Sabtu, 03 Maret 2012

Anak-anak

Bekerja di stase anak memang memiliki pengalaman dan pelajaran yang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan stase lainnya. Biasanya saya dan teman-teman lebih banyak mempelajari hal-hal baru dalam bidang medis yang saya lihat secara langsung di masyarakat seperti korban kecelakaan lalu lintas, penyakit kanker dan penyakit-penyakit menyeramkan lainnya. Di stase anak, saya memperlajari banyak hal baru yang membuat saya dan teman-teman semakin mensyukuri rahmat dan anugrah dari Yang Maha Kuasa.

Di stase anak, saya harus mencari pasien sendiri. Akhirnya, saya dan kelompok mulai berusaha menyusuri wilayah di sekitar Salemba untuk mencari anak-anak yang giginya bermasalah dan mau dirawat oleh kami. Kami mencari selama beberapa hari , menyusuri jalanan kecil Paseban, Salemba Tengah, Salemba Bluntas hingga ke daerah Percetakan Negara.

Inilah Jakarta. Begitu keluar dari kampus UI yang terkesan mewah karena gaya hidup dosen dan mahasiswanya, kami langsung dapat menemukan rumah yang hanya terdiri dari seng dan berukuran tidak lebih dari 3 m x 3 m. Itu adalah rumah dari anak yang menjadi pasien saya. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci sedangkan ayahnya tidak bekerja. Pasien teman-teman saya pun bernasib sama. Rumah dengan ukuran sekitar 3 m x 5 m , dihuni oleh sekitar 10 orang. Cukup menyedihkan melihatnya. Setiap kami menjemput dan mengantar anak-anak itu pulang ke rumahnya, semakin kami merasa miris namun mensyukuri nikmat dari Allah.

Setelah beberapa minggu dirawat, akhirnya kami mengajak anak-anak itu untuk makan bersama di sebuah mal dekat kampus kami, Atrium Senen. Sebuah Mal yang mungkin dianggap tidak berkelas oleh sebagian orang. Jarak antara Mal Atrium Senen dengan rumah anak-anak ini cukup dekat, waktu tempuhnya tidak sampai 10 menit jika menggunakan kendaraan bermotor. Tapi, sejujurnya, saya dan teman-teman cukup terkejut ketika melihat reaksi anak-anak itu setelah masuk ke dalam Mal. Mereka sangat senang dan begitu excited saat melihat lift, menaiki escalator, melihat banyak manekin, bermain perosotan di Mcd dan melihat betapa tingginya gedung Mal yang terdiri dari 5 lantai.

Ternyata, adegan yang pernah saya lihat di film, benar-benar terjadi di depan mata. Mereka adalah anak-anak yang jarang sekali mendapatkan hiburan, padahal mereka tinggal di ibukota Jakarta. Senang sekali saat melihat senyum kelelahan di wajah mereka. Selama berada di Mall, mereka berlari-lari dan saling berebut untuk menaiki escalator, tapi mereka senang. Itulah yang membuat kami pun ikut senang.



2 komentar:

Rahmi Aulina mengatakan...

wow antara ga sabar dan deg2an untuk masuk stase pedo. Antara pengen mengganti pedo dengan BM aja kalo bisa, atau pengen bisa berhasil di pedo wkwkwk semangaattt!

Aristyani DR mengatakan...

Pas sebelum masuk emang deg2an banget, apalagi aku sempet sakit dan g masuk 4 hari.. Tapi, begitu dijalanin, insya Allah bisa beradaptasi, intinya, g usah dibikin pusing, jalanin aja semaksimal mungkin, bikin strategi yang bagus, kalo g berhasil yang penting usaha.. Semangatos!!