah satu teman angkatan saya menjadi contact person di komunitas tersebut. Tanpa ragu, saya pun langsung menyatakan ketertarikan saya untuk ikut bergabung di komunitas itu. Awalnya saya kira saya harus mengirimkan karya saya kepada komunitas itu untuk nantinya diseleksi apakah layak atau tidak untuk dimasukkan ke dalam buku yang akan mereka cetak. Namun, ternyata saya langsung dimasukkan ke dalam grup whatsapp komunitas blogger IAIC (Ikatan Alumni Insan Cendekia) yang saat itu sedang sibuk membicarakan proyek pertama mereka. 

Seru sekali rasanya bisa bergabung di dalam satu grup yang terdiri dari sekitar 19 angkatan. Selain membicarakan topik tulisan, kadang grup ini juga menjadi ajang curhat teman-teman blogger IAIC mengenai seluruh seluk beluk pembuatan buku ini. Selain itu, grup ini juga menjadi sarana untuk berbagi banyak hal. Mulai dari ilmu parenting, teknologi dan lainnya. Alhamdulillah, walaupun kami tidak bertatap muka, namun rasa kekeluargaan sesama alumni IC pun tetap terasa. 

Kini, buku dengan judul Dormi(s)tory : Cerita Kita di Jalan Cendekia, sudah selesai dicetak dan mulai dibagikan kepada guru-guru kami tersayang. Ketika saya kembali membaca satu persatu tulisan senior maupun junior saya di buku tersebut, tiba-tiba saya merasa sedang kembali ke masa 11 tahun yang lalu, saat saya masih menjadi siswa di sekolah itu. Ya, saya memang selalu merindukan masa-masa itu. Semua memori benar-benar seperti terputar kembali. 

Alhamdulillah, respon dari para guru juga testimonial dari para petinggi sekaligus orangtua alumni IC membuat kami merasa sangat terharu. Kami tidak menyangka bahwa tulisan yang kami kumpulkan ini bisa memberikan kesan dan kenangan yang cukup baik. Respon baik inilah yang membuat kami menjadi lebih semangat untuk menyelesaikan proyek kedua kami. Selain dibagikan kepada guru, buku ini juga dijual kepada adik-adik calon siswa/siswi IC saat proses penerimaan siswa baru beberapa waktu yang lalu dan kepada para alumni ( tentunya ) juga siapapun yang ingin mengetahui kehidupan kami di sekolah tercinta. 

Bagi yang ingin memesan, silakan buka http://bit.ly/PesanDormistory2. 

Selamat Membaca!!

*very late post. Sorry :) 

Anak dan dokter gigi

Mengenalkan anak kepada dokter gigi memang sebaiknya dilakukan sejak dini. Beberapa mengatakan bahwa usia yang paling tepat adalah saat anak berusia 2 tahun. Hal ini dilakukan agar kelak ketika anak memiliki masalah dengan giginya maka anak akan terbiasa untuk berada di lingkungan ruang dokter gigi dan tidak memiliki pandangan  bahwa dokter gigi itu menakutkan. Tidak bisa dipungkiri, dokter gigi mungkin memang cukup sering ditakuti oleh anak-anak, padahal beberapa dari mereka belum pernah merasakan perawatan di dokter gigi. Mungkin hal ini disebabkan oleh suara bising dari alat di runag dokter gigi, alat-alat yang terlihat tajam di atas meja atau mungkin karena anak-anak juga sering ditakut-takuti oleh orangtuanya tentang sosok dokter gigi yang menyeramkan. 

Dalam perawatan gigi anak, peran orangtua sangat dibutuhkan. Yang dimaksud peran di sini bukan berarti bahwa orangtua harus ikut membantu dokter gigi agar anak mau duduk di kursi gigi dan membuka mulutnya dengan cara memaksa dan mengancam. Perawatan tidak akan berjalan lancar jika anak merasa dipaksa. Peran orangtua yang diharapkan oleh para dokter gigi adalah membantu meyakinkan anak bahwa perawatan dengan dokter gigi akan berjalan dengan baik dan kondisi giginya akan segera membaik. Ajak anak untuk berkomunikasi dengan bahasa mereka tapi jangan ada unsur kebohongan di dalamnya. Biarkan dokter gigi yang menjelaskan kepada anak mengenai perawatan yang akan dilakukan. Orangtua sangat diharapkan dapat mendukung suasana di dalam ruang dokter gigi dengan pendampingan yang menenangkan, tanpa ada unsur paksaan, nada mengancam atau mencoba membantu dokter gigi menjelaskan prosedur perawatan kepada anak yang terkadang malah salah. 

