Senin, 22 April 2013

Lembaran Baru

"Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan 
terutama dalam bidang kesehatan. 
Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan 
martabat dan tradisi luhur jabatan Kedokteran Gigi.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya 
dan keilmuan saya sebagai Dokter Gigi.
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran Gigi saya
 untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan.
Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh 
supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, 
politik kepartaian, atau kedudukan sosial.
Saya ikrarkan sumpah janji ini dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan."

Tepat dua hari yang lalu, dalam sebuah upacara yang khidmat, saya dan sekitar tiga puluhan orang dokter gigi baru lulusan FKG UI melafalkan sumpah dokter gigi ini dengan penuh kesungguhan. Akhirnya, kami resmi mengemban amanah baru sebagai seorang dokter gigi. Sebuah amanah baru untuk bisa menjadi insan kesehatan yang berguna bagi masyarakat Indonesia. Lafal sumpah ini terasa begitu dalam memasuki pikiran saya, terlebih lagi ketika diawali dengan lafazh "Demi Allah". Sebuah janji yang tidak main-main, yang harus dapat saya pertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Upacara sumpah ini benar-benar mengingatkan saya bahwa 'lulus' bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awal dari kehidupan baru saya sebagai seorang dokter gigi. Apapun pekerjaan saya kelak, apakah sebagai seorang klinisi atau seorang akademisi, ilmu yang telah saya dapatkan selama belajar kedokteran gigi haruslah dapat saya pergunakan dengan sebaik mungkin demi kepentingan masyarakat, karena saya sudah bersumpah untuk itu. 

Kelulusan ini bukanlah milik saya semata, karena dengan lulusnya saya dan teman-teman sebagai dokter gigi, maka Indonesia pun kini sudah memiliki tenaga dokter gigi baru yang masih sangat dibutuhkan di negeri ini. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pun akhirnya menambah daftar lulusannya. Dan yang paling penting, kedua orangtua saya akhirnya menyelesaikan amanahnya untuk menyekolahkan saya sampai selesai, Alhamdulillah. Perasaan bahagia dan haru menjadi satu saat akhirnya saya bisa mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam sambil memberikan setangkai bunga mawar kepada kedua orangtua saya di acara kemarin. Setetes airmata kebahagiaan pun hadir tanpa diminta. Akhirnya, saya bisa mempersembahkan sebuah hadiah terbesar kepada mereka, walaupun ini tetap tidak dapat membalas begitu banyak pengorbanan yang telah mereka lakukan demi saya. 

Mengenang kembali betapa jatuh bangunnya kami dalam menjalani masa klinik membuat kebahagiaan itu semakin memuncak karena akhirnya kami bisa melewatinya dengan baik walaupun harus diiringi dengan banyak peluh dan airmata. Dan kini, sebuah misi baru telah menanti kami untuk dapat kami laksanakan dengan sungguh-sungguh. Mungkin, cobaannya akan lebih berat dibandingkan saat masih berada di masa klinik, namun saya yakin, semakin tinggi permasalahan yang Allah berikan, maka semakin besar juga kemampuan kita untuk melewatinya karena Allah Maha Adil, Maha Mengetahui yang terbaik bagi kita semua.

Semangat teman sejawat semua! Indonesia menanti pengabdian dan pelayanan kita sebagai seorang dokter gigi yang profesional. Lafal sumpah yang telah kita ucapkan bersama harus terus menjadi pengingat bagi kita bahwa kita semua sudah berjanji kepada Allah bahwa kita akan melakukan yang terbaik untuk profesi ini. Semangat!!

*teruntuk teman-teman yang masih berjuang, tetap semangat kawan! Sebuah perjuangan pasti berbuah manis pada akhirnya, percayalah kepada waktu terbaik yang telah ditetapkan olehNya. Semangat!

thanks for the picture, doc ^_^



Minggu, 17 Maret 2013

The Sweetest Thing

Februari 2011 adalah saat-saat pertama bagi saya untuk memulai kegiatan sebagai mahasiswa profesi (koas) di FKG UI. Masa pendidikan profesi yang katanya ditargetkan selesai dalam waktu 3 semester, pada kenyataannya, mungkin hanya 1% dari sebuah angkatan yang bisa mencapai target itu. Oleh karena hal itulah, sejak awal saya tidak terlalu "ngoyo" untuk mengejar kelulusan tepat waktu, walaupun saya tetap berusaha semaksimal mungkin. 

