Rabu, 26 Juni 2013

A Dream Come True.. (part2)


Labbaik Allahuma Labbaik, Labbaika Laa Syarika Lakaa Labbaik, Innal Hamda Wan Ni'mata Laka Wal Mulka Laa Syariikalah..

Ya Allah, akhirnya aku memenuhi panggilanMu untuk melaksanakan umrah. Alhamdulillahirobbil'alamin. Lagi-lagi, Kau memberikanku hadiah berharga di tahun ini. Selama 4 jam perjalanan menuju Mekah, aku berusaha menyiapkan diriku untuk bertemu dengan Ka'bah. Bangunan yang telah dibangun oleh ayahanda Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail berabad-abad lalu. Sebuah pusat kegiatan muslim di dunia yang bahkan pancarannya terlihat dari luar angkasa.

Jam Hijau yang terlihat dari kejauhan
Setelah mengambil miqat di Masjid BirAli, aku sekeluarga sudah siap untuk menjalankan umrah malam ini. Setibanya di Mekah, sebuah jam besar begitu menarik perhatianku. Dia terlihat dari kejauhan karena ukurannya yang sangat besar, berwarna hijau dan ada asmaMu disana. Jam ini terletak di ujung zamzam tower yang berada di halaman Masjidil Haram. Hatiku mulai berdebar. Melihat kemegahan Masjidil Haram dan banyaknya umat muslim disana membuatku semakin mengagumi kebesaranMu, Ya Rabb.

Dengan namaMu Ya Allah, akan ku mulai ibadah umrah malam ini. Masuk ke dalam Masjidil Haram membawa kebahagiaan yang sangat berbeda dengan saat aku memasuki Masjid Nabawi di Madinah. Megah. Bersejarah. Istimewa. Setelah masuk lebih ke dalam lagi, akhirnya aku bertemu dengannya,  Ka'bah. Ya Allah, hati ini terasa hangat. Aku masih belum mempercayainya. Kini, Ka'bah yang besar itu ada di hadapanku. Sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjuangan Rasulullah. Di Ka'bah inilah RasulMu melaksanakan ibadah haji. Ka'bah ini juga yang menjadi saksi atas perlawanan kaum Quraisy kepadanya dan juga saksi atas penaklukan Mekah. Ya Rabb, ku panjatkan doa penuh harap kepadaMu. Ampuni segala dosa dan masukkan kami ke dalam surgaMu. Aamiin. Ya Allah, rumahMu ini tidak pernah sepi. Setiap detiknya selalu ada ratusan hambaMu yang bertawaf dan memanjatkan doa kepadaMu, terkecuali saat shalat berjamaah sedang berlangsung.

Seusai melaksanakan tawaf, aku pun beranjak menuju bukit Safa untuk memulai ibadah sa'i. Berjalan menuju bukit Marwah sambil terus berdzikir dan berdoa kepadaMu mengingatkanku pada perjuangan Bunda Siti Hajar yang terus menerus berlari bolak balik dari bukit Safa ke Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari air untuk anaknya tercinta, Nabi Ismail. Tidak terbayangkan betapa berat perjuangan beliau saat itu. Aku yang saat ini menjalani sa'i di dalam ruangan berpendingin, dengan lantai yang bersih dan tidak dalam keadaan menggendong seorang anak bayi saja cukup merasa kelelahan. Bagaimana dengan beliau? Ditinggal seorang diri oleh suami tercinta di gurun pasir yang sangat terik dan harus merawat anaknya yang masih bayi. Semoga Allah merahmatimu, Ya Bunda Siti Hajar. Aamiin. Ibadah kami ditutup dengan bertahalul di Bukit Marwah. Ya Allah, terima kasih atas kesempatan yang tak pernah kubayangkan akan Kau berikan secepat ini kepada hamba, kesempatan untuk melaksanakan umrah dengan keluarga tercinta. Terima Kasih Ya Allah..

Suasana Sa'i 

Allah Yang Maha Pengasih, aku masih memiliki waktu dua hari lagi di tanah haram ini. Aku akan memanfaatkan semaksimal mungkin untuk bisa beribadah di rumahMu. Masjidil Haram selalu dipenuhi oleh hambaMu tanpa henti. Terlebih lagi, ketika waktu Dzuhur dan Maghrib. Suasananya begitu menenteramkan hati. Kami semua memanfaatkan waktu untuk beribadah kepadaMu, memohon ampun kepadaMu, mendekatkan diri kepadaMu dan meminta keridhaanMu, Ya Rabb. Saat menengok ke kanan dan kiri, hanya ada pemandangan hamba-hambaMu yang sedang menjalankan shalat sunnah tahiyatul masjid, shalat sunnah rawatib, berdzikir, tilawah atau khusuk berdoa. Saat adzan berkumandang, semua langkah kaki bergerak menuju rumahMu. Toko-toko hanya ditutup sementara, bahkan beberapa penjual meninggalkan barang dagangannya di atas etalase begitu saja. Suasana yang tidak jauh berbeda dengan Madinah. Begitu pula dengan air zamzam yang mata airnya terletak sangat dekat dari sini, juga selalu tersedia di setiap pojok Masjidil Haram. Ya Rabbi, suara imam yang begitu merdu, banyaknya jamaah dan kemegahan bangunan rumahMu ini selalu membuatku ingin kembali melaksanakan shalat disini, semoga hamba bisa kembali lagi ke sini, Aamiin.

Masjidil Haram di siang dan malam hari

Mekah adalah kota kelahiran RasulMu dan tempat pertama kalinya wahyuMu diturunkan kepadanya. Aku dan keluarga mulai menyusuri titik-titik bersejarah di kota ini. Jabal Rahmah yang merupakan tempat bertemunya Bunda Hawa dengan Nabi Adam setelah diturunkan dari surga olehMu  menjadi tujuan pertama kami.  Di tempat ini, kami semua diingatkan kembali mengenai sejarah nenek moyang kami terdahulu dan bagaimana besarnya usaha yang dilakukan oleh Nabi Adam untuk bisa berkumpul lagi dengan Bunda Hawa. Setelahnya, kami beranjak ke tempat-tempat dilaksanakannya ibadah haji. Kami melihat padang Arafah yang menjadi tempat wukuf dan miniatur dari padang Mahsyar kelak, tenda-tenda di Mina dan juga tempat melemparnya jumrah. Ya Allah Yang Maha Mengabulkan Permohonan, ijinkanlah hamba dan keluarga hamba kelak untuk bisa menjalani rukun islam yang ke lima yaitu menunaikan ibadah haji di tanah haram ini, Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Jabal Rahmah

Ribuan tenda di Mina
Menyusuri kota Mekah membuatku kembali mengingat setiap jejak langkah perjuangan RasulMu. Jabal Nur dengan Gua Hira telah menjadi saksi atas sebuah peristiwa utama di saat usia Rasulullah mencapai empat puluh tahun. Malaikat Jibril mendatangi beliau dan menuntun Rasul yang buta huruf  untuk membaca, itulah saat pertama firmanMu turun ke bumi. Gua Tsur juga menjadi saksi atas mukjizatMu. Saat Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq , bersembunyi dari kejaran Quraisy, dengan sangat rapi, Kau perintahkan burung dan laba-laba untuk membuat sarang di pintu masuknya sehingga Rasulullah dan Abu Bakar dapat selamat dari kejaran kaum Quraisy yang menyangka bahwa gua tersebut tidak mungkin dimasuki seseorang. Maha Besar KuasaMu ya Rabb. 