Pada kunjungan pertama seorang anak ke dokter gigi, diharapkan orangtua dapat bersabar, karena dokter gigi secara perlahan akan mencoba memberi perkenalan awal kepada anak. Jangan terlalu berharap bahwa tujuan datang ke dokter gigi di kunjungan pertama dapat berjalan dengan lancar. Untuk menghindari rasa "kapok ke dokter gigi", sebaiknya di kunjungan pertama, perawatan yang dilakukan lebih kepada perawatan perkenalan, jadi tidak asal cabut yang akhirnya nanti mungkin membuat anak menjadi takut ke dokter gigi. 

Hal yang cukup sering membuat anak takut adalah suntikan. Dalam prosedur pencabutan, dokter gigi memiliki beberapa cara agar anak dapat  melewati prosedur tersebut dengan sakit yang minimal. Orangtua sangat diharapkan agar tidak memberikan cerita bohong kepada anak mengenai rasa sakit. Jangan janjikan kepada anak bahwa perawatan tidak sakit sama sekali. Walaupun pada beberapa kasus, ada anak yang merasa tidak sakit sama sekali saat proses pencabutan, namun ada juga yang masih merasa sedikit sakit saat proses pembaalan (anestesi). Jika anak sudah dibekali cerita bahwa proses pencabutan tidak akan terasa sakit namun pada kenyataannya dia harus mengalami pengalaman yang tidak nyaman, dikhawatirkan anak akan kapok ke dokter gigi dan menganggap bahwa semua perawatan di dokter gigi itu menyakitkan serta timbulnya ketidakpercayaan anak terhadap dokter gigi dan orangtuanya. 

Perawatan gigi anak akan maksimal saat kerjasama antara anak, dokter gigi dan orangtua dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, untuk para orangtua, mari bangun kerjasama yang baik dengan dokter gigi saat mengantar anak untuk menjalani perawatan giginya. Kuncinya adalah tanpa paksaan, tidak berbohong dan bersikap tenang. Salam gigi sehat! 

Kamis, 24 September 2015

Dominan

Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Itu adalah hal yang sangat ditekankan oleh sekolah saya semasa SMA dulu. Sebisa mungkin, untuk pemilihan ketua apapun, yang boleh menempati posisi pimpinan itu adalah kaum adam. Jujur saja, ini adalah hal yang cukup baru dan sedikit menimbulkan konflik dalam diri saya. Saat duduk di bangku SD dulu, saya pernah menjadi pemimpin di kelas dan di kelompok drum band. Bahkan, ketika menginjak bangku SMP, saya sempat terpilih menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi siswa. Pengalaman yang saya dapatkan sejak kecil inilah yang akhirnya membentuk kepribadian saya menjadi cukup dominan di antara teman-teman. 

Seiring berjalannya waktu, pemikiran saya soal kepemimpinan pun mulai berubah. Saya sudah mulai sepaham dengan ajaran yang diberikan di SMA saya dulu. Namun, ketika masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu kuliah, sepertinya saya harus kembali mengalami penyesuaian. Di kampus saya yang mayoritas terdiri dari mahasiswi, mau tidak mau, untuk beberapa kepanitiaan maupun organisasi, pemimpinnya adalah seorang wanita. Walaupun di kampus, saya tidak pernah menjadi pemimpin sebuah organisasi, namun untuk di kepanitiaan, saya sempat memegang jabatan menjadi seorang pemimpin. Aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan dan kepanitiaan akhirnya kembali memunculkan sifat dominan dalam diri saya yang sudah sempat teredam selama di SMA dulu.

