Minggu, 08 Februari 2015

Akhirnya kita bertemu, nak

Sejak jam 12 malam, aku mulai kembali merasakan kontraksi yang cukup teratur. Tapi, walaupun kontraksi ini memang terasa lebih kencang, aku masih bisa menahannya sampai shubuh. Hari ini usia kehamilanku sudah mencapai minggu ke 39 hari ke 7 dan besok adalah hari perkiraan lahir (HPL) bayi laki-laki ku. Apakah bayi ini akan lahir hari ini? Entahlah, sejak 2 minggu yang lalu, aku sudah sering merasakan kontraksi yang teratur dan flek pun sudah sering keluar, tapi ternyata, bukaan jalan lahirnya baru sebesar 1 cm (bukaan satu). Ya, sejak minggu ke 38, aku sudah sering merasakan kontraksi-kontraksi yang cukup teratur ini. Bahkan, ibu dan kakakku sudah berangkat ke Bandung karena mengira aku akan melahirkan. Aku pun sudah cukup sering bolak-balik kontrol ke rumah sakit karena merasakan kontraksi yang lumayan kencang. Tapi, selama hampir 2 minggu itu, bukaanku tidak juga naik dan aku hanya disuruh kembali pulang ke rumah, menunggu datangnya kontraksi yang tidak bisa lagi ku tahan. Gemas rasanya menanti kelahiran putra kecilku ini. Setiap hari, aku mengajaknya mengobrol, memintanya untuk segera bergerak ke bawah dan membuatku merasakan kontraksi yang hebat. Selama 2 minggu itu pula, ibu dan ibu mertuaku rajin mengecek kondisiku setiap harinya, apakah hari ini ada rasa mulas atau tidak. Benar-benar penantian yang tak akan ku lupakan. Seorang teman yang juga pernah merasakan pengalaman seperti ini (bukaan satu selama hampir 2 minggu) menceritakan padaku, bahwa nanti saat waktunya tiba, naik bukaan jalan lahir akan lebih cepat. Ya, semoga saja, kelak nanti prosesnya akan berjalan dengan cepat.

Setelah shalat shubuh, akhirnya aku memutuskan untuk mengajak suamiku kembali kontrol ke rumah sakit, walaupun aku tidak terlalu berharap bahwa aku akan masuk rumah sakit hari ini. Karena sedang menginap di rumah mertuaku dan ada rencana untuk mengunjungi saudara di daerah Taman Sari, pagi ini, bukan hanya aku dan suamiku yang akan ke rumah sakit, tapi kedua mertuaku, adik iparku, dan kakak iparku bersama istri dan anaknya juga ikut mengantarku ke rumah sakit. Perkiraanku, setelah kontrol ini, aku akan disuruh kembali pulang dan baru kembali masuk rumah sakit di sore harinya, setelah berkunjung ke TamanSari. 

Setibanya di rumah sakit, aku pun langsung mendaftar untuk kontrol dengan dokter spesialis kandungan perempuan yang sedang jaga saat itu, karena dokter yang biasa menanganiku sedang tidak praktik. Sambil menunggu dokter yang ternyata sedang ada operasi, aku disarankan untuk menjalani pemeriksaan CTG untuk mengetahui kondisi janin dalam rahimku dan juga kekuatan kontraksinya. Sebelumnya, aku sudah pernah menjalani pemeriksaan ini, di waktu 2 minggu yang lalu itu, dan hasilnya kontraksi yang kurasakan masih kurang kuat. Namun, hari ini, hasil CTG nya menunjukkan bahwa kontraksiku sudah cukup sering dan kuat. Apakah benar aku akan melahirkan hari ini? Ah, sebaiknya, aku tunggu saja pemeriksaan dengan dokter nanti. 

Begitu masuk ruang dokter, aku menceritakan semua riwayat kontraksi yang sudah kurasakan sejak 2 minggu yang lalu dan kontraksi yang sudah kembali kurasakan sejak jam 12 malam tadi. Awalnya, saat memeriksa bukaan, dokter mengatakan bahwa bukaannya masih saja di ukuran 1 cm. Ya, sepertinya memang bukan hari ini, pikirku saat itu. Tapi, dokter ini penasaran karena kekuatan kontraksiku sudah cukup baik. Akhirnya, dia menelusuri lebih dalam lagi dan ternyata bukaannya sudah masuk ke ukuran 4 cm (bukaan empat) namun posisi mulut rahimku masih belum lurus dengan jalan lahir sehingga agak sulit diraba. Bukaan empat! Aku cukup terkejut. Itu berarti, aku akan langsung masuk ruang bersalin dan kemungkinan hari ini aku akan melahirkan putra pertamaku. Bismillah.

Setelah memberitahu keluarga yang mengantarku ke rumah sakit, pukul 10 pagi,  aku langsung masuk ke ruang bersalin ditemani suami dan ibu mertuaku. Aku pun mengabari ibu dan kakakku yang masih berada di Jakarta. Di dalam ruangan bersalin, aku diminta untuk berganti baju dan mulai melakukan beberapa persiapan untuk proses persalinan. Rasa-rasanya masih belum percaya bahwa akhirnya hari ini datang juga. Saat ini, aku masih bisa berjalan-jalan, makan siang dan mengobrol dengan beberapa teman via ponselku. Ditemani mertuaku, aku masih menikmati kontraksi yang belum terlalu hebat ini dengan menonton televisi, walaupun sesekali, ibu mertuaku membantu mengelus punggungku saat kontraksi itu tiba. Setelah shalat jumat, suamiku yang sejak tadi mengurus administrasi rumah sakit, kini sudah berada di ruang bersalin, ikut menemani dan mengusap punggungku untuk sedikit mengurangi sakitnya kontraksi.

Pukul 14, bidan masuk dan kembali mengecek pembukaan. Alhamdulillah, ternyata bukaanya naik dengan cukup lancar. Menurut bidan, prosesnya akan cepat. Bidan pun langsung menghubungi dokter spesialis kandungan yang akan membantuku melahirkan. Kontraksi yang kurasakan memang semakin kencang dan sering namun aku masih bisa menahannya dengan mengatur pernapasanku. Rasa deg-degan akan menghadapi persalinan masih belum terlalu mengganggu pikiranku. Keluargaku yang dari Jakarta mengabari bahwa mereka mungkin akan tiba di Bandung malam hari. Bismillah, semoga semuanya berjalan lancar.

Sejak kontraksi semakin sering dan kuat, aku sering sekali melihat jam dan berharap waktu pengecekan pembukaan oleh bidan sudah dekat. Dan setiap pembukaan dicek, aku selalu berharap, bukaanya sudah naik dengan cepat. Semakin sore, bukaanku memang naik dengan lancar, dan itu berarti kontraksi yang kurasakan pun sudah semakin sering dan kuat. Tapi, aku masih bisa menghadapi rasa sakit ini dan aku benar-benar sangat menantikan bukaan ini menjadi lengkap.