Kelulusan dalam pendidikan koas ini memang dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Untuk mahasiswa fakultas lain, mungkin faktor yang mempengaruhi kelulusan hanya berkisar di diri sendiri dan dosen. Berbeda dengan kondisi yang ada di dunia koas gigi, selain dipengaruhi oleh diri sendiri, baik segi materi maupun mental, kelulusan kami juga dipengaruhi oleh para supervisor klinik ( dosen ), jadwal kerja dengan dental unit, dan tentunya keberadaan pasien yang sangat besar andilnya dalam tercapainya gelar dokter gigi bagi kami. 

Setelah menjalani klinik selama 3 semester, alhamdulillah hanya 2 dari 74 orang , mahasiswa koas angkatan saya yang berhasil lulus tepat waktu, sedangkan saya bersama beberapa teman masih berjuang untuk memenuhi "sejibun" requirement yang belum selesai. Allah memang memberikan saya beberapa "istirahat" dalam masa koas ini, saya sempat sakit HFM selama 1 minggu saat berada di stase anak, saya juga pernah mengikuti baksos ke Palu selama 1 minggu dan acara munas PSMKGI di Bali selama 4 hari. Saya berpikir, masih ada kesempatan untuk mengejar kelulusan di Sumpah Dokter bulan November, seperti yang pernah saya targetkan dulu. Tapi ternyata Allah tidak menghendaki. Setelah Sumpah Dokter November pun terlewat begitu saja, akhirnya saya berusaha untuk mengejar Wisuda di bulan Februari 2013. Kalau saya bisa lulus di wisuda itu, berarti saya menyelesaikan pendidikan profesi saya persis 2 tahun lamanya. 

Lagi-lagi, Allah punya rencana lain untuk kelulusan saya. Satu requirement saya masih "buntu", karena belum adanya pasien yang disetujui oleh supervisor, yaitu pasien yang akan saya buatkan gigi tiruan jembatan (bridge). Sudah mencari calon pasien dari bulan Oktober dan menunjukkan kepada supervisor beberapa kali, saya belum  juga mendapatkan pasien ini. Mencari pasien memang harus yang benar-benar berjodoh dengan kita, karena ada saja halangannya. Perjuangan mendapatkan pasien ini sungguh pengalaman yang tak terlupakan untuk saya. Mencari ke kampung-kampung di daerah Salemba selama beberapa hari bahkan sampai mencari lewat media sosial (twitter) pun pernah saya lakukan demi pasien penutup ini.

Bahagia itu benar-benar hadir ketika akhirnya setelah 7 kali mencoba mengindikasikan pasien ke supervisor, pasien saya disetujui oleh supervisor di tgl 31 Januari. Alhamdulillah, Allah langsung memberikan jalan yang mulus buat saya untuk mengerjakan perawatan terakhir ini. Dalam waktu yang relatif cepat, walaupun sempat mengalami beberapa masalah , akhirnya saya berhasil menyelesaikan perawatan ini tanggal 7 Maret 2013. Hari itu, saya cukup bahagia karena pasien saya sudah bisa pulang dengan gigi tiruan baru di dalam mulutnya.  Bahagia itu kembali hadir di saat saya diijinkan untuk mendaftar ujian. Ujian terakhir di masa koas saya ! Tanggal 11 Maret, akhirnya saya mengumpulkan berkas ujian dan tiba-tiba diberitahukan oleh dosen bahwa saya akan ujian di tanggal 14 Maret 2013. ( whaaat???)

Bagaimana saya bisa mempersiapkan ujian yang bahannya sangat banyak dalam waktu 3 hari, padahal biasanya teman-teman saya mempersiapkan ujian ini dalam waktu lebih dari 1 minggu?. Lagi-lagi, Allah memang Maha Berkehendak. Beberapa hari sebelum ujian, saya diberitahu bahwa penguji saya adalah dosen yang termasuk baik dan mudah meluluskan mahasiswanya. Kembali lagi Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk merasakan begitu banyak pertolonganNya. Alhamdulillah.

Dua hari efektif saya manfaatkan untuk belajar bersama dan mencoba latihan-latihan soal. Di saat itu pulalah saya berusaha menampung sebanyak-banyaknya doa dari orang-orang terdekat. Bahkan, dosen saya yang pernah bekerja sama di sebuah kepanitiaan tiba-tiba mengirim bbm kepada saya menanyakan perihal ujian saya dan mendoakan agar ujian dapat berjalan dengan lancar. Bahagia itu memang sederhana. Terima kasih dok. 

Hari ujian pun tiba, tidak mungkin saya tidak deg-deg an menghadapi ujian ini. Walaupun pengujinya adalah 2 dosen yang baik, saya tetap tidak tenang. Sungguh sangat berdebar, ditambah lagi, ini adalah ujian penutup saya di masa koas. Ini menentukan masa depan saya. Akhirnya, ujian berjalan dengan cukup lancar selama hampir 1 jam. Entah apa perasaan yang ada di hati saya setelah akhirnya kedua dosen ini menyatakan ujian saya sudah selesai. Saya bahagia karena akhirnya ujian ini selesai tapi masih belum tenang karena belum ada pengumuman. Alhamdulillah, Allah memberikan ketenangan kepada saya dan sebuah rasa optimis. Bahagia kembali hadir saat teman saya bercerita bahwa dia mendengar dosen penguji saya berkata " tuh Risty, udah jadi dokter gigi tuh", saat teman saya sedang belajar dengan beliau. Alhamdulillah. 

Beberapa hari lagi saya mengulang hari kelahiran saya, dan Allah sudah lebih dulu memberikan sebuah hadiah luar biasa untuk hidup saya. Sebuah kelulusan yang sudah saya nantikan sejak lama. Sebuah gelar dokter gigi yang walaupun belum "official", sudah bisa saya hadiahkan untuk kedua orangtua saya. Allah memang luar biasa. Allah selalu berhasil membuat saya tersenyum atas semua kebahagiaan dariNya. Dan, ini adalah hadiah terindah di usia saya yang hampir menginjak angka dua puluh empat. Terima kasih Ya Rabb. Atas segala cinta, anugerah, berkah dan kebahagiaan yang telah Engkau berikan kepada hamba. Berikanlah kesempatan dan kekuatan kepada hamba agar dapat selalu bersyukur dan bersyukur. Aamiin.. 

The Sweetest Thing in My Life. :")


Rabu, 20 Februari 2013

Saya rindu..

Sudah hampir 6 tahun saya berkenalan dengannya, cukup mendalaminya dan akhirnya jatuh cinta kepadanya. Pengabdian Masyarakat, saya rindu...

Tahun 2007 adalah saat pertama bagi saya untuk akhirnya mengenal lebih dalam arti dari kata pengabdian masyarakat. Saya yang semasa SMA lebih sering bermain di dunia seni budaya, akhirnya mencoba bidang baru di organisasi kampus. Waktu itu, saya masih seorang mahasiswa tingkat satu Fakultas Kedokteran Gigi yang mungkin mengartikan dunia "pengmas" dengan "sterilisasi alat baksos", karena setiap ada bakti sosial berupa pengobatan gigi gratis, mahasiswa tingkat satu memang hanya berurusan dengan air sterilisasi , sikat gigi dan alat-alat pengobatan gigi. 