Di akhir masa kuliah, saya, sebagaimana wanita pada umumnya, mulai memikirkan konsep pernikahan dan berkeluarga. Sebenarnya, sejak duduk di SMA, ibu dan kakak saya sudah pernah mengingatkan akan peran seorang wanita dalam kehidupan pernikahannya nanti, yaitu bahwa wanita memiliki peran dan tugas utama sebagai seorang istri dan ibu. Karena hal inilah, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang dokter gigi agar memiliki waktu kerja yang fleksibel sehingga kelak saya bisa tetap bekerja dan memberikan manfaat untuk masyarakat tanpa perlu meninggalkan kewajiban utama saya sebagai ibu dan istri di rumah. Lalu, kini muncul sebuah pertanyaan. Apakah saya bisa bertemu dengan seorang lelaki yang jauh lebih dominan dari diri saya? 

Menurut saya, dalam sebuah pernikahan, tentulah seorang suami yang harus menjadi pemimpin utama, dan istri bertugas menjadi pendampingnya. Jadi, sudah pasti, suami saya adalah lelaki yang jauh lebih dominan dari saya. Berkaca kepada kehidupan pernikahan ibu dan kakak saya, saya yakin bahwa kelak saya akan bertemu dengan lelaki yang lebih dominan itu. Alhamdulillah, Allah pun menunjukkan kuasaNya. Di akhir masa kuliah saya menjadi dokter gigi, Allah mempertemukan saya dengan seorang lelaki yang walaupun lahir di tahun yang sama dengan saya, namun terlihat jauh lebih dewasa dan lebih dominan daripada saya.

Sejak awal merencanakan masa depan, saya sudah memiliki pemikiran bahwa setelah menikah, saya akan mengikuti apapun arahan suami saya. Intinya, rencna hidup saya ke depan, ada di tangan suami saya. Lucu ya? Saya yang sebelumnya adalah seorang wanita yang cukup dominan dalam kehidupan kemahasiswaan kini malah akan menyerahkan kehidupan saya ke depan kepada lelaki yang mungkin baru saja saya kenal kurang dari satu tahun. Saya menganggap pernikahan sebagai ibadah terbesar dalam hidup saya yang harus saya jalani dengan optimal. Dengan menikah lalu menjadi istri dan seorang ibu, insya Allah, jalan saya untuk mensyukuri kehidupan dan beribadah kepada Allah akan terbuka dengan sangat luas. Ada banyak sekali perintah Allah dan sunnah Rasulullah yang menyatakan bahwa istri yang baik adalah yang taat kepada suaminya. Oleh karena itu, saya meyakini bahwa untuk menjadi istri yang baik, suami dan keluarga benar-benar harus menjadi prioritas dalam hidup saya dan itu berarti saya harus bisa mengurangi banyak sifat dominan dalam diri saya. 

Alhamdulillah, pernikahan saya sudah berjalan selama 1 tahun lebih. Pada masa-masa di awal pernikahan, saya dan suami memang mengalami banyak penyesuaian. Saya belajar untuk bisa lebih menempatkan diri sebagai istri dan suami saya juga belajar untuk bersabar menghadapi sikap saya yang terkadang masih terbawa dominan. Walaupun proses penyesuaian ini membutuhkan waktu dan kerja keras, namun, alhamdulillah, akhirnya penyesuaian itu berhasil kami lewati bersama. Jujur saja, setelah menikah, banyak sekali perubahan dalam kehidupan saya. Dulu, saya adalah seorang wanita yang dominan dan juga cukup mandiri dalam beberapa hal. Sedangkan, kini, saya menjadi wanita yang benar-benar bergantung kepada suami saya, terlebih lagi, setelah menikah, saya langsung hijrah ke Bandung dan memulai segalanya lagi dari awal. 