Mendekati maghrib, bukaanku sudah mencapai bukaan delapan dan ternyata ini adalah saat yang paling sulit buatku. Di bukaan delapan ini, air ketubanku akhirnya pecah dan kepala bayi bergerak semakin ke bawah. Kontraksi yang kurasakan semakin kuat lagi dan yang paling sulit adalah menahan diri untuk tidak mengejan. Sungguh ini adalah hal yang sangat sulit. Coba saja dibayangkan, ada sesuatu sebesar kepala bayi yang sudah berada di bawah dan menunggu untuk didorong keluar namun pintu keluarnya masih belum terbuka sempurna. Menahan buang air besar saja sudah sulit apalagi ini menahan untuk tidak mendorong kepala bayi. Aku cukup stres di masa ini karena semakin aku ingin menahan mengejan, aku malah secara refleks mengejan sehingga terjadi pembengkakan di jalan lahir dan bukaanku akan semakin sulit untuk naik. Kontraksi yang kurasakan ternyata dirasa masih kurang oleh dokter sehingga aku pun diberi obat tambahan untuk mempercepat kontraksinya dan melunakkan pembengkakan yang ada di jalan lahir. Suamiku yang juga seorang dokter benar-benar sangat membantuku sejak awal. Aku benar-benar tidak ingin ditinggal olehnya, bahkan saat dia ingin mengambil minum sekalipun, maaf ya sayang. Selama proses kontraksi setelah bukaan delapan ini, suamiku selalu membantuku untuk mengatur napas dan berkonsentrasi untuk tidak mengejan. Sambil memegang perutku, suamiku bisa merasakan kapan kontraksi itu datang dan hilang dan dia memanduku untuk mengatur napas agar aku tidak mengejan. Bahkan, dia yang mencontohkannya kepadaku cara mengatur napas. Setelah obat masuk, kontraksiku menjadi semakin sering sehingga aku pun menjadi semakin sering harus menahan untuk tidak mengejan dan itu membuatku semakin stres. Bagaimana kalau aku tidak bisa menahan untuk tidak mengejan? Apakah aku masih bisa melahirkan? Sungguh, aku benar-benar sudah sampai pada tahap pasrah. Kalaupun aku harus berakhir di meja operasi untuk operasi caesar, aku sudah pasrah, yang penting bayi ini bisa keluar dengan selamat. Saat itu, aku terus menerus bertanya pada suamiku "sampai kapan aku harus menahan untuk tidak mengejan ini?". Aku benar-benar terlihat hampir menyerah, namun ibu, ibu mertua dan suamiku terus menerus menyemangati dan meyakinkan bahwa aku pasti bisa. Beberapa kali aku ditawari untuk makan malam karena aku terakhir makan jam 12 siang tadi, sedangkan waktu sudah semakin malam dan untuk proses melahirkan ini aku memang butuh tenaga yang cukup. Tapi, aku berkali-kali menolak untuk makan karena sepertinya aku tidak akan sanggup menahan kontraksi ini sambil makan. Menjalani proses menahan mengejan ini membuat ibuku akhirnya keluar ruangan bersalin karen tidak tega melihat kondisiku yang sepertinya sudah hampir menyerah.

 Sekitar jam 10 malam, setelah melewati beberapa jam menahan diri untuk tidak mengejan sambil terus berkonsentrasi mengatur napas, tiba-tiba beberapa bidan masuk ruangan dan mengatakan akan berganti shift jaga. Setelah itu, bidan yang jaga malam mencoba mengecek pembukaanku. Dan, ternyata, sudah bukaan lengkap! Aku sudah boleh mengejan. Alhamdulillah, akhirnya waktu yang dinanti ini datang juga. Aku sempat berpikir bahwa aku tidak akan sampai ke bukaan lengkap karena aku masih saja gagal untuk menahan mengejan, tapi ternyata aku bisa. Sungguh, rasanya sangat lega sekali. Akhirnya aku boleh mengejan dan insya Allah sebentar lagi aku akan melihat bayiku. Setelah itu, bidan dan dokter spesialis langsung memanduku untuk mengejan setiap kontraksi itu datang, tentu saja, suamiku masih berada di sampingku dan memanduku selama proses melahirkan, dialah yang mengingatkanku semua instruksi selama mengejan. Alhamdulillah, pukul 22.18 , setelah kurang lebih 4 kali rangkaian mengejan, dibantu episiotomi, aku berhasil mengeluarkan bayi laki-lakiku dari dalam rahim. Alhamdulillah, sungguh lega dan bahagia rasanya. Jujur saja, setelah melahirkan, aku malah menjadi lebih segar dibandingkan saat-saat harus menahan mengejan itu, walaupun kakiku masih saja bergetar karena menahan rasa sakit. Setelah bayiku dikeluarkan, dokter dan bidan mulai mengeluarkan plasenta dan menjahit luka episiotomi. Dan, akhirnya tibalah saatnya bagiku untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD). Sungguh, rasa bahagia itu tidak terkira saat bayiku diletakkan di dadaku dan ku peluk dengan sangat hangat. Akhirnya kita bertemu, anakku. Inilah janji ibu kepadamu nak, bahwa setelah kau lahir, ibu akan memelukmu dengan penuh cinta. Alhamdulillah, akhirnya aku sudah menjadi seorang ibu.

Pengalaman melahirkan normal sungguh tak akan pernah terlupakan, mulai dari bukaan satu yang bertahan selama hampir dua minggu, sulitnya menahan mengejan di bukaan delapan, betapa pasrahnya diriku saat masa sulit itu dan betapa luarbiasanya suamiku yang terus mendampingiku selama proses itu. Aku merasa sangat beruntung memiliki suami seorang dokter yang banyak sekali membantu proses kehamilan dan persalinanku. Terimakasih suamiku sayang, kamu benar-benar sudah menjadi suami siaga, dokter pribadi yang sabar dan ayah yang hebat. Setelah melahirkan, aku juga semakin menyadari bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Sejujurnya, aku masih belum percaya bisa mengeluarkan bayi seberat 3 kg dari dalam rahimku melalui jalan yang hanya berukuran 10 cm, terlebih lagi, selama hamil dan bahkan sebelum menikah, aku yang jarang berolahraga ini, sering mengalami hipoglikemi dan hampir pingsan di tempat umum. Suami, ibu dan kakakku saja sempat mengkhawatirkan kemampuanku untuk persalinan normal karena hal itu, namun ternyata Allah mengizinkanku untuk bisa melewati proses yang hampir membuatku menyerah. Hal lain yang kusadari adalah perjuangan seorang ibu benar-benar pantas dihargai sehingga Rasulullah pun menempatkan posisi ibu tiga kali lebih utama daripada ayah. Ya, aku semakin mencintai ibuku, terima kasih ma, semoga aku pun bisa menjadi ibu yang hebat sepertimu. Terima kasih Allah,untuk segala berkahMu ini. Alhamdulillah.

"Selamat datang di dunia Allah, anakku sayang, Kenzie Muhammad Azzamul Ilmi"

Untuk para ibu hamil yang sedang menantikan kelahiran buah hatinya, semangat ya, persiapkan lahir batin untuk masa pertemuan dengan bayi kita dan serahkan segalanya kepada Allah, yakinlah kalau prasangka Allah itu sesuai prasangka hambaNya. Jadi, berpikirlah positif bahwa kita pasti bisa melewatinya. Dan percayalah, rasa sakit yang dirasakan selama proses melahirkan itu akan hilang seketika saat bayi kita yang lucu lahir dengan selamat. Semangat!!


Kenzie, Ibu & Abi


Senin, 08 Desember 2014

a letter to my son

To : My lovely son 

Anakku yang tercinta, setelah mengalami keguguran di bulan Desember 2013 lalu dan menunda kehamilan selama 3 bulan, Alhamdulillah, Allah kembali memberikan kepercayaan kepada Ibu untuk bisa mengandung yang kedua kalinya, yaitu mengandung dirimu, nak. Begitu bahagianya perasaan Ibu dan Abimu saat menemukan dua garis di alat tes kehamilan itu. Tanpa menunggu lama, kami pun langsung ke dokter untuk memastikan kondisimu. Alhamdulillah, gambaran kantung kecil yang terlihat di layar USG saat usiamu baru mencapai 5 minggu itu benar-benar membuat kami merasa bersyukur.  Insya Allah, kami akan semakin berhati-hati menjaga kehamilan ini sampai sembilan bulan ke depan, sayang. Bismillah.