Ya Allah, beberapa saat lagi, aku harus meninggalkan kota Mekah ini. Melakukan tawaf wada benar-benar membuatku hatiku sangat sedih. Tidak ingin berpisah. Tidak ingin pergi dari tanah haram penuh berkah ini.  Sungguh perpisahan yang sangat menyedihkan. Akhirnya, aku dan keluarga pun harus melanjutkan ibadah kami di tanah Indonesia dan meninggalkan tanah haram ini untuk sementara. Ya Rabb, ijinkan hamba untuk dapat kembali lagi ke tanah haram ini, ke Masjid ini , ke depan Ka'bah ini bersama keluarga hamba kelak. Kabulkanlah ya Rabb, Aamiin.

Terima kasih ya Rabb, untuk impian yang menjadi nyata. Alhamdulillah.. :")




Kamis, 20 Juni 2013

A Dream Come True...



Assalamualayka ya Rasulullah, ya Habiballah, ya Nabiyallah
Alhamdulillahirobbli'alamin.
Perasaanku sungguh campur aduk saat akhirnya aku menginjakkan kaki di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Akhirnya aku bisa menghirup udara gurun pasir di Saudi Arabia, negara yang penuh dengan sejarah islam, negara yang menjadi saksi perjuanganmu. Walaupun masih harus menempuh waktu 4-5 jam menuju kotamu, aku sudah merasa sangat antusias dengan perjalanan di bus menuju Madinah malam itu. Sambil menyiapkan diri untuk bertemu dengan masjid Nabawi, sepertinya perjalanan udara selama 9 jam itu cukup memberikanku alasan untuk sedikit beristirahat di dalam bus ini.

Ya Rasulullah, tiba-tiba mataku dikejutkan dengan keindahan ciptaanNya. Masjid yang kau bangun di kota Madinah ini begitu memancarkan kecantikannya. Hatiku berdebar, tak sabar rasanya ingin segera masuk dan melaksanakan shalat disana. Alhamdulillah, Ya Habiballah, akhirnya aku dapat merasakan keindahan masjid Nabawi ini dengan lebih dekat, masjid yang menjadi tempat berjuangmu bersama para sahabat dulu. Begitu indah dan cantik. Aku tidak pernah membayangkan betapa luarbiasanya masjid ini. Air zam-zam yang tersedia di setiap pojok masjid ini membuatku tak ingin melewatkan kesempatan untuk selalu meminumnya seusai shalat. Suasana masjid ini begitu menyejukkan. Begitu banyak umatmu yang berbondong-bondong masuk ke dalam masjid saat adzan sudah dikumandangkan. Benar kata orang-orang, di tanah haram ini, saat adzan sudah berkumandang, maka semua akan berjalan menuju asal suara adzan itu. Semua bergerak secara bersama-sama, meninggalkan semua aktivitasnya, meninggalkan barang dagangannya tergeletak di jalanan tanpa ada yang menjaganya. Kami semua ingin memenuhi panggilanNya, kami semua saudara di tanah haram ini, saudara seiman. Betapa bahagia rasanya ketika melihat jamaah yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, seperti yang telah Allah firmankan dalam AlQur'an, kini berada di satu tempat menjalani shalat yang dipimpin oleh satu imam dengan satu bahasa dan gerakan yang sama. Ya Rasulullah, semakin kurasakan indahnya islam. Terlebih lagi, setiap shalat fardhu selesai dilaksanakan, kami akan melaksanakan shalat ghaib untuk seluruh muslimin dan muslimat yang berpulang kepadaNya di hari itu.

Kecantikan Masjid Nabawi

Kerinduanku padamu semakin memuncak ketika tiba waktunya untuk berziarah ke makammu. Assalamualayka Ya Rasulullah. Akhirnya aku bisa mengunjungi makammu, berada sedekat itu denganmu.  Ya Rasul, memasuki Raudhoh ini memang membutuhkan kesabaran, tapi tentu tidak akan sebanding dengan kesabaranmu dan para sahabat terdahulu. Sebuah taman surga yang terletak di antara rumahmu dan mimbarmu ini menjadi tempat yang dirindukan oleh seluruh umatmu. Kupanjatkan doa penuh harap kepadaNya dengan sepenuh hati. Kerinduan yang telah lama hadir kini terjawab dengan airmata. Berada begitu dekat denganmu membuat tubuhku bergetar dan hatiku tak hentinya merasakan karunia yang begitu besar. Aku ingin berada disini lebih lama. Ya Rasul, semoga aku bisa bertemu langsung denganmu di surgaNya nanti. Ya Allah, kabulkanlah, aamiin. 

Kerinduanku kepada para sahabatmu pun terbayar sudah di sini. Assalamualayka Ya Khalifatu Rasulillah, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Assalamualayka Ya Amirul mukminin, Umar Bin Khattab. Seketika itu juga, aku teringat bagaimana perjuangan kedua sahabat dalam membantu perjuanganmu dulu Ya Rasul. Betapa besar kekuatan cinta seorang Abu Bakar kepadamu yang membuatnya mampu menahan rasa sakit akibat gigitan hewan di dalam gua Tsur saat masa awal hijrahmu. Betapa besarnya juga cinta Umar kepadamu sampai saat berita kematianmu menyebar, beliau tidak mampu menerimanya dan malah ingin membunuh siapapun yang mengatakan bahwa dirimu telah kembali kepadaNya. Sungguh bahagia hati ini karena akhirnya aku bisa mengunjungi makam kedua sahabat terbaikmu itu. Alhamdulillah.

Ya Rasulullah, Madinah adalah kota yang sangat menyenangkan. Tata kota yang rapi, keramahan penduduknya dan kehangatan suasananya membuatku betah berada disini. Aku tidak menemukan satupun keburukan di kota ini, semua warganya menjalani kehidupan yang begitu tenang. Kami saling menebar salam di mana pun kami berada, saat memasuki lift, bertemu di depan masjid atau di mana saja. Waktuku yang hanya dua hari di kota Madinah ini membuatku ingin memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan yang ada untuk melihat semua hal yang berhubungan dengan kehidupanmu dulu, Ya Rasul. Di dekat Masjid Nabawi, aku berkesempatan untuk berziarah ke Pemakaman Baqi, tempat dikuburnya semua keluargamu kecuali bunda Khadijah dan juga beberapa sahabat yang selalu menyertai perjuanganmu dulu. Assalamualaykum ya Ahlul Baqii. 

Pemakaman Baqi 
Alhamdulillah, aku juga sempat singgah sebentar di Masjid Quba, masjid pertama yang kau bangun di kota ini dan juga Masjid Qiblatain yang menjadi tempat berubahnya arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram setelah kau mendapatkan perintahnya dari Allah. Perjalananku melihat gunung Uhud membuatku teringat akan pamanmu tercinta, Hamzah bin Abdul Muthalib. Sang singa padang pasir yang menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk membelamu itu kini dimakamkan di dekat Bukit Uhud. Kematiannya di perang uhud adalah kehilangan besar seluruh umat muslim dan kesedihan mendalam bagimu. Assalamualayka ya Hamzah.
Masjid Quba
Jabal Uhud dan Makam Syuhada Uhud
 Ya Rasul Allah, sepertinya waktuku di kota ini tidak lama, karena aku harus beranjak ke kota kelahiranmu untuk melaksanakan tujuan utamaku. Aku mohon pamit dari kotamu ini, Ya Rasul. Berat rasanya meninggalkan kota ini. Kota yang telah membuatku merindukannya bahkan sebelum aku pernah berada disana. Sampai jumpa Madinah, semoga aku bisa kembali lagi ke kota ini untuk merasakan lagi ketenangan, keindahan, ketenteraman dan kebahagiaan yang pernah kudapatkan disini. Aamiin.

Terima kasih atas mimpi yang menjadi nyata ini Ya Allah.. :")

Senin, 22 April 2013

Lembaran Baru

"Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan 
terutama dalam bidang kesehatan. 
Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan 
martabat dan tradisi luhur jabatan Kedokteran Gigi.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya 
dan keilmuan saya sebagai Dokter Gigi.
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran Gigi saya
 untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan.
Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh 
supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, 
politik kepartaian, atau kedudukan sosial.
Saya ikrarkan sumpah janji ini dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan."

Tepat dua hari yang lalu, dalam sebuah upacara yang khidmat, saya dan sekitar tiga puluhan orang dokter gigi baru lulusan FKG UI melafalkan sumpah dokter gigi ini dengan penuh kesungguhan. Akhirnya, kami resmi mengemban amanah baru sebagai seorang dokter gigi. Sebuah amanah baru untuk bisa menjadi insan kesehatan yang berguna bagi masyarakat Indonesia. Lafal sumpah ini terasa begitu dalam memasuki pikiran saya, terlebih lagi ketika diawali dengan lafazh "Demi Allah". Sebuah janji yang tidak main-main, yang harus dapat saya pertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Upacara sumpah ini benar-benar mengingatkan saya bahwa 'lulus' bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awal dari kehidupan baru saya sebagai seorang dokter gigi. Apapun pekerjaan saya kelak, apakah sebagai seorang klinisi atau seorang akademisi, ilmu yang telah saya dapatkan selama belajar kedokteran gigi haruslah dapat saya pergunakan dengan sebaik mungkin demi kepentingan masyarakat, karena saya sudah bersumpah untuk itu. 

Kelulusan ini bukanlah milik saya semata, karena dengan lulusnya saya dan teman-teman sebagai dokter gigi, maka Indonesia pun kini sudah memiliki tenaga dokter gigi baru yang masih sangat dibutuhkan di negeri ini. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pun akhirnya menambah daftar lulusannya. Dan yang paling penting, kedua orangtua saya akhirnya menyelesaikan amanahnya untuk menyekolahkan saya sampai selesai, Alhamdulillah. Perasaan bahagia dan haru menjadi satu saat akhirnya saya bisa mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam sambil memberikan setangkai bunga mawar kepada kedua orangtua saya di acara kemarin. Setetes airmata kebahagiaan pun hadir tanpa diminta. Akhirnya, saya bisa mempersembahkan sebuah hadiah terbesar kepada mereka, walaupun ini tetap tidak dapat membalas begitu banyak pengorbanan yang telah mereka lakukan demi saya. 

Mengenang kembali betapa jatuh bangunnya kami dalam menjalani masa klinik membuat kebahagiaan itu semakin memuncak karena akhirnya kami bisa melewatinya dengan baik walaupun harus diiringi dengan banyak peluh dan airmata. Dan kini, sebuah misi baru telah menanti kami untuk dapat kami laksanakan dengan sungguh-sungguh. Mungkin, cobaannya akan lebih berat dibandingkan saat masih berada di masa klinik, namun saya yakin, semakin tinggi permasalahan yang Allah berikan, maka semakin besar juga kemampuan kita untuk melewatinya karena Allah Maha Adil, Maha Mengetahui yang terbaik bagi kita semua.

Semangat teman sejawat semua! Indonesia menanti pengabdian dan pelayanan kita sebagai seorang dokter gigi yang profesional. Lafal sumpah yang telah kita ucapkan bersama harus terus menjadi pengingat bagi kita bahwa kita semua sudah berjanji kepada Allah bahwa kita akan melakukan yang terbaik untuk profesi ini. Semangat!!

*teruntuk teman-teman yang masih berjuang, tetap semangat kawan! Sebuah perjuangan pasti berbuah manis pada akhirnya, percayalah kepada waktu terbaik yang telah ditetapkan olehNya. Semangat!

thanks for the picture, doc ^_^



Minggu, 17 Maret 2013

The Sweetest Thing

Februari 2011 adalah saat-saat pertama bagi saya untuk memulai kegiatan sebagai mahasiswa profesi (koas) di FKG UI. Masa pendidikan profesi yang katanya ditargetkan selesai dalam waktu 3 semester, pada kenyataannya, mungkin hanya 1% dari sebuah angkatan yang bisa mencapai target itu. Oleh karena hal itulah, sejak awal saya tidak terlalu "ngoyo" untuk mengejar kelulusan tepat waktu, walaupun saya tetap berusaha semaksimal mungkin. 

Kelulusan dalam pendidikan koas ini memang dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Untuk mahasiswa fakultas lain, mungkin faktor yang mempengaruhi kelulusan hanya berkisar di diri sendiri dan dosen. Berbeda dengan kondisi yang ada di dunia koas gigi, selain dipengaruhi oleh diri sendiri, baik segi materi maupun mental, kelulusan kami juga dipengaruhi oleh para supervisor klinik ( dosen ), jadwal kerja dengan dental unit, dan tentunya keberadaan pasien yang sangat besar andilnya dalam tercapainya gelar dokter gigi bagi kami. 

Setelah menjalani klinik selama 3 semester, alhamdulillah hanya 2 dari 74 orang , mahasiswa koas angkatan saya yang berhasil lulus tepat waktu, sedangkan saya bersama beberapa teman masih berjuang untuk memenuhi "sejibun" requirement yang belum selesai. Allah memang memberikan saya beberapa "istirahat" dalam masa koas ini, saya sempat sakit HFM selama 1 minggu saat berada di stase anak, saya juga pernah mengikuti baksos ke Palu selama 1 minggu dan acara munas PSMKGI di Bali selama 4 hari. Saya berpikir, masih ada kesempatan untuk mengejar kelulusan di Sumpah Dokter bulan November, seperti yang pernah saya targetkan dulu. Tapi ternyata Allah tidak menghendaki. Setelah Sumpah Dokter November pun terlewat begitu saja, akhirnya saya berusaha untuk mengejar Wisuda di bulan Februari 2013. Kalau saya bisa lulus di wisuda itu, berarti saya menyelesaikan pendidikan profesi saya persis 2 tahun lamanya. 

Lagi-lagi, Allah punya rencana lain untuk kelulusan saya. Satu requirement saya masih "buntu", karena belum adanya pasien yang disetujui oleh supervisor, yaitu pasien yang akan saya buatkan gigi tiruan jembatan (bridge). Sudah mencari calon pasien dari bulan Oktober dan menunjukkan kepada supervisor beberapa kali, saya belum  juga mendapatkan pasien ini. Mencari pasien memang harus yang benar-benar berjodoh dengan kita, karena ada saja halangannya. Perjuangan mendapatkan pasien ini sungguh pengalaman yang tak terlupakan untuk saya. Mencari ke kampung-kampung di daerah Salemba selama beberapa hari bahkan sampai mencari lewat media sosial (twitter) pun pernah saya lakukan demi pasien penutup ini.