Saya sama sekali tidak menyesali perubahan yang saya alami. Menurut saya, sikap dominan yang dulu saya miliki memang dibutuhkan di masa mahasiswa dalam aktualisasi diri saya sebagai mahasiswa. Dan, kini, saat saya sudah menjadi seorang istri dan ibu, saya pun harus kembali mengaktualisasikan diri saya dengan cara yang berbeda. Alhamdulillah, saya tidak mengalami keresahan, saat kini harus berada lebih sering di rumah untuk mengurus suami dan anak daripada berkegiatan di luar rumah seperti yang sering saya lakukan dulu . Saya sangat bersyukur, terkadang suami saya masih mengajak saya berkegiatan sosial di luar atau sekedar membantunya mempersiapkan sebuah materi atau acara yang akan dijalaninya.

Kini, saya mencoba memaksimalkan ibadah saya di rumah sebagai seorang istri yang akan menjadi asisten pribadi terbaik suami tercinta dan juga sebagai seorang ibu yang dapat mendidik anak-anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dan, insya Allah, saya akan selalu mengingatkan anak-anak saya agar kelak di saat mereka dewasa nanti, mereka harus dapat menempatkan diri sesuai tugas dan kewajiban yang mereka miliki. Semoga Allah selalu memberkahi  keluarga kecil kami. Aamiin. 


Rabu, 08 Juli 2015

Our first Semester

Tidak terasa, 6 bulan sudah berlalu sejak pertama kali kita bertemu, nak. Itu berarti, sudah 6 bulan juga kehidupan ibu mulai berubah. Kini, kamu adalah poros kehidupan ibu. Selama 1 bulan pertama, kehidupan ibu benar-benar hanya berada di sekitarmu. Alhamdulillah, malam-malam panjang dengan iringan tangisanmu yang masih beradaptasi dengan lingkungan baru telah berhasil kita lewati bersama. Menyusuimu, menemanimu tidur, memandikanmu, mengganti popokmu dan sesekali mengajakmu bercanda telah menjadi rutinitas ibu setiap harinya. Sungguh luar biasa rasanya saat menyadari bahwa kini ada seorang bayi mungil yang kehidupannya sangat bergantung pada ibu. Segalanya memang tidak mudah,nak. Ada kalanya, ibu merasa tidak mampu memenuhi kebutuhanmu,  ibu merasa sedikit lelah dari aktivitas baru ini, atau ibu merasa kurang maksimal dalam memberikan perawatan terbaik untukmu. Namun, alhamdulillah, setiap pagi, wajahmu yang lucu dan penuh kepolosan itu selalu menjadi penyemangat ibu. Alhamdulillah nak, kehadiranmu telah memberikan ibu banyak pelajaran untuk terus mensyukuri nikmat Allah. 

Mengamati perkembangan tubuh dan kemampuan motorik sensorikmu setiap harinya telah menjadi hobi baru untuk ibu. Dari seorang bayi yang sangat mungil seberat 3 kg, kini kamu sudah bertumbuh menjadi seorang anak lucu seberat 8 kg. Dari yang hanya bisa menangis sambil memejamkan mata, kini kamu sudah bisa tertawa, marah, manja, dan terkadang bertingkah laku lucu yang membuatmu semakin menggemaskan. Dari yang hanya bisa bermain dengan posisi tidur di kasur, kini kamu lebih suka bermain sambil duduk, atau bergerak heboh saat dige2ndong ibu atau abimu. Alhamdulillah, kamu tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai usiamu, nak. Semoga kelak, kamu akan terus tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat, cerdas dan shalih, aamiin. 

Kamu tahu nak, momen yang paling menyedihkan buat ibu adalah saat kamu sakit di usia 4 bulan. Kamu sempat mengalami demam yang cukup tinggi hingga tubuhmu menggigil, kamu terlihat sangat berbeda dari biasanya, tidak ceria dan lebih banyak menangis. Saat itu, rasanya ibu ingin sekali agar penyakitmu itu pindah saja ke ibu, tapi abi mengingatkan ibu  kalau ibu tidak boleh sakit karena kalau ibu sakit, siapa yang akan mengurusmu nanti. Ibu merasa sangat bersalah, nak. Mungkin Ibu kurang maksimal menjaga dirimu sehingga akhirnya kamu jatuh sakit. Namun, alhamdulillah, dengan bantuan dan doa dokter pribadi kita, pahlawan kita bersama, yaitu abi mu, akhirnya kamu pun sembuh dengan ijin Allah. 