Sejak pulang dari dokter, Ibu pun langsung berusaha untuk menerapkan beberapa tips kehamilan sehat yang sudah pernah Ibu dapatkan sejak kehamilan pertama dulu, seperti mengatur pola makan, pola istirahat, pola aktivitas dan yang lainnya. Ya, ini adalah salah satu usaha Ibu untuk menjaga kondisimu. Ibu tidak ingin kembali mengalami kehilangan, nak. Berbeda dengan kehamilan pertama yang hanya berlangsung beberapa hari, di saat mengandungmu kini, Ibu mulai merasakan beberapa gejala khas trimester pertama. Mual dan muntah benar-benar Ibu rasakan selama kurang lebih empat bulan pertama. Bahkan, hal ini menyebabkan berat badan Ibu yang seharusnya naik malah turun sebanyak 2 kg di saat usiamu 11 minggu, namun Alhamdulillah, kondisimu sehat dan berat badanmu masih normal. Tapi,dokter berpesan bahwa berat badan Ibu tidak boleh turun lagi, akhirnya dengan bantuan dan pengawasan ketat dari Abimu, Ibu pun berusaha keras untuk bisa menaikkan kembali berat badan Ibu.

Anakku sayang, setiap tiba waktunya untuk kontrol ke dokter, Ibu pasti merasa waswas dan penasaran, apakah kondisimu baik-baik saja? apakah nutrisimu cukup?. Namun, dibalik rasa khawatir itu, Ibu merasa sangat senang karena akan bertemu denganmu,nak. Rasanya pertemuan singkat ini benar-benar menjadi obat atas segala ketidaknyamanan yang Ibu rasakan kemarin. Kondisi yang cukup rawan di trimester pertama benar-benar membuat Ibu sangat berhati-hati dalam segala hal termasuk mengurangi perjalanan jauh. Selain untuk menghindari kelelahan selama perjalanan, kini Ibu mudah sekali merasakan mabuk perjalanan walaupun jaraknya hanya di dalam kota. Setiap merasakan sedikit kram pada perut, Ibu akan langsung beristirahat dan mengkhawatirkan kondisimu. Ibu hanya bisa berdoa semoga Allah menjagamu dan kondisi kita akan selalu sehat sampai masa persalinan nanti. Mengingat kondisi sakit (parotitis) yang pernah Ibu rasakan di kehamilan pertama dulu, kini Ibu juga semakin berhati-hati dalam menjaga kesehatan. Namun ternyata di trimester pertama ini, Ibu mengalami kaligata ( gatal dan bentol di seluruh badan). Awalnya Ibu mencoba untuk tidak meminum obat dan bertahan dengan rasa gatal ini, tapi sampai malam, bentol-bentol ini malah semakin banyak dan mengganggu. Akhirnya, Abimu pun meyakinkan Ibu untuk meminum obat alergi yang aman bagi ibu hamil. Bismillah, dengan sedikit perasaan khawatir, Ibu pun meminum obat alergi itu dan Alhamdulillah, dirimu tetap baik-baik saja.

Beberapa orang mengatakan bahwa trimester kedua adalah trimester yang paling nyaman dan indah. Ya, itu memang benar, nak. Walaupun mual dan muntah itu masih ada dan berat badan Ibu masih sulit bertambah, Ibu merasakan sebuah kebahagiaan baru, yaitu tendangan-tendangan mungilmu dari dalam perut Ibu. Lucu sekali rasanya merasakan gerakan aktifmu dalam perut Ibu yang terkadang lebih sering aktif sesaat setelah Ibu makan atau saat kamu mendengarkan ayat suci Al-Qur'an. Sungguh luarbiasa rasanya, menyadari bahwa ada seorang makhluk hidup yang sedang bertumbuh dan berkembang di dalam tubuh Ibu. Terima kasih nak, kehadiranmu benar-benar membuat Ibu semakin menyadari betapa besarnya kuasa Allah. 

Memasuki bulan kelima, Alhamdulillah nafsu makan Ibu bisa kembali normal karena mual dan muntah yang semakin berkurang. Gerakanmu yang semakin aktif dan beragam di bulan ini benar-benar menjadi penambah kebahagiaan Ibu setiap harinya. Kamu selalu menenangkan Ibu dengan gerakan mungilmu itu saat Ibu sedang cemas atau merasa sepi dan itulah yang akhirnya membuat Ibu semakin berhati-hati dalam mengatur mood swing selama kehamilan ini, karena Ibu tidak ingin kamu ikut merasa tidak nyaman. Kondisi Ibu pun semakin fit sehingga Ibu bisa beraktivitas normal kembali termasuk melakukan perjalanan jauh ke luar kota dan menemani Abimu dalam beberapa aktivitasnya. Namun, karena perut yang mulai besar, kini Ibu mulai merasakan sedikit kelelahan saat menaiki tangga. Tapi, itu semua tidak menjadi masalah nak. Ibu sangat menikmati trimester kedua ini. Di minggu ke 20, dokter memberitahu Ibu mengenai jenis kelaminmu. Ya, insya Allah kamu akan menjadi seorang anak laki-laki yang sholeh. Itulah doa yang langsung terucap dari mulut Ibu dan Abimu setelah mendengar kabar itu. Semoga Allah perkenankan doa kami berdua , Aamiin.

Anakku tercinta, di bulan ke enam, perut Ibu yang semakin membesar sudah mulai membuat Ibu harus mengubah posisi tidur dan sesekali merasa sesak di saat posisimu sedikit menekan diafragma. Ibu bersyukur karena itu berarti kamu bertumbuh dengan sehat. Bahkan, perut yang semakin besar ini terkadang juga membuat Ibu sedikit kesulitan saat harus melakukan pekerjaan sebagai dokter gigi. Lucunya, di saat Ibu sedang menangani pasien dengan waktu perawatan yang cukup lama, terkadang kamu menendang-nendang dengan keras seakan mengajak Ibu untuk segera menyelesaikan perawatan itu lalu segera pulang beristirahat. Kamu memang semakin aktif, nak. Bahkan, terkadang di malam hari, saat Ibu ingin beristirahat, kamu malah aktif bergerak di dalam perut Ibu. Kalau sudah begitu, biasanya Abimu akan mengelus perut Ibu dan mengajakmu untuk beristirahat. Dan setelah itu, kamu pun akan kembali tenang. Ya, sepertinya sejak dalam kandungan, kamu sudah kompak dengan Abimu.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga kita di trimester tiga. Ini adalah fase terakhir dari kehamilan Ibu. Kondisi di trimester tiga ini sedikit mirip dengan trimester pertama. Kondisi Ibu mulai mudah lelah karena perut yang semakin besar dan ternyata Ibu kembali mengalami mual dan muntah. Namun, Alhamdulillah, keluhan-keluhan itu selalu bisa Ibu atasi. Di bulan ke tujuh, Ibu mulai merasakan gerakanmu yang sedikit berbeda. Gerakanmu terasa lebih teratur selama beberapa menit, seperti orang yang sedang cegukan. Ternyata kamu memang mengalami cegukan di dalam rahim Ibu karena katanya kamu sedang melatih organ pernafasanmu. Terkadang, di saat cegukanmu terasa lama dan sering, Ibu sering merasa kasihan, kamu pasti lelah. Tapi, apa yang bisa Ibu lakukan selain mengelus perut sambil mengajakmu berbicara. Gerakanmu juga semakin beragam,nak. Mungkin karena ukuran tubuhmu yang semakin besar, kini kamu lebih sering menggeliat di dalam perut Ibu. Terkadang, gerakanmu itu begitu terlihat dari permukaan perut Ibu, seperti bergelombang. Tidak jarang pula, sikutan atau gerakan menggeliatmu menekan kantung kemih Ibu sehingga Ibu langsung ingin buang air kecil. Namun, semakin aktif gerakanmu, semakin tenang perasaan Ibu, karena itu berarti kamu sehat-sehat saja di dalam rahim Ibu, sayang. Saat kontrol ke dokter kandungan, ternyata posisi kepalamu masih di atas, sedangkan seharusnya kepalamu sudah berada di bawah sehingga memudahkan proses persalinan secara normal nanti. Ibu sempat merasa khawatir tidak bisa melahirkan dengan normal karena posisi sungsangmu itu, tapi dokter kandungan memberitahu Ibu bahwa posisimu masih bisa berubah dengan beberapa cara. Bismillah, semoga kepalamu bisa berputar lagi ke bawah ya sayang, semangat!