Bahagia itu benar-benar hadir ketika akhirnya setelah 7 kali mencoba mengindikasikan pasien ke supervisor, pasien saya disetujui oleh supervisor di tgl 31 Januari. Alhamdulillah, Allah langsung memberikan jalan yang mulus buat saya untuk mengerjakan perawatan terakhir ini. Dalam waktu yang relatif cepat, walaupun sempat mengalami beberapa masalah , akhirnya saya berhasil menyelesaikan perawatan ini tanggal 7 Maret 2013. Hari itu, saya cukup bahagia karena pasien saya sudah bisa pulang dengan gigi tiruan baru di dalam mulutnya.  Bahagia itu kembali hadir di saat saya diijinkan untuk mendaftar ujian. Ujian terakhir di masa koas saya ! Tanggal 11 Maret, akhirnya saya mengumpulkan berkas ujian dan tiba-tiba diberitahukan oleh dosen bahwa saya akan ujian di tanggal 14 Maret 2013. ( whaaat???)

Bagaimana saya bisa mempersiapkan ujian yang bahannya sangat banyak dalam waktu 3 hari, padahal biasanya teman-teman saya mempersiapkan ujian ini dalam waktu lebih dari 1 minggu?. Lagi-lagi, Allah memang Maha Berkehendak. Beberapa hari sebelum ujian, saya diberitahu bahwa penguji saya adalah dosen yang termasuk baik dan mudah meluluskan mahasiswanya. Kembali lagi Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk merasakan begitu banyak pertolonganNya. Alhamdulillah.

Dua hari efektif saya manfaatkan untuk belajar bersama dan mencoba latihan-latihan soal. Di saat itu pulalah saya berusaha menampung sebanyak-banyaknya doa dari orang-orang terdekat. Bahkan, dosen saya yang pernah bekerja sama di sebuah kepanitiaan tiba-tiba mengirim bbm kepada saya menanyakan perihal ujian saya dan mendoakan agar ujian dapat berjalan dengan lancar. Bahagia itu memang sederhana. Terima kasih dok. 

Hari ujian pun tiba, tidak mungkin saya tidak deg-deg an menghadapi ujian ini. Walaupun pengujinya adalah 2 dosen yang baik, saya tetap tidak tenang. Sungguh sangat berdebar, ditambah lagi, ini adalah ujian penutup saya di masa koas. Ini menentukan masa depan saya. Akhirnya, ujian berjalan dengan cukup lancar selama hampir 1 jam. Entah apa perasaan yang ada di hati saya setelah akhirnya kedua dosen ini menyatakan ujian saya sudah selesai. Saya bahagia karena akhirnya ujian ini selesai tapi masih belum tenang karena belum ada pengumuman. Alhamdulillah, Allah memberikan ketenangan kepada saya dan sebuah rasa optimis. Bahagia kembali hadir saat teman saya bercerita bahwa dia mendengar dosen penguji saya berkata " tuh Risty, udah jadi dokter gigi tuh", saat teman saya sedang belajar dengan beliau. Alhamdulillah. 

Beberapa hari lagi saya mengulang hari kelahiran saya, dan Allah sudah lebih dulu memberikan sebuah hadiah luar biasa untuk hidup saya. Sebuah kelulusan yang sudah saya nantikan sejak lama. Sebuah gelar dokter gigi yang walaupun belum "official", sudah bisa saya hadiahkan untuk kedua orangtua saya. Allah memang luar biasa. Allah selalu berhasil membuat saya tersenyum atas semua kebahagiaan dariNya. Dan, ini adalah hadiah terindah di usia saya yang hampir menginjak angka dua puluh empat. Terima kasih Ya Rabb. Atas segala cinta, anugerah, berkah dan kebahagiaan yang telah Engkau berikan kepada hamba. Berikanlah kesempatan dan kekuatan kepada hamba agar dapat selalu bersyukur dan bersyukur. Aamiin.. 

The Sweetest Thing in My Life. :")


Rabu, 20 Februari 2013

Saya rindu..

Sudah hampir 6 tahun saya berkenalan dengannya, cukup mendalaminya dan akhirnya jatuh cinta kepadanya. Pengabdian Masyarakat, saya rindu...

Tahun 2007 adalah saat pertama bagi saya untuk akhirnya mengenal lebih dalam arti dari kata pengabdian masyarakat. Saya yang semasa SMA lebih sering bermain di dunia seni budaya, akhirnya mencoba bidang baru di organisasi kampus. Waktu itu, saya masih seorang mahasiswa tingkat satu Fakultas Kedokteran Gigi yang mungkin mengartikan dunia "pengmas" dengan "sterilisasi alat baksos", karena setiap ada bakti sosial berupa pengobatan gigi gratis, mahasiswa tingkat satu memang hanya berurusan dengan air sterilisasi , sikat gigi dan alat-alat pengobatan gigi. 

Alhamdulillah, baksos pengobatan pertama saya di FKG, saya terpilih untuk masuk ke dalam tim pengobatan dan menjadi petugas sterilisasi, berbeda dengan teman-teman lain yang berada di tim penyuluhan. Bukannya saya merendahkan penyuluhan kesehatan gigi, tapi saya sudah pernah melakukannya semasa ospek di awal dulu. Di sesi pengobatan, walaupun tugas saya hanya mencuci alat yang kotor dan mengurus pengisian air kumur untuk pasien, tapi saya merasa sangat bersyukur karena bisa melihat langsung bagaimana senior-senior saya menghadapi pasiennya. Di sana jugalah saya mulai mempelajari alat-alat yang mungkin materi kuliahnya baru akan saya dapatkan di tingkat dua dan tiga. Mulai mengamati bagaimana menjadi dokter yang bisa melayani pasien dengan hati, bagaimana menangani pasien anak-anak yang hampir semuanya takut dengan dokter gigi dan bagaimana bekerjasama dalam sebuah tim pengobatan yang kompak. Baiklah, baksos kali ini sudah membuat hati saya terpaut dengan 'pengmas'.

Tahun -tahun selanjutnya, pengalaman pun makin bertambah. Jika di tingkat satu, saya hanya bisa berpartisipasi sebagai petugas sterilisasi , di tingkat dua, saya bisa menangani pasien langsung di bagian pemeriksaan. Tingkatan tugas pun makin meningkat ketika di tahun ketiga mulai menjadi asisten operator dan akhirnya di tahun ke empat, saat saya sudah masuk stase klinik, saya mulai berperan sebagai operator yang benar-benar langsung menangani pasien sendiri dengan segala peralatan yang seadanya. Tidak jarang, saya mendapatkan banyak "skill" baru dalam merawat pasien saat baksos ini. Praktek-praktek yang tidak pernah saya dapatkan di klinik kampus dengan fasilitas dental unit yang canggih , akhirnya bisa saya temukan di ruangan baksos pengobatan yang hanya bermodalkan bangku , meja sekolah dan senter. Pasien yang ditangani pun menjadi sangat beragam, mulai dari preman sampai pak RT di daerah itu. Kemampuan berkomunikasi juga menjadi hal yang cukup penting, bahkan terkadang, kami membutuhkan penerjemah ketika menghadapi pasien yang tidak bisa berbahasa Indonesia.  

Baksos di Palu, 2012
Baksos pengobatan telah menjadi kenangan yang paling indah buat saya selama berada di bidang pengabdian masyarakat ini. Alhamdulillah, pengalaman yang didapatkan dari baksos ini bukan hanya saat menjalani baksosnya saja, apalagi kalau baksos ini dilakukan di luar kota, bahkan di luar pulau. Lagi-lagi, saya bersyukur karena diberi kesempatan oleh Allah karena pernah merasakan baksos di tanah Kalimantan, Madura, Maluku dan Sulawesi. Pengalaman melalui perjalanan yang berjam-jam dengan jalanan seperti off road pun pernah saya alami. Menginap di rumah warga, mengobrol dengan bahasa daerah yang terkadang membuat saya harus bertanya apa artinya bahkan bermain voli bersama di saat kegiatan pengobatan telah selesai adalah kenangan yang membuat rasa lelah setelah menangani ratusan pasien pengobatan pun hilang seketika. 

Main voli dengan warga, kersos 2008 di Banjarmasin
Bahagia itu dirasakan saat melihat wajah pasien saya yang sudah tua tersenyum sambil mengucapkan terima kasih dengan bahasanya bahwa giginya sudah terasa lebih baik. Bahagia juga sangat terasa ketika berhasil merawat pasien anak yang tadinya menangis ketakutan menjadi sangat kooperatif menjalani perawatan giginya. Bahkan, terkadang rasa haru pun muncul ketika melihat seorang anak yang berusaha memberanikan dirinya untuk dicabut padahal sebenarnya dia sangat takut. Bahagia itu terus mengalir selama baksos itu berjalan.

Pengabdian masyarakat memang bukan hanya berkisar di baksos kesehatan gigi saja. Saya juga pernah merasakan tertular aura bahagia anak-anak panti asuhan yang pernah kami datangi untuk kegiatan taman bacaan. Di sana, kami memberikan buku bacaan untuk mereka dan mereka dengan manjanya meminta kami untuk membacakan ceritanya. Lain lagi ceritanya, saat berkunjung ke panti werdha. Nenek dan kakek yang ada di sana benar-benar sangat senang dengan kehadiran kami yang hanya datang untuk mendengarkan mereka bercerita dan memberikan sedikit makanan ringan untuk persediaan mereka. Pengabdian masyarakat ini benar-benar sudah membuat saya tertular berbagai perasaan bahagia. 

Saat ini, saya sudah berada di tingkat akhir menuju waktu kelulusan saya. Dunia koas memang sudah menyita banyak perhatian dan pikiran saya. Saya pun sudah tidak lagi berada di dalam organisasi kampus yang membuat saya semakin jauh dengan dunia pengabdian masyarakat ini. Baksos yang pernah saya ikuti semasa ini pun hanya sekitar tiga kali. Saya yakin, fase klinik yang harus saya jalani ini adalah bekal bagi saya untuk bisa mengabdikan diri lebih baik lagi nantinya di tengah masyarakat. Tapi, saya tidak memungkiri bahwa saya rindu dengan kegiatan sosial itu. Saya ingin merasakan lagi perasaan itu. Kebahagiaan dan kepuasan hati saat melihat orang yang kita rawat tersenyum dengan sangat puas. 

Saya rindu kegiatan itu dan semoga saya bisa kembali melaksanakannya dengan kemampuan yang lebih baik lagi nanti, Aamiin.. 




Rabu, 16 Januari 2013

Jakarta Banjir, lagi?

Ketika musim penghujan datang, masyarakat tidak hanya harus menyiapkan payung sebelum hujan, tapi juga bersiap untuk menghadapi luapan air hujan yang akan menyebabkan banjir dimana-mana. Jakarta memang sudah sering sekali dilanda musibah yang satu ini. Bahkan, beberapa daerah di Jakarta memang sudah dikatakan "langganan" dengan banjir ini.

Sebetulnya, kerugian pasca banjir ini tidaklah sedikit, tapi sepertinya masayarakat Jakarta masih lebih memilih untuk tetap menjadikan banjir ini sebagai sebuah tradisi. Perbaikan dan usaha untuk menanggulangi banjir sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah daerah Jakarta, tapi lagi-lagi sepertinya usaha ini belum maksimal dan belum didukung oleh seluruh masyarakat Jakarta itu sendiri. Kondisi pemukiman yang padat, pembagunan fisik yang terjadi di hampir seluruh wilayah dan kebiasaan buruk masyarakat dalam menjaga lingkungan seperti penebangan liar di daerah pegunungan dan membuang sampah ke sungai  menjadi beberapa penyebab terjadinya banjir rutin ini.

Saya sebagai warga kota sebelah, Tangerang, juga ikut merasakan tradisi banjir ini. Penyebabnya lagi-lagi karena tanah resapan air hujan yang semakin lama semakin berkurang. Pembangunan terus terjadi dimana-mana sedangkan saluran air juga semakin penuh dengan sampah yang dibuang sembarangan oleh masyarakat sekitar. Beberapa kali, warga sudah sempat melakukan pembersihan dan perbaikan saluran air untuk mencegah terjadinya banjir. Alhamdulillah, usaha ini sudah cukup membuahkan hasil dan membuat daerah tempat tinggal saya "tidak terlalu rutin" terkena banjir. Tapi, sepertinya usaha ini masih kurang cukup karena tanah resapan air masih belum bertambah. Ketika hujan turun terus menerus, maka air akan mudah sekali untuk menggenang. 

Saat saya duduk di bangku SLTP, sekitar tahun 2002-2003, daerah tempat tinggal saya kebanjiran. Air masuk rumah walaupun hanya sekitar 2 cm di dalam rumah dan untuk berangkat ke sekolah, saya harus melewati genangan air setinggi paha orang dewasa sampai ke tempat yang kering karena disitulah mobil saya diparkir. Di tahun 2008 awal, saya kembali merasakan 'kebanjiran' dan menurut saya, banjir tahun ini merupakan yang paling parah. Air masuk ke dalam rumah setenggi betis orang dewasa dan tidak surut sampai 3 hari, akhirnya saya dan beberapa anggota keluarga harus mengungsi ke penginapan terdekat selama beberapa hari. Dan di tahun 2013 awal ini, banjir 5 tahunan kembali mampir ke rumah saya , air masuk ke dalam rumah setinggi 1-2 cm.. Ternyata, kondisi Jakarta di hari ini pun cukup parah. Titik-titik banjir menjadi bertambah, bahkan di daerah pemukiman mewah dan di pusat perkantoran Jakarta. 

Banjir di daerah Bundara HI ( merdeka.com )

Hujan adalah rahmat dan berkah dari Allah, bahkan saat hujan adalah saat yang mustajab untuk berdoa. Namun, jika kita tidak mampu mensyukuri nikmat Allah dengan menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan, maka banjir menjadi hal yang sulit untuk dihindari. Semoga banjir yang terjadi hari ini bisa cepat surut dan kita bisa lebih berusaha lagi untuk menjaga lingkungan sehingga banjir tidak lagi menjadi tradisi di Jakarta. Aamiin.

Senin, 31 Desember 2012

Perihal cinta #4

Sepertinya sudah lama sekali saya tidak membicarakan topik ini. Beberapa waktu lalu, tanpa sengaja, saya menemukan sebuah buku bertemakan cinta dari tumpukan buku di rumah saya dan ada beberapa kalimat yang sangat menarik untuk saya tulis kembali disini.

Kali ini saya akan membicarakan soal arti cinta. Ada yang mau mendefinisikan apa itu cinta? Kata seorang teman, cinta berarti taat, seperti cinta seorang hamba kepada penciptanya. Cinta kita kepada Allah akan menjadikan kita seorang manusia yang taat. Cinta seorang rakyat kepada pemimpinnya pun akan menjadikan mereka taat. Cinta seorang anak kepada orangtuanya pun begitu, melahirkan sebuah ketaatan. Temanku yang lain berpendapat, bahwa cinta berarti memberi. Seorang yang mencinta maka akan selalu berusaha memberi kepada yang dicinta. Baik itu sebuah kebahagiaan, ketaatan, kasih sayang, dan yang lainnya.

Di buku yang sedang saya baca , seorang muslimah memberikan beberapa definisi mengenai cinta. Menurutnya, cinta adalah segala emosi suci antara dua insan yang saling mengharapkan kesuksesan dan kebahagiaan untuk yang lainnya. Cinta adalah gejolak perasaan yang menyelimuti hati dan menjaganya dari badai kehidupan serta kedinginan. Cinta adalah tatapan lembut yang merasuki dua orang pencinta. Cinta adalah lirik kata-kata yang menghiasi hati, mampu menabur benih senyuman bagi siapapun yang mendengarnya, menghilangkan segala kesedihan dan memantapkan cita-cita. Cinta adalah perasaan nyaman dan tenteram di samping orang yang paling kita cintai. Cinta adalah rasa malu seorang wanita dan pipinya memerah ketika nama kekasihnya disebutkan. Cinta adalah gemetarnya tangan seorang lelaki dan linangan air mata kebahagiaan tiap kali terlintas bayangan wajah kekasih wanitanya. 

Sedangkan, Ibnu Qayyim rahimahullah, menuturkan bahwa cinta adalah kehidupan yang bersemayam dalam hati dan makanan ruh. Hati tidak akan pernah merasakan kenikmatan, kesenangan, kebahagiaan dan kehidupan kecuali bila di dalamnya terdapat cinta. Bila hati kehilangan cinta, sakitnya lebih hebat ketimbang mata yang kehilangan cahayanya, telinga yang kehilangan pendengarannya, hidung yang kehilangan penciumannya dan lisan yang kehilangan kefasihannya. Bahkan hati akan rusak bila sunyi dari cinta suci. Kebimbangannya akan lebih berat daripada kerusakan tubuh karena kehilangan ruh. 

Begitu banyak definisi cinta yang digambarkan di buku ini dan saya cukup sepakat dengan beberapa definisi di antaranya. Bagaimana dengan kamu?  Apa ada yang sesuai dengan definisi cinta menurutmu? Atau malah memberikan inspirasi baru bagi yang masih menebak-nebak arti cinta? 

Jumat, 14 Desember 2012

5 cm untuk Indonesia !

"Kamu taruh di sini,, jangan menempel di kening. Biarkan dia menggantung.. mengambang.. 
5 centimeter di depan kening kamu" ( 5cm. Donny Dhirgantoro )





Sejak pertama kali saya membaca buku ini di tahun 2005, saya langsung tertarik dengan filosofi dari "5 cm" ini. Sebuah keyakinan akan pencapaian mimpi. Saat kita meletakkan mimpi itu 5 cm di depan kening kita, maka kita akan selalu melihat mimpi itu setiap hari, setiap saat, dan kita akan selalu mengatakan pada diri kita bahwa kita bisa mencapai mimpi itu apapun hambatannya. 

Cerita persahabatan memang selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi saya . Dan hebatnya, Donny Dhirgantoro berhasil menggabungkan nilai persahabatan ini dengan cinta, mimpi, keindahan alam dan juga rasa nasionalisme yang tinggi. Imajinasi saya benar-benar dijamu dengan sangat baik oleh cerita lima sahabat ini. Cerita pendakian ke puncak tertinggi di Pulau Jawa, yaitu puncak Mahameru , juga telah membuat saya, untuk pertama kalinya,  ingin merasakan naik gunung dan berada di atas awan. 

Saya memang bukan pengamat film, tapi setelah saya menyaksikan cerita 5 cm yang akhirnya di filmkan dan diperankan oleh beberapa aktor muda Indonesia., saya bisa mengatakan bahwa film ini sama sekali tidak mengecewakan saya sebagai pembaca buku 5cm. Hampir semua detil yang ada di buku benar-benar diambil oleh Rizal Mantovani ke dalam film ini, bahkan nilai humor yang disajikan di buku juga berhasil disajikan kembali ke dalam film ini dengan sangat baik. Aktor muda yang memerankan tokoh lima sahabat ini pun tidak jauh berbeda dengan tokoh lima sahabat yang ada di benak saya ketika membaca bukunya dulu. Kemampuan akting mereka telah berhasil membuat saya begitu mendalami film ini.

Keindahan panorama Indonesia ditampilkan dengan sangat cantik di film ini. Berkali-kali, saya harus menahan rasa haru karena menyadari betapa cantiknya Indonesia. Berkali-kali pula, saya dibuat kembali merinding ketika melihat kemegahan alam Indonesia. Dan, saya bisa begitu merasakan kebahagiaan dan keharuan lima sahabat ini ketika akhirnya tiba di puncak Mahameru. Sejak awal membaca buku ini, saya sudah membayangkan, jika cerita di buku ini dijadikan film, maka film itu pasti akan menarik dan mengetuk kembali rasa nasionalisme para pemuda Indonesia yang selama ini mungkin sudah terkubur dalam. 

Selesai menonton film ini, ada banyak hal yang berlalu lalang di pikiran saya. Tentang cinta dan persahabatan. Tentang mimpi dan harapan. Tentang kecintaan pada tanah air Indonesia.Terima Kasih Donny Dhirgantoro, terima kasih Rizal Mantovani dan seluruh aktor yang berhasil membuat saya memvisualisasikan imajinasi saya tentang 5 cm.Terima kasih Indonesia !!

"Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.
Dan, sehabis itu yang kamu perlu cuma
kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya
tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya
leher yang akan lebih sering melihat ke atas
lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja
dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya
serta mulut yang akan selalu berdoa "
_5cm. Donny Dhirgantoro_

Kamis, 29 November 2012

Jaga kesehatan gigi dan mulut yuk!

DHE ( Dental Health Education) adalah pendidikan mengenai kesehatan gigi dan mulut yang selalu diberikan dokter gigi kepada pasiennya di  awal perawatan. Hal ini dilakukan karena menurut seorang ahli kesehatan masyarakat, perilaku pasien sangat mempengaruhi tingkat kesehatannya dan pengetahuan pasien cukup mempengaruhi perilakunya. Setelah beberapa kali melayani konsultasi gratis mengenai kesehatan gigi mulut dengan teman-teman non fkg, rasa-rasanya kurang afdhol, kalau saya, sebagai mahasiswa koas fkg yang sudah beberapa kali  memberikan DHE kepada pasien di klinik kampus , tidak membahas mengenai hal-hal dasar kesehatan gigi dan mulut dalam blog ini. Yang akan saya bahas kali ini lebih ke arah pencegahan karena mencegah lebih baik daripada mengobati. 

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai kesehatan gigi mulut, saya hanya ingin mengingatkan bahwa gigi adalah bagian dari dalam tubuh kita yang mengandung lebih banyak material anorganik dibandingkan dengan material organik. Oleh karena itu, ketika struktur gigi mengalami kerusakan,  maka gigi tidak akan bisa  memperbaiki kerusakan struktur tersebut hingga kembali seperti semula, berbeda dengan kulit manusia yang jika terluka bisa sembuh dengan sendirinya. Gigi yang sehat adalah anugrah dari Allah , maka seharusnya, kita bisa mensyukurinya dengan cara menjaga kesehatan gigi tersebut. Mau sebaik apapun gigi tiruan yang sudah ditemukan oleh para ilmuwan saat ini, gigi asli yang merupakan ciptaan Allah tetap tidak ada tandingannya. 

Ada beberapa poin yang harus diingat dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut :

1. Setelah digunakan untuk mengunyah makanan selama seharian, maka gigi kita harus dibersihkan dari sisa-sisa makanan yang nantinya bisa dimanfaatkan kuman untuk membuat lubang di gigi. Caranya adalah dengan menyikat gigi di waktu yang  benar dengan cara yang benar. Waktu yang tepat untuk menyikat gigi adalah setelah makan pagi dan sebelum tidur. Lebih baik lagi, jika setelah makan, diberikan jeda waktu sekitar 30 menit sebelum akhirnya menyikat gigi. Lalu, cara menyikat gigi yang benar adalah dengan gerakan ke atas bawah untuk gigi depan dan gerakan memutar untuk gigi bagian belakang. Sikat seluruh permukaan menggunakan sikat gigi dengan bulu sikat yang halus dan sudah diberi pasta gigi berfluoride. Jangan lupa untuk menyikat permukaan gigi bagian dalam yang dekat dengan lidah dan langit-langit. Harus diingat : Jangan menyikat dengan gerakan ke kanan kiri karena ini adalah cara yang salah. 

Adik2 di SD yang bersemangat menyikat gigi..

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kalau tidak karena memberatkan umatku, tentu aku memerintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak sholat.”

Untuk kondisi gigi yang rapat dan berjejal, ada baiknya menggunakan dental floss untuk membantu membersihkan sisa makanan yang berada di sela-sela gigi dan sulit dibersihkan dengan sikat gigi. 


2. Jagalah kualitas air liur kita dengan minum air putih yang cukup setiap harinya (2,5 liter /  hari). Kualitas dan kuantitas air liur cukup berperan dalam menjaga kebersihan mulut. Selain dengan meminum air putih yang cukup, mengunyah permen karet yang mengandung xylitol juga dapat membantu menjaga kualitas dan kuantitas air liur.

3. Perhatikan makanan yang kita konsumsi. Kita boleh memakan makanan manis, tapi perhatikan frekuensinya. Jika setiap hari memakan makanan yang manis, ada baiknya diberikan jeda waktu selama 2 jam antara konsumsi makanan manis tersebut dan mulai mencari bahan pengganti gula untuk mengurangi konsumsi gula. Contoh konsumsi rutin makanan manis adalah minum teh manis setiap hari, minum minuman soda setiap hari, dll. Selain makanan manis, kita juga harus memperhatikan makanan asam karena asam juga dapat mengakibatkan rusaknya struktur gigi. Makanan yang sangat disarankan untuk membantu menjaga kesehatan gigi mulut kita adalah sayur mayur dan buah-buahan. 

4. Kalau kita sudah menjaga kesehatan gigi dan mulut kita dengan baik, jangan lupa untuk tetap memeriksakan kondisi gigi kita ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali ( bukan promosi lho), minimal untuk membersihkan karang gigi karena karang gigi tidak dapat dibersihkan dengan sikat gigi saja, melainkan  harus menggunakan alat yang ada di dokter gigi. Karang gigi ini bisa tumbuh di dalam mulut kita karena air liur kita mengandung kalsium dan dapat membentuk karang gigi. Kalau karang gigi ini dibiarkan terus tumbuh hingga banyak, maka selain berdampak buruk pada penampilan, karang gigi juga bisa menyebabkan bau mulut dan merusak jaringan gusi dan sekitarnya sehingga terjadilah yang namanya radang gusi ( gingivitis ) dengan gusi yang bengkak dan kemerahan. Jadi, jangan lupa untuk ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali ya!! Jangan menunggu sampai ada rasa sakit , karena mencegah lebih baik dari mengobati kan?



Kondisi kesehatan gigi dan mulut sangat mempengaruhi keadaan nutrisi tubuh kita secara keseluruhan, kalau gigi ada yang sakit, makan pun jadi tak enak, beraktifitas pun terganggu. Kondisi gigi dan mulut juga akan menjadi salah satu bagian dari penampilan kita yang akan diperhatikan oleh lawan bicara kita. Jadi, ayo syukuri nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita berupa gigi yang sehat dan kuat dengan menjaganya dan merawatnya dengan baik. 

Bismillah,, jaga kesehatan gigi dan mulut yuk! 

Kamis, 22 November 2012

Ujian komprehensif, Hujan dan Jakarta



Siapa yang tidak tahu bahwa Jakarta itu sangat identik dengan kemacetan. Berbagai usaha sudah dilakukan oleh pemda Jakarta untuk mencoba menangani permasalahan ini, seperti peraturan 3 in 1 di daerah sudirman-thamrin, pembuatan jalan bebas hambatan di hampir seluruh wilayah kota Jakarta, pengadaan bus transjakarta dan commuter line. Tapi ternyata  usaha-usaha ini masih belum mampu menjadi solusi bagi  masalah kemacetan di Jakarta. Saya, sebagai pengguna rutin jalanan di jakarta, mungkin sudah cukup memahami kondisi Jakarta yang seperti ini. Saat hari raya idul fitri sajalah, Jakarta bisa terlihat lengang karena penduduknya banyak yang mudik ke kampung halaman. Selain hari itu, maka hari-hari sisanya adalah "tiada hari tanpa macet" di Jakarta.



Kemacetan yang biasa terjadi sudah menjadi pemakluman tersendiri buat saya yang bertempat tinggal di kota sebelah, Tangerang , namun beraktivitas di Jakarta. Dengan jarak kurang lebih 40 km, waktu yang saya butuhkan dari Salemba ke rumah biasanya berkisar 1-1,5 jam. Namun beberapa hari terakhir, yang saya alami bukanlah macet yang biasa, karena dilengkapi dengan hujan yang mengguyur jalanan Jakarta.  Hujan membuat para pengendara motor berteduh hampir  di bawah setiap jembatan, terowongan dan fly over yang mengakibatkan jalur yang tadinya ada tiga menjadi tinggal dua. Hujan juga membuat jalanan Jakarta tergenang dan mobil-mobil akan berjalan lebih lambat dibanding biasanya. 


Hari Selasa, 13 nov 2012, saya berencana untuk pulang lebih sore dari kampus karena akan belajar bersama dengan teman-teman di perpustakaan untuk mempersiapkan ujian komprehensif keesokan harinya. Tiba-tiba, hujan deras mulai mengguyur jalanan Jakarta sejak ashar. Saya masih berharap hujan akan reda disaat saya akan pulang kerumah. Tapi sampai pukul 17.00, hujan belum juga berhenti. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang menggunakan taksi. Kemacetan mulai terjadi dimana-mana karena hujan deras yang tidak kunjung reda. Alhamdulillah, akhirnya saya tiba di rumah tercinta pada pukul 19.30. 2,5 jam perjalanan cukup membuat saya lelah walaupun hanya duduk di dalam taksi. Mengingat besok akan ada ujian dengan 100 soal  yang harus diselesaikan dalam waktu 100 menit, maka saya pun segera beristirahat dan mempersiapkan diri untuk ujian besoknya. 

Ujian komprehensif dilakukan selama 2 hari, oleh karena itu,  Senin, 19 nov 2012, saya kembali belajar dengan teman-teman saya untuk persiapan ujian esok hari. Tapi, kali ini saya dan teman-teman mencoba belajar dirumah teman saya di daerah Cikini. Lagi-lagi, hujan mengguyur jalanan Jakarta sejak ashar. Rencananya, hari ini saya akan pulang dengan ayah saya yang akan menunggu saya di kantornya di daerah Monas. Setelah kegiatan belajar selesai dan melihat langit yang semakin gelap, saya memutuskan untuk mulai beranjak ke kantor ayah saya dengan menggunakan taksi dari arah Cikini sekitar Pukul 17.00. Biasanya, perjalanan cikini - monas akan membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit. Tapi, sepertinya hujan di sore ini akan membuat waktu perjalanan saya sedikit lebih lama.

Saya benar-benar tidak menyangka bahwa pada pukul 18.00, saya masih berada di daerah Menteng yang mungkin hanya berjarak sekitar 3 km dari tempat saya naik taksi pertama kali. Lampu lalu lintas di daerah Menteng Huis menuju Tugu Tani sudah menunjukkan warna merah dan hijau bergantian sebanyak 6 kali, namun taksi saya tidak menunjukkan adanya pergerakan sedikitpun. Setelah menelpon ayah saya yang sudah menunggu di kantornya sejak 1 jam yang lalu, akhirnya pada pukul 18.40 saya memutuskan untuk belok ke arah masjid cut meutia dan bermaksud untuk melewati kebon sirih. Tapi ternyata kondisinya tidak jauh berbeda, masih saja macet tanpa ada pergerakan yang signifikan. Bapak supir taksi pun mulai menyerah. Sempat terpikirkan oleh saya untuk turun dari taksi dan naik ojek, tapi hujan masih rintik dan kondisi yang kurang aman di malam hari membuat saya membatalkan niat saya itu. Dari bapak supir taksi, diketahui bahwa jalanan kebon sirih pun macet total dan tidak ada jalan lain lagi selain lewat Thamrin. Bapak supir taksi memberi saran agar saya turun saja di hotel Pullman di depan bundaran Hotel Indonesia, lalu menyambung dengan taksi lain atau bus transjakarta menuju kantor ayah. Akhirnya, setelah bertanya dengan ayah saya lewat telepon, saya pun menyetujui saran bapak supir taksi.

Alhamdulillah, pukul 19.50 saya sudah sampai di depan bundaran HI dan turun dari taksi yang argonya sudah mencapai angka 85.000. Ya, 85.000 rupiah untuk perjalanan dari Cikini menuju HI dalam waktu 3 jam. Sebenarnya saat itu, saya sedang berpuasa dan baru membatalkan puasa saya dengan sebuah permen yang ada di tas saya. Tapi, dari depan hotel Pullman menuju jembatan penyebrangan, saya tidak ingat lagi kebutuhan saya untuk membeli minum karena yang ada di otak saya saat itu hanyalah 'bagaimana caranya saya bisa sampai di kantor ayah saya secepatnya'. Ayah saya sudah dengan sabar menunggu saya di kantornya selama 3 jam. 

Di atas jembatan penyebrangan, sambil melihat arus jalanan Thamrin di bawahnya yang menuju Monas, saya mulai bingung untuk memilih antara naik bus transjakarta atau naik taksi. Setalah bolak balik, akhinya saya memutuskan untuk masuk ke dalam antrian para calon penumpang bus transjakarta. Antriannya cukup panjang sampai ke atas jembatan karena loket ditutup sementara sampai kondisi di dalam halte tidak terlalu penuh. Sambil menunggu, saya menelpon kakak saya dan menceritakan kondisi yang saya alami, sambil bercanda, dia menyarankan saya untuk jalan kaki saja ke kantor ayah. Sempat terpikir juga untuk mengikuti sarannya karena sekitar 2 tahun yang lalu, saya pernah mengikuti aksi gerakan anti rokok dan melakukan longmarch dari bundaran HI ke monas, jadi saya sudah bisa membayangkan bagaimana kondisinya kalau saya harus jalan kaki ke kantor ayah. Tapi, kondisi yang sudah malam dan kelelahan setelah duduk di taksi selama 3 jam membuat saya bertahan untuk tetap berada di antrian itu. Setelah beberapa menit menunggu bus transjakarta yang datangnya cukup jarang dan kondisi jalanan thamrin yang tiba-tiba kosong membuat saya menjadi bimbang. Tetap mengantri dengan sabar atau menyerah dan mencoba mencari taksi di sebrang? 

Pukul 20.15, saya tidak juga masuk ke dalam halte karena loket masih ditutup, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari antrian lalu bergerak menuju depan Plaza Indonesia (sebrangnya Hotel Pullman). Alhamdulillah, hujan sudah berhenti, tapi jalanan di depan saya cukup becek dan menyebabkan saya harus beberapa kali tersiram air genangan karena mobil-mobil yang bergerak cepat di jalanan. Saya terus berusaha untuk memberhentikan taksi yang melewati jalanan di depan saya, tapi taksi-taksi yang lewat  terus menolak. Akhirnya pukul 20.30, saya memutuskan untuk berjalan kaki saja sambil terus berusaha untuk menghentikan taksi yang lewat.


Sebenarnya ada sedikit rasa takut saat harus menyusuri jalanan Thamrin di malam itu, tapi alhamdulillah, dari ujung Plaza Indonesia sampai depan kantor ayah saya, selalu ada orang lain yang juga berjalan di depan saya atau di belakang saya. Sambil terus berdzikir meminta perlindungan Allah, akhirnya saya pun menyusuri jalanan Thamrin bersama beberapa mas dan mbak kantoran yang juga berjalan menuju arah yang sama. Dengan kondisi baju yang basah karena sisa hujan dan keringat, perut yang mulai kelaparan, mulut yang mulai kehausan dan kaki yang kelelahan , alhamdulillah, akhirnya saya sampai di kantor ayah saya pukul 20.55. Begitu masuk ke dalam mobil, alhamdulillah , ayah saya sudah membelikan saya seporsi nasi goreng dan sebotol air putih untuk saya berbuka puasa. Alhamdulillah, setelah itu perjalanan ke rumah tidak terlalu macet karena lewat tol bandara. Saya tiba di rumah pukul 22.00 dan langsung beristirahat tanpa sempat membuka lagi bahan ujian untuk esok harinya.     




Dulu saya pernah mengalami perjalanan antar kota yang paling lama, yaitu saat saya ada acara di Depok menggunakan angkutan umum selama  3 jam 45 menit . Dan sekarang sudah ada pengalaman baru, saya menjalani 5 jam perjalanan dari Cikini ke rumah saya. Alhamdulillah, selama perjalanan itu, saya malah sering tertawa mengingat betapa lucunya pengalaman perjalanan  saya kali ini. Mulai dari menghindari daerah Tugu Tani tapi malah kena macet yang sama di Menteng sampai kebingungan saya antara naik bus transjakarta atau taksi yang akhirnya malah berujung dengan jalan kaki di malam hari. Terima kasih Jakarta untuk pengalaman yang tidak terlupakan. Semoga Jakarta bisa lebih baik lagi dalam penataan transportasinya. Semoga kata kemacetan tidak lagi identik dengan kota Jakarta, Aamiin...