Anakku sayang, alhamdulillah,selama 6 bulan ini, abi mu begitu banyak memberikan bantuan dan dukungan kepada ibu dalam menghadapi peran baru ini. Terkadang bahkan abi mu pun ikut tidur malam karena kamu masih terjaga hingga larut malam. Kamu memang sudah kompak dengan abi mu sejak dari dalam kandungan. Beberapa kali, saat ibu harus mengerjakan sesuatu, kamu bisa dengan 'anteng' nya bermain dengan abi. Saat berat badanmu sudah cukup membuat ibu merasa kepayahan untuk menggendongmu, maka abi mu lah yang dengan sigapnya menggendongmu saat kita sedang berjalan-jalan ke luar rumah. Terima kasih abi sayang karena sudah menjadi ayah siaga dan suami terhebat! 

Ibu menyadari benar bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah dan itulah yang membuat ibu semakin mencintai nenekmu. Tapi, ibu yakin, Allah akan selalu membimbing ibu dan abi mu untuk menjadi orangtua terbaik untukmu. Aamiin. Hari ini kamu sudah berusia 6 bulan. Itu berarti, kamu akan memulai pengalaman baru sebagai seorang bayi yaitu makan. Ya, kini ibu bukan lagi satu-satunya sumber asupan nutrisi untukmu. Mungkin ibu akan selalu merindukan 6 bulan kemarin yang sudah kita lewati bersama. Namun, masih ada tahun-tahun ke depan yang menanti perjalanan kehidupan kita,nak. Ayo, semangat, kita pasti bisa menjalaninya dengan baik dan 3 baik lagi setiap harinya. 

Selamat 6 bulan, anakku sayang, Kenzie Muhammaad Azzamu Ilmi. Ibu dan Abi mencintaimu. 







Minggu, 08 Februari 2015

Akhirnya kita bertemu, nak

Sejak jam 12 malam, aku mulai kembali merasakan kontraksi yang cukup teratur. Tapi, walaupun kontraksi ini memang terasa lebih kencang, aku masih bisa menahannya sampai shubuh. Hari ini usia kehamilanku sudah mencapai minggu ke 39 hari ke 7 dan besok adalah hari perkiraan lahir (HPL) bayi laki-laki ku. Apakah bayi ini akan lahir hari ini? Entahlah, sejak 2 minggu yang lalu, aku sudah sering merasakan kontraksi yang teratur dan flek pun sudah sering keluar, tapi ternyata, bukaan jalan lahirnya baru sebesar 1 cm (bukaan satu). Ya, sejak minggu ke 38, aku sudah sering merasakan kontraksi-kontraksi yang cukup teratur ini. Bahkan, ibu dan kakakku sudah berangkat ke Bandung karena mengira aku akan melahirkan. Aku pun sudah cukup sering bolak-balik kontrol ke rumah sakit karena merasakan kontraksi yang lumayan kencang. Tapi, selama hampir 2 minggu itu, bukaanku tidak juga naik dan aku hanya disuruh kembali pulang ke rumah, menunggu datangnya kontraksi yang tidak bisa lagi ku tahan. Gemas rasanya menanti kelahiran putra kecilku ini. Setiap hari, aku mengajaknya mengobrol, memintanya untuk segera bergerak ke bawah dan membuatku merasakan kontraksi yang hebat. Selama 2 minggu itu pula, ibu dan ibu mertuaku rajin mengecek kondisiku setiap harinya, apakah hari ini ada rasa mulas atau tidak. Benar-benar penantian yang tak akan ku lupakan. Seorang teman yang juga pernah merasakan pengalaman seperti ini (bukaan satu selama hampir 2 minggu) menceritakan padaku, bahwa nanti saat waktunya tiba, naik bukaan jalan lahir akan lebih cepat. Ya, semoga saja, kelak nanti prosesnya akan berjalan dengan cepat.