Waktu terus berjalan dan sekarang kita sudah memasuki bulan ke delapan. Kini, perut Ibu semakin membesar,begitu pun dengan ukuran tubuhmu. Alhamdulillah, kamu terus bertumbuh sesuai usiamu dan posisi kepalamu pun sudah berada di bawah. Kamu memang pintar!  Besarnya perut Ibu kini mulai membuat pinggang dan punggung Ibu sering terasa sakit dan pegal. Setiap akan mengubah posisi dari duduk ke berdiri, atau dari tidur ke duduk pun, kini mulai terasa sulit dan melelahkan. Ternyata, inilah yang disebut kelemahan yang bertambah-tambah, seperti yang telah Allah firmankan dalam Al-Qur'an. Ukuranmu yang semakin besar pun kadang menekan beberapa titik di perut Ibu sehingga terasa cukup sakit. Kalau sudah begitu, biasanya Ibu akan mengelus perut dan memintamu untuk mengubah posisimu sehingga rasa sakit itu hilang. Alhamdulilllah, kamu selalu bisa memahami permintaan Ibu. Terima kasih anakku sayang.

Beberapa saat lagi, kita akan bertemu secara langsung , putraku tercinta. Di bulan ke sembilan, pinggang, punggung, dan pinggul Ibu terasa semakin mudah sekali pegal dan sakit. Sepertinya karena beban yang Ibu bawa semakin berat. Alhamdulillah, dengan sabarnya, Abimu sering membantu memijat punggung dan pinggang Ibu untuk sedikit mengurangi rasa sakit dan pegal itu. Di bulan ini, kamu memang sedang dalam tahap penggemukan diri, sehingga kini Ibu semakin mudah lapar. Beberapa kali, Ibu juga merasakan perut Ibu terasa sangat kencang dan ada sedikit rasa mulas, katanya itu adalah kontraksi palsu yang akan menjadi sarana Ibu untuk melatih diri menghadapi kontraksi yang sebenarnya saat melahirkan nanti.

Anakku sayang, tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa Ibu akan berada di kondisi seperti saat ini, mengandungmu selama hampir sembilan bulan, dan memiliki perut yang begitu besar. Ini benar-benar menjadi pengalaman dan kenangan yang luarbiasa untuk Ibu dan Abimu, nak. Kini, Ibu dan Abimu tinggal menunggu waktu kontraksi ritmis itu datang sambil mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari pertemuan kita nanti. Semoga nanti kamu lahir dengan sehat, berat badan yang cukup dan tentunya Ibu berharap, proses persalinan nanti akan lancar dan mudah untuk kita berdua ya nak, aamiin. Doakan Ibu agar nanti stamina Ibu kuat dalam menghadapi semua proses persalinan itu ya nak, sampai jumpa beberapa waktu lagi, anak Ibu yang tercinta. Ibu dan Abi sangat mencintaimu.

Bandung, 6 Desember 2014 (minggu ke 37)
Your lovely mom

Minggu, 09 November 2014

My Wedding.. extended

Menyambung tulisan kemarin mengenai "printilan" persiapan pernikahan saya dan suami tercinta, ada beberapa hal yang belum sempat tersampaikan dan akan saya coba sampaikan di tulisan extended ini. Let’s start again..

Salah satu hal yang cukup penting dalam sebuah acara walimahan adalah undangan. Perihal undangan ini memang awalnya agak sedikit membingungkan. Ingin rasanya memberikan undangan yang tidak akan terbuang begitu saja dan menjadi mubazir, tapi ternyata setelah pencarian beberapa jenis undangan,  penyesuaian dengan budget dan pendapat orangtua, sepertinya saya tetap akan menggunakan jenis undangan yang biasa. Untuk yang berdomisili di Jakarta,  Tebet mungkin menjadi salah satu pusat untuk mencetak undangan karena konon katanya di Tebet sana, percetakan untuk membuat undangan tersedia cukup banyak dengan ragam jenis undangan yang juga banyak. Tapi, kata kakak saya, semakin banyak pilihan , kita sendiri akan semakin bingung menentukan pilihannya. Dulu, kakak saya membuat undangan di sebuah percetakan di dalam Thamrin City yang ternyata saat saya ingin mencoba untuk menggunakan jasa percetakan tersebut, tiba-tiba percetakan tersebut sudah tidak ada lagi di dalam Thamrin City. 

Akhirnya saya mencoba untuk mencari tempat percetakan lain di daerah Cempaka Mas. Setelah mencari-cari, akhirnya saya yang saat itu ditemani oleh kakak menemukan sebuah tempat percetakan undangan di lantai dasar ITC Cempaka Mas, SJCards. Tanpa berbelit-belit, akhirnya di sinilah saya memutuskan akan mencetak undangan walimahan saya. Saya mulai mengurus undangan ini sekitar H-4  bulan, termasuk pembuatan desain dan proses produksinya. Desainnya bernuansa hijau emas sesuai dengan nuansa pakaian kami berdua di malam walimahan nanti. Saya juga meminta aksen beludru pada cover undangan. Satu hal yang saya pastikan adalah tidak adanya ayat Al-Qur’an pada isi undangan kami karena adanya kemungkinan dibuangnya undangan ini. Oiya, walaupun proses produksi sudah dimulai dari H-3 bulan, tapi karena terpotong waktu cuti lebaran, proses ini pun menjadi sedikit terlambat. Namun, Alhamdulillah, akhirnya undangan dapat disebarkan dengan cukup tepat waktu. Untuk beberapa teman yang akan diundang dalam jumlah banyak seperti teman SD, SMP, SMA dan kuliah, saya menggunakan fasilitas invitation di Facebook dan aplikasi messenger seperti BBM, dll. Proses pembuatan undangan memang membutuhkan waktu yang cukup lama karena penyesuaian desain yang hanya dikomunikasikan via email dengan pihak percetakan. Yang penting, kita harus rajin memfollow up dan merespon setiap perubahan desain yang diajukan oleh pihak percetakan.

Undangan versi desain by SJCards
Undangan versi sudah jadi by SJCards


Kalau undangan menjadi cukup penting dalam sebuah acara walimahan, maka cincin kawin merupakan hal yang paling penting dalam sebuah pernikahan selain mahar. Cincin ini memang bukan menjadi mahar dalam pernikahan kami, namun bagi saya, cincin ini menjadi sebuah tanda pengikat bahwa setelah pernikahan ini, saya dan suami merupakan satu kesatuan. Sebelumnya, kami memang sudah pernah membuat cincin kawin di daerah Bandung yang akan diberikan oleh ibu mertua saya kepada saya di acara khitbah. Namun, hasilnya tidak terlalu memuaskan. Cincin milik suami saya yang terbuat dari palladium (karena laki-laki diharamkan menggunakan emas), terlihat lebih kusam. Sedangkan menurut kakak ipar saya, cincin palladium miliknya yang dibuat di toko Kaliem,  sebuah toko emas di dalam Blok M Square, tidak terlihat berbeda jauh dengan cincin istrinya yang terbuat dari emas putih. Akhirnya, setelah mendapatkan rekomendasi ini, saya dan suami pun membuat cincin kawin di toko Kaliem ini. Alhamdulillah, hasilnya cukup memuaskan.

