Selasa, 18 Maret 2014

Our First Journey (part1)

Alhamdulillah, setelah tertunda selama hampir 5 bulan, saya akan menceritakan perjalanan pertama saya dengan suami di awal kehidupan kami. 

5 Oktober 2013, saya menikah dengan lelaki idaman saya yang juga merupakan pilihan Allah, Dani Ferdian. Untuk memulai kehidupan baru, saya dan suami berencana untuk memulainya dengan sesuatu yang menyenangkan dan tak terlupakan. Kami merencakan untuk berjalan-jalan ke daerah pegunungan setelah rangkaian acara pernikahan kami selesai. Entahlah, walaupun tracknya akan lebih melelahkan dibandingkan ke pantai, tapi saya sedang bosan dengan nuansa pasir dan laut. Saya ingin mencari suasana yang sejuk dan menenangkan. Terlebih lagi, saya pernah memiliki mimpi untuk bisa 'naik gunung'. Namun, setelah disesuaikan dengan kondisi fisik saya yang belum pernah mendaki gunung layaknya para pencinta alam, maka saya memilih untuk menaiki gunung Bromo yang katanya tidak terlalu sulit untuk pemula seperti saya. Setelah dari Bromo, saya berencana untuk pergi ke air terjun Madakaripura yang sudah direkomendasikan oleh sepupu saya dan selanjutnya akan menuju kota Malang untuk menikmati beberapa tempat wisata disana. So, here we go...

Day1 ( 06-10-13)
Saya dan suami mulai berangkat dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Juanda, Surabaya pada pukul 10.05. Sebuah pemandangan lucu mulai terlihat dari barang bawaan kami. Saya yang terbiasa menggunakan koper saat pergi keluar kota, terlihat membawa satu koper hitam berukuran sedang yang berisi seluruh baju dan perlengkapan ala perempuan yang cukup banyak. Sedangkan suami saya yang sudah cukup sering melakukan aktivitas alam, hanya menggendong sebuah carrier merah berukuran sedang yang berisi beberapa baju, jaket dan sarung tangan sebagai bekal kami untuk mendaki Bromo nanti. Sepertinya, perjalanan koper versus ransel kami akan dimulai.

Setelah tiba di Bandara Juanda, kami langsung dijemput oleh tour guide dari Ekuator Indonesia yang saya dapatkan rekomendasinya dari teman semasa SMA saya yang saat ini pun sudah memiliki travel agent di Bandung ( Teras Nusantara ). Kami langsung menuju Hotel Java Banana yang terletak tidak terlalu jauh dari Gunung Bromo. Ternyata, hotel ini adalah hotel dengan desain yang paling modern di antara hotel lainnya. Saya memilih hotel ini setelah mendapatkan rekomendasi dari beberapa teman. Setelah sekitar 4 jam perjalanan, kami tiba di penginapan ala 'koper' ini. Sesampainya disana, kami langsung beristirahat dan bersiap untuk perjalanan dini hari esoknya.

Day 2 ( 07-10-13 )
Pukul 3 dini hari, kami sudah dibangunkan oleh resepsionis melalui morning call. Kami pun langsung bersiap untuk menuju ke tempat melihat sunrise di pegunungan Tengger yang disebut dengan lokasi penanjakan 1. Dengan jaket tebal, sarung tangan, kaus kaki dan sepatu/sandal gunung, kami pun berangkat menuju lokasi dengan menggunakan sebuah mobil jeep. Perjalanan ke atas memakan waktu sekitar 45 menit. Sesampainya di lokasi, kami turun di tempat parkir jeep dan berjalan kaki menuju lokasi penanjakan 1 . Alhamdulillah, karena ini bukanlah weekend dan musim liburan, maka jumlah wisatawan pun tidak terlalu banyak dan jumlah wisatawan asing terlihat lebih mendominasi. Kami tiba di atas sekitar pukul 4.10. Sambil menunggu waktu Shubuh, kami singgah sebentar di warung kopi untuk memakan pisang goreng hangat dan meminum secangkir jahe hangat untuk mengganjal isi perut sekalian menghangatkan tubuh kami.


Setelah memperkirakan waktu Shubuh ( di sana tidak akan terdengar adzan karena penduduknya mayoritas beragama hindu ), kami pun beranjak menuju tempat shalat yang dekat sekali dengan lokasi penanjakan 1. Saat mengambil air wudhu, air yang dirasakan benar-benar dingin dan membuat saya langsung menggigil. Kami pun shalat berjamaah ditemani angin gunung yang sangat dingin. Setelah selesai Shalat, kami bersiap untuk melihat keindahan sunrise yang katanya adalah sunrise terbaik ketiga sedunia. Di dalam area Penanjakan 1 ini, para wisatawan terlihat mulai memenuhi setiap spot untuk mengabadikan keindahan sunrise di pagi ini. Beberapa wisatawan terlihat menggunakan kamera SLR dengan lensa yang bermacam-macam dan saya pun mencoba untuk ikut mengabadikan kekuasaan Allah di pagi hari ini dengan kamera poket saya. Masya Allah, sungguh luar biasa keindahan alam yang telah diciptakan Allah untuk kita. Saat melihat sang surya muncul, sebuah perasaan bahagia dan syukur langsung memenuhi hati saya. Sebuah kehidupan yang luar biasa telah Allah anugerahkan kepada saya, termasuk sebuah kesempatan untuk bisa melihat keindahan sunrise di pagi ini bersama suami tercinta. Alhamdulillah.