Setelah shalat shubuh, akhirnya aku memutuskan untuk mengajak suamiku kembali kontrol ke rumah sakit, walaupun aku tidak terlalu berharap bahwa aku akan masuk rumah sakit hari ini. Karena sedang menginap di rumah mertuaku dan ada rencana untuk mengunjungi saudara di daerah Taman Sari, pagi ini, bukan hanya aku dan suamiku yang akan ke rumah sakit, tapi kedua mertuaku, adik iparku, dan kakak iparku bersama istri dan anaknya juga ikut mengantarku ke rumah sakit. Perkiraanku, setelah kontrol ini, aku akan disuruh kembali pulang dan baru kembali masuk rumah sakit di sore harinya, setelah berkunjung ke TamanSari. 

Setibanya di rumah sakit, aku pun langsung mendaftar untuk kontrol dengan dokter spesialis kandungan perempuan yang sedang jaga saat itu, karena dokter yang biasa menanganiku sedang tidak praktik. Sambil menunggu dokter yang ternyata sedang ada operasi, aku disarankan untuk menjalani pemeriksaan CTG untuk mengetahui kondisi janin dalam rahimku dan juga kekuatan kontraksinya. Sebelumnya, aku sudah pernah menjalani pemeriksaan ini, di waktu 2 minggu yang lalu itu, dan hasilnya kontraksi yang kurasakan masih kurang kuat. Namun, hari ini, hasil CTG nya menunjukkan bahwa kontraksiku sudah cukup sering dan kuat. Apakah benar aku akan melahirkan hari ini? Ah, sebaiknya, aku tunggu saja pemeriksaan dengan dokter nanti. 

Begitu masuk ruang dokter, aku menceritakan semua riwayat kontraksi yang sudah kurasakan sejak 2 minggu yang lalu dan kontraksi yang sudah kembali kurasakan sejak jam 12 malam tadi. Awalnya, saat memeriksa bukaan, dokter mengatakan bahwa bukaannya masih saja di ukuran 1 cm. Ya, sepertinya memang bukan hari ini, pikirku saat itu. Tapi, dokter ini penasaran karena kekuatan kontraksiku sudah cukup baik. Akhirnya, dia menelusuri lebih dalam lagi dan ternyata bukaannya sudah masuk ke ukuran 4 cm (bukaan empat) namun posisi mulut rahimku masih belum lurus dengan jalan lahir sehingga agak sulit diraba. Bukaan empat! Aku cukup terkejut. Itu berarti, aku akan langsung masuk ruang bersalin dan kemungkinan hari ini aku akan melahirkan putra pertamaku. Bismillah.

Setelah memberitahu keluarga yang mengantarku ke rumah sakit, pukul 10 pagi,  aku langsung masuk ke ruang bersalin ditemani suami dan ibu mertuaku. Aku pun mengabari ibu dan kakakku yang masih berada di Jakarta. Di dalam ruangan bersalin, aku diminta untuk berganti baju dan mulai melakukan beberapa persiapan untuk proses persalinan. Rasa-rasanya masih belum percaya bahwa akhirnya hari ini datang juga. Saat ini, aku masih bisa berjalan-jalan, makan siang dan mengobrol dengan beberapa teman via ponselku. Ditemani mertuaku, aku masih menikmati kontraksi yang belum terlalu hebat ini dengan menonton televisi, walaupun sesekali, ibu mertuaku membantu mengelus punggungku saat kontraksi itu tiba. Setelah shalat jumat, suamiku yang sejak tadi mengurus administrasi rumah sakit, kini sudah berada di ruang bersalin, ikut menemani dan mengusap punggungku untuk sedikit mengurangi sakitnya kontraksi.

Pukul 14, bidan masuk dan kembali mengecek pembukaan. Alhamdulillah, ternyata bukaanya naik dengan cukup lancar. Menurut bidan, prosesnya akan cepat. Bidan pun langsung menghubungi dokter spesialis kandungan yang akan membantuku melahirkan. Kontraksi yang kurasakan memang semakin kencang dan sering namun aku masih bisa menahannya dengan mengatur pernapasanku. Rasa deg-degan akan menghadapi persalinan masih belum terlalu mengganggu pikiranku. Keluargaku yang dari Jakarta mengabari bahwa mereka mungkin akan tiba di Bandung malam hari. Bismillah, semoga semuanya berjalan lancar.

Sejak kontraksi semakin sering dan kuat, aku sering sekali melihat jam dan berharap waktu pengecekan pembukaan oleh bidan sudah dekat. Dan setiap pembukaan dicek, aku selalu berharap, bukaanya sudah naik dengan cepat. Semakin sore, bukaanku memang naik dengan lancar, dan itu berarti kontraksi yang kurasakan pun sudah semakin sering dan kuat. Tapi, aku masih bisa menghadapi rasa sakit ini dan aku benar-benar sangat menantikan bukaan ini menjadi lengkap.

Mendekati maghrib, bukaanku sudah mencapai bukaan delapan dan ternyata ini adalah saat yang paling sulit buatku. Di bukaan delapan ini, air ketubanku akhirnya pecah dan kepala bayi bergerak semakin ke bawah. Kontraksi yang kurasakan semakin kuat lagi dan yang paling sulit adalah menahan diri untuk tidak mengejan. Sungguh ini adalah hal yang sangat sulit. Coba saja dibayangkan, ada sesuatu sebesar kepala bayi yang sudah berada di bawah dan menunggu untuk didorong keluar namun pintu keluarnya masih belum terbuka sempurna. Menahan buang air besar saja sudah sulit apalagi ini menahan untuk tidak mendorong kepala bayi. Aku cukup stres di masa ini karena semakin aku ingin menahan mengejan, aku malah secara refleks mengejan sehingga terjadi pembengkakan di jalan lahir dan bukaanku akan semakin sulit untuk naik. Kontraksi yang kurasakan ternyata dirasa masih kurang oleh dokter sehingga aku pun diberi obat tambahan untuk mempercepat kontraksinya dan melunakkan pembengkakan yang ada di jalan lahir. Suamiku yang juga seorang dokter benar-benar sangat membantuku sejak awal. Aku benar-benar tidak ingin ditinggal olehnya, bahkan saat dia ingin mengambil minum sekalipun, maaf ya sayang. Selama proses kontraksi setelah bukaan delapan ini, suamiku selalu membantuku untuk mengatur napas dan berkonsentrasi untuk tidak mengejan. Sambil memegang perutku, suamiku bisa merasakan kapan kontraksi itu datang dan hilang dan dia memanduku untuk mengatur napas agar aku tidak mengejan. Bahkan, dia yang mencontohkannya kepadaku cara mengatur napas. Setelah obat masuk, kontraksiku menjadi semakin sering sehingga aku pun menjadi semakin sering harus menahan untuk tidak mengejan dan itu membuatku semakin stres. Bagaimana kalau aku tidak bisa menahan untuk tidak mengejan? Apakah aku masih bisa melahirkan? Sungguh, aku benar-benar sudah sampai pada tahap pasrah. Kalaupun aku harus berakhir di meja operasi untuk operasi caesar, aku sudah pasrah, yang penting bayi ini bisa keluar dengan selamat. Saat itu, aku terus menerus bertanya pada suamiku "sampai kapan aku harus menahan untuk tidak mengejan ini?". Aku benar-benar terlihat hampir menyerah, namun ibu, ibu mertua dan suamiku terus menerus menyemangati dan meyakinkan bahwa aku pasti bisa. Beberapa kali aku ditawari untuk makan malam karena aku terakhir makan jam 12 siang tadi, sedangkan waktu sudah semakin malam dan untuk proses melahirkan ini aku memang butuh tenaga yang cukup. Tapi, aku berkali-kali menolak untuk makan karena sepertinya aku tidak akan sanggup menahan kontraksi ini sambil makan. Menjalani proses menahan mengejan ini membuat ibuku akhirnya keluar ruangan bersalin karen tidak tega melihat kondisiku yang sepertinya sudah hampir menyerah.