Cincin kawin saya ( emas putih ) dan suami (palladium)
Dalam pelaksanaan seluruh rangkaian acara pernikahan, kami sekeluarga memutuskan untuk mengurus semuanya sendiri dan tidak menggunakan jasa Wedding Organizer (WO). Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kami untuk tidak menggunakan jasa WO. Salah satunya adalah karena keluarga saya sudah pernah mengurus acara pernikahan sebelumnya, yaitu saat kakak saya menikah di tahun 2010. Selain itu, untuk orang-orang perfeksionis seperti saya dan suami, sepertinya lebih enak untuk mengurus segala sesuatunya secara langsung, sehingga lebih puas walaupun memang lebih melelahkan. Petugas dari WO yang biasanya membantu di hari H sebagai penjaga alur, bagian protokoler dan lain-lain, Alhamdulillah dapat digantikan posisinya oleh beberapa rekan  dari kantor ayah, ibu dan kakak ipar saya yang bertugas di TNI. Jadi, dengan beberapa pertimbangan di atas, kami sekeluarga pun memutuskan untuk mengurus semuanya sendiri. Alhamdulillah, walaupun memang membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak, namun kami sekeluarga pun puas dengan hasilnya di hari H.


Semoga tulisan tambahan ini bisa melengkapi tulisan saya sebelumnya tentang persiapan pernikahan. Bagi teman-teman yang sedang dalam tahap persiapan, tetap semangat dan selalu libatkan Allah dalam setiap proses persiapan ini, insya Allah, akan selalu ada kejutan yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Semangat!!


Selasa, 07 Oktober 2014

My wedding

Tidak terasa, usia pernikahan saya dengan suami sudah menginjak satu tahun pada beberapa hari yang lalu. Selama satu tahun itu, ada beberapa kerabat yang menanyakan kepada saya mengenai segala pernak pernik di acara walimahan kami dulu. Oleh karena itu, sambil kembali mengingat kenangan satu tahun yang lalu, sekarang saya ingin sedikit menceritakan beberapa "printilan" dari acara walimah pernikahan saya dan suami. Here we go..

Hal yang paling pertama kali saya urus setelah mendapat lampu hijau dari orangtua untuk menikah dengan lelaki pilihan saya adalah mencari-cari tempat resepsi. Untuk di daerah Jakarta, mencari gedung pertemuan untuk pernikahan terkadang membutuhkan waktu yang lumayan cukup lama. Terlebih lagi, orangtua saya menginginkan acara walimahan saya diadakan pada sabtu malam  yang merupakan waktu paling laris di beberapa gedung pertemuan (mengingat keluarga dan kerabat suami saya banyak yang berdomisili di Bandung sehingga jika acara diadakan pada sabtu malam, masih ada waktu istirahat sebelum kembali beraktivitas di hari senin). Setelah survey ke beberapa gedung untuk mencari tanggal yang kosong dengan luas dan lokasi yang sesuai, akhirnya pilihan saya jatuh kepada Balai Sudirman Panti Prajurit di wilayah Tebet walaupun tanggal yang tersedia sudah berada di bulan Oktober 2013, padahal saya mulai mencari gedung dari bulan Desember 2012.

Gedung Balai Sudirman Panti Prajurit

Setelah urusan gedung selesai dan saya sudah dilamar secara resmi oleh keluarga suami, barulah saya mulai mempersiapkan beberapa hal besar lainnya. Alhamdulillah, di bulan Maret 2013, ada sebuah wedding expo yang diadakan di Gedung Bidakara. Sebagai permulaan, saya dan ibu saya mencoba mencari beberapa vendor pernikahan di sana. Menurut saya, wedding expo ini benar-benar sangat membantu karena hampir semua vendor berkumpul dan kami bahkan bisa mendapatkan beberapa harga promo di pameran ini. Saya dan ibu saya berencana mencari vendor untuk fotografi, dekorasi, catering dan tata rias di wedding expo kali ini. 

Untuk masalah catering, kami tidak terlalu ambil pusing, karena sudah pernah ada pengalaman saat pernikahan kakak saya sekitar 3 tahun yang lalu. Saat itu, keluarga saya menggunakan jasa Kiki Catering. Alhamdulillah, kami merasa puas dengan pelayanan dari vendor ini sehingga  insya Allah kami akan kembali bekerjasama dengan Kiki Catering, terlebih lagi vendor ini termasuk salah satu rekanan Gedung Balai Sudirman. 


Stand Kiki Catering di Gedung Balai Sudirman
Selanjutnya, saya dan ibu saya mulai mencari vendor untuk tata rias dan busana pernikahan. Untuk vendor yang ini, saya tidak bisa menggunakan perias yang sudah pernah digunakan kakak saya sebelumnya karena kakak saya menggunakan adat Jawa sedangkan rencananya saya akan menggunakan adat Sunda. Sebelumnya, ibu saya pernah menanyakan kepada temannya tentang perias yang digunakan di acara pernikahan anaknya. Menurut ibu saya, adat sunda dan tata rias yang digunakan oleh pengantin saat itu terlihat sangat bagus dan ternyata vendor yang digunakan oleh teman ibu saya adalah Miarosa. Saya juga sudah pernah menanyakan rekomendasi teman-teman saya yang sudah menikah mengenai vendor tata rias dan busana. Oleh karena itu, di wedding expo ini, saya dan ibu saya mencari beberapa vendor yang sudah direkomendasikan, termasuk Miarosa. Setelah berkeliling ke tiga vendor, akhirnya saya dan ibu saya pun memilih Miarosa karena tertarik dengan penawaran yang ditawarkan dan juga terhipnotis oleh petugas marketing yang terlihat begitu ramah. Di vendor ini, kami akan menyerahkan urusan tata rias, busana dan adat pernikahan. Untuk urusan tata rias, saya benar-benar sangat memperhatikan semua detilnya. Alhamdulillah, perias dari Miarosa berhasil memenuhi beberapa permintaan khusus saya, seperti pemakaian jilbab yang menutup dada dan juga tidak mengerik alis untuk tata rias wajah. 

Tata rias saya dan busana suami by Miarosa
Busana + tata rias saya dan suami by Miarosa
Adat Pernikahan Sunda yang dipandu tim adat dari Miarosa
Jujur saja, untuk masalah  dekorasi, saya benar-benar bingung. Vendor yang sudah pernah digunakan di acara pernikahan kakak saya ternyata bukan rekanan Gedung Balai Sudirman. Akhirnya, saya mencoba meminta rekomendasi dari pihak Gedung Balai Sudirman itu sendiri. Setelah mencoba mendatangi beberapa stand vendor dekorasi yang sudah pernah saya hubungi sebelumnya via telepon, pilihan saya pun jatuh kepada Shafira Maharani Decoration. Lagi-lagi, saya memilih vendor ini karena terpesona dengan keramahan dan teknik "jemput bola" yang dilakukan oleh pihak marketingnya. Alhamdulillah, hasil dekorasinya pun sungguh memuaskan. Saya memilih jenis pelaminan gebyok tradisional karena rencananya di acara walimahan nanti, saya akan menggunakan busana adat sunda dan menjalani sedikit rangkaian adat sunda, yaitu kehadiran lengser saat kirab pengantin menuju pelaminan dan pembukaan oleh tarian merak. 

Dekorasi Pelaminan Gebyok Tradisional by Shafira Decoration
Dekorasi pada jalur VIP menuju pelaminan
Vendor terakhir yang akan kami cari di wedding expo ini adalah untuk fotografi. Lagi-lagi, vendor yang dulu pernah digunakan kakak saya tidak rekanan dengan Gedung Balai Sudirman sehingga saya harus mencari vendor baru. Saya pun mencoba mencari rekomendasi dari beberapa  teman kakak saya yang juga menggunakan Balai Samudra sebagai tempat walimahannya. Tanpa memilih-milih lagi ke stand lain, saya pun langsung menuju vendor Adiza Photography yang sudah direkomendasikan oleh dua orang kakak kelas saya. Alhamdulillah, setelah mendapatkan sedikit penjelasan mengenai paket yang ditawarkan, saya dan ibu saya pun langsung setuju untuk memilih Adiza sebagai vendor fotografi kami. Menurut saya, Adiza memang sudah menjadi vendor yang begitu profesional, bahkan untuk setiap penambahan yang tidak tertera di paket awal, kami akan mendapatkan penambahan biaya juga. Hehe.. 

Beberapa foto hasil Adiza Photography
Untuk vendor fotografi ini memang hanya mengerjakan foto dan video selama acara berlangsung, dari mulai akad nikah, acara adat sampai resepsi malam. Sedangkan untuk prewed, saya dan suami menganut paham "no prewed". Namun, untuk mengisi beberapa spot di gedung dengan foto, kami berencana untuk meletakkan beberapa foto kami dari bayi sampai foto akad nikah kami di pagi harinya. Hampir semua foto yang kami gunakan adalah foto-foto yang sudah ada, hanya tinggal di edit dan dicetak. Bahkan, yang lucunya, saya dan suami sama-sama memiliki foto bayi dengan pose yang sama. ^^




Alhamdulillah, empat vendor sudah kami temukan di wedding expo Bidakara ini. Hal ini cukup membuat saya tenang. Selanjutnya, kami hanya tinggal memfollow up beberapa hal teknis. Dari ke empat vendor ini, hanya bagian tata rias dan busana yang membutuhkan banyak waktu untuk follow up, sedangkan untuk tiga vendor lainnya sudah dapat kami tuntaskan segala hal teknisnya di wedding expo kedua yang kami datangi sekitar di bulan Juni-Juli 2013 di Balai Sudirman dan finishing dilakukan saat technical meeting di dua pekan sebelum hari H. 

Untuk souvenir, saya berencana untuk memberikan sesuatu yang berbeda. Saat pernikahan kakak saya dulu, souvenir pernikahannya adalah tanaman hias kecil. Keluarga saya memang sangat menyukai tanaman, oleh karena itu, sepertinya saya pun akan mencari jenis tanaman hias lagi untuk dijadikan souvenir. Alhamdulillah, suami saya pernah mendatangi sebuah kebun bunga di daerah Lembang yang ternyata menyediakan beberapa jenis tanaman hias yang bisa dijadikan sebagai souvenir pernikahan yaitu Rumah Bunga Rizal di daerah Maribaya. Akhirnya, saya dan keluarga pun menyempatkan untuk pergi ke Rumah Bunga Rizal dan mengurus souvenir pernikahan ini. Saya memilih untuk menggunakan jenis succulent dibandingkan kaktus, karena menurut saya succulent terlihat lebih cantik. Setelah menyesuaikan jenis dan ukurannya, kami pun menuntaskan perihal souvenir ini yang nantinya akan dikirim ke Jakarta saat hari H. Alhamdulillah, beberapa tamu merasa senang dengan souvenir ini. Bahkan, salah satu saudara dari Sumedang berhasil menumbuhkan succulent ini hingga berukuran tiga kali lebih besar dari ukuran awal. 

Souvenir succulent by Rumah Bunga Rizal
Terakhir, sebenarnya ini bukanlah sesuatu yang saya persiapkan sendiri, melainkan hadiah dari suami saya tercinta, yaitu mahar pernikahan. Saat sebelum menikah, calon suami saya menanyakan kepada saya mengenai mahar yang saya inginkan. Saya pun menjawab bahwa saya ingin 5 gram emas dan 10 dirham yang diambil dari tanggal pernikahan kami kelak yaitu 5 Oktober. Saya memilih untuk diberikan logam mulia karena terinsipirasi dari pernikahan di zaman Rasulullah. Setelah saya mengungkapkan keinginan saya itu, tiba-tiba suami saya menawarkan sebuah mahar yang jauh melebihi ekspektasi saya namun tetap memenuhi permintaan saya. Dia menawarkan sebuah mozaik berukuran kurang lebih 1,5 m persegi dengan gambar wajah saya dan suami yang disusun dari 2013 koin uang 100 rupiah. Alhamdulillah, saya sungguh senang dengan mahar yang akan diberikan oleh suami saya. Ide yang ditawarkan suami saya benar-benar belum pernah terbayang sedikitpun oleh saya dan saya benar-benar excited mengenai mahar yang unik ini. Beberapa bulan sebelum hari H, saya pergi ke daerah Padasuka, Bandung, untuk melihat langsung contoh mozaiknya dan membicarakan masalah mahar ini di Oenique Wedding. Alhamdulillah, hasilnya pun sangat bagus dan memuaskan. Sampai saat ini, mahar ini masih terpasang dengan kuat di salah satu dinding rumah kami. Terima kasih banyak suamiku. 

Mahar mozaik wajah yang terdiri dari 5 gram emas, 10 dirham dan 2013 koin uang 100 rupiah by Oeniquewedding

Alhamdulillah, kira-kira itulah beberapa "printilan" yang saya dan keluarga saya urus untuk hari besar saya dan suami  di tanggal 5 Oktober 2013. Walaupun terdapat beberapa kekurangan di sana sini, namun kami sekeluarga tetap bersyukur karena secara garis besar, acara yang sudah kami persiapkan sejak beberapa bulan sebelumnya dapat berjalan cukup lancar. Alhamdulillah. Semoga tulisan saya kali ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang sedang mempersiapkan hari besarnya. ^^

Selasa, 18 Maret 2014

Our First Journey (part 2 )

Day 2 ( 07-10-13 )

Setelah makan pagi sekitar pukul 10, kami pun segera bersiap untuk meninggalkan wilayah Pegunungan Tengger dan melanjutkan perjalanan menuju air terjun Madakaripura. Aktivitas yang cukup melelahkan selama di Bromo membuat kami tertidur selama 4 jam perjalanan.

Kami tiba di lokasi kedua ini sekitar pukul 2 siang. Cuaca saat itu cukup teduh, cenderung mendung. Awalnya tour guide kami sempat ragu mengenai kondisi cuaca ini karena jika hujan turun deras maka satu-satunya jalan yang akan kami gunakan menuju lokasi air terjun bisa saja menjadi longsor. Alhamdulillah, setelah bertanya kepada petugas disana, mereka masih mengijinkan kami untuk melewati akses yang sebenernya pun sudah pernah tertimpa longsor beberapa waktu lalu ketika hujan sering turun dengan sangat deras.

Sebenarnya untuk mencapai lokasi air terjun, pengunjung dapat menggunakan sebuah jalur pejalan kaki yang disusun rapi dengan coneblock. Namun, lokasi jalur pejalan kaki ini memang berada di pinggir tebing dan sungai. Jadi, sebelah kiri jalan adalah tebing dan sebelah kanan jalan adalah sungai dengan aliran air yang tidak terlalu deras. Setelah kejadian longsor beberapa waktu lalu, jalur pejalan kaki ini pun tertutup sebagian oleh longsoran tanah, sehingga para pengunjung kini harus menggunakan jalur air sungai untuk mencapai lokasi air terjun. Kami pun mulai menapaki jalur pejalan kaki selama belum terhalang oleh longsoran tanah, jika sudah terhalang, maka kami akan turun ke sungai dan melanjutkan perjalanan melewati batu-batu kali yang cukup besar. Jika jalur pejalan kaki sudah kembali bisa dilewati, kami kembali naik ke atas dan melalui jalur daratan sampai nanti akan bertemu lagi dengan longsoran tanah, turun lagi ke sungai, dan begitulah seterusnya.

Ternyata, perjalanan wisata alam kali ini benar-benar menguras tenaga. Setelah beraktivitas fisik di Gunung Bromo, kini di air terjun Madakaripura, kami pun kembali harus naik turun demi mencapai lokasi. Walaupun cukup melelahkan, tapi semuanya bisa dijalani karena pada akhirnya water tracking yang tidak direncakan ini pun menjadi terasa sangat seru.

Beberapa meter sebelum lokasi air terjun, tour guide kami mengatakan bahwa di depan, kami akan lewat di bawah kucuran air terjun sehingga kami pasti akan basah jika tidak menggunakan jas hujan atau payung. Akhirnya, kami menyewa jas hujan yang memang disediakan oleh para penyewa di sekitar lokasi.Seru sekali lewat di bawah kucuran air terjun. Dengan kaki yang sudah basah karena masuk ke dalam aliran sungai, bagian kepala kami pun juga merasakan dinginnya air terjun seperti sedang mandi dengan shower.


