Kamis, 14 April 2011

Telepon umum koin

Bentuk komunikasi yang dilakukan manusia selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Untuk komunikasi jarak jauh, awalnya manusia menggunakan surat untuk bertukar kabar dengan kerabat yang berada di tempat lain. Surat mulai dikembangkan menjadi telegram, dan kini kita mengenal surat dalam bentuk elektronik yang disebut email. Namun, komunikasi melalui surat hanya bersifat tulisan saja. Oleh karena itu, mulai ditemukan komunikasi lisan yang bisa dilakukan untuk jarak jauh. Mulailah kita mengenal teknologi telepon.

Telepon pun mengalami perkembangan yang luar biasa. Awalnya telepon hanya berada di rumah atau perkantoran dan tidak bisa dibawa keluar. Teknologi terus berkembang, hingga ditemukanlah telepon genggam yang bisa dibawa pemiliknya kemanapun. Kini, hampir setiap orang di Indonesia telah memiliki telepon genggam, mulai dari anak kecil hingga orangtua, mulai dari tukang becak hingga pengusaha besar. Untuk orang-orang yang masih belum memiliki telepon genggam, mereka biasanya masih menggunakan teknologi surat atau telepon yang disediakan di tempat umum, yaitu telepon umum.

Telepon umum saat ini mungkin sudah sangat jarang digunakan oleh masyarakat karena mereka telah memiliki telepon genggam. Selain itu, kondisi telepon umum yang ada saat ini cukup memprihatinkan. Banyak yang sudah rusak dan terlihat kotor dengan coretan pylox orang-orang iseng.



Tapi, walaupun begitu, telepon umum memiliki kenangan tersendiri dalam hidupku. Selama aku menuntut ilmu di sekolah berasrama tingkat SMA, aku dilarang untuk membawa telepon genggam oleh peraturan asrama. Satu-satunya cara bagiku untuk berkomunikasi secara langsung dengan keluarga adalah dengan menggunakan telepon umum. Telepon umum yang ada di sekolahku adalah yang menggunakan koin 100 atau 500. Biasanya, setelah shalat isya di masjid sekolah, aku akan mengantri untuk menelepon rumah di depan telepon umum koin yang terletak di dekat pos satpam. Telepon umum koin ini sebenarnya ada 2, tapi terkadang yang berfungsi hanya 1, jadi antriannya terkadang cukup panjang. Dengan berbekal beberapa koin 100an, aku mengantri untuk berbicara dengan ibuku mengenai keperluanku di asrama. Rutinitas mengantri di telepon umum ini aku lakukan hampir setiap akhir pekan. Terkadang aku juga menelepon rumahku di hari minggu pagi, saat aku akan dijemput untuk pulang ke rumah. Ya, selama 3 tahun, aku sangat bergantung pada telepon umum koin untuk kelangsungan hidupku di asrama.

terima kasih telepon umum,,, :) Walaupun kini, aku sudah jarang menggunakanmu lagi, tapi kau tetap punya kenangan tersendiri dalam hidupku....^_^

Tidak ada komentar: