Tampilkan postingan dengan label fkg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fkg. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2016

Anak dan dokter gigi

Mengenalkan anak kepada dokter gigi memang sebaiknya dilakukan sejak dini. Beberapa mengatakan bahwa usia yang paling tepat adalah saat anak berusia 2 tahun. Hal ini dilakukan agar kelak ketika anak memiliki masalah dengan giginya maka anak akan terbiasa untuk berada di lingkungan ruang dokter gigi dan tidak memiliki pandangan  bahwa dokter gigi itu menakutkan. Tidak bisa dipungkiri, dokter gigi mungkin memang cukup sering ditakuti oleh anak-anak, padahal beberapa dari mereka belum pernah merasakan perawatan di dokter gigi. Mungkin hal ini disebabkan oleh suara bising dari alat di runag dokter gigi, alat-alat yang terlihat tajam di atas meja atau mungkin karena anak-anak juga sering ditakut-takuti oleh orangtuanya tentang sosok dokter gigi yang menyeramkan. 

Dalam perawatan gigi anak, peran orangtua sangat dibutuhkan. Yang dimaksud peran di sini bukan berarti bahwa orangtua harus ikut membantu dokter gigi agar anak mau duduk di kursi gigi dan membuka mulutnya dengan cara memaksa dan mengancam. Perawatan tidak akan berjalan lancar jika anak merasa dipaksa. Peran orangtua yang diharapkan oleh para dokter gigi adalah membantu meyakinkan anak bahwa perawatan dengan dokter gigi akan berjalan dengan baik dan kondisi giginya akan segera membaik. Ajak anak untuk berkomunikasi dengan bahasa mereka tapi jangan ada unsur kebohongan di dalamnya. Biarkan dokter gigi yang menjelaskan kepada anak mengenai perawatan yang akan dilakukan. Orangtua sangat diharapkan dapat mendukung suasana di dalam ruang dokter gigi dengan pendampingan yang menenangkan, tanpa ada unsur paksaan, nada mengancam atau mencoba membantu dokter gigi menjelaskan prosedur perawatan kepada anak yang terkadang malah salah. 

Pada kunjungan pertama seorang anak ke dokter gigi, diharapkan orangtua dapat bersabar, karena dokter gigi secara perlahan akan mencoba memberi perkenalan awal kepada anak. Jangan terlalu berharap bahwa tujuan datang ke dokter gigi di kunjungan pertama dapat berjalan dengan lancar. Untuk menghindari rasa "kapok ke dokter gigi", sebaiknya di kunjungan pertama, perawatan yang dilakukan lebih kepada perawatan perkenalan, jadi tidak asal cabut yang akhirnya nanti mungkin membuat anak menjadi takut ke dokter gigi. 

Hal yang cukup sering membuat anak takut adalah suntikan. Dalam prosedur pencabutan, dokter gigi memiliki beberapa cara agar anak dapat  melewati prosedur tersebut dengan sakit yang minimal. Orangtua sangat diharapkan agar tidak memberikan cerita bohong kepada anak mengenai rasa sakit. Jangan janjikan kepada anak bahwa perawatan tidak sakit sama sekali. Walaupun pada beberapa kasus, ada anak yang merasa tidak sakit sama sekali saat proses pencabutan, namun ada juga yang masih merasa sedikit sakit saat proses pembaalan (anestesi). Jika anak sudah dibekali cerita bahwa proses pencabutan tidak akan terasa sakit namun pada kenyataannya dia harus mengalami pengalaman yang tidak nyaman, dikhawatirkan anak akan kapok ke dokter gigi dan menganggap bahwa semua perawatan di dokter gigi itu menyakitkan serta timbulnya ketidakpercayaan anak terhadap dokter gigi dan orangtuanya. 

Perawatan gigi anak akan maksimal saat kerjasama antara anak, dokter gigi dan orangtua dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, untuk para orangtua, mari bangun kerjasama yang baik dengan dokter gigi saat mengantar anak untuk menjalani perawatan giginya. Kuncinya adalah tanpa paksaan, tidak berbohong dan bersikap tenang. Salam gigi sehat! 

Senin, 22 April 2013

Lembaran Baru

"Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan 
terutama dalam bidang kesehatan. 
Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan 
martabat dan tradisi luhur jabatan Kedokteran Gigi.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya 
dan keilmuan saya sebagai Dokter Gigi.
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran Gigi saya
 untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan.
Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh 
supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, 
politik kepartaian, atau kedudukan sosial.
Saya ikrarkan sumpah janji ini dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan."

Tepat dua hari yang lalu, dalam sebuah upacara yang khidmat, saya dan sekitar tiga puluhan orang dokter gigi baru lulusan FKG UI melafalkan sumpah dokter gigi ini dengan penuh kesungguhan. Akhirnya, kami resmi mengemban amanah baru sebagai seorang dokter gigi. Sebuah amanah baru untuk bisa menjadi insan kesehatan yang berguna bagi masyarakat Indonesia. Lafal sumpah ini terasa begitu dalam memasuki pikiran saya, terlebih lagi ketika diawali dengan lafazh "Demi Allah". Sebuah janji yang tidak main-main, yang harus dapat saya pertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Upacara sumpah ini benar-benar mengingatkan saya bahwa 'lulus' bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awal dari kehidupan baru saya sebagai seorang dokter gigi. Apapun pekerjaan saya kelak, apakah sebagai seorang klinisi atau seorang akademisi, ilmu yang telah saya dapatkan selama belajar kedokteran gigi haruslah dapat saya pergunakan dengan sebaik mungkin demi kepentingan masyarakat, karena saya sudah bersumpah untuk itu. 

Kelulusan ini bukanlah milik saya semata, karena dengan lulusnya saya dan teman-teman sebagai dokter gigi, maka Indonesia pun kini sudah memiliki tenaga dokter gigi baru yang masih sangat dibutuhkan di negeri ini. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pun akhirnya menambah daftar lulusannya. Dan yang paling penting, kedua orangtua saya akhirnya menyelesaikan amanahnya untuk menyekolahkan saya sampai selesai, Alhamdulillah. Perasaan bahagia dan haru menjadi satu saat akhirnya saya bisa mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam sambil memberikan setangkai bunga mawar kepada kedua orangtua saya di acara kemarin. Setetes airmata kebahagiaan pun hadir tanpa diminta. Akhirnya, saya bisa mempersembahkan sebuah hadiah terbesar kepada mereka, walaupun ini tetap tidak dapat membalas begitu banyak pengorbanan yang telah mereka lakukan demi saya. 

Mengenang kembali betapa jatuh bangunnya kami dalam menjalani masa klinik membuat kebahagiaan itu semakin memuncak karena akhirnya kami bisa melewatinya dengan baik walaupun harus diiringi dengan banyak peluh dan airmata. Dan kini, sebuah misi baru telah menanti kami untuk dapat kami laksanakan dengan sungguh-sungguh. Mungkin, cobaannya akan lebih berat dibandingkan saat masih berada di masa klinik, namun saya yakin, semakin tinggi permasalahan yang Allah berikan, maka semakin besar juga kemampuan kita untuk melewatinya karena Allah Maha Adil, Maha Mengetahui yang terbaik bagi kita semua.

Semangat teman sejawat semua! Indonesia menanti pengabdian dan pelayanan kita sebagai seorang dokter gigi yang profesional. Lafal sumpah yang telah kita ucapkan bersama harus terus menjadi pengingat bagi kita bahwa kita semua sudah berjanji kepada Allah bahwa kita akan melakukan yang terbaik untuk profesi ini. Semangat!!

*teruntuk teman-teman yang masih berjuang, tetap semangat kawan! Sebuah perjuangan pasti berbuah manis pada akhirnya, percayalah kepada waktu terbaik yang telah ditetapkan olehNya. Semangat!

thanks for the picture, doc ^_^



Minggu, 17 Maret 2013

The Sweetest Thing

Februari 2011 adalah saat-saat pertama bagi saya untuk memulai kegiatan sebagai mahasiswa profesi (koas) di FKG UI. Masa pendidikan profesi yang katanya ditargetkan selesai dalam waktu 3 semester, pada kenyataannya, mungkin hanya 1% dari sebuah angkatan yang bisa mencapai target itu. Oleh karena hal itulah, sejak awal saya tidak terlalu "ngoyo" untuk mengejar kelulusan tepat waktu, walaupun saya tetap berusaha semaksimal mungkin. 

Kelulusan dalam pendidikan koas ini memang dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Untuk mahasiswa fakultas lain, mungkin faktor yang mempengaruhi kelulusan hanya berkisar di diri sendiri dan dosen. Berbeda dengan kondisi yang ada di dunia koas gigi, selain dipengaruhi oleh diri sendiri, baik segi materi maupun mental, kelulusan kami juga dipengaruhi oleh para supervisor klinik ( dosen ), jadwal kerja dengan dental unit, dan tentunya keberadaan pasien yang sangat besar andilnya dalam tercapainya gelar dokter gigi bagi kami. 

Setelah menjalani klinik selama 3 semester, alhamdulillah hanya 2 dari 74 orang , mahasiswa koas angkatan saya yang berhasil lulus tepat waktu, sedangkan saya bersama beberapa teman masih berjuang untuk memenuhi "sejibun" requirement yang belum selesai. Allah memang memberikan saya beberapa "istirahat" dalam masa koas ini, saya sempat sakit HFM selama 1 minggu saat berada di stase anak, saya juga pernah mengikuti baksos ke Palu selama 1 minggu dan acara munas PSMKGI di Bali selama 4 hari. Saya berpikir, masih ada kesempatan untuk mengejar kelulusan di Sumpah Dokter bulan November, seperti yang pernah saya targetkan dulu. Tapi ternyata Allah tidak menghendaki. Setelah Sumpah Dokter November pun terlewat begitu saja, akhirnya saya berusaha untuk mengejar Wisuda di bulan Februari 2013. Kalau saya bisa lulus di wisuda itu, berarti saya menyelesaikan pendidikan profesi saya persis 2 tahun lamanya. 

Lagi-lagi, Allah punya rencana lain untuk kelulusan saya. Satu requirement saya masih "buntu", karena belum adanya pasien yang disetujui oleh supervisor, yaitu pasien yang akan saya buatkan gigi tiruan jembatan (bridge). Sudah mencari calon pasien dari bulan Oktober dan menunjukkan kepada supervisor beberapa kali, saya belum  juga mendapatkan pasien ini. Mencari pasien memang harus yang benar-benar berjodoh dengan kita, karena ada saja halangannya. Perjuangan mendapatkan pasien ini sungguh pengalaman yang tak terlupakan untuk saya. Mencari ke kampung-kampung di daerah Salemba selama beberapa hari bahkan sampai mencari lewat media sosial (twitter) pun pernah saya lakukan demi pasien penutup ini.

Bahagia itu benar-benar hadir ketika akhirnya setelah 7 kali mencoba mengindikasikan pasien ke supervisor, pasien saya disetujui oleh supervisor di tgl 31 Januari. Alhamdulillah, Allah langsung memberikan jalan yang mulus buat saya untuk mengerjakan perawatan terakhir ini. Dalam waktu yang relatif cepat, walaupun sempat mengalami beberapa masalah , akhirnya saya berhasil menyelesaikan perawatan ini tanggal 7 Maret 2013. Hari itu, saya cukup bahagia karena pasien saya sudah bisa pulang dengan gigi tiruan baru di dalam mulutnya.  Bahagia itu kembali hadir di saat saya diijinkan untuk mendaftar ujian. Ujian terakhir di masa koas saya ! Tanggal 11 Maret, akhirnya saya mengumpulkan berkas ujian dan tiba-tiba diberitahukan oleh dosen bahwa saya akan ujian di tanggal 14 Maret 2013. ( whaaat???)

Bagaimana saya bisa mempersiapkan ujian yang bahannya sangat banyak dalam waktu 3 hari, padahal biasanya teman-teman saya mempersiapkan ujian ini dalam waktu lebih dari 1 minggu?. Lagi-lagi, Allah memang Maha Berkehendak. Beberapa hari sebelum ujian, saya diberitahu bahwa penguji saya adalah dosen yang termasuk baik dan mudah meluluskan mahasiswanya. Kembali lagi Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk merasakan begitu banyak pertolonganNya. Alhamdulillah.

Dua hari efektif saya manfaatkan untuk belajar bersama dan mencoba latihan-latihan soal. Di saat itu pulalah saya berusaha menampung sebanyak-banyaknya doa dari orang-orang terdekat. Bahkan, dosen saya yang pernah bekerja sama di sebuah kepanitiaan tiba-tiba mengirim bbm kepada saya menanyakan perihal ujian saya dan mendoakan agar ujian dapat berjalan dengan lancar. Bahagia itu memang sederhana. Terima kasih dok. 

Hari ujian pun tiba, tidak mungkin saya tidak deg-deg an menghadapi ujian ini. Walaupun pengujinya adalah 2 dosen yang baik, saya tetap tidak tenang. Sungguh sangat berdebar, ditambah lagi, ini adalah ujian penutup saya di masa koas. Ini menentukan masa depan saya. Akhirnya, ujian berjalan dengan cukup lancar selama hampir 1 jam. Entah apa perasaan yang ada di hati saya setelah akhirnya kedua dosen ini menyatakan ujian saya sudah selesai. Saya bahagia karena akhirnya ujian ini selesai tapi masih belum tenang karena belum ada pengumuman. Alhamdulillah, Allah memberikan ketenangan kepada saya dan sebuah rasa optimis. Bahagia kembali hadir saat teman saya bercerita bahwa dia mendengar dosen penguji saya berkata " tuh Risty, udah jadi dokter gigi tuh", saat teman saya sedang belajar dengan beliau. Alhamdulillah. 

Beberapa hari lagi saya mengulang hari kelahiran saya, dan Allah sudah lebih dulu memberikan sebuah hadiah luar biasa untuk hidup saya. Sebuah kelulusan yang sudah saya nantikan sejak lama. Sebuah gelar dokter gigi yang walaupun belum "official", sudah bisa saya hadiahkan untuk kedua orangtua saya. Allah memang luar biasa. Allah selalu berhasil membuat saya tersenyum atas semua kebahagiaan dariNya. Dan, ini adalah hadiah terindah di usia saya yang hampir menginjak angka dua puluh empat. Terima kasih Ya Rabb. Atas segala cinta, anugerah, berkah dan kebahagiaan yang telah Engkau berikan kepada hamba. Berikanlah kesempatan dan kekuatan kepada hamba agar dapat selalu bersyukur dan bersyukur. Aamiin.. 

The Sweetest Thing in My Life. :")


Rabu, 20 Februari 2013

Saya rindu..

Sudah hampir 6 tahun saya berkenalan dengannya, cukup mendalaminya dan akhirnya jatuh cinta kepadanya. Pengabdian Masyarakat, saya rindu...

Tahun 2007 adalah saat pertama bagi saya untuk akhirnya mengenal lebih dalam arti dari kata pengabdian masyarakat. Saya yang semasa SMA lebih sering bermain di dunia seni budaya, akhirnya mencoba bidang baru di organisasi kampus. Waktu itu, saya masih seorang mahasiswa tingkat satu Fakultas Kedokteran Gigi yang mungkin mengartikan dunia "pengmas" dengan "sterilisasi alat baksos", karena setiap ada bakti sosial berupa pengobatan gigi gratis, mahasiswa tingkat satu memang hanya berurusan dengan air sterilisasi , sikat gigi dan alat-alat pengobatan gigi. 

Alhamdulillah, baksos pengobatan pertama saya di FKG, saya terpilih untuk masuk ke dalam tim pengobatan dan menjadi petugas sterilisasi, berbeda dengan teman-teman lain yang berada di tim penyuluhan. Bukannya saya merendahkan penyuluhan kesehatan gigi, tapi saya sudah pernah melakukannya semasa ospek di awal dulu. Di sesi pengobatan, walaupun tugas saya hanya mencuci alat yang kotor dan mengurus pengisian air kumur untuk pasien, tapi saya merasa sangat bersyukur karena bisa melihat langsung bagaimana senior-senior saya menghadapi pasiennya. Di sana jugalah saya mulai mempelajari alat-alat yang mungkin materi kuliahnya baru akan saya dapatkan di tingkat dua dan tiga. Mulai mengamati bagaimana menjadi dokter yang bisa melayani pasien dengan hati, bagaimana menangani pasien anak-anak yang hampir semuanya takut dengan dokter gigi dan bagaimana bekerjasama dalam sebuah tim pengobatan yang kompak. Baiklah, baksos kali ini sudah membuat hati saya terpaut dengan 'pengmas'.

Tahun -tahun selanjutnya, pengalaman pun makin bertambah. Jika di tingkat satu, saya hanya bisa berpartisipasi sebagai petugas sterilisasi , di tingkat dua, saya bisa menangani pasien langsung di bagian pemeriksaan. Tingkatan tugas pun makin meningkat ketika di tahun ketiga mulai menjadi asisten operator dan akhirnya di tahun ke empat, saat saya sudah masuk stase klinik, saya mulai berperan sebagai operator yang benar-benar langsung menangani pasien sendiri dengan segala peralatan yang seadanya. Tidak jarang, saya mendapatkan banyak "skill" baru dalam merawat pasien saat baksos ini. Praktek-praktek yang tidak pernah saya dapatkan di klinik kampus dengan fasilitas dental unit yang canggih , akhirnya bisa saya temukan di ruangan baksos pengobatan yang hanya bermodalkan bangku , meja sekolah dan senter. Pasien yang ditangani pun menjadi sangat beragam, mulai dari preman sampai pak RT di daerah itu. Kemampuan berkomunikasi juga menjadi hal yang cukup penting, bahkan terkadang, kami membutuhkan penerjemah ketika menghadapi pasien yang tidak bisa berbahasa Indonesia.  

Baksos di Palu, 2012
Baksos pengobatan telah menjadi kenangan yang paling indah buat saya selama berada di bidang pengabdian masyarakat ini. Alhamdulillah, pengalaman yang didapatkan dari baksos ini bukan hanya saat menjalani baksosnya saja, apalagi kalau baksos ini dilakukan di luar kota, bahkan di luar pulau. Lagi-lagi, saya bersyukur karena diberi kesempatan oleh Allah karena pernah merasakan baksos di tanah Kalimantan, Madura, Maluku dan Sulawesi. Pengalaman melalui perjalanan yang berjam-jam dengan jalanan seperti off road pun pernah saya alami. Menginap di rumah warga, mengobrol dengan bahasa daerah yang terkadang membuat saya harus bertanya apa artinya bahkan bermain voli bersama di saat kegiatan pengobatan telah selesai adalah kenangan yang membuat rasa lelah setelah menangani ratusan pasien pengobatan pun hilang seketika. 

Main voli dengan warga, kersos 2008 di Banjarmasin
Bahagia itu dirasakan saat melihat wajah pasien saya yang sudah tua tersenyum sambil mengucapkan terima kasih dengan bahasanya bahwa giginya sudah terasa lebih baik. Bahagia juga sangat terasa ketika berhasil merawat pasien anak yang tadinya menangis ketakutan menjadi sangat kooperatif menjalani perawatan giginya. Bahkan, terkadang rasa haru pun muncul ketika melihat seorang anak yang berusaha memberanikan dirinya untuk dicabut padahal sebenarnya dia sangat takut. Bahagia itu terus mengalir selama baksos itu berjalan.

Pengabdian masyarakat memang bukan hanya berkisar di baksos kesehatan gigi saja. Saya juga pernah merasakan tertular aura bahagia anak-anak panti asuhan yang pernah kami datangi untuk kegiatan taman bacaan. Di sana, kami memberikan buku bacaan untuk mereka dan mereka dengan manjanya meminta kami untuk membacakan ceritanya. Lain lagi ceritanya, saat berkunjung ke panti werdha. Nenek dan kakek yang ada di sana benar-benar sangat senang dengan kehadiran kami yang hanya datang untuk mendengarkan mereka bercerita dan memberikan sedikit makanan ringan untuk persediaan mereka. Pengabdian masyarakat ini benar-benar sudah membuat saya tertular berbagai perasaan bahagia. 

Saat ini, saya sudah berada di tingkat akhir menuju waktu kelulusan saya. Dunia koas memang sudah menyita banyak perhatian dan pikiran saya. Saya pun sudah tidak lagi berada di dalam organisasi kampus yang membuat saya semakin jauh dengan dunia pengabdian masyarakat ini. Baksos yang pernah saya ikuti semasa ini pun hanya sekitar tiga kali. Saya yakin, fase klinik yang harus saya jalani ini adalah bekal bagi saya untuk bisa mengabdikan diri lebih baik lagi nantinya di tengah masyarakat. Tapi, saya tidak memungkiri bahwa saya rindu dengan kegiatan sosial itu. Saya ingin merasakan lagi perasaan itu. Kebahagiaan dan kepuasan hati saat melihat orang yang kita rawat tersenyum dengan sangat puas. 

Saya rindu kegiatan itu dan semoga saya bisa kembali melaksanakannya dengan kemampuan yang lebih baik lagi nanti, Aamiin.. 




Kamis, 29 November 2012

Jaga kesehatan gigi dan mulut yuk!

DHE ( Dental Health Education) adalah pendidikan mengenai kesehatan gigi dan mulut yang selalu diberikan dokter gigi kepada pasiennya di  awal perawatan. Hal ini dilakukan karena menurut seorang ahli kesehatan masyarakat, perilaku pasien sangat mempengaruhi tingkat kesehatannya dan pengetahuan pasien cukup mempengaruhi perilakunya. Setelah beberapa kali melayani konsultasi gratis mengenai kesehatan gigi mulut dengan teman-teman non fkg, rasa-rasanya kurang afdhol, kalau saya, sebagai mahasiswa koas fkg yang sudah beberapa kali  memberikan DHE kepada pasien di klinik kampus , tidak membahas mengenai hal-hal dasar kesehatan gigi dan mulut dalam blog ini. Yang akan saya bahas kali ini lebih ke arah pencegahan karena mencegah lebih baik daripada mengobati. 

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai kesehatan gigi mulut, saya hanya ingin mengingatkan bahwa gigi adalah bagian dari dalam tubuh kita yang mengandung lebih banyak material anorganik dibandingkan dengan material organik. Oleh karena itu, ketika struktur gigi mengalami kerusakan,  maka gigi tidak akan bisa  memperbaiki kerusakan struktur tersebut hingga kembali seperti semula, berbeda dengan kulit manusia yang jika terluka bisa sembuh dengan sendirinya. Gigi yang sehat adalah anugrah dari Allah , maka seharusnya, kita bisa mensyukurinya dengan cara menjaga kesehatan gigi tersebut. Mau sebaik apapun gigi tiruan yang sudah ditemukan oleh para ilmuwan saat ini, gigi asli yang merupakan ciptaan Allah tetap tidak ada tandingannya. 

Ada beberapa poin yang harus diingat dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut :

1. Setelah digunakan untuk mengunyah makanan selama seharian, maka gigi kita harus dibersihkan dari sisa-sisa makanan yang nantinya bisa dimanfaatkan kuman untuk membuat lubang di gigi. Caranya adalah dengan menyikat gigi di waktu yang  benar dengan cara yang benar. Waktu yang tepat untuk menyikat gigi adalah setelah makan pagi dan sebelum tidur. Lebih baik lagi, jika setelah makan, diberikan jeda waktu sekitar 30 menit sebelum akhirnya menyikat gigi. Lalu, cara menyikat gigi yang benar adalah dengan gerakan ke atas bawah untuk gigi depan dan gerakan memutar untuk gigi bagian belakang. Sikat seluruh permukaan menggunakan sikat gigi dengan bulu sikat yang halus dan sudah diberi pasta gigi berfluoride. Jangan lupa untuk menyikat permukaan gigi bagian dalam yang dekat dengan lidah dan langit-langit. Harus diingat : Jangan menyikat dengan gerakan ke kanan kiri karena ini adalah cara yang salah. 

Adik2 di SD yang bersemangat menyikat gigi..

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kalau tidak karena memberatkan umatku, tentu aku memerintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak sholat.”

Untuk kondisi gigi yang rapat dan berjejal, ada baiknya menggunakan dental floss untuk membantu membersihkan sisa makanan yang berada di sela-sela gigi dan sulit dibersihkan dengan sikat gigi. 


2. Jagalah kualitas air liur kita dengan minum air putih yang cukup setiap harinya (2,5 liter /  hari). Kualitas dan kuantitas air liur cukup berperan dalam menjaga kebersihan mulut. Selain dengan meminum air putih yang cukup, mengunyah permen karet yang mengandung xylitol juga dapat membantu menjaga kualitas dan kuantitas air liur.

3. Perhatikan makanan yang kita konsumsi. Kita boleh memakan makanan manis, tapi perhatikan frekuensinya. Jika setiap hari memakan makanan yang manis, ada baiknya diberikan jeda waktu selama 2 jam antara konsumsi makanan manis tersebut dan mulai mencari bahan pengganti gula untuk mengurangi konsumsi gula. Contoh konsumsi rutin makanan manis adalah minum teh manis setiap hari, minum minuman soda setiap hari, dll. Selain makanan manis, kita juga harus memperhatikan makanan asam karena asam juga dapat mengakibatkan rusaknya struktur gigi. Makanan yang sangat disarankan untuk membantu menjaga kesehatan gigi mulut kita adalah sayur mayur dan buah-buahan. 

4. Kalau kita sudah menjaga kesehatan gigi dan mulut kita dengan baik, jangan lupa untuk tetap memeriksakan kondisi gigi kita ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali ( bukan promosi lho), minimal untuk membersihkan karang gigi karena karang gigi tidak dapat dibersihkan dengan sikat gigi saja, melainkan  harus menggunakan alat yang ada di dokter gigi. Karang gigi ini bisa tumbuh di dalam mulut kita karena air liur kita mengandung kalsium dan dapat membentuk karang gigi. Kalau karang gigi ini dibiarkan terus tumbuh hingga banyak, maka selain berdampak buruk pada penampilan, karang gigi juga bisa menyebabkan bau mulut dan merusak jaringan gusi dan sekitarnya sehingga terjadilah yang namanya radang gusi ( gingivitis ) dengan gusi yang bengkak dan kemerahan. Jadi, jangan lupa untuk ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali ya!! Jangan menunggu sampai ada rasa sakit , karena mencegah lebih baik dari mengobati kan?



Kondisi kesehatan gigi dan mulut sangat mempengaruhi keadaan nutrisi tubuh kita secara keseluruhan, kalau gigi ada yang sakit, makan pun jadi tak enak, beraktifitas pun terganggu. Kondisi gigi dan mulut juga akan menjadi salah satu bagian dari penampilan kita yang akan diperhatikan oleh lawan bicara kita. Jadi, ayo syukuri nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita berupa gigi yang sehat dan kuat dengan menjaganya dan merawatnya dengan baik. 

Bismillah,, jaga kesehatan gigi dan mulut yuk! 

Minggu, 11 November 2012

Rumah Kita

Beberapa hari yang lalu, tanpa disengaja saya melewati sebuah sekolah mengaji yang terletak di sebuah gang kecil tempat pasien saya tinggal. Saat itu saya sedang menjemput pasien saya yang masih kelas 1 SD untuk dibawa ke klinik. Awalnya, saya tidak terlalu memperhatikan sekolah mengaji itu, tapi ketika saya melewatinya untuk kedua kali, saya menjadi teringat dengan kegiatan belajar mengajar yang dulu pernah saya lakukan dengan teman-teman kampus di daerah pemukiman seperti ini. 

Namanya Rumah Kita. 


Saat itu, saya masih berada di tingkat awal kuliah dan menjadi pengurus BEM FKG di departemen pengabdian masyarakat  (pengmas). Ada tiga orang senior saya angkatan 2003 yang tiba-tiba mengajak saya dan teman-teman dari pengmas untuk rapat membicarakan sebuah konsep rumah belajar. Tiga senior saya itu memaparkan ide mereka mengenai adanya sebuah rumah belajar yang dibuat oleh BEM FKG untuk masyarakat sekitar Salemba, mereka adalah petinggi BEM sebelumnya yang belum sempat merealisasikan ide ini. Awalnya sasaran kami adalah anak-anak jalanan yang tidak sekolah, tapi ternyata menjangkau anak-anak jalanan di daerah Jakarta sangat sulit, karena mereka sudah lebih dikuasai oleh preman-preman yang sulit diajak berkomunikasi. Akhirnya, kami mencoba mencari anak-anak di sekitar Salemba yang tidak mampu untuk sekolah. Tapi, kenyataannya, disaat program BOS sudah berjalan di Jakarta, sangat sulit menemukan anak-anak yang masih tidak sekolah, kalaupun ada, meraka adalah anak-anak yang memang tidak mau untuk sekolah bukan karena tidak mampu untuk membayar biaya sekolah. Akhirnya, kami turunkan lagi sasarannya. Kami mencoba untuk menjadikan rumah belajar ini sebagai tempat les gratis untuk anak-anak SD di daerah Salemba. 

Kami bersembilan ( enam orang anggota pengmas BEM FKG UI 2008/2009 dengan tiga orang senior angkatan 2003 ) mulai mencari tempat yang bisa dijadikan sebagai rumah belajar ini. Kami mulai mencari dan menyusuri jalanan di sekitar pemukiman padat Salemba sampai akhirnya di Salemba Bluntas lah, rumah belajar ini bisa diwujudkan. Setelah berbicara dengan pengurus RT dan RW, kami mendapatkan ijin untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar setiap sore di balai warga Salemba Bluntas. Akhirnya, rumah belajar ini bisa segera direalisasikan. Kami juga mulai mempersiapkan segala sarana dan prasaran untuk rumah belajar ini. Kami mengadakan studi banding ke TIS ( Teknik Informal School ) yang dimiliki Fakultas Teknik UI untuk mempelajari sistem rumah belajar mereka, baik mengenai kurikulum maupun sistem belajar mengajarnya. Kami juga mulai menjaring mahasiswa yang ingin berpartisipasi menjadi pengajar di rumah belajar ini. 

Alhamdulillah, di bulan Desember 2008, rumah belajar yang kami namakan RUMAH KITA ini pun dibuka. Perwujudan rumah belajar ini memang melalui proses yang cukup lama. Konsep rumah belajar ini mulai dirintis saat saya masih menjadi staf departemen pengmas dan akhirnya baru bisa mulai berjalan saat saya sudah menjadi kepala departemen pengmas BEM FKG. Kegiatan belajar mengajar mulai berjalan dengan baik. Anak-anaknya cukup antusias dalam mengikuti kegaiatan belajar mengajar ini. Kami membantu anak-anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan mempersiapkan ujiannya. Di akhir semester, kami memanggil orangtua anak-anak untuk memberikan buku laporan dari rumah belajar ini. Karena kami adalah mahasiswa kedokteran gigi, maka terkadang kami juga menyisipkan materi penyuluhan mengenai kesehatan gigi dan mulut kepada anak-anak dan para orangtuanya. Namun sayangnya, sejak awal jumlah tenaga pengajar masih saja kurang. Dan ternyata, sampai detik ini, tahun 2012, setiap saya menanyakan kabar rumah kita kepada adik kelas, permasalahan pengajar ini masih saja ada. 

Saat ini, RUMAH KITA sudah berusia hampir 4 tahun. Saya sendiri, memang sudah tidak terjun langsung di dalamnya. Bahkan, sejak masuk klinik, saya sudah jarang sekali ikut mengajar disana. Terkadang, saya ingin sekali mengajar lagi dan bermain-main dengan anak-anak disana, tapi akhirnya yang bisa saya lakukan hanyalah memantau perkembangan dan keberlangsungan RUMAH KITA dari pengurus BEM saat ini. Semoga suatu saat nanti, saya bisa kembali lagi memberikan kontribusi nyata untuk rumah belajar ini dan semoga rumah belajar ini bisa terus hadir untuk masyarakat Salemba. Aamiin.. 


Kamis, 20 September 2012

HIV dan kedokteran gigi


Saat saya belum menjadi seorang mahasiswa kedokteran gigi, setiap mendengar kata HIV/AIDS, yang ada dalam pikiran saya adalah sebuah penyakit mematikan yang sangat menular dan biasanya diderita  para pecandu narkoba dan pelaku seks bebas. Memang menyedihkan pengetahuan yang saya miliki sebagai orang awam saat itu. Alhamdulillah, setelah menjadi seorang mahasiswa kedokteran gigi, saya memiliki kesempatan untuk mempelajari lebih banyak mengenai penyakit yang satu ini.

Setelah mempelajari teori mengenai penyakit virus ini di bagian penyakit mulut, saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan penderitanya saat saya bertugas di poli bedah mulut RSCM dan RSU Tangerang. Reaksi yang saya dapatkan dari teman-teman saya kurang lebih sama, yaitu kaget karena bisa bertemu dengan penderitanya secara langsung dan tidak berani sedikitpun untuk menangani pasien tersebut. Para dokter dan perawat yang sudah lebih sering bertemu dengan pasien ini memang bisa bersikap lebih biasa dan mereka pun sudah memahami prosedur yang harus dijalankan saat menangani pasien dengan penyakit ini, misalnya menggunakan alat yang sudah dipisahkan sendiri, menggunakan sarung tangan dan masker dua lapis serta menggunakan baju plastik pelindung dan kacamata saat akan melakukan pencabutan yang mungkin dapat terkena cipratan darah pasien. Saat itu, saya beranggapan bahwa penanganan pasien ini atau yang biasa disebut dengan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) harus dilakukan di rumah sakit dengan prosedur yang cukup rumit. Tapi ternyata saya memiliki pandangan yang salah.

Saya pernah mendapat cerita dari seorang teman bahwa ODHA sering mengeluhkan kesulitan mereka untuk mendapatkan perawatan di bidang kedokteran gigi karena mereka diminta untuk menyediakan alat sendiri. Selain itu, mereka juga sering merasa dibedakan oleh para praktisi kesehatan karena penyakit yang mereka derita. Saya sendiri pun masih kurang memahami hal ini dan akhirnya saya bertanya kepada seorang dosen di kampus saya yang memiliki perhatian dan pengetahuan lebih mengenai hal ini yaitu drg.Gus Permana, Ph.D, Sp.PM. Dari kuliah privat singkat yang saya dapatkan dari beliau, ada beberapa hal yang sangat penting untuk diketahui oleh calon dokter gigi seperti saya, yaitu:

1.  Untuk penanganan pasien HIV sebenarnya bisa dilakukan di klinik pribadi asalkan sang dokter memahami prinsip universal precaution dan kontrol infeksi yang sesuai dengan SOP. Universal precaution adalah prinsip yang menganggap semua pasien memiliki status penyakit yang sama sehingga penggunaan sarung tangan, masker, sterilisasi alat dan dental unit selalu dilakukan ke semua pasien tanpa terkecuali. Untuk penanganan di klinik pribadi, sebisa mungkin rekam medik pasien mengenai status HIV nya dapat diketahui, seperti hasil pemeriksaan darah lengkap mencakup jumlah leukosit, CD4, dsb. Hal ini dilakukan untuk mengetahui status penyakit pasien yang akan menentukan apakah tindakan invasif dapat dilakukan di klinik, atau harus dirujuk ke RS. Misalnya, ODHA dengan jumlah leukosit yang sangat rendah dan sudah berada di tahap AIDS sebaiknya dirawat di Rumah Sakit.

2. Terkait dengan alat-alat yang digunakan untuk perawatan gigi dan mulut , sebenarnya selama alat tersebut sudah disterilisasi dengan prosedur yang sesuai, maka tidak perlu ada pembedaan alat untuk pasien dengan HIV, terutama alat-alat bedah yang tidak tersedia dalam bentuk disposable. Namun, alat-alat pemeriksaan yang tersedia dalam bentuk disposable tetap disarankan untuk digunakan jika kesulitan dalam proses sterilisasi. Dalam penggunaan alat-alat ini, proses sterilisasi harus benar-benar diperhatikan dengan baik. Misalnya, penggunaan autoklaf dan larutan sterilisator yang sesuai.

3. Penularan HIV hanya bisa terjadi melalui cairan tubuh ( darah, sperma, ASI, dll), bahkan pada kondisi awal, saat aktivitas virus berada di titik bawah, kemungkinan terjadinya penularan cukup rendah. Menurut drg.Gus Permana, Ph.D, Sp.PM , penularan hepatitis dirasa lebih mudah untuk terjadi dibandingkan penularan HIV. Oleh karena itu, kekhawatiran yang dirasakan para praktisi kesehatan terhadap pasien dengan HIV dianggap terlalu berlebihan.

Berdasarkan pemaparan yang telah disampaikan oleh drg.Gus Permana, Ph.D, Sp.PM, dapat disimpulkan bahwa perlakuan berbeda yang dirasakan oleh ODHA dari para praktisi kesehatan dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka mengenai cara penanganan pasien HIV, oleh karena itu sebagai seorang calon dokter gigi, pengetahuan mengenai kontrol infeksi dan status penyakit sistemik pasien  serta cara penanganannya harus menjadi perhatian utama.

Maksimalkan potensi kita sebagai calon praktisi kesehatan sehingga kelak kita dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada seluruh masyarakat tanpa ada pengecualian. Semangat teman sejawat!! 

Sabtu, 04 Agustus 2012

Kekuatan Doa

Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah acara di televisi berisi ceramah singkat dari ustadz favorit saya, Yusuf Mansyur, yang membahas mengenai kekuatan doa. Ust.Yusuf Mansyur menceritakan banyak kisah yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh doa dalam kehidupan kita. Bahkan, ketika kita sedang terjebak hujan sehingga tidak bisa keluar dari sebuah gedung, berdoalah kepada Allah, meminta kepadaNya untuk sejenak menghentikan hujan. Allah Maha Berkuasa, maka menghentikan hujan adalah sebuah hal yang sangat mudah bagiNya. Jika kita meyakini Kekuasaan Allah, mengapa kita jarang sekali meminta kepadaNya?

Sesaat setelah menonton acara tersebut saya menjadi tersadar, betapa sedikitnya doa yang saya panjatkan kepadaNya padahal keinginan yang ada di dalam hati saya begitu menggunung. Betapa ruginya saya, melewatkan waktu-waktu yang dianugerahkan olehNya tanpa berdoa kepadaNya. Akhirnya, saya bertekad untuk memperbanyak doa saya kepadaNya. Besok adalah hari kerja saya di bagian klinik anak. Di klinik anak ini, cobaan demi cobaan sudah pernah kami lewati sebagai koas. Mulai dari kondisi anak yang terkadang 'ogah-ogahan' untuk dirawat, dosen-dosen yang cukup perfeksionis dalam meng-acc hasil pekerjaan kami dan kondisi alat bahan yang kurang memadai. Perawatan yang sudah direncanakan di hari sebelumnya terkadang tidak bisa terpenuhi seluruhnya, bisa jadi hanya 50% saja atau bahkan bisa gagal sama sekali jika tiba-tiba sang anak tidak mau datang ke klinik. Untuk mewujudkan tekad saya, maka saya berdoa kepada Sang Maha Kuasa agar besok, seluruh rencana perawatan saya dapat terlaksana.

Besok paginya, saya terpaksa menggunakan taksi ke kampus karena tidak ada yang bisa mengantar. Mengingat kondisi jalanan Jakarta yang selalu macet, saya tidak berani mengambil resiko untuk pergi ke kampus menggunakan busway. Di dalam taksi, pak supir menanyakan kepada saya mengenai rute yang saya pilih untuk ke kampus. Biasanya saya lewat Tanah Abang untuk menghindari kemacetan di Sudirman. Walaupun di Tanah Abang juga sedikit padat, namun setidaknya tidak sepadat jalanan Sudirman. Alhamdulillah, pagi itu, jalanan Jakarta bisa dikatakan sangat lancar, pak supir taksi juga berpikiran hal yang sama dengan saya. 
"Alhamdulillah lancar ya mbak, doa saya dikabulkan Allah ini"
"iya pak, alhamdulillah"
"beneran lho mba, saya beneran berdoa tadi pagi. Sebelum ke Jakarta ini, saya cuma muter-muter di Tangerang-Bandara aja mbak, cuma dapet sedikit setorannya, trus saya berdoa, semoga setelah ini saya dapet penumpang ke jakarta, tapi jalanannya yang lancar, abis itu saya bisa pulang ke rumah. Eh, saya beneran ke Jakarta dan jalanannya lancar ini mbak. Jarang-jarang Jakarta bisa lancar begini."
Subhanallah, baru saja kemarin malam, saya mendengar kisah mengenai kekuatan doa dari acara televisi dan sekarang saya bisa mendengarkannya langsung dari orang yang bersangkutan. 

Akhirnya, saya tiba di kampus pukul 8 dan berencana untuk mulai bekerja di pukul 8.30-11. Kenyataannya, hari itu, saya bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 1 siang, mengerjakan dua pasien anak dengan berbagai hambatan, mulai dari anak yang datang terlambat, diskusi mendadak dengan dosen dan alat kedokteran gigi ( mikromotor ) saya yang dipinjam oleh teman dan sedikit menghambat pekerjaan saya. Tapi, dari semua hambatan yang saya hadapi di hari itu, ada sebuah hal penting yang membuat jerih payah saya terbayar dengan lunas. Alhamdulillah, semua target rencana perawatan saya di hari itu terlaksana.

Sebenarnya, hambatan-hambatan yang saya hadapi di hari itu hampir membuat saya memulangkan pasien kedua saya karena tidak memungkinkan untuk saya rawat (karena masalah waktu), tapi saya mencoba untuk tetap mengerjakannya. Dengan pertolongan dari Allah melalui teman dan situasi klinik yang cukup membantu saya, akhirnya saya berhasil mengerjakan dua pasien di hari itu dengan target perawatan yang berhasil saya capai. Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Allah. Hari ini, walaupun dihadapi dengan beberapa hambatan, akhirnya rencana perawatan yang sudah saya susun sebelumnya bisa terlaksana seluruhnya. 

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Mulai dari acara televisi mengenai kekuatan doa yang saya tonton tadi malam, pengalaman supir taksi tadi pagi,  sampai keberhasilan saya mencapai target perawatan di klinik siang ini, semuanya benar-benar menunjukkan kepada saya bahwa doa sangat berperan dalam kehidupan kita. Inilah kekuatan doa, inilah Kekuasaan Allah. 

Rabu, 25 Juli 2012

Sulawesi !!

Dua tahun yang lalu, saya berhasil menginjakkan kaki saya di tanah toraja, Sulawesi. Walaupun hanya transit di bandara Hasanuddin Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta dari Ternate, saya cukup senang sudah pernah menghirup udara segar di pulau berbentuk huruf K ini. Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu, saya lagi-lagi dianugerahi kesempatan untuk berkunjung bahkan menginap selama 7 hari di pulaunya Jong Celebes ini dalam kegiatan yang sama yaitu Kerja Sosial. Bagi saya, kersos tahun ini merupakan kersos yang ketiga setelah kersos 2008 di Banjarmasin dan kersos 2010 di Maluku Utara.


Keindahan alam Sulawesi benar-benar membuat saya dan teman-teman tidak merasa rugi  meninggalkan kegiatan klinik kami selama seminggu demi kegiatan sosial ini. Sesampainya di kota Palu, kami langsung memanfaatkan kesempatan yang ada untuk berkeliling kota Palu, menikmati pisang goreng dengan saus khasnya di pinggir pantai Talise , durian parigi yang cukup membuat kami ketagihan dan megahnya jembatan Palu yang katanya adalah jembatan lengkung ketiga di dunia. 

Jembatan Palu IV

Wilayah yang dijadikan sasaran dari kersos tahun ini adalah Sigi, Parigi Moutong, Donggala dan Poso. Dari keempat wilayah tersebut, yang sudah pernah saya dengar namanya sebelum kegiatan ini hanyalah Poso karena konflik yang pernah terjadi disana. Dan ternyata, saya ditempatkan di Poso bersama 3 orang teman seangkatan saya. Saya sempat mengkhawatirkan masalah keamanan disana jika mengingat kejadian konflik beberapa tahun yang lalu, tapi panitia sudah menyatakan bahwa saat ini, Poso sudah menjadi wilayah yang aman. 

Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih 6 jam, akhirnya saya dan teman-teman tiba di Poso. Begitu sampai di kecamatan, kami disambut dengan sangat baik oleh warga setempat. Sepertinya, Poso memang sudah menjadi wilayah yang aman. Desa yang menjadi pusat kegiatan kami adalah perkampungan kaum kristiani. Selama 4 hari disini, saya tidak bisa mendengar adzan sama sekali, karena tidak ada masjid. Tapi, walaupun begitu, masyarakat disini sangat menghargai kami yang mayoritas beragama islam. Kami benar- benar merasa dijamu, warga disini tidak ragu untuk memberikan bantuan kepada kami, sungguh berbeda dengan pembicaraan orang-orang diluar sana mengenai Poso. Jalan raya di desa yang saya tinggali ini hanya satu, yaitu jalan trans sulawesi yang selalu dilewati oleh truk-truk besar yang mengangkut muatannya dari ujung Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Utara. Cuaca di desa ini pun tidak terlalu panas karena dekat dengan pegunungan. Sepertinya, kegiatan selama 4 hari di desa ini akan menjadi sangat menyenangkan.


Jalan Trans Sulawesi

Hari kedua di Poso, sebelum melaksanakan pengobatan, kami diundang oleh bupati untuk mengikuti apel rutin di kabupaten bersama seluruh perangkat pemerintahan. Dengan menggunakan jaket kuning kebanggaan, kami pun ikut apel di lapangan kantor kabupaten Poso. Buatku, apel pagi itu menjadi sebuah kenangan yang cukup lucu untuk dikenang, karena hal ini baru pertama kali terjadi selama 3 kali saya mengikuti kersos, apalagi dengan warna kuning mencolok dari jaket alamamater yang kami gunakan, kami berhasil menjadi pusat perhatian di apel pagi hari itu. Setelah apel pagi selesai, kami mulai melaksanakan kegiatan utama kami, yaitu pengobatan dan penyuluhan. Sorenya, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk menikmati keindahan Danau Poso. Kata orang sini, belum ke Poso kalau belum melihat Danau Poso. Apa yang hebat dari danau ini? Ternyata, danau ini adalah danau terluas di Sulawesi dengan panjang 32 km dan lebar 16 km. Bahkan untuk melihat ujung dari danau ini, kami hanya bisa melihat gambaran pegunungan yang menjadi batas danau nun jauh disana. Sebenarnya, di dekat danau ini, ada wisata air terjun yang bertingkat-tingkat seperti niagara falls, namanya air terjun saloupa tapi karena lokasinya yang sangat jauh, kami tidak berhasil pergi kesana.

Danau Poso

Hari ketiga, kami masih ingin menikmati sore terakhir kami di Poso, karena besok siang, kami akan pulang kembali ke Palu setelah melakukan kegiatan pengobatan di pagi harinya. Akhirnya, kami pergi ke sebuah pantai yang ada di Poso ini,  walaupun tidak terlalu besar, tapi kami cukup terhibur dengan hamparan pasir yang cukup indah dan menyegarkan. Refreshing di pantai sore itu sedikit melepas kelelahan kami setelah mengerjakan 100an pasien hari itu. Dan sebagai pelengkap, kami juga mencari makanan ringan untuk menutup jalan-jalan sore hari itu,  Pisang goreng khas Sulawesi.



Pantai di Poso

Setelah selesai melaksanakan kegiatan di masing-masing wilayah, sekuruh rombongan kembalu berkumpul di Palu untum memulai penjelajahan kota Palu. Kami berkunjung ke museum SulTeng, Sou Raja ( rumah raja ) dan terakhir, kami bermain di pantai yang sangat indah di Donggala, yaitu pantai Tanjung Karang. Jalan-jalan di kota Palu ini memang sukses menjadi penghilang penat dan stres kami, para koas tingkat akhir, sweet escape !!

Pantai Tanjung Karang

Jika di tahun 2008 saya mengikuti kersos sebagai seorang peserta dan di tahun 2010 sebagai panitia advance, di tahun 2012 ini, saya memiliki peran yang lain. Tahun ini, saya berangkat dengan 130 orang rombongan Kersos FKG UI 2012 sebagai seorang mahasiswa klinik tingkat akhir yang bertugas menjadi operator. Dalam sebuah bakti sosial, menurut saya, tugas sebagai operator merupakan tugas yang paling utama karena langsung berhubungan dengan pasien. Hampir di setiap bakti sosial, kami, mahasiswa klinik, akan merasa 'sudah menjadi dokter gigi', karena kami dipanggil 'dok' dan kami harus bisa merawat pasien dari semua kalangan dengan peralatan dan bahan yang seadanya dengan kasus yang bermacam-macam. Begitupu dengan kerja sosial tahun ini. Pengalaman yang saya dapatkan selama kersos ini benar-benar merupakan pengalaman yang tidak ternilai. Saya harus menangani kasus pasien yang tidak pernah saya temukan di klinik kampus dan saya harus bisa saya menyelesaikan perawatannya sendiri. Disini jugalah, saya akhirnya menggunakan alat-alat bedah mulut yang tadinya tidak pernah saya gunakan selama di klinik kampus. It's such a great experience!!

Malam terakhir di Palu, panitia mengadakan sebuah acara penutupan yang dihadiri oleh seluruh rombongan kersos dan perangkat pemerintahan provinsi Sulawesi Tengah. Malam penutupan ini diisi oleh sambutan-sambutan dan juga hiburan yang salah satunya dipersembahkan oleh adik-adik angkatan 2010 dan 2011 sebagai peserta preklinik. Kepanitiaan kersos tahun ini dipegang oleh angkatan 2008 dan 2009, walaupun saya dan 3 orang teman dari angkatan 2007 juga masih menjadi bagian dari kepanitiaan ini sebagai steering committe. Buat saya, malam penutupan kersos 2012 telah menjadi malam yang cukup mengharukan. Saya mulai memutar kembali semua kenangan tentang kersos yang sudah pernah saya jalani sejak tahun 2008 dan saya akhirnya menyadari bahwa insya Allah ini adalah kersos terakhir saya sebagai mahasiswa. Saat saya melihat jaket kuning yang digunakan oleh seluruh panitia di malam ini, saya juga menyadari bahwa ini adalah kepanitiaan terakhir saya sebagai seorang mahasiswa. Ini adalah peran terakhir saya sebagai mahasiswa kepada masyarakat. Mungkin terkesan berlebihan, tapi emosi saya memuncak ketika melihat persembahan yang diberikan oleh adik-adik 2010 dan 2011 di atas panggung. Seketika itu juga, saya langsung mengingat masa-masa di saat saya dan rekan-rekan lainnya menyambut mereka di kampus dan memberikan pembinaan kepada mereka untuk bisa melanjutkan peran kemahasiswaan. Ya, lagi-lagi, saya terharu karena menyadari bahwa mereka, adik-adik yang dulu datang ke kampus dengan seragam hitam putih sudah akan menggantikan posisi rekan-rekan 2009 dalam menjalani organisasi kemahasiswaan. Saat persembahan mereka berakhir, saya benar-benar merasa sangat terharu. Kersos terakhir ini telah berhasil menutup kenangan kemahasiswaan saya dengan cukup baik. Semoga, segala yang telah saya dan angkatan saya berikan kepada dunia kemahasiswaan FKG UI termasuk kersos 2012 ini bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Terima kasih Palu.
Terima kasih panitia kersos 2012 ( teman-teman 2008, 2009).
Terima kasih teman-teman 2010, 2011.
Terima kasih...











Sabtu, 30 Juni 2012

Biaya pendidikan yang selalu menjadi masalah

Biaya pendidikan memang selalu menjadi masalah di Indonesia. Tapi, alhamdulillah, perlahan-lahan, pemerintah mulai membuka matanya dan menyadari bahwa pendidikan merupakan hal yang penting dan mendasar dari pembangunan bangsa. Yang saya tahu, BOS ( Biaya Operasional Sekolah ) sudah mulai diberlakukan di Indonesia sejak tahun Juli 2005. Bahkan, di tahun 2008, saya dan teman-teman kampus mengalami kesulitan untuk menemukan anak-anak yang putus sekolah karena kekurangan biaya di daerah Jakarta Pusat karena biaya sekolah dasar sudah ditanggung oleh BOS sepenuhnya. Jika ada anak yang putus sekolah, biasanya bukan dikarenakan tidak adanya biaya, tapi kondisi lainnya. 

Berbeda dengan biaya pendidikan sekolah dasar, biaya pendidikan perguruan tinggi masih saja menjadi masalah hingga saat ini. Bahkan, perguruan tinggi negeri pun masih bisa dengan leluasa memungut biaya yang tinggi dari para mahasiswa, seperti yang terjadi di kampus saya yang nyatanya adalah sebuah universitas negeri. 

Beberapa tahun terakhir, kenaikan biaya kuliah telah terjadi di kampus saya. Saya masuk kuliah dengan uang pangkal sebesar 25 juta dan bayaran per semester sekitar 1,5 juta. Besar biaya kuliah ini bisa saja berkurang  tergantung dengan kemampuan mahasiswanya, yang untuk mewujudkan pengurangan biaya ini, diperlukan beberapa surat dan persayaratan yang harus dilengkapi oleh mahasiswa yang bersangkutan. Setahun kemudian, adik kelas saya , angkatan 2008 merasakan kenaikan biaya per semester menjadi 7,5 juta. Kenaikan sebesar 5 kali lipat dalam waktu satu tahun. Sistem yang sama dengan tahun sebelumnya masih berlaku. Angka 7,5 juta ini bisa disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa dengan persyaratan yang hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya. 

Yang pertama kali menjadi masalah besar di kampus saya adalah adanya uang pangkal kedua yang harus dibayarkan mahasiswa ketika ingin melanjutkan ke pendidikan profesi. Alasan yang diutarakan oleh pihak kampus adalah kebutuhan biaya untuk pembangunan ini dan itu yang nantinya pun akan menunjang pelaksanaan pendidikan profesi yang akan kami jalani. Hal ini baru pertama kali terjadi di angkatan saya. Dulu, di tahun 2007, kami hanya diberitahukan bahwa biaya untuk mengikuti pendidikan pra sarjana dan profesi sampai lulus adalah uang pangkal yang sebesar 25 juta dan bayaran per semester sebesar 1,5 juta selama kurang lebih lima tahun. Jika dijumlahkan semua, maka biaya yang harus kami keluarkan untuk lulus dengan gelar profesi adalah sebesar 40 juta ( jika membayar penuh). Tapi, sekitar satu minggu sebelum kami masuk ke dalam pendidikan profesi, kami diberitahukan mengenai adanya uang pangkal profesi sebesar 10 juta dan kenaikan biaya per semester menjadi 2 juta. Hal ini mengakibatkan angka 40 juta yang telah diperhitungkan sebelumnya akan mengalami kenaikan menjadi 51,5 juta. Selain itu, berbeda dengan biaya pra sarjana, untuk biaya profesi tidak ada lagi keringanan berupa penyesuaian biaya dengan kemampuan mahasiswa. Jadi, semua mahasiswa wajib membayar penuh. 

Saat itu, angkatan saya merasa menjadi marah, bingung dan kacau. Kami berusaha untuk melobi pihak kampus mengenai keputusan yang sangat mendadak ini. Kami seperti disandera oleh pihak kampus yang meminta uang tebusan kepada orang tua kami sebesar 10 juta dalam waktu kurang dari satu minggu, kalau tidak, maka kami terancam untuk tidak bisa mengikuti pendidikan profesi dan berakhir sebagai lulusan sarjana saja. Akhirnya, setelah perdebatan panjang dengan pihak kampus, termasuk menghadapi dekan secara face to face, pihak kampus memutuskan untuk memberi keringanan kepada kami berupa cicilan selama tiga bulan. Sebenarnya, keputusan itu sama sekali tidak meringankan kami. Kami masuk ke kampus ini untuk lulus sampai tingkat profesi dan keputusan baru ini sangat aneh dan tidak transparan. Dengan berat hati, demi mendapatkan gelar keprofesian kami, akhirnya dengan susah payah, kami berusaha keras untuk membayar uang pangkal kedua tersebut. 

Berlanjut ke angkatan 2008, peraturan mengenai uang pangkal kedua ini kembali berlaku. Tapi, bedanya, biaya per semester untuk angkatan ini 7,5 juta , sama dengan biaya pra sarjana. Saat itu, adik-adik kelas kami sudah lebih dahulu mengetahui adanya peraturan ini semenjak peraturan ini pertama kali dikeluarkan, yaitu setahun sebelumnya, jadi sepertinya mereka pun tidak terlalu mempermasalahkan hal ini ke pihak kampus. Alasannya tetap sama, untuk biaya pembangunan.

Dan sekarang, masalah baru muncul. Sebelum angkatan 2009 memasuki masa pendidikan profesinya, tersiar berita bahwa uang pangkal profesi akan mengalami kenaikan lagi menjadi 15 juta. Kali ini, mahasiswa angkatan 2009 pun tidak bisa tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan untuk bisa menolak keputusan ini. Melobi pihak kampus, meminta bantuan dari teman-teman universitas dan juga cara-cara lainnya. Lagi-lagi, alasannya adalah untuk biaya pembangunan dan SUC ( student unit cost ) yang tinggi menurut pihak kampus. SUC yang dimaksud adalah biaya yang dibutuhkan setiap mahasiswa untuk menjalani pendidikan di kampus kami termasuk bahan-bahan dan alat-alat yang kami gunakan selama masa pendidikan pra sarjana dan profesi. Tapi, SUC ini tidak mengalami perubahan sejak beberapa tahun sebelumnya, bahkan sebelum uang pangkal profesi ini ada, SUC di kampus kami memang sudah tinggi. Segalanya terlihat aneh dan tidak transparan. Saat ini, masih ada waktu sekitar 6 bulan lagi sampai mahasiswa 2009 memasuki masa pendidikan profesinya. Mereka masih terus berusaha untuk mengatasi permasalahan yang dianggap janggal ini, bahkan mereka meminta bantuan dari rekan-rekan mahasiswa satu universitas untuk menyetujui petisi mengenai penolakan biaya profesi ini. ( bisa dilihat di www.uigue.com ).

Lagi-lagi, biaya pendidikan masih menjadi masalah bagi bangsa ini. Bagaimana bisa pembangunan di Indonesia berjalan dengan baik kalau pendidikannya saja masih terus diganggu oleh permasalahan biaya? Bagaimana bisa jumlah tenaga kesehatan di Indonesia diperbanyak, jika untuk menjalani pendidikan kesehatannya saja, mahasiswa masih dibebankan biaya yang sangat tinggi? Bukankah perguruan tinggi berada di bawah struktur pemerintah? Lalu, mengapa harus mahasiswa yang menjadi sumber dananya? Apalagi untuk alasan biaya pembangunan, apakah hal ini bisa dibenarkan?

Semoga pemerintah bisa memberikan perhatian lebih kepada nasib perguruan tinggi negeri yang masih membutuhkan banyak biaya untuk pembangunan fisik maupun non fisik , agar bukan mahasiswa lagi yang menjadi korbannya. Aamiin.. 
*tetap semangat untuk rekan-rekan yang masih berjuang! 


Kamis, 31 Mei 2012

So, what's the plan?

Sebagai seorang mahasiswa kedokteran gigi, sudah pasti, saya dan juga teman-teman koas kedokteran umum akan mengalami sindrom 'masih koas' di antara teman-teman se angkatan saat SMA dulu yang berkuliah di fakultas non kedokteran. Teman-teman itu sudah lulus dari status mahasiswanya, sudah bisa mencari uang sendiri dengan bekerja atau bahkan sudah bisa menyusun rencana untuk mengambil S2. Sedangkan saya yang berada di tahap akhir masa per-koas-an harus berpikir "lebih serius" lagi mengenai rencana hidup ke depan.

Rencana mengenai kehidupan pasca klinik memang sudah pernah mampir di benak saya. Ingin praktek di klinik pribadi atau di Rumah Sakit, ingin PTT, ingin mengambil spesialis, dll. Tapi, sepertinya saat ini , saya harus  meletakkan kembali rencana-rencana itu, karena semakin dekat dengan deadline kelulusan, saya menjadi semakin berhitung mengenai waktu kelulusan saya. Yah, beginilah balada koas kedokteran gigi. Kelulusan bukanlah suatu hal yang bisa dipastikan oleh saya dan dosen semata. Ada faktor lain, seperti ke-kooperatif-an pasien dalam menjalani perawatan dan ketersediaan dental unit di kampus.

Terkadang semangat untuk menyelesaikan requirement tiba-tiba menurun bahkan hilang karena kejenuhan mulai memenuhi pikiran. Pergi ke kampus, tapi tidak mengerjakan pasien karena pasiennya tidak bisa datang tiba-tiba atau karena memang belum ada pasien yang sesuai dengan kasus yang dibutuhkan. Sedangkan, di kanan kiri saya, teman-teman lain bekerja dengan jadwal yang padat. Kondisi seperti inilah yang pernah membuat saya menjadi malas dan hampir menyerah. Alhamdulillah, saya masih memiliki teman-teman yang selalu saling menyemangati. Akhirnya, saya berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya dan mencoba untuk menjalaninya dengan terus berusaha. Insya Allah, kalau saya memang belum bisa lulus tepat waktu, pasti ada hikmahnya.Saya masih ingin membuat orangtua saya tersenyum bangga ketika melihat saya bisa lulus menjadi seorang dokter gigi dan sudah mampu mencari uang sendiri. Itu motivasi terbesar yang akhirnya berhasil membuat rasa malas dan menyerah itu perlahan menghilang. Walaupun rencana saya mungkin tidak bisa terealisasi dengan ideal, tapi setidaknya saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. ( baca : lulus dan wisuda di September 2012 ).

So, what's the plan?
It's not about PTT, or work in a hospital, or take a specialty, but 'Drg Aristyani Dwi Rahmani'  this year, aamiin...

Minggu, 13 Mei 2012

Tragedi Sukhoi dan identifikasi gigi


Tragedi Sukhoi yang mengejutkan seluruh warga Indonesia beberapa waktu lalu juga masih membuat saya kembali merinding ketika mengingat bahwa ayah saya sempat berada di dalam pesawaat naas itu di penerbangan uji coba yang pertama. Alhamdulillah, Allah masih memberikan berkah dan pertolongannya kepada keluarga saya.

Pesawat Sukhoi super jet 100 buatan Rusia yang terjatuh di tebing Gunung Salak memang telah memberikan luka yang sangat dalam bagi keluarga para korban yang sampai saat ini masih dalam proses evakuasi dan identifikasi. Berita di televisi yang membicarkan kerja tim DVI ( Disaster Victim Identification ) membuat saya teringat kepada beberapa dosen di kampus saya yang tergabung dalam tim elit tersebut. Tim DVI merupakan tim yang terdiri dari banyak elemen, diantaranya adalah polisi, dokter umum, dokter gigi dan elemen penting lainnya. DVI juga mengingatkan saya kepada sebuah karya tulis yang saya susun di tahun 2010 mengenai gigi sebagai alat Identifikasi korban bencana.

Untuk beberapa orang, data gigi mungkin bukanlah suatu hal yang penting. Tapi, dalam dunia forensik, gigi merupakan salah satu dari 3 data primer yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi korban selain dengan DNA dan sidik jari. Metode sidik jari akan sangat sulit dilakukan jika kondisi tangan korban sudah dalam keadaan yang hancur, misalnya pada korban ledakan bom, kecelakaan pesawat, atau tenggelam di lautan. Sedangkan, metode DNA membutuhkan waktu dan biaya yang lebih banyak. Oleh karena itu, metode identifikasi dengan gigi cukup sering digunakan oleh tim DVI  (termasuk dalam kasus tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi ) karena beberapa hal, yaitu :
1.   Gigi setiap orang berbeda. Dalam satu mulut, normalnya ada 32 gigi dengan masing-masing gigi memiliki   5 permukaan. Kondisi dan posisi dari ke 32 gigi tersebut pasti berbeda diantara satu orang dengan orang lainnya, baik itu sudah pernah ada tambalan, atau  sudah hilang. Seorang peneliti menyatakan bahwa kemungkinan kesamaan bentuk gigi antar individu adalah 1 berbanding 2 milyar
2.    Gigi sangat kuat. Gigi melekat erat pada tulang rahang, tahan terhadap proses pembusukan, tahan panas hingga 900° C dan tahan asam. 
3.       Gigi dapat memberikan informasi mengenai jenis kelamin, ras, usia dan bahkan bentuk wajah korban.

Kehebatan gigi ini sempat membuat saya tertarik pada dunia forensik sekaligus bersyukur menjadi mahasiswa kedokteran gigi.  Mungkin, suatu saat nanti, jika memang diijinkan, saya ingin mempelajari ilmu forensik lebih dalam lagi.

Semoga proses identifikasi korban Sukhoi dapat berjalan dengan lancar dan seluruh keluarga korban dapat diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah. Semoga kejadian ini memberikan banyak pelajaran bagi kita semua. Aamiin...