Alhamdulillah, baksos pengobatan pertama saya di FKG, saya terpilih untuk masuk ke dalam tim pengobatan dan menjadi petugas sterilisasi, berbeda dengan teman-teman lain yang berada di tim penyuluhan. Bukannya saya merendahkan penyuluhan kesehatan gigi, tapi saya sudah pernah melakukannya semasa ospek di awal dulu. Di sesi pengobatan, walaupun tugas saya hanya mencuci alat yang kotor dan mengurus pengisian air kumur untuk pasien, tapi saya merasa sangat bersyukur karena bisa melihat langsung bagaimana senior-senior saya menghadapi pasiennya. Di sana jugalah saya mulai mempelajari alat-alat yang mungkin materi kuliahnya baru akan saya dapatkan di tingkat dua dan tiga. Mulai mengamati bagaimana menjadi dokter yang bisa melayani pasien dengan hati, bagaimana menangani pasien anak-anak yang hampir semuanya takut dengan dokter gigi dan bagaimana bekerjasama dalam sebuah tim pengobatan yang kompak. Baiklah, baksos kali ini sudah membuat hati saya terpaut dengan 'pengmas'.

Tahun -tahun selanjutnya, pengalaman pun makin bertambah. Jika di tingkat satu, saya hanya bisa berpartisipasi sebagai petugas sterilisasi , di tingkat dua, saya bisa menangani pasien langsung di bagian pemeriksaan. Tingkatan tugas pun makin meningkat ketika di tahun ketiga mulai menjadi asisten operator dan akhirnya di tahun ke empat, saat saya sudah masuk stase klinik, saya mulai berperan sebagai operator yang benar-benar langsung menangani pasien sendiri dengan segala peralatan yang seadanya. Tidak jarang, saya mendapatkan banyak "skill" baru dalam merawat pasien saat baksos ini. Praktek-praktek yang tidak pernah saya dapatkan di klinik kampus dengan fasilitas dental unit yang canggih , akhirnya bisa saya temukan di ruangan baksos pengobatan yang hanya bermodalkan bangku , meja sekolah dan senter. Pasien yang ditangani pun menjadi sangat beragam, mulai dari preman sampai pak RT di daerah itu. Kemampuan berkomunikasi juga menjadi hal yang cukup penting, bahkan terkadang, kami membutuhkan penerjemah ketika menghadapi pasien yang tidak bisa berbahasa Indonesia.  

Baksos di Palu, 2012
Baksos pengobatan telah menjadi kenangan yang paling indah buat saya selama berada di bidang pengabdian masyarakat ini. Alhamdulillah, pengalaman yang didapatkan dari baksos ini bukan hanya saat menjalani baksosnya saja, apalagi kalau baksos ini dilakukan di luar kota, bahkan di luar pulau. Lagi-lagi, saya bersyukur karena diberi kesempatan oleh Allah karena pernah merasakan baksos di tanah Kalimantan, Madura, Maluku dan Sulawesi. Pengalaman melalui perjalanan yang berjam-jam dengan jalanan seperti off road pun pernah saya alami. Menginap di rumah warga, mengobrol dengan bahasa daerah yang terkadang membuat saya harus bertanya apa artinya bahkan bermain voli bersama di saat kegiatan pengobatan telah selesai adalah kenangan yang membuat rasa lelah setelah menangani ratusan pasien pengobatan pun hilang seketika. 

Main voli dengan warga, kersos 2008 di Banjarmasin
Bahagia itu dirasakan saat melihat wajah pasien saya yang sudah tua tersenyum sambil mengucapkan terima kasih dengan bahasanya bahwa giginya sudah terasa lebih baik. Bahagia juga sangat terasa ketika berhasil merawat pasien anak yang tadinya menangis ketakutan menjadi sangat kooperatif menjalani perawatan giginya. Bahkan, terkadang rasa haru pun muncul ketika melihat seorang anak yang berusaha memberanikan dirinya untuk dicabut padahal sebenarnya dia sangat takut. Bahagia itu terus mengalir selama baksos itu berjalan.

Pengabdian masyarakat memang bukan hanya berkisar di baksos kesehatan gigi saja. Saya juga pernah merasakan tertular aura bahagia anak-anak panti asuhan yang pernah kami datangi untuk kegiatan taman bacaan. Di sana, kami memberikan buku bacaan untuk mereka dan mereka dengan manjanya meminta kami untuk membacakan ceritanya. Lain lagi ceritanya, saat berkunjung ke panti werdha. Nenek dan kakek yang ada di sana benar-benar sangat senang dengan kehadiran kami yang hanya datang untuk mendengarkan mereka bercerita dan memberikan sedikit makanan ringan untuk persediaan mereka. Pengabdian masyarakat ini benar-benar sudah membuat saya tertular berbagai perasaan bahagia. 

Saat ini, saya sudah berada di tingkat akhir menuju waktu kelulusan saya. Dunia koas memang sudah menyita banyak perhatian dan pikiran saya. Saya pun sudah tidak lagi berada di dalam organisasi kampus yang membuat saya semakin jauh dengan dunia pengabdian masyarakat ini. Baksos yang pernah saya ikuti semasa ini pun hanya sekitar tiga kali. Saya yakin, fase klinik yang harus saya jalani ini adalah bekal bagi saya untuk bisa mengabdikan diri lebih baik lagi nantinya di tengah masyarakat. Tapi, saya tidak memungkiri bahwa saya rindu dengan kegiatan sosial itu. Saya ingin merasakan lagi perasaan itu. Kebahagiaan dan kepuasan hati saat melihat orang yang kita rawat tersenyum dengan sangat puas. 

Saya rindu kegiatan itu dan semoga saya bisa kembali melaksanakannya dengan kemampuan yang lebih baik lagi nanti, Aamiin.. 




Rabu, 16 Januari 2013

Jakarta Banjir, lagi?

Ketika musim penghujan datang, masyarakat tidak hanya harus menyiapkan payung sebelum hujan, tapi juga bersiap untuk menghadapi luapan air hujan yang akan menyebabkan banjir dimana-mana. Jakarta memang sudah sering sekali dilanda musibah yang satu ini. Bahkan, beberapa daerah di Jakarta memang sudah dikatakan "langganan" dengan banjir ini.

Sebetulnya, kerugian pasca banjir ini tidaklah sedikit, tapi sepertinya masayarakat Jakarta masih lebih memilih untuk tetap menjadikan banjir ini sebagai sebuah tradisi. Perbaikan dan usaha untuk menanggulangi banjir sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah daerah Jakarta, tapi lagi-lagi sepertinya usaha ini belum maksimal dan belum didukung oleh seluruh masyarakat Jakarta itu sendiri. Kondisi pemukiman yang padat, pembagunan fisik yang terjadi di hampir seluruh wilayah dan kebiasaan buruk masyarakat dalam menjaga lingkungan seperti penebangan liar di daerah pegunungan dan membuang sampah ke sungai  menjadi beberapa penyebab terjadinya banjir rutin ini.

Saya sebagai warga kota sebelah, Tangerang, juga ikut merasakan tradisi banjir ini. Penyebabnya lagi-lagi karena tanah resapan air hujan yang semakin lama semakin berkurang. Pembangunan terus terjadi dimana-mana sedangkan saluran air juga semakin penuh dengan sampah yang dibuang sembarangan oleh masyarakat sekitar. Beberapa kali, warga sudah sempat melakukan pembersihan dan perbaikan saluran air untuk mencegah terjadinya banjir. Alhamdulillah, usaha ini sudah cukup membuahkan hasil dan membuat daerah tempat tinggal saya "tidak terlalu rutin" terkena banjir. Tapi, sepertinya usaha ini masih kurang cukup karena tanah resapan air masih belum bertambah. Ketika hujan turun terus menerus, maka air akan mudah sekali untuk menggenang. 

Saat saya duduk di bangku SLTP, sekitar tahun 2002-2003, daerah tempat tinggal saya kebanjiran. Air masuk rumah walaupun hanya sekitar 2 cm di dalam rumah dan untuk berangkat ke sekolah, saya harus melewati genangan air setinggi paha orang dewasa sampai ke tempat yang kering karena disitulah mobil saya diparkir. Di tahun 2008 awal, saya kembali merasakan 'kebanjiran' dan menurut saya, banjir tahun ini merupakan yang paling parah. Air masuk ke dalam rumah setenggi betis orang dewasa dan tidak surut sampai 3 hari, akhirnya saya dan beberapa anggota keluarga harus mengungsi ke penginapan terdekat selama beberapa hari. Dan di tahun 2013 awal ini, banjir 5 tahunan kembali mampir ke rumah saya , air masuk ke dalam rumah setinggi 1-2 cm.. Ternyata, kondisi Jakarta di hari ini pun cukup parah. Titik-titik banjir menjadi bertambah, bahkan di daerah pemukiman mewah dan di pusat perkantoran Jakarta. 

Banjir di daerah Bundara HI ( merdeka.com )

Hujan adalah rahmat dan berkah dari Allah, bahkan saat hujan adalah saat yang mustajab untuk berdoa. Namun, jika kita tidak mampu mensyukuri nikmat Allah dengan menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan, maka banjir menjadi hal yang sulit untuk dihindari. Semoga banjir yang terjadi hari ini bisa cepat surut dan kita bisa lebih berusaha lagi untuk menjaga lingkungan sehingga banjir tidak lagi menjadi tradisi di Jakarta. Aamiin.

Senin, 31 Desember 2012

Perihal cinta #4

Sepertinya sudah lama sekali saya tidak membicarakan topik ini. Beberapa waktu lalu, tanpa sengaja, saya menemukan sebuah buku bertemakan cinta dari tumpukan buku di rumah saya dan ada beberapa kalimat yang sangat menarik untuk saya tulis kembali disini.

Kali ini saya akan membicarakan soal arti cinta. Ada yang mau mendefinisikan apa itu cinta? Kata seorang teman, cinta berarti taat, seperti cinta seorang hamba kepada penciptanya. Cinta kita kepada Allah akan menjadikan kita seorang manusia yang taat. Cinta seorang rakyat kepada pemimpinnya pun akan menjadikan mereka taat. Cinta seorang anak kepada orangtuanya pun begitu, melahirkan sebuah ketaatan. Temanku yang lain berpendapat, bahwa cinta berarti memberi. Seorang yang mencinta maka akan selalu berusaha memberi kepada yang dicinta. Baik itu sebuah kebahagiaan, ketaatan, kasih sayang, dan yang lainnya.

Di buku yang sedang saya baca , seorang muslimah memberikan beberapa definisi mengenai cinta. Menurutnya, cinta adalah segala emosi suci antara dua insan yang saling mengharapkan kesuksesan dan kebahagiaan untuk yang lainnya. Cinta adalah gejolak perasaan yang menyelimuti hati dan menjaganya dari badai kehidupan serta kedinginan. Cinta adalah tatapan lembut yang merasuki dua orang pencinta. Cinta adalah lirik kata-kata yang menghiasi hati, mampu menabur benih senyuman bagi siapapun yang mendengarnya, menghilangkan segala kesedihan dan memantapkan cita-cita. Cinta adalah perasaan nyaman dan tenteram di samping orang yang paling kita cintai. Cinta adalah rasa malu seorang wanita dan pipinya memerah ketika nama kekasihnya disebutkan. Cinta adalah gemetarnya tangan seorang lelaki dan linangan air mata kebahagiaan tiap kali terlintas bayangan wajah kekasih wanitanya. 

Sedangkan, Ibnu Qayyim rahimahullah, menuturkan bahwa cinta adalah kehidupan yang bersemayam dalam hati dan makanan ruh. Hati tidak akan pernah merasakan kenikmatan, kesenangan, kebahagiaan dan kehidupan kecuali bila di dalamnya terdapat cinta. Bila hati kehilangan cinta, sakitnya lebih hebat ketimbang mata yang kehilangan cahayanya, telinga yang kehilangan pendengarannya, hidung yang kehilangan penciumannya dan lisan yang kehilangan kefasihannya. Bahkan hati akan rusak bila sunyi dari cinta suci. Kebimbangannya akan lebih berat daripada kerusakan tubuh karena kehilangan ruh. 

Begitu banyak definisi cinta yang digambarkan di buku ini dan saya cukup sepakat dengan beberapa definisi di antaranya. Bagaimana dengan kamu?  Apa ada yang sesuai dengan definisi cinta menurutmu? Atau malah memberikan inspirasi baru bagi yang masih menebak-nebak arti cinta?