 Sekitar jam 10 malam, setelah melewati beberapa jam menahan diri untuk tidak mengejan sambil terus berkonsentrasi mengatur napas, tiba-tiba beberapa bidan masuk ruangan dan mengatakan akan berganti shift jaga. Setelah itu, bidan yang jaga malam mencoba mengecek pembukaanku. Dan, ternyata, sudah bukaan lengkap! Aku sudah boleh mengejan. Alhamdulillah, akhirnya waktu yang dinanti ini datang juga. Aku sempat berpikir bahwa aku tidak akan sampai ke bukaan lengkap karena aku masih saja gagal untuk menahan mengejan, tapi ternyata aku bisa. Sungguh, rasanya sangat lega sekali. Akhirnya aku boleh mengejan dan insya Allah sebentar lagi aku akan melihat bayiku. Setelah itu, bidan dan dokter spesialis langsung memanduku untuk mengejan setiap kontraksi itu datang, tentu saja, suamiku masih berada di sampingku dan memanduku selama proses melahirkan, dialah yang mengingatkanku semua instruksi selama mengejan. Alhamdulillah, pukul 22.18 , setelah kurang lebih 4 kali rangkaian mengejan, dibantu episiotomi, aku berhasil mengeluarkan bayi laki-lakiku dari dalam rahim. Alhamdulillah, sungguh lega dan bahagia rasanya. Jujur saja, setelah melahirkan, aku malah menjadi lebih segar dibandingkan saat-saat harus menahan mengejan itu, walaupun kakiku masih saja bergetar karena menahan rasa sakit. Setelah bayiku dikeluarkan, dokter dan bidan mulai mengeluarkan plasenta dan menjahit luka episiotomi. Dan, akhirnya tibalah saatnya bagiku untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD). Sungguh, rasa bahagia itu tidak terkira saat bayiku diletakkan di dadaku dan ku peluk dengan sangat hangat. Akhirnya kita bertemu, anakku. Inilah janji ibu kepadamu nak, bahwa setelah kau lahir, ibu akan memelukmu dengan penuh cinta. Alhamdulillah, akhirnya aku sudah menjadi seorang ibu.

Pengalaman melahirkan normal sungguh tak akan pernah terlupakan, mulai dari bukaan satu yang bertahan selama hampir dua minggu, sulitnya menahan mengejan di bukaan delapan, betapa pasrahnya diriku saat masa sulit itu dan betapa luarbiasanya suamiku yang terus mendampingiku selama proses itu. Aku merasa sangat beruntung memiliki suami seorang dokter yang banyak sekali membantu proses kehamilan dan persalinanku. Terimakasih suamiku sayang, kamu benar-benar sudah menjadi suami siaga, dokter pribadi yang sabar dan ayah yang hebat. Setelah melahirkan, aku juga semakin menyadari bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Sejujurnya, aku masih belum percaya bisa mengeluarkan bayi seberat 3 kg dari dalam rahimku melalui jalan yang hanya berukuran 10 cm, terlebih lagi, selama hamil dan bahkan sebelum menikah, aku yang jarang berolahraga ini, sering mengalami hipoglikemi dan hampir pingsan di tempat umum. Suami, ibu dan kakakku saja sempat mengkhawatirkan kemampuanku untuk persalinan normal karena hal itu, namun ternyata Allah mengizinkanku untuk bisa melewati proses yang hampir membuatku menyerah. Hal lain yang kusadari adalah perjuangan seorang ibu benar-benar pantas dihargai sehingga Rasulullah pun menempatkan posisi ibu tiga kali lebih utama daripada ayah. Ya, aku semakin mencintai ibuku, terima kasih ma, semoga aku pun bisa menjadi ibu yang hebat sepertimu. Terima kasih Allah,untuk segala berkahMu ini. Alhamdulillah.

"Selamat datang di dunia Allah, anakku sayang, Kenzie Muhammad Azzamul Ilmi"

Untuk para ibu hamil yang sedang menantikan kelahiran buah hatinya, semangat ya, persiapkan lahir batin untuk masa pertemuan dengan bayi kita dan serahkan segalanya kepada Allah, yakinlah kalau prasangka Allah itu sesuai prasangka hambaNya. Jadi, berpikirlah positif bahwa kita pasti bisa melewatinya. Dan percayalah, rasa sakit yang dirasakan selama proses melahirkan itu akan hilang seketika saat bayi kita yang lucu lahir dengan selamat. Semangat!!


Kenzie, Ibu & Abi