Dari Penanjakan 1 ini juga, kami bisa melihat Gunung Bromo, Gunung Batok, dan bahkan Gunung Semeru. Sungguh indah pemandangan yang dapat kami lihat dari atas sini. Setelah matahari mulai bergerak semakin tinggi, wisatawan pun mulai berkurang dan kami segera memanfaatkan kosongnya daerah itu untuk berfoto bersama dengan latar belakang Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Alhamdulillah, sebuah kenangan indah di atas pegunungan ini dapat kami bawa ke Jakarta.


Setelah puas berfoto di area penanjakan 1, kami pun turun menuju tempat parkir mobil jeep. Namun, kami sempat singgah sebentar di sebuah warung untuk memakan jagung bakar, cukup untuk mengisi perut yang mulai lapar. Setelah masuk kembali ke dalam mobil jeep, kami langsung menuju wilayah Gunung Bromo. Melewati lautan pasir, kami berencana untuk berhenti sejenak di sebuah wilayah yang disebut 'pasir berbisik'. Mengapa disebut pasir berbisik?. Ternyata, itu karena halusnya pasir ini menghasilkan suara berbisik saat tertiup oleh angin. Saya pun mencoba berjalan di atas pasir berbisik itu dan kehalusan pasir ini cukup membuat saya kesulitan saat harus kembali menanjak ke atas.


Selesai menikmati area pasir berbisik, kami pun beranjak ke sebuah savana yang terletak tidak jauh dari area pasir berbisik ini. Di sana , katanya, ada bukit yang bertumpuk-tumpuk dan berwarna hijau yang sering disebut sebagai bukit telletubies. Ya, memang ternyata bentuknya mirip sekali dengan bukit-bukit yang menjadi rumah bagi para telletubies di film mereka. Masya Allah, pemandangan ini benar-benar sungguh menyejukkan mata dan hatiku. Hamparan rumput begitu luas dan hijau meneduhkan. Pegunungan ini memang cantik. Dengan tampilan yang sangat berbeda dengan pasir berbisik yang bernuansa abu-abu, savana ini terlihat begitu hijau di area pegunungan Tengger.


Selanjutnya kami kembali ke jeep untuk berangkat menuju lokasi utama, yaitu Gunung Bromo. Di sana, ada banyak sekali kuda yang memang disewakan untuk menjadi kendaraan bagi para pengunjung yang ingin mencapai kaki Gunung Bromo tanpa berjalan kaki. Saya pun memilih untuk menaiki kuda, selain untuk menyimpan tenaga, saya memang ingin sekali naik kuda. Di dalam perjalanan menuju kaki Gunung Bromo, kami melewati sebuah pura yang sangat besar. Pura ini sering digunakan oleh para penduduk yang beragama hindu untuk melaksanakan ibadah di hari-hari besar agama mereka. Pura ini memang terlihat sangat mencolok di tengah-tengah lautan pasir dan gunung-gunung yang menjulang.


Sesampainya di kaki Gunung Bromo, kami pun bersiap untuk menaiki anak tangga yang katanya berjumlah sekitar dua ratusan untuk mencapai puncak. Bismillah, perjalanan akan dimulai. Di sepanjang tangga ini, ada tiga tempat untuk beristirahat dan karena saya sudah kama tidak berolahraga, saya pun selalu beristirahat sejenak di ketiga pos itu, hehe. Setelah perjuangan melawan lelah dan dingin, akhirnya saya tiba di puncak gunung ini. Alhamdulillah, ternyata saya bisa. ^^

Menikmati kawah Gunung Bromo dan pemandangan yang cukup menyejukkan mata di puncak gunung ini telah membuat saya merasa sangat senang. Akhirnya, mimpi saya untuk bisa naik gunung sudah terlaksana. Saya pun mencoba mengabadikan pencapaian mimpi saya itu melalui kamera poket saya. Namun, di balik semua keindahan ini, ada sebuah pemandangan yang kurang enak dipandang mata , yaitu coret-coretan para pengunjung di pagar yang ada di bagian puncak Gunung Bromo ini, sungguh sangat disayangkan, vandalisme itu masih saja menodai keindahan pegunungan ini.

Tidak berapa lama setelah kami turun dari Gunung Bromo, matahari terasa semakin menghangatkan tubuh kami. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk kembali ke hotel dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami ke tujuan kedua, yaitu air terjun madakaripura. Alhamdulillah, akhirnya Gunung Bromo ini berhasil memberikan kenangan yang sangat indah di awal kehidupan baru kami, semoga kehidupan kami pun akan selalu indah, seindah pemandangan di pegunungan Tengger ini, Aamiin...


...to be continued..  

Tidak ada komentar: