Tampilkan postingan dengan label insan cendekia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label insan cendekia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2016

Dormi(s)tory. Cerita Kita di Jalan Cendekia

Assalamualaykum, selamat berjumpa lagi bloggers! Tidak terasa ternyata saya sudah meninggalkan blog ini cukup lama. Yah, mengurus anak memang cukup menyita waktu saya selama 1 tahun terakhir. Alhamdulillah, kini jagoan kecil saya udah menginjak usia 19 bulan, sudah semakin besar, semakin sholeh dan semakin pintar, aamiin. 

Sebenarnya saya sudah lama ingin sekali kembali menulis. Namun ternyata mendapatkan ide untuk menulis itu cukup sulit terlebih jika saat ini kehidupan saya hanya berkisar antara mengurus suami dan anak di rumah. Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja saya membaca di halaman Facebook bahwa alumni sekolah saya (MAN Insan Cendekia) sudah membentuk sebuah komunitas blogger dan berencana untuk menerbitkan sebuah buku bersama. Wah, sepertinya ini merupakan sebuah kesempatan agar saya bisa kembali aktif di dunia menulis ini. 

Alhamdulillah , salah satu teman angkatan saya menjadi contact person di komunitas tersebut. Tanpa ragu, saya pun langsung menyatakan ketertarikan saya untuk ikut bergabung di komunitas itu. Awalnya saya kira saya harus mengirimkan karya saya kepada komunitas itu untuk nantinya diseleksi apakah layak atau tidak untuk dimasukkan ke dalam buku yang akan mereka cetak. Namun, ternyata saya langsung dimasukkan ke dalam grup whatsapp komunitas blogger IAIC (Ikatan Alumni Insan Cendekia) yang saat itu sedang sibuk membicarakan proyek pertama mereka. 

Seru sekali rasanya bisa bergabung di dalam satu grup yang terdiri dari sekitar 19 angkatan. Selain membicarakan topik tulisan, kadang grup ini juga menjadi ajang curhat teman-teman blogger IAIC mengenai seluruh seluk beluk pembuatan buku ini. Selain itu, grup ini juga menjadi sarana untuk berbagi banyak hal. Mulai dari ilmu parenting, teknologi dan lainnya. Alhamdulillah, walaupun kami tidak bertatap muka, namun rasa kekeluargaan sesama alumni IC pun tetap terasa. 

Kini, buku dengan judul Dormi(s)tory : Cerita Kita di Jalan Cendekia, sudah selesai dicetak dan mulai dibagikan kepada guru-guru kami tersayang. Ketika saya kembali membaca satu persatu tulisan senior maupun junior saya di buku tersebut, tiba-tiba saya merasa sedang kembali ke masa 11 tahun yang lalu, saat saya masih menjadi siswa di sekolah itu. Ya, saya memang selalu merindukan masa-masa itu. Semua memori benar-benar seperti terputar kembali. 

Alhamdulillah, respon dari para guru juga testimonial dari para petinggi sekaligus orangtua alumni IC membuat kami merasa sangat terharu. Kami tidak menyangka bahwa tulisan yang kami kumpulkan ini bisa memberikan kesan dan kenangan yang cukup baik. Respon baik inilah yang membuat kami menjadi lebih semangat untuk menyelesaikan proyek kedua kami. Selain dibagikan kepada guru, buku ini juga dijual kepada adik-adik calon siswa/siswi IC saat proses penerimaan siswa baru beberapa waktu yang lalu dan kepada para alumni ( tentunya ) juga siapapun yang ingin mengetahui kehidupan kami di sekolah tercinta. 

Bagi yang ingin memesan, silakan buka http://bit.ly/PesanDormistory2. 

Selamat Membaca!!

*very late post. Sorry :) 

Senin, 29 Agustus 2011

Selamat jalan, Pak!

26 Juni 2011, itulah hari terakhir aku bertemu dengannya. Bersama beberapa teman aku kembali mengunjunginya di daerah Senen. Saat itu, Bapak sudah tidak lagi tidur di atas kasur di atas lantai, tapi seorang senior membantu Bapak dengan memberikan tempat tidur rumah sakit. Saat itu, Bapak terlihat lebih segar dari sebelumnya. Matanya pun tidak lagi terpejam, walaupun terkadang tatapan matanya masih terlihat kosong. Tapi, senyum Bapak belum kembali. Kami terus mengajak Bapak mengobrol, bercerita tentang segalanya. Ditemani Ibu Yuli, kami menikmati perbincangan hangat di siang itu. Alhamdulillah, di hari itu, kami kembali mendengarkan suara Bapak. Bapak menjawab "ya" dan "tidak" atas pertanyaan yang kami tanyakan. Tidak kusangka, itu adalah kata-kata terakhir yang kudengar dari seorang pendidik yang sangat kami sayangi itu.

Hari ini, 29 Ramadhan 1432 H, 29 Agustus 2011. Aku dikejutkan dengan berita duka dari temanku. Ya, Bapak sudah pulang. Kembali ke Allah, mendahului kami. Rasa sedih ini tidak bisa lagi kubendung, baru saja aku berniat untuk menanyakan kabar Bapak ke Ibu Yuli. Sebetulnya, rencana ini sudah ada di benakku sejak awal Ramadhan. Ada harapan dalam hatiku, bahwa Ramadhan akan meningkatkan kondisi kesehatannya. Namun, ternyata Bapak lebih dulu memberikan kabar kepergiannya kepadaku.

Menurut cerita Ibu, kondisi Bapak terus drop sejak 1 minggu sebelum Ramadhan. Dan tadi pagi, Bapak sedikit membuka matanya dan menatap Ibu sejenak seperti ingin berpamitan. Pukul 05.55, Bapak meninggal. Berita duka begitu cepat tersebar di kalangan alumni. Pukul 09.00, aku tiba di rumah duka. Bersalaman dengan Ibu dan melihat Bapak yang terbaring dengan wajah pucatnya membuatku ingin menangis. Beberapa menit kemudian, teman-temanku yang lain datang. Kami sungguh merasa kehilangan sosok Bapak dan kami sudah tidak bisa lagi menahan rasa sedih ini. Ibu Yuli sangat senang melihat kedatangan kami dan tidak menyangka bahwa berita kepergian Bapak sudah tersebar begitu cepat. Ibu Yuli memang wanita luar biasa, beliau terlihat begitu sabar dan tabah menghadapi keputusan Allah ini. Guru-guru dan alumni Insan Cendekia lainnya pun terus berdatangan, hingga tiba waktunya bagi kami untuk menshalati Bapak. Ya Allah, ampuni segala dosanya, terima semua amalannya, dan tempatkan Bapak di tempat terindah di sisiMu, Ya Rabb.. Aamiin..

Sekitar pukul 13.00, proses pemakaman pun dilangsungkan. Semakin banyak alumni yang berdatangan untuk melihat proses tersebut. Bahkan, di pemakaman itulah, aku bisa bertemu dengan beberapa senior yang sudah tidak pernah kutemui lagi sejak 5-6 tahun yang lalu. Kehadiran kami menunjukkan betapa sayangnya kami kepada beliau dan betapa hebatnya Pak Zul di mata kami.

"Pak Zul yang kami sayangi. Kami adalah anak-anak Bapak yang insya Allah akan selalu mendoakan Bapak. Semoga doa kami termasuk amalan yang tidak terputus walaupun Bapak sudah pergi, begitupun dengan ilmu bermanfaat yang telah Bapak ajarkan kepada kami sehingga dapat mengantarkan kami kepada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan membuat kami menjadi seperti ini. Selamat Jalan, Pak Zulhiswan. Walaupun raga Bapak sudah tak bisa kami lihat lagi, namun kenangan dan semua pelajaran hidup yang Bapak ajarkan kepada kami akan tetap hidup di hati kami. "



Selasa, 28 Juni 2011

cheating?

"Mencontek itu haram disini! kalo kalian tidak percaya, kalian lihat saja sendiri nanti, apa akibatnya kalo kalian sampai mencontek!"

Itulah kata-kata yang kudengar dari seniorku di awal Masa Orientasi Siswa di sekolah tercinta, Insan Cendekia. Saat mendengarkan kalimat itu, aku berpikir bahwa memang sejak kecil, aku Rata Penuhpun dididik untuk tidak mencontek atau membantu teman untuk mencontek, tapi pada kenyataannya, sejak aku duduk di bangku SD sampai SMP, aku cukup sering menemui hal contek mencontek ini biasa terjadi. Oleh karena itu, aku sempat menganggap remeh perkataan seniorku.

Tapi, sekolah ini memang bukan sekolah biasa. Mencontek benar-benar menjadi hal yang sangat haram sekali dilakukan. Mungkin bisa dikatakan, kalau kau berani mencontek, maka kau akan mendapatkan malu karena aib yang sangat besar. Jika ada seorang anak yang mencontek saat ujian, bahkan hanya mencontek ke buku, lalu ketauan guru, maka berita kasus pencontekan ini akan sampai dengan cepat ke angkatan di atasnya bahkan sampai kepada para alumni. Rasa malu tidak hanya dirasakan oleh orang yang bersangkutan tapi dirasakan oleh satu angkatan. Dan disinilah, akhirnya aku memahami betapa haramnya mencontek di sekolah ini.

Saat-saat ujian adalah saat-saat paling menegangkan untuk para murid dan saat-saat paling santai untuk para guru. Kenapa? Karena mereka tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengawasi murid-muridnya. Bahkan, jadwal mengawas ujian adalah jadwal yang paling sering digunakaan para guru untuk izin jika ada keperluan mendampingi muridnya pergi mengikuti lomba di luar sekolah.

Biasanya para guru hanya membawa kertas soal dan LJK ke ruang kelas lalu menginstruksikan ketua kelas untuk membagikan keduanya. " Waktunya 2 jam perlajaran, kerjakan dengan teliti, kalau sudah, tolong ketua kelas mengumpulkan LJK nya dan taro di meja saya ", itulah kata-kata yang sering sekali diucapkan para guru di sekolahku. Kalaupun ada guru yang mau mengawas di kelas, mereka hanya duduk di kursi depan, sambil membaca buku atau mengoreksi pekerjaan muridnya yang lain.

Walaupun kondisinya seperti itu, aku dan teman-teman tidak ada satu pun yang berani untuk mencontek, baik bertanya jawaban ke teman atau melihat ke buku. Semuanya sibuk dengan soalnya masing-masing. Kalaupun kami mengobrol di kelas saat ujian, itu hanya membicarakan hal-hal lain karena kami sudah selesai mengerjakan soal atau sudah menyerah dengan soal tersebut tapi masih harus di dalam kelas sampai waktunya habis. Hasilnya, untuk pelajaran MAFIKIBI ( Matematika, Fisika, Biologi, Kimia ), di papan pengumuman nilai, pasti akan banyak tanda2 merah yang menunjukkan nilai dibawah 7,00 dan harus mengikuti remedial. Tapi kami bangga, karena kami menjalani ujian tanpa mencontek.

Saat ujian nasional, pengawas yang ada di kelas kami bukanlah guru-guru kami, melainkan guru dari sekolah lain. Ruangan kelas terlihat berbeda. Biasanya saat ujian sekolah, guru kami tidak ada di kelas atau kalaupun ada guru , beliau hanya duduk di kursi guru. Tapi, saat ujian nasional, ada dua guru dari sekolah lain yang terus mengawasi kami satu persatu, berkeliling di kelas sambil memperhatikan setiap gerak gerik kami. Sungguh, ini sangat aneh dirasakan olehku dan teman-teman. Kami tidak terbiasa diawasi seperti ini.

Melihat kasus pencontekan yang marak dibicarakan di media massa, aku pun langsung berucap alhamdulillah karena pernah menjadi siswa di Man Insan Cendekia yang memiliki prinsip "mencontek itu haram". Tapi, aku pun ikut prihatin dengan kondisi moral bangsa ini, terlebih lagi moral para pendidik. Miris rasanya. Pemerintah menaikkan standar kelulusan untuk kemajuan pendidikan bangsa namun efeknya malah menurunkan moral bangsa.

Semoga prinsip "mencontek itu haram" bisa terus disebarluaskan melalui sekolahku dan para alumninya. Aamiin...

Jumat, 03 Juni 2011

Cepat Sembuh Pak

Kemarin, aku dan beberapa teman akhirnya dapat menjenguk guru kami tercinta yang saat ini sedang diberikan cobaan olehNya. Setelah melalui perjalanan yang panjang , karena harus memutari daerah Senen sampai 2 kali, akhirnya aku dan teman-teman tiba di sebuah rumah yang terletak di Jl.Bungur Besar Gang 8 C no 191, Jakarta Pusat.

Setiba disana, kami disambut hangat oleh keluarga besar Guru kami yang saat itu sedang berkumpul disana. Begitu melangkahkan kaki memasuki rumah, entah kenapa, hatiku berdebar dan bertanya-tanya, Bagaimanakah Kabar Pak Zul? ( sapaan kami kepadanya) . Foto terakhir yang kulihat di grup BBM, menunjukkan kondisi yang kurang baik, senyum Pak Zul sudah tidak lagi hadir di wajahnya yang semakin tirus. Aku khawatir. Dan ternyata, Ibu Yuli ( istri Pak Zul ) mengajak kami ke kamarnya dan menunjukkan kondisi Pak Zul yang hanya bisa terbaring lemas di atas kasur yang berada di atas lantai kamar dengan sebuah selang yang terhubung ke hidungnya. Mata bapak terpejam karena sedang menikmati tidurnya. Seketika, aku merasa lemas dan airmata ini hampir memberontak untuk jatuh , namun aku masih bisa menahannya. Terlebih lagi, saat melihat kondisi Ibu Yuli yang sangat sabar bahkan beliau sangat ceria menyambut kedatangan kami.

Yah, kondisi Pak Zul memang memburuk saat ini. Di Bulan April lalu, Alhamdulillah, Pak Zul dan istrinya sempat melakukan ibadah umrah ke rumah Allah. Namun, 2 minggu setelah pulang dari umrah, kondisi Bapak langsung menurun. Bapak mulai kesulitan untuk menggerakkan anggota badannya dan juga berbicara. Namun, bapak masih bisa membuka matanya dan duduk di atas kursi roda. Tetapi , sejak beberapa hari yang lalu, kondisi bapak menjadi seperti saat ini. Terbaring di kasur dengan mata terpejam. Untuk makan pun, Bapak menggunakan selang yang dihubungkan ke hidungnya. Bapak memang sudah tidak lagi rutin ke dokter. Ibu memutuskan untuk merawat Bapak dengan terapi sengat lebah dan obat-obatan herbal sesuai saran seorang profesor neurologi ( ahli syaraf ) di Medan.

Ibu menceritakan pendapat beberapa orang mengenai kondisi Bapak, ada yang bilang, usia Bapak hanya tinggal 5 tahun, 'ada juga yang bilang kalau Bapak sudah seperti orang yang mati suri, sudah koma , atau bahkan ada yang mengatakan bahwa ketidaksukaan seseorang kepada Bapaklah yang membuat kondisi Bapak menjadi seperti ini. Hebatnya, Ibu menceritakan semua ini dengan penuh senyum dan semangat yang membuatku kembali kagum kepadanya. Ibu mengatakan dengan lantang " Ibu g percaya omongan orang-orang itu, Ibu hanya akan menyerahkan semuanya sama Allah sambil terus berusaha. Lagian, belum tentu juga, Bapak yang pergi duluan, kita semua kan waiting list?". Perkataan Ibu benar-benar membuatku semakin terharu.

Beberapa kali, kami melihat, Bapak menggerakkan tangan dan kakinya. Dan itulah yang membuatku berpikir bahwa ini bukanlah koma. Ibu terus mengucapkann terima kasih kepada kami atas kunjungan hari itu. Lalu, Ibu mulai menanyakan kondisi kami satu persatu, siapa saja yang sudah lulus, kerja dimana sekarang. Setelah itu, Ibu akan berbicara kepada Bapak " Bang, ini anak-anak kita datang, bangun dong Bang, ini udah ada yang lulus lho, sudah bekerja". Namun, Pak Zul tetap memejamkan matanya tanpa ada respon sedikitpun. Aku kembali terharu.

Kunjungan kami cukup lama dan cerita terus mengalir di sore itu. Ibu menceritakan bagaimana awal bertemu dengan Bapak, bagaimana Bapak mendaftar menjadi guru di IC, dan betapa senangnya Bapak setiap kali mendengar berita bahwa anak didiknya di IC sudah menyelesaikan sekolahnya. Kata Ibu, setiap Bapak mendengar berita anak didiknya lulus, bapak sangat senang seperti mendapat undian. Bapak memang guru yang sangat menyenangkan, beliau cukup tegas untuk anak-anak yang kurang disiplin namun beliau juga tidak ragu untuk bersenda gurau dengan murid-muridnya. Di akhir kunjungan, kami menulis pesan untuk Pak Zul di sebuah kertas. Pesan rindu kami sebagai anak didiknya. Sejujurnya, selama kunjungan itu, aku sering sekali merasa ingin menangis melihat kondisi guruku tercinta dan kehebatan istrinya.

"Pak Zul, semoga cepat sembuh ya Pak. Tetap semangat! kami semua merindukan obrolan penuh tawa dengan bapak. Kami semua ingin menceritakan bahwa kami sudah lulus menjadi sarjana karena didikan Bapak. Cepat Sembuh Pak.. "

Sebelum meninggalkan rumah itu, kami semua berdoa bersama demi kesembuhan Pak Zul.
"Ya Allah, Engkau Yang Maha Memberi Pertolongan, Engkau Yang Maha Berkehendak, Engkau Yang Maha Mengabulkan Permintaan, Sembuhkanlah guru kami, Angkatlah penyakitnya, Kuatkan dan Berikanlah kesabaran kepadanya dan keluarganya dalam menghadapi cobaan dariMu. Aamiin."

Rabu, 23 Maret 2011

Behind the summit

Di akhir tahun 2010, sekitar bulan 11 atau 12, aku dihubungi oleh seniorku untuk diajak menjadi panitia sebuah acara bernama "ICSUMMIT", yah, awalnya aku tidak mengetahui acara seperti apakah ini? Yang jelas ada kaitannya dengan almamaterku tercinta, Insan Cendekia. Saat itu, aku sedang memiliki kewajiban untuk menyelesaikan tugas akhirku di kampus FKG ( membuat karya ilmiah ) sehingga aku sempat menolak untuk dijadikan koordinator dari salah satu bagian, tapi ternyata senior2ku itu berhasil membujukku untuk menerima amanah itu mengingat kontribusiku sebagai alumni Insan Cendekia.

Pertemuan pertama, aku dan beberapa alumni lainnya mendapatkan penjelasan awal mengenai acara tersebut, yang intinya adalah sebuah seminar tentang pendidikan IMTAK dan IPTEK yang ingin disebarluaskan oleh kami, para alumni Insan Cendekia ( IAIC ) ,kepada seluruh masyarakat yang peduli akan pendidikan dan kemajuannya di Indonesia. Di rapat pertama ini jugalah, aku mendapatkan bagian untuk menjadi koordinator invitation & registration yang intinya seperti humas yang menjaring massa sebanyak-banyaknya untuk hadir ke acara ini dan mengurus semua hal yang berkaitan dengan pendaftaran. Sasaran kami saat itu sekitar 400-600 orang dengan estimasi alumni sebanyak 200 orang.

Acara ini memang dikemas dalam bentuk seminar nasional, namun ada nilai tambah tersendiri untuk para alumni, yaitu bisa dijadikan ajang untuk reuni sesama alumni Insan Cendekia. Inilah yang membuat kami yakin, target 200 alumni itu dapat dicapai, bahkan mungkin dapat melebihi target. *Pada akhirnya alumni yang hadir sekitar 250-270 orang*

Kepanitiaan acara ini dipegang oleh IAIC ( Ikatan Alumni Insan Cendekia ). Alumni IC ini tersebar di berbagai penjuru Indonesia dan walaupun acara ICSUMMIT ini akan diadakan di Jakarta, tapi kami berharap, pesertanya dapat berasal juga dari luar Jakarta. Oleh karena itu, panitia pun disebar di 3 kota besar, yaitu Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Bisa dibilang, inilah kepanitiaan pertamaku yang memiliki anggota panitia berbeda wilayah. Rapat via online menjadi satu2nya cara untuk berkumpul bersama, tapi terkadang teman2 dari Bandung bisa ikut rapat secara langsung di Jakarta.

Yah, ternyata pekerjaanku sebagai koordinator registrasi dan menjadi contact person acara ini cukup membuatku sedikit kewalahan. Terlebih lagi ketika poster ICSUMMIT diterbitkan di koran Republika. Seketika saja, ponselku menjadi sangat laris dengan banyak telpon dan sms yang terkadang tidak bisa mengenal waktu. Saat klinik ( pagi-sore ) maupun saat di rumah ( malam-tengah malam ). Memastikan konfirmasi pendaftaran maupun pembayaran seluruh peserta merupakan pengalaman pertama bagiku, terlebih lagi sistem yang digunakan adalah via website ( online ) dan aku yang seorang sarjana kedokteran gigi, sangat tidak paham dengan dunia komputer. Alhamdulillah, senior2ku yang lebih handal dalam hal ini sudah menjelaskan dan memudahkan penggunaannya bagiku. Dari pekerjaan ini, ada hikmahnya juga lho, aku menjadi mengetahui beberapa nama yang bagus sekali dari para peserta.. :) Subhanallah... ( kira-kira peserta yang mendaftar mencapai 460, jadi ada 460 nama ..hehehe )

Pekerjaan yang kumulai dari akhir tahun 2010 ini baru bisa diselesaikan di bulan 3 tahun 2011. Tadinya, acara ini akan diadakan di awal tahun 2011, namun karena berbagai hal, acara ini harus dimundurkan sampai tgl 19 Maret 2011. Kebersamaan yang ada selama kurang lebih 3 bulan antara panitia membuatku merasakan kembali ukhuwah yang dulu pernah kurasakan dengan sesama siswa Insan Cendekia, baik dengan senior maupun junior. Indah sekali, alhamdulillah..

Akhirnya, tibalah waktunya hari eksekusi dari acara yang telah dipersiapkan selama 3 bulan terakhir. Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan acara yang pertama kali dibuat oleh IAIC ini memiliki kesan yang baik di mata para peserta, dari sistem registrasinya, konten acara dan pembicaranya maupun dari segi konsumsinya. Namun, Allah lah Yang Maha Kuasa atas segalanya. Pelaksanaan di hari H masih memiliki banyak sekali kekurangan, dari segi pembicara yang ternyata membatalkan kehadirannya di akhir waktu atau hal-hal teknis lainnya. Sedih dan kecewa pasti sempat hadir dalam hatiku, tapi saat itu, aku hanya berpikir bahwa Allah sedang mengingatkan aku dan rekan panitia lainnya bahwa sebaik apapun persiapan yang telah dilakukan sebelumnya, eksekusinya tetap menjadi kuasa Allah.

Alhamdulillah, dibalik segala kekurangan yang ada di hari H, aku tetap mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan yang luar biasa setelah melihat tawa, senyum dan sapaan hangat para guru-guru tercinta maupun alumni-alumni lainnya yang sepertinya merasa senang dengan acara ini. Semoga acara ini bisa memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi semuanya. Amin..

Sebenarnya, aku tidak ingin acara ini berakhir dengan begitu cepat, karena rindu yang kurasakan dengan seluruh guru dan alumni IC ini masih hadir dalam hatiku. Seusai acara, aku mulai merasa tenang karena acara ini telah selesai dengan hasil yang tidak terlalu mengecewakan. Namun, setibanya di rumah, ternyata aku masih terbiasa untuk membuka website ICSUMMIT untuk mengecek pendaftar terbaru seperti yang kemarin-kemarin aku lakukan. Aku juga masih sering melihat ponselku untuk mengecek apakah ada sms atau telpon masuk yang belum kubalas yang berkaitan dengan pendaftaran ICSUMMIT. Yah, aku mulai merindukan pekerjaan itu. Mungkin, aku merindukan ukhuwah yang ada dalam kepanitiaan itu.
Terima Kasih ICSUMMIT 2011..



Alhamdulillahirobbilalamin, Allah mengijinkanku untuk menjadi bagian dari sebuah acara yang membuatku merasa lebih berguna untuk almamaterku .. Dengan kekurangan yang ada di sana sini, kepuasan yang ada di hatiku tidak berkurang atas pelaksanaan di hari kemarin, terlebih ketika melihat senyum dan tawa para guru serta alumni lainnya.. Terima kasih ICSUMMIT 2011 untuk menjadi bagian indah dalam perjalanan hidupku..

Minggu, 16 Januari 2011

"mukjizat" itu hadir di hadapanku

Allah Maha Berkuasa atas segalanya, Apapun yang Allah jadikan kehendak, maka tak ada satu hal pun yang mampu menghalangiNya... Aku melihat itu semua dengan jelas dari sebuah cerita...

Saat itu, aku mendengar kabar bahwa salah satu guruku dirawat di RSCM karena memiliki tumor di otaknya. Aku dan beberapa alumni IC yang berkuliah di kawasan Salemba segera menjenguk beliau dan menanyakan bagaimana kronologi kejadian penyakit yang dialaminya itu. Beliau terlihat sangat bahagia menerima kedatangan kami, para anak muridnya. Beliau adalah seorang guru matematika di SMA ku dulu, namanya Pak Zulhiswan. Tumor yang bersarang di otaknya telah mengganggu kemampuan kognitif nya, seperti membaca, berbicara, menulis dan juga menghitung. Sedih sekali mendengar cerita yang dipaparkan beliau, bagaimana pertama kali beliau menyadari bahwa untuk menghitung bilangan mudah saja, beliau tidak mampu , padahal belliau adalah seorang guru matematika. Beberapa waktu sebelum masuk RSCM, beliau sudah sering merasakan perubahan pada dirinya seperti berbicara berulang-ulang, tidak mampu menyusun kata dengan baik, begitu pula dengan membalas sms. Akhirnya, diambil keputusan untuk dilakukan operasi pengambilan tumor tersebut.

Pasca operasi, aku dan teman-teman alumni kembali menjenguk beliau yang tentu sudah dianggap orangtua bagi semua anak muridnya. Saat itu, wajah beliau masih saja tersenyum menyambut kedatangan kami, walaupun beliau sudah semakin sulit menyebutkan nama kami. Alhamdulillah, yang kudengar saat itu, operasi berjalan dengan baik dan tinggal dilengkapi dengan perawatan radioterapi.

Sudah lama tak kudengar kabar tentang guruku itu. Tiba-tiba kuterima kabar bahwa beliau sudah tidak mau lagi dirawat di RSCM dan lebih memilih untuk pasrah terhadap kondisi tubuhnya. Saat itu, aku sangat terkejut karena kupikir, operasi itu telah menyelesaikan seluruh penyakitnya. Namun, ternyata, masih ada beberapa bagian tumor yang tertinggal dan hanya bisa dihilangkan melalui radioterapi yang sangat menyakitkan bagi Pak Zul. Beliau shock dengan terapi yang dijalankan, terlebih ketika ditawarkan untuk dilakukan operasi kedua.

Alumni mulai ramai membicarakan kondisi terbaru Pak Zul di berbagai forum yang ada, milis, facebook, dll. Saat itu, aku hanya berharap agar kondisi Pak Zul akan terus membaik dan tidak berakhir seperti seniorku terdahulu yang telah kembali kepada Sang maha Kuasa karena kanker tulang di kaki kanannya ( Alm. Sena Medisisnata, IC 2006 ). Namun, berita yang beredar pun tidak terlalu jelas menggambarkan kondisi beliau.

Akhirnya, di awal tahun 2011, aku dan teman-teman angkatanku ingin berkunjung ke rumahnya untuk silaturahmi dan juga sekalian menjenguk beliau. Namun, ternyata, saat aku mengabari beliau mengenai rencana kerumahnya, beliau mengatakan bahwa sekarang beliau sudah mulai kembali ke sekolah untuk belajar lagi perlahan-lahan. Subhanallah!! aku sungguh bahagia mendengar kabar ini dan aku benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu dengannya untuk mendengarkan cerita lengkapnya..

Tanggal 14 Januari 2011, aku dan beberapa teman seangkatan akhirnya berkunjung ke sekolah kami tercinta Insan Cendekia Serpong untuk bertemu beliau sekaligus silaturahmi dengan guru lainnya. Disinilah, beliau menceritakan 'mukjizat' yang baru didapatkannya.

Selama beberapa waktu , beliau hanya dapat terbaring lemah di atas kasur karena ternyata tumor yang ada di kepalanya telah mengambil fungsi motorik sehingga beliau menjadi lumpuh. Awalnya, setelah lepas dari terapi yang dilakukan di RSCM, beliau mencoba untuk menggunakan terapi bekam, namun beliau tidak nyaman dengan prosesnya yang memperlihatkan banyak darah. Akhirnya, beliau mendapatkan saran dari rekan istrinya untuk menggunakan terapi sengat lebah. Terapi ini tentu sangat menyakitkan pada awalnya, namun akhirnya di suatu malam, saat Pak Zul merasa sudah akan dipanggil oleh Yang maha Kuasa, tiba-tiba saja, kaki beliau dapat digerakkan dan beliau dapat berdiri sendiri.. Alhamdulillah,..

Setelah fungsi motoriknya dikembalikan oleh Sang Maha Pemilik, beliau menjadi semangat lagi untuk belajar semuanya dari awal.Belajar bicara, berjalan, membaca dan kembali menghafal nama orang-orang terdekatnya. Awalnya, nama istrinya saja, beliau lupa. Begitu pula dengan nama guru-guru di sekolah kami..

Kini, setiap hari beliau pergi ke sekolah untuk kembali lagi belajar membaca dengan Ibu Siti, guru matematika ku selama di IC. Di rumah pun, beliau kembali belajar mengaji dengan belajar iqro pada guru ngaji yang datang ke rumahnya.. Berat badan beliau turun sebanyak 20 kg, untuk berbicara, terkadang beliau masih sulit mengucapkan beberapa kosakata. Beliau pulang pergi dengan angkutan umum atau taksi walaupun terkadang beliau tidak bisa menyebutkan tujuannya dengan jelas kepada supir taksi dan hanya dapat menunjukkan arah ke kanan, kiri atau lurus. Beliau juga pernah kesulitan saat membaca angka di argometer taksi. Terapi sengat lebah masih beliau jalani, ditambah dengan konsumsi madu dan propolis ( air liur lebah ). Subhanallah, khasiat lebah...

"..... Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh , pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda ( kebesaran Allah ) bagi orang yang berpikir." (QS. An-Nahl : 69 )

Semua pengalaman yang beliau ceritakan membuat kami begitu terpana, mengingat betapa besar KuasaNya akan kesembuhan guru kami tercinta. Pertemuan kemarin terasa begitu menyenangkan, beliau sangat bahagia dapat bertemu denganku dan teman-teman. Semoga beliau dapat terus semangat untuk belajar, amin...

Kamis, 23 September 2010

it's been 6 years my friend...

25 September 2004, 6 tahun yang lalu, sekelompok siswa kelas 1 berkumpul di sebuah gedung serba guna untuk menentukan nama bagi angkatannya. Terpilihlah sebuah nama yang mengantarkan mereka semua pada kesatuan dan kekompakan sebagai 1 angkatan.
MORGANAXIS....
MOslem Revolution GenerAtioN Angkatan X Insan cendekia Serpong

6 tahun yang lalu, angkatan itu memulai kehidupan baru mereka sebagai sebuah angkatan di "penjara suci" yang terletak di Serpong. Mereka menjalani MOS bersama selama 10 hari yang penuh dengan tekanan dan pelajaran dari senior sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan asrama. Awalnya, mungkin di antara mereka, masih ada yang tidak ikhlas masuk ke "penjara suci" itu, namun kurasa, kini, mereka semua bersyukur telah masuk atau dipaksa masuk ke sekolah itu karena disitulah mereka semua menemukan keluarga keduanya.

3 tahun terasa cukup singkat, walaupun dalam kurun waktu itu, sudah banyak sekali kenangan yang terpatri dalam hati mereka masing-masing.
*Studi tur dan kenangan berbeda di tiap tahunnya.
Kelas 1 , ke saung mirwan di puncak,
kelas 2, ke bandung
kelas 3, ke lampung dan pulau condong
*Berbagai kepanitiaan yang ada , dan yang paling teringat adalah kaizer ( acara perpisahan untuk anak kelas 3 yang dibuat oleh angkatan mereka )
*Berbagai acara angkatan , AHM, AM, AHM2 dan yang lainnya..

Tidak lupa juga, persembahan terakhir mereka saat kelas 3 di acara RAMPAGE dan membuat mereka memenangkan beberapa lomba..

Foto pas kelas 2, sehabis GAKIC (klo g salah )

Waktu berlangsung cukup singkat, setelah melewati hampir 3 tahun kenangan bersama, akhirnya tiba bagi mereka semua untuk berpisah. Tibalah saatnya, untuk memilih jalan hidup ke depan masing-masing. Melewati berbagai tes masuk perguruan tinggi, akhirnya hampir 50% dari angkatan itu melanjutkan studinya ke ITB , sedangkan sisanya tersebar cukup merata di Jakarta, Jogja, Surabaya dan wilayah Indonesia lainnya, bahkan beberapa dari mereka telah memilih untuk merantau ke luar negeri.

Waktu terus bergulir, hingga akhirnya di tahun 2010, mereka kembali bertemu dalam sebuah acara buka puasa angkatan. Di acara itu, semuanya terlihat berbeda. Kini, mereka bukanlah lagi angkatan kelas 1 yang masih beradaptasi untuk bisa menghadapi kehidupan asrama. Kini, mereka bukanlah lagi angkatan kelas 3 yang masih sibuk mencari perguruan tinggi demi mewujudkan cita-citanya..

Kini, mereka adalah sekumpulan pemuda yang sedang menapaki perjalanan akhir dalam studinya, bahkan ada di antara mereka yang sudah lulus dan menghadapi dunia kerja. sementara yang lain, ada yang sedang menyusun tugas akhirnya, ataupun menyusun langkah ke depan agar dapat menyelesaikan studi secepatnya..
Dan, di tahun 2010 ini, 2 orang di antara mereka akan mulai menjalani kehidupan baru bersama pasangannya.
Kini, angkatan itu sudah berbeda..

buka puasa 2010 di rumah Yudha

Tanpa terasa, sudah 6 tahun mereka saling mengenal dan menjalin hubungan kekeluargaan yang begitu lekat. Tanpa terasa, sudah 6 tahun, mereka menjadi bagian dari kehidupanku..

Happy birthday Morganaxis..
Terima kasih untuk segalanya dan semoga kita bisa terus seperti ini hingga tua nanti.. amin..

Jumat, 12 Februari 2010

Madrasah

Madrasah...
Sekolah Agama..

Dulu, mendengar nama ini akan mengingatkan ku pada sekelompok orang berjilbab dan berkopiah yang menginap di sebuah pondok dan mempelajari ilmu agama setiap harinya..
Mungkin terlihat terkekang dari kehidupan luar, tidak menyenangkan, sibuk dan melelahkan..

Tapi, semua pandangan itu hancur setelah tiga tahun aku mengalami pendidikan di sebuah madrasah. Di tempat inilah, aku merasa mengalami banyak sekali perubahan, baik dari segi pemikiran maupun penampilan.. Tidak hentinya senyum dan banggaku terucap ketika aku harus menceritakan pengalamanku di madrasah ini.. Bahagia akan semua pengalaman, bersama seluruh teman-teman dan guruku disana..

Cintaku pada madrasah ini membuatku ingin membalas semua kebaikan yang telah diberikannya padaku dulu, yah,, aku ingin menjadi dokter gigi disana setelah aku lulus nanti, paling tidak, ada yang bisa kupersembahkan kepada almamaterku tercinta ini.

Sewaktu aku duduk di bangku kelas 2, seorang guru Aqidah mengajarkan semua muridnya untuk membuat peta hidup. Seluruh anak diberikan kertas berukuran A3 dengan kotak-kotak yang bertuliskan usia di ujung kanannya, dari usia 0-70 tahun. Kami diajarkan untuk mulai menata hidup kami, merencanakan segalanya hingga usia 70 tahun. Kotak-kotak itu pun boleh diisi dengan gambar2 yang menarik. Kami mulai bermimpi, dari menentukan waktu kapan akan lulus kuliah, menikah, punya anak, memiliki perusahaan, sampai menikahkan anak dan menimang cucu. Lucu sekali jika kami mengingatnya tapi sayang kertas A3 itu dikumpulkan dan kami belum sempat menyalinnya. Seingatku, ada sebuah mimpi yang aku tulis disana,, yah, aku ingin memiki sebuah sekolah agama yang bisa dinikmati oleh setiap anak di Indonesia,, bahkan untuk anak-anak yang tidak mampu..

"Aku ingin memiliki sebuah madrasah yang biaya pendidikannya gratis"

Aku yakin, Allah akan meridhai jika aku memang bersungguh-sungguh untuk mencapainya. Semoga saja, dengan pekerjaanku sebagai dokter gigi, aku dianugerahi rejeki yang cukup dari Allah sehingga aku bisa membaginya untuk saudara-saudara seimanku.. Amin..

Cerita ini tidak berakhir sampai disitu saja,,
Kemarin, aku baru saja berkunjung ke rumah adik kakekku di Bandung, disana beliau menceritakan mengenai sebuah yayasan yang ternyata dipelopori oleh almarhum kakek kandungku, beliau menceritakan dengan semangat berapi-api bahwa dulu, almarhum kakek ku memperjuangkan sebuah tanah untuk dijadikan madrasah. dan akhirnya, kini madrasah itu sudah berdiri dan sedang dilakukan renovasi, walaupun baru TK dan Madrasah Ibitidaiyah, aku senang sekali mendengarnya... Aki, ternyata, impianku sudah lebih dahulu diwujudkan olehnya..

Selesai mendengar cerita itu, aku langsung beranjak menuju lokasi madrasah tersebut yang kebetulan dekat sekali dengan rumah adik kakekku ini, tempatnya cukup bagus dan ingin rasanya aku mengajar disana. Seandainya aku berkuliah di Bandung, aku ingin sekali bisa membantu di madrasah itu sebagai pengajar..

Sepulang dari bandung, aku semakin termotivasi untuk bisa mewujudkan impianku itu, Allahku,,, semoga aku dapat mewujudkan impian itu dan menjadi insan yang lebih berguna lagi bagi masyarakat sekitar,, amin...

Madrasah..
Sebuah kata yang kini tak akn pergi dari hati dan pikiranku...
Terima kasih Madrasah Aliyah Negeri ( MAN ) Insan Cendekia Serpong,, Madrasah ku tercinta..

Minggu, 17 Januari 2010

my visit!!!

1st visit : baksosnas at July 2009
Acara baksos nasional diadain di surabaya oleh FKG UHT,, alhamdulillah,, sebagai koord. komisi pengmas di PSMKGI ( Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia ), aku berkesempatan untuk ikutan acara ini. Acaranya kira-kira 3 hari, ada seminar, jalan2 ke armatim dan baksosnya di sumenep, madura ( lewat jembatan suramadu lhooo!!). Dan pas mau pulang ke Jakarta, panitia UHT menyediakan waktu untuk para delegasi kalo mau cari oleh2,,,

Hmm,,, inget2, ada anak MORGANAXIS nih di SURABAYA,,, akhirnya aku sms dhanti, ngajakin ketemuan di waktu nyari oleh2 itu,, Alhamdulillah, bisa ketemuan sama Dabs dan juga della,, yang lain sebenernya masih ada, tapi pada g bisa ikutan karena ada acara lain...

Senangnya bertemu kawan lama,,, yah, akhirnya kita jalan2 aja ke Tunjungan Plaza dan aku pengen banget foto di depan patung surabaya yang terkenal itu,, akhirnya dhanti, della dan dabs nganterin deh ke bonbin, untuk foto-foto... oiya, dabs waktu itu lagi di surabaya karena laga ada urusan sama keluarganya...

makasih banyak ya dhanti, della dan dabs,,, kapan2 mau main lagi ah ke sana,, tapi ketemuannya lebih rame lagi.. hehe.. ^_^

2nd visit : Holiday at Januari 2010
Sebetulnya perjalanan ke jogja di awal tahun 2010 ini g direncanakan sebelumnya.. Yah, karena kk aku ada acara di temanggung dan akhirnya jadi mau ke jogja, aku diajakin deh liburan kesana.. Alhamdulillah banget, diijinin sama orangtua.. Berhubung selama kurang lebih 4 hari di jogja, aku bakal sering ditinggalin sendirian di jogja sama kk aku yang pergi ke temanggung , jadi langsunglah aku hubungi kawan2 MORGANAXIS yang pada kuliah di JOGJAKARTA untuk nemenin aku jalan2 selama disana...

hari pertama, aku ditemenin sama astar, handra dan mega ( cewenya handra ) juga tibul untuk jalan2 ke pameran kebudayaan yang bernama biennale,, seru lah,, foto2 dengan hasil karya yang unik2,, di taman budaya dan juga di gedung BI...


abis dari situ, kita ke Ambarukmo Plaza untuk makan dan solat... sambil menunggu temen2 morgan lainnya yang bakal nyusul... ditunggu sampe maghrib, yang nambah cuma napil aja... akhirnya setelah maghrib, barulah datang mumun, nobi dan riyaw.. berpindah ke food court, akhirnya obrolan mulai terjalin,, setelah semakin malam, kita semua berpisah....

hari kedua, rencana untuk nonton avatar,, ( aku, astar dan riyaw ternyata belum nonton )... yah, kembali ke amplaz untuk nonton.... setelah itu, tinggal astar yang nemenin aku di jogja sampe malem...

lusanya, aku kembali ke jakarta.... makasih banyak ya kawan morjog,,, handra + mega, tibul, astar, napil, nobi, riyaw dan mumun....
great holiday di awal tahun 2010!!! doakan aku bisa main2 lagi kesana!

3rd visit : Farewell BEM at Januari 2010
Biasanya, di awal tahun, kepengurusan BEM FKG akan berganti, dan itu berarti kepengurusan yang lama bakal ada perpisahannya... Tahun ini tujuannya adalah ke Bandung.. Yah, cuma 2 hari 1 malem aja sih,, Sabtu berangkat ke Bandung, tapi mampir dulu di Ciater untuk wall climbing + flying fox sekalian pada rendeman air panas... Setelah itu , baru deh ke kota Bandungnya,, kita semua nginep di wisma BI di daerah Dago...
Besoknya, acaranya free,, mau pada jalan2 dan nyari oleh2... Yap2,, seperti biasanya,, aku bakalan kabur lagi nih dari acara kampus untuk ketemuan sama anak2 MORGANAXIS di BANDUNG...

Sebelum berangkat ke Bandung, emang udah janjian sama Bhella di ym,, tapi katanya anak2 bandung rata2 udah pada pulang ke Jakarta,, yah, bakalan sepi nih... tapi, ternyata, lumayan rame juga.. Kita ngumpul di bubur mang oyo, nama jalannya apa gitu, lupa,, aku kesana bareng si emye yang kosannya deket sama wisma BI tempat aku nginep..
Akhirnya lumayan ngumpul deh, ada Emye, Bhella, Aldi, Ochie, Ray, Dabs dan Juna... Makan bubur, makan pisang ijo, ngobrol2 ngalor ngidul,, mulai dari dunia kuliah sampe kabar2 terbaru anak morganaxis... lumayan lama, sampe akhirnya ochie, dabs dan juna ijin balik duluan,, tinggallah ber 5, masih bingung mau kemana lagi sampe akhirnya terjebak hujan ...


setelah hujannya mulai reda, akhirnya aku memutuskan untuk maen2 ke ITB, nemuin Karmen yang lagi jadi panitia acara disana,, setelah dari ITB, barulah aku kembali ke rombongan anak2 FKG UI yang lagi pada belanja di jalan riau dan setelah itu, baru deh pulang kembali ke Jakarta...

Makasih banyak ya,, kawan2 morgan bandung, Bhella, ochie, emye, aldi, dabs, juna, ray, juga karmen,,,, kapan2 kesana lagi dengan anak morgan yang lebih rame ya??,, amin2...

Ok,, sudah 3 kunjungan ke tempat kuliah temen2 MORGANAXIS... Makasih banyak ya kawan2 sekalian, maafin banget klo aku ngerepotin selama di tempat kalian... semoga ntar masih bisa sering2 lagi main,, amin...
luv u all,, MORGANAXIS....

Kamis, 24 September 2009

kerinduan yang terobati

Sudah lama sekali, aku tak bertemu dengan mereka..
Orang-orang yang menjadi keluarga terdekatku selama 3 tahun dulu..
Kami begitu terpencar ke berbagai daerah, mungkin aku bisa membaginya menjadi 5 wilayah
Jakarta, Bandung, Jogja, Intim (indonesia timur incld. Jatim dan makasar) dan luar negeri..
Sudah 2 tahun lebih kami meninggalkan rumah tercinta yang telah mempertemukan kami dan menumbuhkan persaudaraan diantara kami, bahkan mungkin melahirkan beberapa pasangan.. Hehehe..

Sampailah aku di awal tahun ketiga kuliah, bersamaan dengan datangnya bulan suci dimana merupakan salah satu waktu bagi kami, para alumni untuk berkumpul dengan alasan untuk berbuka puasa bersama...
Tiap wilayah mempunyai acara bukpusnya masing2 atas nama IAIC ( Ikatan alumni IC )

Seperti biasanya, Bandung dengan anggota terbanyak selalu heboh kalau ada acara.. Angkatanku saja, hampir 50 persen kuliah di Bandung..
.Melihat foto2 bukpus anak2 Bandung di fesbuk, membuatku kembali lagi mengingat kebersamaan yang sudah lama tidak aku rasakan...

Ya, terakhir kami berkumpul ramai2 adalah akhir desember 2008, saat ada walimahan guru kami, sir imam, guru yang paling dekat dengan kami..
Dan itu sudah 8 bulan yang lalu, pantas saja, aku mulai rindu dengan mereka..

Sebetulnya, di Jakarta, jumlah angkatan ku pun lumayan banyak, 20an lah, tapi kami begitu tersebar di berbagai institusi.. UI, Trisakti, Yarsi, Binus, UIN, dll.. Jadi, cukup sulit untuk berkumpul..

Akhirnya, aku mulai berpikir untuk mengadakan bukpus angkatanku saja.. Di Jakarta.. Dan ternyata beberapa temanku pun antusias menyambut ajakanku lewat notes di fesbuk..
Akhirnya, dengan beberapa orang yang saat itu ol ym, aku adakan rapat kecil2an untuk menentukan tempat dan waktunya.. Untuk hal ini, aku secara pribadi meminta maaf jika ada temen2 yang merasa tidak dilibatkan dalam penentuan tempat dan waktu, tapi memang saat itu, aku hanya spontan mengajak conf teman2 yang sedang ol ym dan mereka pun antusias membantu.. Maaf ya kawan..
Akhirnya tercetuslah rumah sahabat kami, Ariza, di bilangan Bintaro untuk jadi tuan rumah acara bukpus angkatanku.. Waktunya adalah tanggal 17, walaupun ada beberapa temanku yang sudah mudik...

Aku tiba di rumah Ariza tepat beberapa saat setelah Maghrib, bersama dengan Handra, Adit dan Anti naik mobilnya Handra, nebeng, hehehe...
Semakin malam, smakin bertambah yang datang bukpusnya... Anis memang lebih awal tiba karena dia yang mengurus konsumsinya.. Makasih ya nis..
Acara langsung diawali dengan berbuka, makan tajil bersama.. Sederhana saja, hanya ada es kelapa dan kue2 kecil.. Setelah itu, kita semua beranjak untuk mengambil wudhu dan bersiap untuk sholat.. Tadinya, Ariza memutuskan agar yang akhwat sholat sendiri di atas sedangkan yang ikhwan akan sholat di bawah.. Tapi ketika para akhwat mendengar suara imamnya yaitu M. Ikhwan , akhwat2 ini pun tidak mau ketinggalan jamaah dan langsung mengikuti jamaah para ikhwan, walaupun sholatnya di lantai atas.. Begitulah kebersamaan yang begitu kurindukan, sampai2 kami rindu untuk diimami oleh teman seangkatan sendiri...

Usai sholat, kami berkumpul lagi dan mulai membuka pembicaraan yang hangat, penuh tawa dan kerinduanku pun mulai terobati..
Obrolan dimulai dengan sambutan Ariza sebagai tuan rumah sekaligus syukuran pasca operasi rahangnya Ariza, setelah itu, barulah kabar2 dari masing2 wilayah...
* ada Apip yang kecelakaan motor waktu lagi ada penelitian di Jogja
* ada Alvin yang dpt beasiswa ke luar negeri
* ada lagi yang laen yang mulai ilang2 dari pengawasan temen2nya di kampus, hehe, kita doakan aja semoga mereka baik2 aja, amin..

Obrolan semakin seru dan penuh dengan canda tawa, tapi Caca menyadari ada yang berbeda dengan obrolan kita saat itu, menurut Caca, obrolannya sudah mulai dewasa, berkisar antara walimahan, hehe.. Bukan hanya itu, menurut sang ketua angkatan pun, perbincangan sudah mulai berisi.. Tapi sayang sekali, waktu semakin larut dan perut kami sudah mulai merengek untuk disi.. Akhirnya setelah tidak ada lagi berita yang ingin disampaikan, kami pun beranjak untuk makan malam..
Sambil makan, obrolan pun tercipta kembali di lingkaran2 kecil dengan berbagai macam tema, ada yang membicarakan angkatan, perkuliahan bahkan ada yang membicarakan mengenai isu2 di tahun 2012...

Makin larut, usai makan, kita semua bantu2 untuk merapikan kembali rumah Ariza, ada yang mencuci piring, Caca dan tyas
Ada yang bungkus2in makanan sisa, ada yang menghabiskan makanan juga, ya ga Sir? Hehehe...

Selesai sudah semua rangkaian acara bukpus, ditutup dengan foto bersama dan bermaafan menjelang hari raya..

Saudara2ku semua, sebenarnya masih ada hal yang harusnya kita bicarakan.. Kini kita sudah berada di tingkat 3 kuliah, waktu kita untuk menuntut ilmu tidak akan lama lagi dan kita akan tiba pada kehidupan yang sebenarnya yang akan meminta kontribusi nyata kita sebagai Insan Cendekia..
Ingatkah kalian dengan nama angkatan kita yang menyandang kata Revolution? berarti kita harus mulai berpikir untuk melakukan perubahan..
Semoga Allah mengijinkan kita untuk berkumpul lagi menyusun rancangan proyek yang akan kita lakukan selanjutnya, sebuah proyek yang melibatkan semua lini, medis, teknik, keuangan, hubungan sosial dan lain2.. Sebuah proyek yang kembali mempersatukan kita seperti saat kita menjadi panitia Kaizer dulu...

Saudara2ku, ku harap kalian tetap semangat untuk mewujudkan arti nama angkatan kita, untuk IC dan untuk Allah..

*Makasih untuk semua temen2 yang dateng bukpus kmaren dan telah mengobati kerinduanku akan Morganaxis...
Sofa, luke, caca, anis, tyas, anda, anti, muhsin, gildy, alvin, yasir, aldi, handra, haris, kajem, agra, dito, adit, lutfi, ikhwan, dabs, ariza, ray

Selasa, 14 Juli 2009

Kita adalah perubah

Tak kusadari, waktu telah berganti dan membawaku pergi dari sebuah keindahan di masa itu
Suatu masa yang tak akan pernah aku hapuskan dari hati dan otakku
Suatu masa ketika aku dipertemukan dengan berbagai karakter dalam sebuah pencarian arti diri , bertemu kalian...

Saat- saat dimana kita dihukum bersama karena kesalahan satu orang
Demi menumbuhkan ukhuwah yang begitu kuat di antara kita
Saat-saat dimana kita saling membantu dalam mengerjakan tugas dan belajar bersama
Demi mendapatkan hasil yang terbaik bersama-sama
Saat-saat dimana kita harus memimpin bersama dan menghabiskan waktu untuk rapat
Demi mencapai sebuah kepemimipinan yang bertanggung jawab
Saat-saat dimana kita dapat tertawa bersama
Karena sebuah kemenangan yang telah kita usahakan bersama-sama
Saat-saat dimana kita harus memberontak bersama
Demi keadilan yang kita inginkan dan solidaritas yang telah tertanam di hati kita
Saat-saat dimana kita saling mendukung satu sama lain dalam menentukan masa depan
Demi cita-cita kita yang kita impikan bersama
Saat-saat dimana kita bersama-sama beribadah tulus kepadaNya
Demi menunjukkan kepadaNya betapa kita mencintaiNya
Saat-saat dimana kita bersujud bersama di atas hamparan lapangan yang luas
Demi rasa syukur yang kita miliki atas sebuah kebahagiaan dariNya
Saat-saat dimana kita semua berusaha keras menyusun buku kenangan
Demi menjaga sebuah kenangan terindah yang tak akan pernah kita lupakan
Saat-saat dimana kita harus menangis bersama
Karena sebuah kepergian dan perpisahan yang ada di antara kita

Kawan,,,
Walaupun kita tidak lagi bersama-sama merasakan masa itu
Walaupun kini kita harus berdiri sendiri-sendiri menghadapi semuanya

Namun, aku ingin
Semua kenangan indah yang sempat hadir di kehidupan kita
Akan selalu membuat kita teringat akan kuatnya ukhuwah di antara kita dan cita-cita yang kita impikan bersama
Agar kita benar-benar bisa mewujudkan semuanya
Dan membuat sebuah perubahan berarti bagi kita,bagi sebuah tempat yang telah mempertemukan kita , bagi agama kita dan bagi negara kita
Karena kita adalah generasi perubah , kawan.
Kita adalah Morganaxis


Moslem Revolution Generation X of Insan Cendekia

*Terima Kasih Insan Cendekia*