Setelahnya, kami pun tiba di lokasi utama air terjun Madakaripura ini. Katanya, di air terjun inilah Patih Gajah Mada bersemedi selama beberapa waktu, bahkan tour guide kami pun menunjukkan tempat Patih Gajah Mada bersemedi yang terletak sekitar 3-4 meter di atas permukaan tanah. Setelah puas bermain dengan nuansa gunung, pasir dan savana di Pegunungan Tengger tadi pagi, kini saatnya untuk bermain-main dengan air terjun yang sangat jernih di Air Terjun Madakaripura ini. 



Setelah mengambil beberapa gambar dan sedikit bermain air, kami pun memutuskan untuk kembali ke depan karena waktu sudah semakin sore dan hujan mulai turun rintik-rintik. Di perjalanan pulang menuju tempat parkir, hujan turun semakin besar walaupun tidak terlalu deras. Kami pun berhenti sejenak di sebuah warung kecil untuk menunggu hujan reda , sambil memakan beberapa gorengan dan meminum secangkir minuman hangat untuk sedikit menghangatkan tubuh kami yang mulai kedinginan setelah bermain air tadi.


Di saat hujan mulai reda, kami memulai kembali perjalanan pulang melalui jalur yang sama , yaitu jalur sungai dan jalur pejalan kaki yang terpotong longsoran tanah. Sesampainya di tempat parkir, kami langsung mengganti pakaian kami yang cukup basah dan bersiap memulai perjalanan lagi menuju kota Malang. Akhirnya, wisata alam kedua kami pun selesai. Alhamdulillah, walaupun track yang harus kami lewati tadi tidak pernah diperkirakan sebelumnya, tapi semuanya masih terasa sangat seru dan menyenangkan, terlebih lagi karena kami menjalaninya bersama-sama. ♥♥

Hari kedua ini belum selesai, kami masih akan melanjutkan perjalanan menuju kota Malang. Rencananya kami akan mampir sebentar di hotel tempat kami menginap di daerah Malang, lalu mencoba keindahan lampion di Batu Night Spectacular. Tour guide yang sedari kemaren menemani perjalanan kami memang hanya akan menemani kami selama di Gunung Bromo dan Air Terjun Madakaripura saja. Selanjutnya, kami akan mencoba bertualang berdua saja di daerah Malang. Saat kami menceritakan rencana petualangan kami untuk malam ini dan esok hari, yaitu bermain-main di Jatim Park 2 yang juga berlokasi di Batu, tour guide kami menyarankan untuk menginap di hotel yang berada di daerah Batu saja, agar tidak bolak-balik ke kota Malang.

Akhirnya, setelah 3 jam perjalanan, kami pun tiba di Malang dan langsung menuju daerah Batu, sambil mencari hotel di daerah sana. Ternyata di dalam lingkungan Jatim Park 2 juga terdapat sebuah hotel, Pohon Inn Hotel. Sebuah hotel dengan konsep yang cukup menarik, terlihat seperti sebuah pohon besar dengan beberapa kamar di dalamnya. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk menginap disana. Setelah meletakkan barang bawaan, kami kembali melanjutkan perjalanan ke BNS untuk menikmati keindahan lampion di malam hari walaupun waktu yang tersisa hanya sedikit. 

Setelah puas menikmati indahnya malam bersama berbagai lampion lucu berbentuk karakter, kami pun memutuskan untuk pulang ke hotel dan beristirahat. Besok, kami masih akan melanjutkan petualangan kami di sebuah kebun binatang yang terletak persis di sebelah hotel tempat kami menginap. 

Day 3 ( 08-10-13 ) 

Hari ini kami berencana untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk bermain mengelilingi Jatim Park 2. Nanti sore, jadwal pesawat kami untuk terbang kembali ke Jakarta adalah pukul 5 sore dan kami akan terbang dari Bandara Juanda di Surabaya. Mengingat jarak tempuh yang cukup jauh, supir mobil rental kami menganjurkan agar kami sudah berangkat menuju Juanda dari jam 2 siang. Jatim Park 2 baru akan buka jam 9 dan kami harus sudah check out dari hotel jam 1 siang. Yah, memang petualangan di Jatim Park 2 ini akan terasa sangat sebentar, tapi kami akan tetap mencoba memanfaatkan waktu yang tersisa. Setelah masuk ke dalam Jatim Park 2, menurut kami, kebun binatang ini terlihat sangat rapi dan modern. Jalur yang disediakan akan mengarahkan pengunjung untuk melihat semua hewan yang ada di dalam kebun binatang ini. Di sini juga disediakan sebuah alat transportasi yang mirip skuter beratap untuk satu orang, jika pengunjung mulai merasa lelah untuk mengelilingi kebun binatang yang cukup luas ini. Dengan waktu yang sangat terbatas, kami pun mencoba menikmati tingkah lucu para hewan yang tidak akan pernah bosan untuk dilihat.

 
Tidak terasa, waktu pun berlalu dan kami sudah harus segera check out dari Pohon Inn Hotel. Setelah keluar dari hotel, kami menyempatkan untuk membeli oleh-oleh khas Jatim Patk 2 dan khas Malang untuk orang-orang terkasih di Jakarta. Akhirnya, perjalanan panjang pertama kami pun selesai. Terima kasih Jawa Timur. Alhamdulillah, sebuah kenangan indah telah mewarnai lembaran awal kehidupan kami berdua. Semoga lembaran-lembaran yang akan hadir selanjutnya akan selalu indah, seindah perjalanan kami kali ini. ♥♥


Our First Journey (part1)

Alhamdulillah, setelah tertunda selama hampir 5 bulan, saya akan menceritakan perjalanan pertama saya dengan suami di awal kehidupan kami. 

5 Oktober 2013, saya menikah dengan lelaki idaman saya yang juga merupakan pilihan Allah, Dani Ferdian. Untuk memulai kehidupan baru, saya dan suami berencana untuk memulainya dengan sesuatu yang menyenangkan dan tak terlupakan. Kami merencakan untuk berjalan-jalan ke daerah pegunungan setelah rangkaian acara pernikahan kami selesai. Entahlah, walaupun tracknya akan lebih melelahkan dibandingkan ke pantai, tapi saya sedang bosan dengan nuansa pasir dan laut. Saya ingin mencari suasana yang sejuk dan menenangkan. Terlebih lagi, saya pernah memiliki mimpi untuk bisa 'naik gunung'. Namun, setelah disesuaikan dengan kondisi fisik saya yang belum pernah mendaki gunung layaknya para pencinta alam, maka saya memilih untuk menaiki gunung Bromo yang katanya tidak terlalu sulit untuk pemula seperti saya. Setelah dari Bromo, saya berencana untuk pergi ke air terjun Madakaripura yang sudah direkomendasikan oleh sepupu saya dan selanjutnya akan menuju kota Malang untuk menikmati beberapa tempat wisata disana. So, here we go...

Day1 ( 06-10-13)
Saya dan suami mulai berangkat dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Juanda, Surabaya pada pukul 10.05. Sebuah pemandangan lucu mulai terlihat dari barang bawaan kami. Saya yang terbiasa menggunakan koper saat pergi keluar kota, terlihat membawa satu koper hitam berukuran sedang yang berisi seluruh baju dan perlengkapan ala perempuan yang cukup banyak. Sedangkan suami saya yang sudah cukup sering melakukan aktivitas alam, hanya menggendong sebuah carrier merah berukuran sedang yang berisi beberapa baju, jaket dan sarung tangan sebagai bekal kami untuk mendaki Bromo nanti. Sepertinya, perjalanan koper versus ransel kami akan dimulai.

Setelah tiba di Bandara Juanda, kami langsung dijemput oleh tour guide dari Ekuator Indonesia yang saya dapatkan rekomendasinya dari teman semasa SMA saya yang saat ini pun sudah memiliki travel agent di Bandung ( Teras Nusantara ). Kami langsung menuju Hotel Java Banana yang terletak tidak terlalu jauh dari Gunung Bromo. Ternyata, hotel ini adalah hotel dengan desain yang paling modern di antara hotel lainnya. Saya memilih hotel ini setelah mendapatkan rekomendasi dari beberapa teman. Setelah sekitar 4 jam perjalanan, kami tiba di penginapan ala 'koper' ini. Sesampainya disana, kami langsung beristirahat dan bersiap untuk perjalanan dini hari esoknya.

Day 2 ( 07-10-13 )
Pukul 3 dini hari, kami sudah dibangunkan oleh resepsionis melalui morning call. Kami pun langsung bersiap untuk menuju ke tempat melihat sunrise di pegunungan Tengger yang disebut dengan lokasi penanjakan 1. Dengan jaket tebal, sarung tangan, kaus kaki dan sepatu/sandal gunung, kami pun berangkat menuju lokasi dengan menggunakan sebuah mobil jeep. Perjalanan ke atas memakan waktu sekitar 45 menit. Sesampainya di lokasi, kami turun di tempat parkir jeep dan berjalan kaki menuju lokasi penanjakan 1 . Alhamdulillah, karena ini bukanlah weekend dan musim liburan, maka jumlah wisatawan pun tidak terlalu banyak dan jumlah wisatawan asing terlihat lebih mendominasi. Kami tiba di atas sekitar pukul 4.10. Sambil menunggu waktu Shubuh, kami singgah sebentar di warung kopi untuk memakan pisang goreng hangat dan meminum secangkir jahe hangat untuk mengganjal isi perut sekalian menghangatkan tubuh kami.


Setelah memperkirakan waktu Shubuh ( di sana tidak akan terdengar adzan karena penduduknya mayoritas beragama hindu ), kami pun beranjak menuju tempat shalat yang dekat sekali dengan lokasi penanjakan 1. Saat mengambil air wudhu, air yang dirasakan benar-benar dingin dan membuat saya langsung menggigil. Kami pun shalat berjamaah ditemani angin gunung yang sangat dingin. Setelah selesai Shalat, kami bersiap untuk melihat keindahan sunrise yang katanya adalah sunrise terbaik ketiga sedunia. Di dalam area Penanjakan 1 ini, para wisatawan terlihat mulai memenuhi setiap spot untuk mengabadikan keindahan sunrise di pagi ini. Beberapa wisatawan terlihat menggunakan kamera SLR dengan lensa yang bermacam-macam dan saya pun mencoba untuk ikut mengabadikan kekuasaan Allah di pagi hari ini dengan kamera poket saya. Masya Allah, sungguh luar biasa keindahan alam yang telah diciptakan Allah untuk kita. Saat melihat sang surya muncul, sebuah perasaan bahagia dan syukur langsung memenuhi hati saya. Sebuah kehidupan yang luar biasa telah Allah anugerahkan kepada saya, termasuk sebuah kesempatan untuk bisa melihat keindahan sunrise di pagi ini bersama suami tercinta. Alhamdulillah.



Dari Penanjakan 1 ini juga, kami bisa melihat Gunung Bromo, Gunung Batok, dan bahkan Gunung Semeru. Sungguh indah pemandangan yang dapat kami lihat dari atas sini. Setelah matahari mulai bergerak semakin tinggi, wisatawan pun mulai berkurang dan kami segera memanfaatkan kosongnya daerah itu untuk berfoto bersama dengan latar belakang Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Alhamdulillah, sebuah kenangan indah di atas pegunungan ini dapat kami bawa ke Jakarta.


Setelah puas berfoto di area penanjakan 1, kami pun turun menuju tempat parkir mobil jeep. Namun, kami sempat singgah sebentar di sebuah warung untuk memakan jagung bakar, cukup untuk mengisi perut yang mulai lapar. Setelah masuk kembali ke dalam mobil jeep, kami langsung menuju wilayah Gunung Bromo. Melewati lautan pasir, kami berencana untuk berhenti sejenak di sebuah wilayah yang disebut 'pasir berbisik'. Mengapa disebut pasir berbisik?. Ternyata, itu karena halusnya pasir ini menghasilkan suara berbisik saat tertiup oleh angin. Saya pun mencoba berjalan di atas pasir berbisik itu dan kehalusan pasir ini cukup membuat saya kesulitan saat harus kembali menanjak ke atas.


Selesai menikmati area pasir berbisik, kami pun beranjak ke sebuah savana yang terletak tidak jauh dari area pasir berbisik ini. Di sana , katanya, ada bukit yang bertumpuk-tumpuk dan berwarna hijau yang sering disebut sebagai bukit telletubies. Ya, memang ternyata bentuknya mirip sekali dengan bukit-bukit yang menjadi rumah bagi para telletubies di film mereka. Masya Allah, pemandangan ini benar-benar sungguh menyejukkan mata dan hatiku. Hamparan rumput begitu luas dan hijau meneduhkan. Pegunungan ini memang cantik. Dengan tampilan yang sangat berbeda dengan pasir berbisik yang bernuansa abu-abu, savana ini terlihat begitu hijau di area pegunungan Tengger.


Selanjutnya kami kembali ke jeep untuk berangkat menuju lokasi utama, yaitu Gunung Bromo. Di sana, ada banyak sekali kuda yang memang disewakan untuk menjadi kendaraan bagi para pengunjung yang ingin mencapai kaki Gunung Bromo tanpa berjalan kaki. Saya pun memilih untuk menaiki kuda, selain untuk menyimpan tenaga, saya memang ingin sekali naik kuda. Di dalam perjalanan menuju kaki Gunung Bromo, kami melewati sebuah pura yang sangat besar. Pura ini sering digunakan oleh para penduduk yang beragama hindu untuk melaksanakan ibadah di hari-hari besar agama mereka. Pura ini memang terlihat sangat mencolok di tengah-tengah lautan pasir dan gunung-gunung yang menjulang.


Sesampainya di kaki Gunung Bromo, kami pun bersiap untuk menaiki anak tangga yang katanya berjumlah sekitar dua ratusan untuk mencapai puncak. Bismillah, perjalanan akan dimulai. Di sepanjang tangga ini, ada tiga tempat untuk beristirahat dan karena saya sudah kama tidak berolahraga, saya pun selalu beristirahat sejenak di ketiga pos itu, hehe. Setelah perjuangan melawan lelah dan dingin, akhirnya saya tiba di puncak gunung ini. Alhamdulillah, ternyata saya bisa. ^^

Menikmati kawah Gunung Bromo dan pemandangan yang cukup menyejukkan mata di puncak gunung ini telah membuat saya merasa sangat senang. Akhirnya, mimpi saya untuk bisa naik gunung sudah terlaksana. Saya pun mencoba mengabadikan pencapaian mimpi saya itu melalui kamera poket saya. Namun, di balik semua keindahan ini, ada sebuah pemandangan yang kurang enak dipandang mata , yaitu coret-coretan para pengunjung di pagar yang ada di bagian puncak Gunung Bromo ini, sungguh sangat disayangkan, vandalisme itu masih saja menodai keindahan pegunungan ini.

Tidak berapa lama setelah kami turun dari Gunung Bromo, matahari terasa semakin menghangatkan tubuh kami. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk kembali ke hotel dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami ke tujuan kedua, yaitu air terjun madakaripura. Alhamdulillah, akhirnya Gunung Bromo ini berhasil memberikan kenangan yang sangat indah di awal kehidupan baru kami, semoga kehidupan kami pun akan selalu indah, seindah pemandangan di pegunungan Tengger ini, Aamiin...


...to be continued..