Senin, 01 Februari 2010

Sepakbola mania

Sepakbola adalah satu olahraga yang bisa dibilang sangat universal, bisa dimainkan oleh siapa saja, ditonton oleh siapa saja dan memang digemari oleh banyak sekali orang di dunia ini. Hal itu tentu dibuktikan dengan adanya pesta akbar tiap 4 tahun an, yaitu piala dunia. Disaat piala dunia, hampir setiap orang di seluruh penjuru dunia memberikan perhatian kepada pesta akbar yang satu ini. Kehebohannya tidak hanya dirasakan di negara tuan rumah atau negara yang menjadi peserta piala dunia tersebut, tapi benar-benar mendunia, termasuk Indonesia.

Indonesia akan sangat meriah ketika pesta akbar ini berlangsung. Acara menonton bersama diadakan di banyak tempat, hampir tiap rumah akan menonton pertandingan yang berlangsung tiap malam. Penontonnya pun bukan berasal dari kaum pria saja, bahkan kaum wanita yang biasanya tidak pernah rela bangun pagi untuk menonton bola, menjadi rela di saat momen besar ini.

Lalu, bagaimana dengan saat2 biasa, saat piala dunia sudah selesai atau belum dimulai lagi?

Indonesia tetap memiliki pertandingan dalam negeri yang terdiri dari banyak sekali klub perwakilan daerah di seluruh Indonesia. Jadi, kemeriahan sepakbola tidak pernah berhenti di tanah Indonesia. Kemeriahan ini bukan hanya berasal dari serunya pertandingan yang diperlihatkan para pemain di lapangan, tapi juga hebohnya para penggemar yang memperlihatkan ke fanatik an mereka di jalanan. Hampir setiap klub punya julukan untuk penggemarnya. Ada jakmania, bonek, arema, viola, viking, dll. Namun, ternyata ke fanatik an para penggemar ini terkadang berlebihan, sampai-sampai mereka harus berdiri di atas metromini, berhujan-hujanan, pergi keluar kota dengan kereta ekonomi yang penuh sesak dan banyak sekali hal-hal fanatik lainnya.

Mungkin itu memang hak mereka untuk mengungkapkan rasa loyal pada klub tercintanya, namun ternyata fenomena ini sungguh memprihatinkan. Fenomena ini sudah menimbulkan banyak sekali kerugian, baik bagi para bola mania tersebut maupun bagi orang lain yang terkadang tidak tau apa-apa. Gambaran yang ada ketika sebuah pertandingan berlangsung, kira-kira seperti ini :

Lebih dari 1000 orang mengunjungi stadion dengan warna baju yang sama sesuai klub tercintanya,mereka memadati jalanan dengan berpuluh-puluh metromini dan membuat kemacetan pun hadir dengan instan. Kemacetan yang ditimbulkan tidak bertahan untuk 1-2 jam saja, tapi lebih dari itu dan tentunya, karena penggemar ini berasal dari berbagai wilayah, maka kemacetan pun tidak hanya terjadi di titik sekitar stadion saja. Selain itu, beberapa di antara mereka adalah anak-anak usia sekolah. Jumlahnya tidak sedikit, tapi banyak sekali. Anak-anak usia sekolah ini benar-benar beragam, mulai dari anak SD sampai anak SMA. Mereka rela menghabiskan waktunya di luar rumah untuk menonton klub kesayangannya hingga larut malam, naik metromini, menghiraukan hujan dan bahkan jika ada perkelahian, mereka pun tidak akan pergi mundur, melainkan ikut maju bersama yang lain. Miris rasanya, melihat jiwa-jiwa penerus bangsa ini, di malam harinya, mereka malah pergi bersama teman-temannya menonton bola dengan metromini, duduk di atasnya, membawa bendera dan merokok dengan bebasnya. Mereka pun sudah paham, jika ada komando untuk menyerang, maka mereka akan segera mencari batu di sekitarnya. Mereka pun tahan untuk berjalan jauh, jika harus tertinggal rombongan bis lainnya.

Lalu, kemanakah penerus bangsa ini? Jiwa-jiwa yang masih sangat muda, penuh dengan semangat, tidak berjuang untuk memperkaya dirinya agar mampu membawa perubahan bagi negeri Indonesia tercinta. Mereka mementingkan hal lain yang malah mungkin membawa mereka pada kerugian lainnya. Apakah ini adalah suatu hal yang wajar? Atau memang ada yang salah?

*anak bangsa yang cukup prihatin setelah melihat fenomena ini secara langsung... doaku padaNya, agar negeriku masih diberikan penerus2 bangsa yang akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik... amin Ya Allah..

Tidak ada komentar: