Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Januari 2018

Pemindahan nilai manfaat


Tahu film toy's story? Buat para generasi 90an, film ini menemani dengan setia tumbuh kembang kita sejak SD hingga masa kuliah. Di saat tokoh utamanya berusia SD, kita juga sedang duduk di bangku SD, begitu pula saat tokoh utamanya akan masuk kuliah, kita juga sedang berada di masa-masa perkuliahan. Walaupun seri terakhirnya sudah muncul sejak beberapa tahun lalu tapi bagi anak saya yang baru berusia 2 tahun, film ini adalah film yang baru untuk dia dan cukup pas menjadi tontonan favoritnya. 

Saat pertama menonton film ini mungkin saya tidak terlalu menyadari bahwa ternyata ada sebuah pelajaran penting dari film ini, namun karena sering menemani si kecil menonton ulang film ini, akhirnya saya menangkap sebuah pesan penting yaitu tentang memindahkan nilai manfaat. Saat tokoh utamanya (Andi) harus mengikhlaskan mainan kesayangannya (woody dkk) untuk diberikan kepada seorang anak kecil yang juga sangat sayang kepada mainan-mainannya maka di situlah ada sebuah pelajaran bahwa di satu titik waktu tertentu, ada kalanya kita harus bijak memindahkan nilai manfaat sebuah barang yang mungkin sudah tidak kita gunakan kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Keputusan ini memang terkadang terasa begitu berat, bahkan di film ini pun digambarkan bahwa sang tokoh utama sempat galau saat akan menyerahkan mainan kesayangannya namun akhirnya dia menyadari bahwa keputusan tersebut adalah yang terbaik baginya juga bagi mainannya. 

Nilai penting dari film ini sangat bisa diaplikasikan di kehidupan kita sehari-hari. Saya sendiri juga pernah memiliki koleksi donal bebek yang begitu saya sayangi. Saya mengoleksi banyak pernak pernik ini sejak duduk di bangku SD. Saat kuliah bahkan boneka-bonekanya masih menemani saya saat tidur. Ketika saya akan menikah, barulah saya mulai memilah kembali apa saja yang masih akan saya simpan dan apa saja yang akan saya berikan kepada orang lain. Akhirnya saat ini tinggal tersisa satu kotak kecil koleksi donal bebek yang kini sudah dijadikan mainan oleh anak pertama saya dan sisanya sudah saya berikan kepada saudara terdekat saya yang masih kecil. 

Sebenarnya, pemindahan nilai manfaat ini sudah diajarkan oleh orangtua saya sejak kecil. Saat ada barang yang sudah tidak akan dipakai maka sebaiknya diberikan kepada yang lebih membutuhkan. Prinsip ini berlaku untuk banyak hal, bisa baju, tas, sepatu bahkan buku pelajaran atau buku kuliah. Begitu pula dengan kondisi di saat akan membeli sebuah barang baru. Dengan adanya barang baru maka kemungkinan akan ada barang lama yang menjadi jarang dipakai atau bahkan tidak digunakan lagi. Prinsipnya adalah saat ada barang yang baru dibeli maka harus ada barang yang diberikan kepada orang lain. 1 in 1 out.

Hal ini sebenarnya terlihat sangat sederhana namun jika ingin direnungkan lagi lebih dalam, pemindahan nilai manfaat ini sungguh bisa memberikan kepuasan sendiri dalam hati kita. Selain menjaga agar jumlah barang (harta) kita tidak terus menerus bertambah, di sisi lain, mungkin kita juga bisa memenuhi kebutuhan orang lain terhadap suatu barang. Biasanya saya memberikan barang-barang yang sudah tidak saya pakai ke saudara terdekat atau ART di rumah, bisa saat hari raya atau kapanpun saat ada waktunya. Untuk buku pelajaran atau kuliah, saya juga terkadang memberikannya kepada adik kelas saya di kampus atau saudara terdekat yang membutuhkan. Percayalah, saat melihat barang yang kita berikan itu dipakai oleh orang lain, maka di situlah saya merasa senang karena bisa memindahkan nilai manfaat barang tersebut dari saya kepada orang tersebut. 

Jika melihat dari sisi barang yang kita berikan itu, seperti mainan yang ada di dalam film toy's story, saya yakin mereka pun lebih merasa senang saat dirinya bisa dipakai walaupun harus berganti pemilik dibandingkan hanya diletakkan di gudang tanpa bisa memberikan nilai manfaat. Jadi, yuk beres-beres lemari kita dan pilah kembali barang-barang mana yang masih akan dipakai dan mana yang sudah tidak akan dipakai lagi. Berbagilah ! karena dengan berbagi, kita justru akan semakin bahagia. 

Kamis, 22 November 2012

Ujian komprehensif, Hujan dan Jakarta



Siapa yang tidak tahu bahwa Jakarta itu sangat identik dengan kemacetan. Berbagai usaha sudah dilakukan oleh pemda Jakarta untuk mencoba menangani permasalahan ini, seperti peraturan 3 in 1 di daerah sudirman-thamrin, pembuatan jalan bebas hambatan di hampir seluruh wilayah kota Jakarta, pengadaan bus transjakarta dan commuter line. Tapi ternyata  usaha-usaha ini masih belum mampu menjadi solusi bagi  masalah kemacetan di Jakarta. Saya, sebagai pengguna rutin jalanan di jakarta, mungkin sudah cukup memahami kondisi Jakarta yang seperti ini. Saat hari raya idul fitri sajalah, Jakarta bisa terlihat lengang karena penduduknya banyak yang mudik ke kampung halaman. Selain hari itu, maka hari-hari sisanya adalah "tiada hari tanpa macet" di Jakarta.



Kemacetan yang biasa terjadi sudah menjadi pemakluman tersendiri buat saya yang bertempat tinggal di kota sebelah, Tangerang , namun beraktivitas di Jakarta. Dengan jarak kurang lebih 40 km, waktu yang saya butuhkan dari Salemba ke rumah biasanya berkisar 1-1,5 jam. Namun beberapa hari terakhir, yang saya alami bukanlah macet yang biasa, karena dilengkapi dengan hujan yang mengguyur jalanan Jakarta.  Hujan membuat para pengendara motor berteduh hampir  di bawah setiap jembatan, terowongan dan fly over yang mengakibatkan jalur yang tadinya ada tiga menjadi tinggal dua. Hujan juga membuat jalanan Jakarta tergenang dan mobil-mobil akan berjalan lebih lambat dibanding biasanya. 


Hari Selasa, 13 nov 2012, saya berencana untuk pulang lebih sore dari kampus karena akan belajar bersama dengan teman-teman di perpustakaan untuk mempersiapkan ujian komprehensif keesokan harinya. Tiba-tiba, hujan deras mulai mengguyur jalanan Jakarta sejak ashar. Saya masih berharap hujan akan reda disaat saya akan pulang kerumah. Tapi sampai pukul 17.00, hujan belum juga berhenti. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang menggunakan taksi. Kemacetan mulai terjadi dimana-mana karena hujan deras yang tidak kunjung reda. Alhamdulillah, akhirnya saya tiba di rumah tercinta pada pukul 19.30. 2,5 jam perjalanan cukup membuat saya lelah walaupun hanya duduk di dalam taksi. Mengingat besok akan ada ujian dengan 100 soal  yang harus diselesaikan dalam waktu 100 menit, maka saya pun segera beristirahat dan mempersiapkan diri untuk ujian besoknya. 

Ujian komprehensif dilakukan selama 2 hari, oleh karena itu,  Senin, 19 nov 2012, saya kembali belajar dengan teman-teman saya untuk persiapan ujian esok hari. Tapi, kali ini saya dan teman-teman mencoba belajar dirumah teman saya di daerah Cikini. Lagi-lagi, hujan mengguyur jalanan Jakarta sejak ashar. Rencananya, hari ini saya akan pulang dengan ayah saya yang akan menunggu saya di kantornya di daerah Monas. Setelah kegiatan belajar selesai dan melihat langit yang semakin gelap, saya memutuskan untuk mulai beranjak ke kantor ayah saya dengan menggunakan taksi dari arah Cikini sekitar Pukul 17.00. Biasanya, perjalanan cikini - monas akan membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit. Tapi, sepertinya hujan di sore ini akan membuat waktu perjalanan saya sedikit lebih lama.

Saya benar-benar tidak menyangka bahwa pada pukul 18.00, saya masih berada di daerah Menteng yang mungkin hanya berjarak sekitar 3 km dari tempat saya naik taksi pertama kali. Lampu lalu lintas di daerah Menteng Huis menuju Tugu Tani sudah menunjukkan warna merah dan hijau bergantian sebanyak 6 kali, namun taksi saya tidak menunjukkan adanya pergerakan sedikitpun. Setelah menelpon ayah saya yang sudah menunggu di kantornya sejak 1 jam yang lalu, akhirnya pada pukul 18.40 saya memutuskan untuk belok ke arah masjid cut meutia dan bermaksud untuk melewati kebon sirih. Tapi ternyata kondisinya tidak jauh berbeda, masih saja macet tanpa ada pergerakan yang signifikan. Bapak supir taksi pun mulai menyerah. Sempat terpikirkan oleh saya untuk turun dari taksi dan naik ojek, tapi hujan masih rintik dan kondisi yang kurang aman di malam hari membuat saya membatalkan niat saya itu. Dari bapak supir taksi, diketahui bahwa jalanan kebon sirih pun macet total dan tidak ada jalan lain lagi selain lewat Thamrin. Bapak supir taksi memberi saran agar saya turun saja di hotel Pullman di depan bundaran Hotel Indonesia, lalu menyambung dengan taksi lain atau bus transjakarta menuju kantor ayah. Akhirnya, setelah bertanya dengan ayah saya lewat telepon, saya pun menyetujui saran bapak supir taksi.

Alhamdulillah, pukul 19.50 saya sudah sampai di depan bundaran HI dan turun dari taksi yang argonya sudah mencapai angka 85.000. Ya, 85.000 rupiah untuk perjalanan dari Cikini menuju HI dalam waktu 3 jam. Sebenarnya saat itu, saya sedang berpuasa dan baru membatalkan puasa saya dengan sebuah permen yang ada di tas saya. Tapi, dari depan hotel Pullman menuju jembatan penyebrangan, saya tidak ingat lagi kebutuhan saya untuk membeli minum karena yang ada di otak saya saat itu hanyalah 'bagaimana caranya saya bisa sampai di kantor ayah saya secepatnya'. Ayah saya sudah dengan sabar menunggu saya di kantornya selama 3 jam. 

Di atas jembatan penyebrangan, sambil melihat arus jalanan Thamrin di bawahnya yang menuju Monas, saya mulai bingung untuk memilih antara naik bus transjakarta atau naik taksi. Setalah bolak balik, akhinya saya memutuskan untuk masuk ke dalam antrian para calon penumpang bus transjakarta. Antriannya cukup panjang sampai ke atas jembatan karena loket ditutup sementara sampai kondisi di dalam halte tidak terlalu penuh. Sambil menunggu, saya menelpon kakak saya dan menceritakan kondisi yang saya alami, sambil bercanda, dia menyarankan saya untuk jalan kaki saja ke kantor ayah. Sempat terpikir juga untuk mengikuti sarannya karena sekitar 2 tahun yang lalu, saya pernah mengikuti aksi gerakan anti rokok dan melakukan longmarch dari bundaran HI ke monas, jadi saya sudah bisa membayangkan bagaimana kondisinya kalau saya harus jalan kaki ke kantor ayah. Tapi, kondisi yang sudah malam dan kelelahan setelah duduk di taksi selama 3 jam membuat saya bertahan untuk tetap berada di antrian itu. Setelah beberapa menit menunggu bus transjakarta yang datangnya cukup jarang dan kondisi jalanan thamrin yang tiba-tiba kosong membuat saya menjadi bimbang. Tetap mengantri dengan sabar atau menyerah dan mencoba mencari taksi di sebrang? 

Pukul 20.15, saya tidak juga masuk ke dalam halte karena loket masih ditutup, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari antrian lalu bergerak menuju depan Plaza Indonesia (sebrangnya Hotel Pullman). Alhamdulillah, hujan sudah berhenti, tapi jalanan di depan saya cukup becek dan menyebabkan saya harus beberapa kali tersiram air genangan karena mobil-mobil yang bergerak cepat di jalanan. Saya terus berusaha untuk memberhentikan taksi yang melewati jalanan di depan saya, tapi taksi-taksi yang lewat  terus menolak. Akhirnya pukul 20.30, saya memutuskan untuk berjalan kaki saja sambil terus berusaha untuk menghentikan taksi yang lewat.


Sebenarnya ada sedikit rasa takut saat harus menyusuri jalanan Thamrin di malam itu, tapi alhamdulillah, dari ujung Plaza Indonesia sampai depan kantor ayah saya, selalu ada orang lain yang juga berjalan di depan saya atau di belakang saya. Sambil terus berdzikir meminta perlindungan Allah, akhirnya saya pun menyusuri jalanan Thamrin bersama beberapa mas dan mbak kantoran yang juga berjalan menuju arah yang sama. Dengan kondisi baju yang basah karena sisa hujan dan keringat, perut yang mulai kelaparan, mulut yang mulai kehausan dan kaki yang kelelahan , alhamdulillah, akhirnya saya sampai di kantor ayah saya pukul 20.55. Begitu masuk ke dalam mobil, alhamdulillah , ayah saya sudah membelikan saya seporsi nasi goreng dan sebotol air putih untuk saya berbuka puasa. Alhamdulillah, setelah itu perjalanan ke rumah tidak terlalu macet karena lewat tol bandara. Saya tiba di rumah pukul 22.00 dan langsung beristirahat tanpa sempat membuka lagi bahan ujian untuk esok harinya.     




Dulu saya pernah mengalami perjalanan antar kota yang paling lama, yaitu saat saya ada acara di Depok menggunakan angkutan umum selama  3 jam 45 menit . Dan sekarang sudah ada pengalaman baru, saya menjalani 5 jam perjalanan dari Cikini ke rumah saya. Alhamdulillah, selama perjalanan itu, saya malah sering tertawa mengingat betapa lucunya pengalaman perjalanan  saya kali ini. Mulai dari menghindari daerah Tugu Tani tapi malah kena macet yang sama di Menteng sampai kebingungan saya antara naik bus transjakarta atau taksi yang akhirnya malah berujung dengan jalan kaki di malam hari. Terima kasih Jakarta untuk pengalaman yang tidak terlupakan. Semoga Jakarta bisa lebih baik lagi dalam penataan transportasinya. Semoga kata kemacetan tidak lagi identik dengan kota Jakarta, Aamiin... 

Sabtu, 06 Oktober 2012

Kehilangan

Setiap orang pasti pernah mengalami kehilangan, baik kehilangan sesuatu yang dianggap kecil dan tidak terlalu penting sampai kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya. Beberapa hari yang lalu, sahabat saya kehilangan dompetnya, kakak kelas saya kehilangan ponselnya dan bahkan paman saya harus kehilangan anaknya. Setiap ada kehilangan, maka selalu ada pelajaran tambahan. Beberapa orang menganggap bahwa kehilangan  sesuatu yang sangat dicintai merupakan satu bentuk teguran dari Allah bahwa kita kurang amanah menjaga titipan Allah. Kehilangan juga mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang pernah kita miliki di dunia ini hanyalah titipan dari Allah yang akan kembali kepadaNya. Kehilangan mengajarkan kita akan arti sebuah kesabaran, keihklasan dan keyakinan kepada Allah atas segala rencanaNya. 

Menurut saya, ikhlas adalah pelajaran yang sangat sulit untuk dilalui. Saat mengalami kehilangan barang  seperti uang, ponsel atau perhiasan saja, terkadang kita sulit untuk ikhlas. Apalagi kehilangan orang yang kita cintai, rasanya ikhlas menjadi semakin sulit untuk dirasakan. Saya teringat sebuah film yang diadaptasi dari novel dengan judul "hafalan salat delisa". Film ini menggambarkan sebuah kehilangan besar yang dirasakan oleh seorang anak kecil. Anak ini harus kehilangan ibu, tiga kakak dan sebelah kakinya karena bencana tsunami di Aceh. Mungkin, untuk perempuan seperti saya, menonton film ini sama saja dengan menangis tiada henti. Tapi, hikmah yang bisa saya ambil dari film ini adalah sebuah keikhlasan yang bisa ditunjukkan oleh sang anak dalam menghadapi cobaan di hidupnya. Delisa memang masih anak-anak yang terkadang mudah terbawa emosi tapi dia dapat dengan sabar dan ikhlas menjalani hidup barunya dengan bahagia tanpa ibu, tiga kakak dan sebelah kakinya.

Berbicara tentang kehilangan dan keikhlasan, saya juga langsung teringat kepada kekasih tercinta, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang mengalami banyak kehilangan besar di hidupnya. Ayah, Ibu dan kakeknya meninggal saat beliau masih anak-anak. Bahkan, seluruh kerabatnya perlahan meninggalkan beliau saat beliau menyiarkan agama Allah. Seorang wanita yang amat dicintainya, Siti Khadijah , juga meninggalkan beliau di awal masa kenabiannya. Beliau juga kehilangan paman yang sangat dicintai dan mencintainya, Hamzah, di perang Uhud. Dan dari segala cobaan yang dihadapinya, Rasulullah tetap menjadi seorang manusia yang sabar dan ikhlas. Rasulullah tidak pernah mempertanyakan kehilangan yang dialaminya kepada Allah.

Rasulullah memang seorang Nabi, seorang manusia yang sempurna. Tapi, sebagai pengikutnya, ada baiknya kita berusaha untuk mencontoh kesabaran dan keikhlasan yang dimiliki Rasulullah. Semoga semua teman dan kerabat yang sedang mengalami kehilangan diberikan kekuatan untuk sabar dan ikhlas menghadapi segalanya karena semua hanyalah titipan Allah yang akan kembali kepadaNya. Aamiin..

Selasa, 25 September 2012

Apa yang salah dengan jilbab saya?

Penggunaan jilbab di masyarakat Indonesia memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam waktu 20 tahun terakhir ini. Yang saya ingat, di tahun 90an, penggunaan jilbab masih sering dipermasalahkan oleh berbagai kalangan. Beberapa sekolah negeri, melarang siswinya untuk mengenakan jilbab. Beberapa kantor juga melarang pegawainya mengenakan jilbab. Muslimah yang mengenakan jilbab di masa itu sering sekali diasosiasikan dengan teroris, penganut ajaran aneh, atau orang-orang keluaran pesantren yang kuno. Di masa itu, orangtua pun akan sangat bertanya-tanya ketika anaknya yang baru saja beranjak dewasa memutuskan untuk berjilbab, disangka mengikuti pengajian tertentu lah, atau prasangka buruk lainnya. Yang boleh menggunakan jilbab dimasa itu adalah ibu-ibu yang sudah tua dan sudah pergi haji. Seingat saya, itulah persepsi masyarakat Indonesia mengenai jilbab di tahun 90an.

Menginjak tahun 2000an, masyarakat Indonesia sudah bisa lebih membuka pikirannya mengenai perintah jilbab yang sudah jelas terdapat di kitab suci umat muslim, Al-Quran. Penggunaan jilbab di kalangan para muslimah pun semakin ramai, walaupun memang masih ada beberapa kantor yang melarang pegawainya berjilbab atau masih ada juga orangtua yang beranggapan bahwa jilbab adalah penghalang bagi anak putrinya untuk mendapatkan jodoh. Alhamdulillah, saya sudah mulai mengenakan jilbab sejak tahun 2002. Saat itu saya duduk di kelas 1 SMP, dan dari sekitar 40 siswa perempuan angkatan saya, hanya 4 orang siswa yang menggunakan jilbab. Saat itu, penggunaan jilbab memang sudah tidak menjadi hal yang aneh, tapi masih terhitung sedikit dan tidak seramai saat ini. Bahkan, saat saya mengikuti lomba di sekolah yang mayoritas siswanya adalah non muslim, jilbab saya cukup menarik perhatian mereka karena mereka belum pernah melihat orang berjilbab seperti saya. 

Sepuluh tahun kemudian, tahun 2010, alhamdulillah, semakin banyak masyarakat muslim di Indonesia yang memahami perintah wajib dari penggunaan jilbab ini. Bahkan pemikiran mengenai jilbab yang sangat sering dianggap tidak modis pun sudah berubah. Di tahun ini, makin banyak public figure yang akhirnya memutuskan untuk berjilbab dan semakin banyak pula desainer-desainer muda yang berusaha untuk menunjukkan kepada seluruh masyarakat bahwa penggunaan jilbab juga bisa tampil modis. Tren jilbab pun menjadi semakin ramai di kalangan muslimah Indonesia. Bahkan, ada beberapa orang yang akhirnya memutuskan berjilbab karena tren jilbab ini. Jilbab pun tidak lagi diasosiasikan dengan teroris dan ajaran sesat.

Penggunaan jilbab di negara yang mayoritas non muslim pun sudah mengalami banyak perkembangan. Walaupun di tahun 2001, kejadian teror di Amerika sempat membuat jilbab sangat ditentang oleh beberapa negara maju, saat ini, berdasarkan pengalaman teman-teman saya, jilbab sudah lebih dihargai dan toleransi mereka pun sangat baik terhadap kebebasan beragama. 

Tapi ternyata sampai saat ini,  di negara kita sendiri, Indonesia, masih ada beberapa pihak yang menganggap jilbab sebagai sesuatu yang aneh dan tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam sebuah iklan televisi. Saya mengalaminya sendiri. Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman saya diminta untuk mewakili kampus  dalam wawancara dengan sebuah perusahaan besar yang berkaitan dengan dunia kedokteran gigi mengenai program kerjasama yang sudah dilaksanakan selama beberapa kali. Disaat saya sudah siap untuk memulai sesi wawancara, tiba-tiba pihak dari perusahaan tersebut meminta teman saya untuk mencarikan lagi satu orang mahasiswa yang akan menggantikan saya karena saya tidak jadi di wawancara dengan alasan jilbab. Seumur hidup saya menggunakan jilbab, baru kali ini ada seseorang yang mempermasalahkan jilbab yang saya kenakan. Saat itu, saya cukup merasa terganggu dengan pernyataannya dan akhirnya saya pun pergi tanpa menanyakan alasannya. Ternyata, alasan mereka adalah karena sebenarnya yang akan dilakukan bukanlah wawancara melainkan pengambilan gambar untuk iklan produk mereka, dan oleh karena itu , untuk "branding" produk mereka, mereka meninginkan sesuatu yang netral dan tidak mewakili apapun. 

Saya masih tidak habis pikir dengan pola pemikiran mereka. Saya bukanlah orang pemasaran yang mengerti mengenai strategi pemasaran yang baik, tapi saya masih belum memahami letak kesalahan jilbab saya dalam iklan mereka. Kalau produk mereka adalah shampoo atau pewarna rambut, mungkin saya bisa memahami. Tapi, produk mereka adalah sesuatu yang berkaitan dengan kedokteran gigi. Ternyata, di tahun 2012 ini, masih saja ada beberapa orang yang mempermasalahkan jilbab. Semoga Allah segera memberi mereka hidayah, aamiin.




Sabtu, 04 Agustus 2012

Kekuatan Doa

Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah acara di televisi berisi ceramah singkat dari ustadz favorit saya, Yusuf Mansyur, yang membahas mengenai kekuatan doa. Ust.Yusuf Mansyur menceritakan banyak kisah yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh doa dalam kehidupan kita. Bahkan, ketika kita sedang terjebak hujan sehingga tidak bisa keluar dari sebuah gedung, berdoalah kepada Allah, meminta kepadaNya untuk sejenak menghentikan hujan. Allah Maha Berkuasa, maka menghentikan hujan adalah sebuah hal yang sangat mudah bagiNya. Jika kita meyakini Kekuasaan Allah, mengapa kita jarang sekali meminta kepadaNya?

Sesaat setelah menonton acara tersebut saya menjadi tersadar, betapa sedikitnya doa yang saya panjatkan kepadaNya padahal keinginan yang ada di dalam hati saya begitu menggunung. Betapa ruginya saya, melewatkan waktu-waktu yang dianugerahkan olehNya tanpa berdoa kepadaNya. Akhirnya, saya bertekad untuk memperbanyak doa saya kepadaNya. Besok adalah hari kerja saya di bagian klinik anak. Di klinik anak ini, cobaan demi cobaan sudah pernah kami lewati sebagai koas. Mulai dari kondisi anak yang terkadang 'ogah-ogahan' untuk dirawat, dosen-dosen yang cukup perfeksionis dalam meng-acc hasil pekerjaan kami dan kondisi alat bahan yang kurang memadai. Perawatan yang sudah direncanakan di hari sebelumnya terkadang tidak bisa terpenuhi seluruhnya, bisa jadi hanya 50% saja atau bahkan bisa gagal sama sekali jika tiba-tiba sang anak tidak mau datang ke klinik. Untuk mewujudkan tekad saya, maka saya berdoa kepada Sang Maha Kuasa agar besok, seluruh rencana perawatan saya dapat terlaksana.

Besok paginya, saya terpaksa menggunakan taksi ke kampus karena tidak ada yang bisa mengantar. Mengingat kondisi jalanan Jakarta yang selalu macet, saya tidak berani mengambil resiko untuk pergi ke kampus menggunakan busway. Di dalam taksi, pak supir menanyakan kepada saya mengenai rute yang saya pilih untuk ke kampus. Biasanya saya lewat Tanah Abang untuk menghindari kemacetan di Sudirman. Walaupun di Tanah Abang juga sedikit padat, namun setidaknya tidak sepadat jalanan Sudirman. Alhamdulillah, pagi itu, jalanan Jakarta bisa dikatakan sangat lancar, pak supir taksi juga berpikiran hal yang sama dengan saya. 
"Alhamdulillah lancar ya mbak, doa saya dikabulkan Allah ini"
"iya pak, alhamdulillah"
"beneran lho mba, saya beneran berdoa tadi pagi. Sebelum ke Jakarta ini, saya cuma muter-muter di Tangerang-Bandara aja mbak, cuma dapet sedikit setorannya, trus saya berdoa, semoga setelah ini saya dapet penumpang ke jakarta, tapi jalanannya yang lancar, abis itu saya bisa pulang ke rumah. Eh, saya beneran ke Jakarta dan jalanannya lancar ini mbak. Jarang-jarang Jakarta bisa lancar begini."
Subhanallah, baru saja kemarin malam, saya mendengar kisah mengenai kekuatan doa dari acara televisi dan sekarang saya bisa mendengarkannya langsung dari orang yang bersangkutan. 

Akhirnya, saya tiba di kampus pukul 8 dan berencana untuk mulai bekerja di pukul 8.30-11. Kenyataannya, hari itu, saya bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 1 siang, mengerjakan dua pasien anak dengan berbagai hambatan, mulai dari anak yang datang terlambat, diskusi mendadak dengan dosen dan alat kedokteran gigi ( mikromotor ) saya yang dipinjam oleh teman dan sedikit menghambat pekerjaan saya. Tapi, dari semua hambatan yang saya hadapi di hari itu, ada sebuah hal penting yang membuat jerih payah saya terbayar dengan lunas. Alhamdulillah, semua target rencana perawatan saya di hari itu terlaksana.

Sebenarnya, hambatan-hambatan yang saya hadapi di hari itu hampir membuat saya memulangkan pasien kedua saya karena tidak memungkinkan untuk saya rawat (karena masalah waktu), tapi saya mencoba untuk tetap mengerjakannya. Dengan pertolongan dari Allah melalui teman dan situasi klinik yang cukup membantu saya, akhirnya saya berhasil mengerjakan dua pasien di hari itu dengan target perawatan yang berhasil saya capai. Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Allah. Hari ini, walaupun dihadapi dengan beberapa hambatan, akhirnya rencana perawatan yang sudah saya susun sebelumnya bisa terlaksana seluruhnya. 

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Mulai dari acara televisi mengenai kekuatan doa yang saya tonton tadi malam, pengalaman supir taksi tadi pagi,  sampai keberhasilan saya mencapai target perawatan di klinik siang ini, semuanya benar-benar menunjukkan kepada saya bahwa doa sangat berperan dalam kehidupan kita. Inilah kekuatan doa, inilah Kekuasaan Allah. 

Minggu, 10 Juni 2012

Be positive!

Walaupun ada yang disebut dengan prasangka baik , tapi pada kenyataannya hati manusia memang lebih mudah dihinggapi prasangka buruk.Hal ini bisa dialami oleh siapa saja dalam kondisi apa saja. Berprasangka buruk kepada teman, sahabat, orangtua, keluarga dan pasangan sangat mudah terjadi ketika tidak adanya komunikasi yang lancar dan juga kepercayaan. Bahkan, kita juga bisa berprasangka buruk kepada ketetapan Allah akan kehidupan kita. Ini yang paling berbahaya.

Prasangka buruk juga bisa timbul karena adanya kenangan buruk di masa lalu akan sesuatu atau seseorang. Manusia memiliki kemampuan untuk menyimpan memori dari setiap kejadian dalam hidupnya. Memori yang paling bertahan lama di otak manusia adalah memori yang terindah dan juga terburuk. Pengalaman kecopetan akan membuat seseorang selalu berprasangka buruk setiap ada orang yang mendekatinya di tempat umum. Pengalaman dibohongi juga akan membuat seseorang menjadi tidak mudah percaya kepada kata-kata seseorang.

Padahal, Allah telah menjelaskan tentang prasangka ini di dalam firmanNya
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka adalah dosa.. " ( QS.49:12)

Jadi, untuk menghindarkan diri kita dari dosa, ada baiknya, kita selalu memperbaiki komunikasi yang tidak lancar, termasuk komunikasi kita kepada Sang Pencipta. Memiliki keyakinan dan kepercayaan adalah salah satu kunci untuk menghindari prasangka. Pastikan dulu kebenaran dari setiap berita yang didengar untuk menghindari prasangka yang akan berujung pada hal buruk lainnya, karena dari sedikit prasangka, akan berlanjut kepada kesalahpahaman dan pertengkaran. Kenangan buruk dimasa lalu tidak seharusnya membuat kita menjadi mudah untuk mencurigai seseorang, lebih baik jika kita bisa bersikap waspada dibandingkan curiga.  

Be positive! 


Selasa, 20 Maret 2012

Pahlawan masa kini

Ketika jam di ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Tangerang menunjukkan pukul 17.30, kami mendengar suara rintihan seorang anak yang menahan rasa sakit dan derap kaki yang terburu-buru, bergerak cepat memasuki ruang IGD. Pasien baru telah datang.

Setelah anak berbaju seragam putih merah itu dibaringkan diatas kasur IGD, seorang lelaki muda dengan usia mendekati 20 tahun , yang tadi telah menggendong anak kecil ini masuk , mulai berbicara kepada kami dan meminta pertolongan kami. Lelaki ini terlihat sedikit panik. Dia segera mengambil saputangan miliknya, lalu membasahinya dengan air dan berusaha untuk membersihkan darah yang ada di sekitar luka. Kami berpikir bahwa lelaki ini adalah keluarga atau kerabat dari pasien.

Kami pun bergegas memberi kabar kepada perawat bedah yang sedang bertugas di ruangan lain mengenai kehadiran pasien baru. Setelahnya, barulah kami mulai menanyakan kronologis kejadian yang dialami anak dengan luka robek pada kaki di bagian bawah lutut itu. Anak itu bercerita dengan panik karena melihat banyaknya darah yang keluar dari kakinya. Lukanya cukup besar, otot dalamnya pun terlihat dengan jelas. Akhirnya, kamipun bertanya kepada lelaki yang mengantarnya tadi yang kami yakini sebagai keluarganya. Tapi, ternyata, lelaki ini bukanlah keluarga ataupun kerabatnya. Dia hanyalah seorang lelaki yang tidak sengaja lewat di dekat lokasi kejadian dan melihat kondisi anak itu lalu segera membawanya ke Rumah Sakit. Dia pun tidak terlalu mengetahui kronologis kejadiannya apalagi identitas dari si anak. Yang dia ketahui hanyalah kondisi pasien yang harus segera diobati. Lelaki ini terus berdiri di samping kasur pasien sambil menunggu datangnya perawat dengan wajah penuh kekhawatiran dan iba. Tidak lama setelahnya, perawat pun datang dan segera memberikan pertolongan kepada pasien.

Memang sulit menemukan sosok pahlawan berhati mulia saat ini. Tapi, ketika aku melihat ketulusan dari seorang lelaki muda di ruangan IGD ini, aku pun menjadi percaya, bahwa hati yang mulia itu masih tersedia di bumi Indonesia walaupun sudah menjadi barang yang sangat langka. Lelaki itu mungkin bukan siapa-siapa, tapi dia adalah pahlawan bagi anak yang ditolongnya. Subhanallah.. Semoga Allah membalas semua kebaikannya, aamiin...


Minggu, 22 Januari 2012

Kuasa Allah

Apakah kau pernah melihat atau mendengar sebuah fenomena yang jelas-jelas menunjukkan betapa besar kuasa Allah dalam hidup kita sebagai hambaNya? Saya pernah dan beberapa akhir ini, saya semakin sering melihatnya.

Pertama, saya akan membicarakan soal kemungkinan seseorang terkena penyakit yang mematikan, seperti kanker ( maaf kalau topiknya soal kanker lagi, maklumlah, saya lagi sering bertemu dengan kasus ini :p). Seorang guru besar di kampus saya pernah menjelaskan kepada saya dan kawan-kawan tentang penyakit ini. Saat itu, kawan saya bertanya kepadanya, "Dok, sebenarnya, apakah yang menjadi penyebab terjadinya kanker?". Guru besar tersebut menjawab dengan santai, "Kanker itu tidak ada penyebab nya, karena itu semua sudah tertulis di tanganmu sejak kau lahir. Jika sejak awal, kau ditakdirkan mengidap kanker, maka apapun yang terjadi, kau akan tetap mengidap kanker. Tapi, jika kau memang tidak ditakdirkan mengidap penyakit kanker, maka kau tidak akan permah mendapatkan penyakit itu". Sejujurnya, saat itu, saya merasa jawaban beliau hanya sesuatu hal yang kurang ilmiah. Tapi, lama kelamaan, akhirnya saya menyadari bahwa yang dikatakannya adalah benar.

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan dua orang pasien kanker di RSCM. Kondisi kedua pasien sungguh berbeda dan bertolak belakang. Pasien pertama datang dengan kondisi lemah, sulit berbicara dan ditemani oleh istrinya. Setelah menggali informasi dari sang istri, akhirnya diketahui bahwa pasien pernah memiliki kebiasaan yang memang bisa menjadi faktor pemicu untuk terkena penyakit kanker, seperti merokok 3 bungkus per hari, memakan mie instan setiap hari, dll. Para dokter pun menjadi mudah untuk mengidentifikasi faktor yang memicu terjadinya kanker pada pasien pertama tersebut. Namun, pasien kedua sangat berbeda. Beliau datang sendiri dengan kondisi yang cukup baik walaupun ada gangguan pada penglihatannya. Beliau membawa sebuah tas yang berisikan toples dengan berbagai macam obat di dalamnya dan sebuah map yang berisi semua dokumen pemeriksaan yang telah beliau lakukan. Menurut saya dan kawan-kawan, pasien ini adalah orang yang rapi. Setelah bertanya beberapa hal, diketahui bahwa pasien ini sama sekali tidak memiliki kebiasaan yang dapat menjadi faktor pemicu terjadinya kanker. Bagi kami, bahasa kasarnya adalah " pasien ini tidak memiliki dosa untuk mendapatkan penyakit kanker". Beliau tidak merokok, beliau sangat jarang mengkonsumsi mie instan, dan hal-hal lainnya. Tim dokter pun cukup bingung untuk mencari faktor yang menyebabkan terjadinya kanker pada pasien kedua ini. Sampai, pada akhirnya, seorang dokter muda mengatakan kepada saya, " Inilah yang suka membuat saya bingung, dia (pasien) tidak memiliki kebiasaan apapun yang bisa membuatnya mengidap penyakit kanker, tapi jika ini sudah menjadi kehendak Tuhan, maka inilah yang terjadi".

Hal kedua yang ingin saya ceritakan adalah sebuah kecelakaan yang baru saja terjadi di daerah Jakarta pagi tadi. Sebuah mobil menabrak 12 orang yang sedang berjalan di trotoar dan menyebabkan 9 orang di antaranya meninggal dunia dan 3 orang lainnya kritis. Sungguh menyedihkan dan menyeramkan ketika saya mendengar berita ini. Sebagai pejalan kaki, saya seringkali berpikir, selama saya berjalan di tempat yang seharusnya dan tidak melanggar, maka saya akan terhindar dari hal-hal buruk seperti kecelakaan. Berjalan di tengah jalan lalu tertabrak mobil yang sedang melintas masih mungkin dan biasa terjadi, tapi kali ini , berjalan di trotoar saja bisa tertabrak sampai meninggal. Inilah kuasa Allah.

Persoalan merokok juga sering sekali berkaitan dengan hal ini. Banyak perokok yang mengatakan "yang tidak merokok, juga bisa mati muda" atau "yang merokok sampai tua dan masih hidup dengan sehat juga banyak, jadi untuk apa saya berhenti merokok". Hal serupa juga bisa dikaitkan dengan persoalan kanker yang saya bahas sebelumnya, "Jika yang tidak merokok saja bisa terkena kanker, untuk apa saya berhenti merokok, toh sama saja". Sebenarnya bukan itulah kesimpulannya. Bagi saya, tubuh dan kesehatan yang telah diberikan oleh Allah kepada kita adalah sebuah amanah yang harus kita jaga. Oleh karena itu, kita harus mensyukuri hidup ini dengan selalu menjaga kesehatan kita.

Tidak ada yang bisa menjamin sesuatu dalam hidup kita, karena kepastian itu hanyalah milik Allah, tugas kita hanyalah berusaha dan berdoa demi kebaikan kita. Allah memiliki kuasa penuh atas diri kita. Apapun yang kita inginkan dan usahakan, jika Allah tidak meridhainya maka itu tidak akan terjadi. Hidup, mati, rezeki dan jodoh, semua bergantung kepada kehendakNya. Sebagai hambaNya, kita harus yakin bahwa apapun keputusan Allah itulah yang terbaik untuk kita. Allah knows best!!

Sabtu, 29 Oktober 2011

Aku, Transjakarta dan Depok

Tulisan ini kubuat di tahun 2009 dengan sedikit pengeditan...

Depok adalah sebuah kota yang terletak di propinsi Jawa Barat. Kota yang cukup jauh dari rumahku, Tangerang, Banten. Jadi, kalau aku mau ke Depok berarti aku akan menyebrangi propinsi Jakarta terlebih dahulu. Setelah kurang lebih 2 tahun berkuliah di FKG UI Salemba, aku sudah mengetahui banyak cara untuk pergi ke depok.

Berangkat dari kampus :
1.Ikut mobil teman, paling mudah dan murah, hehe..
2.Naik kereta dari cikini atau manggarai, bisa AC ekonomi, ekonomi atau ekspress, tergantung uang, waktu dan luck.

Berangkat dari rumah :
1. Diantar supir, paling nyaman ( maklum belum lancar membawa mobil sendiri ), kira-kira 1,5 jam, lewat jalan tol.
2. Naik Bus Deborah , bus kota jurusan depok kalideres ( cara yang diajarkan kakak ). Rutenya adalah Rumah - kalideres naik angkot - Depok. Tapi karena bus ini jalannya sangat lama kalo belum penuh, jadi memakan waktu kurang lebih 3 jam.
3. Naik Transjakarta busway ( cara terbaru yang aku cari sendiri ). Rutenya Rumah - Kalideres naik angkot - lebak bulus naik busway - depok naik deborah kecil jurusan lebak bulus-depok. Kalau yang ini, kira-kira waktunya 2,5 jam.

Pulang dari depok :
1. Naik Bus Deborah dari margonda sampe kalideres, dilanjutkan dengan angkot kira-kira 3 jam.
2. Naik damri dari ps. minggu yang dilanjutkan dengan naik ojek, kira-kira 1,5-2 jam.

Akhirnya, demi kenyamanan dan efisiensi waktu, aku paling sering berangkat naik transjakarta busway dan pulang naik damri.

Tibalah waktunya , aku harus pergi ke Depok untuk menghadiri sebuah acara. Pagi-pagi, angkot yang aku naiki ke kalideres terhambat karena ada pengecoran jalan, ya, perjalanan yang harusnya 25 menit menjadi 45 menit. Wah, kemungkinan telat nih. Lanjutlah aku menaiki Transjakarta busway dari Halte Kalideres. Saat menunggu, tiba-tiba datanglah busway dengan jurusan pulogadung - kalideres ( jurusan ini termasuk jarang sekali ) dengan kondisi yang kosong dan aku dapat tempat duduk. Beruntung sekali, padahal aku cuma naik sampai halte indosiar. Rencananya, aku akan transit di halte indosiar lalu ganti busway ke lebak bulus..

KALIDERES - INDOSIAR - LEBAK BULUS

Tibalah aku di halte indosiar. Setelah aku turun dari busway, aku berniat mengantri untuk jurusan ke lebak bulus, namun ternyata ada sebuah kertas yang ditempel di depan pintu kaca bertuliskan 'JURUSAN LEBAK BULUS, TRANSIT DI GROGOL 2,TRIMS '

Ha???

Jadi, aku salah turun dan harus naik lagi busway yang lewat grogol 2. Kira-kira seperti inilah gambaran lokasi halte grogol 1 dan grogol 2. :
1. Grogol 1 letaknya di jalanan menuju roxy, di samping kampus Trisakti , dilewati oleh busway tujuan harmoni dan tujuan pulogadung yang bertuliskan "via roxy". Dari Jelambar, tinggal lurus.
2. Sedangkan Grogol 2, letaknya di jalanan menuju Taman Anggrek, di depan Mal Ciputra, hanya dilewati oleh busway tujuan pulogadung saja. Dari Jelambar, belok kanan.

Akhirnya, aku menunggu busway yang akan melewati grogol 2. Sudah 20 menit menunggu, Busway itu tidak kunjung datang, yang ada hanya busway yang ke arah harmoni dan yang lewat grogol 1 saja. Akhirnya, datanglah busway yang seharusnya melewati grogol2, kenapa seharusnya? karena tiba-tiba saat aku masuk bis dan bertanya

Aku : ' mas, ini lewat grorol 2 kan?'
Petugas busway itu menjawab : ' waduh mba, kalau sabtu minggu memang tidak ada yang lewat grorol2, jadi semuanya lewat grogol1, kalo mba mau ke lebak bulus, turun aja di grogol 1 trus jalan ke halte grogol2 lewat jembatan penyebrangan '

Ya Allahu robbii...

Jadi, selama 20 menit, aku menunggu bis yang tidak ada, sedih, akhirnya aku pun turun di grorol1 dan berjalan menuju grogol2 melewati jembatan. Sesampainya di grogol2, penantian masih berlanjut, karena busway jurusan lebak bulus ini pun termasuk masih sedikit jumlahnya. Kira-kira 15 menit menunggu, akhirnya bis datang juga. Penuh! jadi terpaksa berdiri.

1. KALIDERES - 2. GROGOL2 - 3. LEBAK BULUS
Perjalanan cukup jauh, karena dari grogol ke lebak bulus akan melewati Jalan Panjang dan Arteri Pondok Indah. Setelah sekian lama berdiri, akhirnya aku mendapat tempat duduk ketika bis berada di daerah pondok indah, ya, lumayan. Akhirnya tiba di halte pondok indah , tempat aku turun dan melanjutkan dengan bus kecil deborah jurusan lebakbulus – depok.

Tapi, lagi-lagi, begitu aku akan turun dari bis, aku melihat ke jalanan lebak bulus , bus deborah yang akan aku naiki baru saja jalan. Ini berarti, aku telat beberapa menit. Ya, bus deborah ini memang sedikit, jadi hanya datang setiap 15 menit sekali. Selain itu, kondisinya juga terkadang penuh sesak, sampai-sampai, aku pernah berada di dalamn bus deborah itu dengan hanya 1 kaki di atas tanah dan tidak berpegangan kepada apapun sambil berdiri dihimpit 6 orang di deket pintu yang berhasil membuatku sesak napas. Pengalaman.

Akhirnya, aku harus menunggu lagi 15 menit, hingga deborah yang selanjutnya datang. Alhamdulillah, tidak ramai dan aku masih mendapat tempat duduk. Perjalanan dilanjutkan sampai Detos karena aku akan masuk UI melewati gang senggol. Dan setelah kulihat jam..

Waw, rekor! Aku ke depok dengan angkutan umum selama 3 jam 45 menit !!

Perjalanan yang mengajarkan kesabaran, dan hikmah lainnya. Semoga tidak sia-sia, Aamin.
Ya Allah, setiap langkahku keluar rumah, tidak lain hanya untuk menggapai ridhoMu. Berikan aku kesabaran dan keikhlasan dalan menjalani semuanya, Aamiin...

Senin, 03 Oktober 2011

hello unperfect world

Ketika kau berlaku baik maka kau pun akan mendapatkan balasan yang baik.
Ketika kau merasa bahwa kau benar, maka janganlah takut untuk mempertahankan prinsipmu.
Katakan yang salah adalah salah, katakan yang benar adalah benar.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat idealis di atas. Hanya saja, dunia ini memang tidak sempurna. Itulah kata-kata yang diucapkan senior di kampusku yang membuatku merenungkan segalanya.

Untuk beberapa alasan, terkadang kau harus memilih untuk diam sesaat dibandingkan mengatakan prinsipmu dengan lantang. Bukan pengecut, hanya saja, kau harus lebih pintar mengatakannya. Jangan sampai, prinsipmu yang benar itu membuatmu terjatuh dan tidak bisa lagi memperjuangkannya. Berpikir sebelum bertindak benar-benar harus diterapkan. Insya Allah, akan ada waktu dan cara yang tepat bagimu untuk mengatakan prinsipmu dengan lantang. Layaknya strategi perang, mundur untuk mengatur strategi demi kemenangan esok hari.

Untuk beberapa kondisi, perlakuan baikmu mungkin tidak berbalik baik kepadamu. Ketulusan dan keikhlasanmu dalam bekerja mungkin tidak berbuah manis. Tapi, itulah ikhlas. SSeberapa besar kebaikan yang kau berikan, tak akan kau bandingkan dengan seberapa besar keburukan yang kau dapatkan.

Dunia ini tidak hanya dihuni oleh orang-orang dengan pemikiran dan sikap yang sama. Ada yang memiliki kekuasaan, ada yang mengemis kekuasaan dan ada juga yang menyalahgunakan kekuasaan. Satu sama lain saling berhubungan dan ketika kau sudah berada di dalamnya, maka bukalah mata dan hatimu, perhatikan sekitarmu, dan pahamilah bahwa dunia memang tidak sempurna.

Kebaikan dibalas kebaikan hanya berlaku dalam hukum Sang Maha Kuasa. Maka, teruslah berharap kepadaNya, teruslah mendekatkan diri kepadaNya, agar kita siap mengahadapi setiap ketidaksempurnaan yang ada di dunia ini.

*dedicated to my Excellentgroup

Kamis, 22 September 2011

Semua ada harganya

Hemat pangkal kaya..
Rajin pangkal pandai..

Dua kalimat yang diajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar ini membuat kita menjadi berpikir bahwa segalanya membutuhkan usaha. Jika kau ingin kaya, maka hiduplah dengan hemat dengan tidak membuang-buang uang untuk hal yang tidak terlalu penting. Jika kau ingin pandai, maka rajinlah belajar, karena nilai A tidak akan didapatkan oleh seseorang yang tidak pernah belajar.

Setiap usaha akan dihargai. Bahkan terkadang, usaha itu lah yang akan lebih dihargai dibandingkan dengan hasil akhirnya. Hal ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan kita. Dalam agama, kita pun diajarkan untuk berusaha sebaik mungkin dalam meraih ridhoNya, jika kita menginginkan syurgaNya.

Semua ada harganya. Ketika kau ingin mendapatkan hasil terbaik, maka kerahkan kemampuanmu yang terbaik, berusahalah sebaik mungkin. Para pahlawan kemerdekaan Indonesia harus membayar kemedekaan negeri kita dengan nyawanya. Para ilmuwan yang saat ini mungkin mendapatkan uang tanpa harus bekerja telah melewati ratusan kegagalan dalam percobaannya. Sudah seberapa imbangkah, usaha yang kau lakukan dengan target yang kau inginkan?

Allah Maha Melihat dan Maha Adil.
Jika kau berusaha 10 % , maka jangan mengharapkan hasil 20%, apalagi 100%.
Tapi, jika kau telah berusaha 90 %, namun hasil yang didapatkan hanya 70 %, maka janganlah bersedih, karena sesungguhnya 20 % sisanya telah disimpan oleh Allah dan akan diberikan kepadamu di waktu yang tepat dengan cara yang tepat.

Semua ada harganya. Maka berusahalah dengan sebaik-baiknya.

"work hard" , photo by Drg.Nada

Selasa, 13 September 2011

Life & Trouble

Hidup tanpa masalah bagaikan sayur tanpa garam. Kehidupan manusia memang akan terus diiringi dengan masalah. Pada dasarnya masalah adalah ketidaksesuaian harapan dengan kenyataan yang ada , tentu saja dalam kehidupan seorang manusia, harapan yang ada di dalam dirinya tidak selalu bisa berubah menjadi kenyataan karena segalanya tergantung kehendak Sang Maha Penguasa.

Namun, Allah Sang Maha Pengasih telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat terakhir yang menyatakan bahwa Allah tidak akan membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya. Subhanallah. Begitu Maha Pengasihnya Allah.

Lihatlah kondisi negara kita saat ini. Negara yang sangat kaya akan sumber daya alam dan budaya, kini pun telah menjadi negara yang kaya dengan masalah. Mulai dari persoalan politik, kepemimpinan, pendidikan, keagamaan, kesejahteraan, hukum, bahkan sampai kepada permasalahan olahraga, negara kita memiliki semuanya.

Negara ini memang sangat besar dengan jumlah penduduk yang juga tidak sedikit, dengan ragam budaya yang begitu berlimpah. Syukurku atas segala karunia Allah atas indahnya negara ini. Menurutku, seseorang yang merelakan dirinya untuk memimpin negara sebesar ini adalah orang yang cukup berani dan cukup hebat. Apalagi melihat banyaknya juga masalah yang hadir di negeri ini.

Aku teringat perkataan pembina asramaku di Insan Cendekia dulu, beliau mengatakan "Orang yang besar akan memiliki masalah yang besar juga". Itu karena Allah Maha Adil. Seorang guru panutanku, Bapak Alm. Zulhiswan juga pernah mengatakan bahwa "Laut yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang tangguh". Perkataan guru-guruku inilah yang akhirnya membuatku yakin bahwa negeriku adalah negeri yang besar, negeri yang luar biasa, negeri yang hebat.

Begitupula, jika dikaitkan dengan firman Allah di ayat terakhir Al- Baqarah, Allah tidak akan membebani negeri ini dengan permasalahan yang tidak dapat diatasi oleh negeri ini sendiri. Aku yakin, waktu itu akan datang, waktu kemenangan kita.

Bersyukurlah atas segala karunia yang diberikannya baik berupa hal yang menyenangkan maupun yang berupa masalah, karena masalah itulah yang akan menjadikan kita lebih baik lagi dan yakinlah masalah itu akan dapat diselesaikan karena Allah Maha Pengasih kepada ciptaanNya. Semangat Indonesiaku, Semangat negeriku! Doaku selalu menyertaimu..





Senin, 25 Juli 2011

Nelayan VS Pemburu

Seorang nelayan akan pergi ke lautan dengan persiapan yang sudah lengkap. Kapal dengan bahan bakar yang terisi penuh, umpan terbaik untuk para ikan dan juga jala-jala yang siap dilepaskan ke lautan untuk menangkap para ikan. Biasanya nelayan akan berlayar dulu ke bagian tengah lalu baru mulai menebar jalanya, sesekali nelayan akan menggunakan umpan yang telah disiapkannya. Jala yang dilempar cukup besar supaya ikan yang terjaring di dalamnya relatif banyak. Nelayan tidak terlalu ambil pusing mengenai jenis ikan yang akan tertangkap di jalanya. Terkadang hanya terdiri dari satu jenis ikan, tapi tidak menutup kemungkinan kalau jenis ikan lain pun ada yang ikut terperangkap. Yang penting bagi para nelayan, dia tidak pulang dengan tangan kosong, jala yang dilemparkan ke dalam laut telah berhasil menangkap ikan, berapapun jumlahnya.

Seorang pemburu juga memiliki persiapan yang matang sebelum memasuki daerah hutan untuk menangkap buruannya. Senjata yang bagus dan segala perlengkapan tambahan lain pasti sudah ada di dalam tasnya. Sedikit berbeda dengan nelayan, pemburu pasti sudah memastikan dengan jelas, jenis hewan apa yang ingin diburunya. Apakah seekor rusa yang cantik atau seekor macan yang sangar. Sebelumnya, pemburu pun sudah lebih lama mengamati perilaku hewan buruannya. Apa yang bisa menjadi umpan terbaik untuk hewan tersebut, bagaimana pola hidup hewan tersebut dan yang lainnya. Jadi, begitu sampai di hutan, pemburu ini akan fokus terhadap satu hewan buruannya. Dengan segala persiapan yang telah dilakukan, pemburu akan dengan sabar dan berusaha keras untuk menangkap buruannya. Jika gagal ,baru lah pemburu akan kembali mengatur strategi untuk mendapatkan hewan buruan sasarannya. Kegigihan dan kesabaran sangat khas dimiliki para pemburu. Yang penting bagi para pemburu adalah keluar dari hutan dengan membawa hewan buruan yang sesuai sasarannya.

Which one do you like?
I like the second one.

Jumat, 15 Juli 2011

going overseas?

Since I was a child, I always admire my father's job. It's not about the salary, but it's about going overseas. My Father could have gone to several countries for doing his job, he is going overseas for free, even he could buy me some souvenirs. I want to be like him.

But, one time, my father said that I couldn't go overseas by myself even for free. He said, it's not good for me. If I want to go overseas, I have to go with my family. He is a very protective father, but I love it because it means he loves me. At first, I thought that my father would change his decision if the opportunity to go overseas for free was really come to me. But, I was wrong.

3 years ago, my sister became the first "outstanding student" at my faculty. Because of that, she had an opportunity to take a short course in Singapore for free. FOR FREE. But, my father didn't give her a permission. See? I was wrong. My father wouldn't change his decision for any reasons.
Since that, I know that my father won't allow me to go overseas by myself even for FREE. Yes, He mean it. And I've already buried my dreams to go overseas until I have my own family. I can accept his decision.

Actually, when I was in high school, my teacher asked me to join a camp selection to represent my school. The camp was called SYC ( Sunburst Youth Camp ). The participants are the students from 37 choosen schools in Java and each school represented by 2 students, 1 boy and 1 girl. The 1st selection is to choose the best 20. I'm in. The 2nd selection is to pick the best 12 that will go to Singapore to join the camp. I'm out. hahaha.... Maybe, the committee knows that my father wouldn't allow me to join the camp.

Last year, I got the 2nd place of the "outstanding student" at my faculty. And because of that, yesterday, my college teacher asked me to join a leadership training in Vietnam for free at January 2012. Actually, at that time, I just want to say "no" to my college teacher because I know that I won't get the permission from my father and at January 2012, I can't leave my clinic stage even only a day or I won't pass the stage. But, he insisted me to fill the form and just send it. If I could pass the selection, we'll see later.

I keep thinking. Maybe I should ask my mom about it. Just try it. But finally, I don't think that I really want to go because I just don't want to. I don't want to try to ask my father and I don't want to leave my clinic stage. So, I just say "no" to my college teacher and leave the form empty.

I hope its the best decision. Insya Allah.. :)

"going overseas? Not now"

*my first post in English.. :p

Selasa, 03 Mei 2011

Rules and the Breaker


Hidup kita selalu didampingi oleh suatu tatanan hukum yang disebut dengan Rules atau Peraturan. Ada yang tertulis seperti hukum negara, undang-undang dan lainnya, namun ada juga yang tidak tertulis , misalnya tata krama, adab , dan sebagainya. Menurut saya, keberadaan peraturan dalam hidup kita adalah sebuah keharusan untuk menciptakan hidup yang lebih teratur dan baik. Namun ada beberapa orang yang meyakini bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar. Ya, mereka adalah orang-orang yang akan saya sebut sebagai “the breaker”.
Bagi saya, ada 2 tipe dalam golongan “the breaker”. Yang pertama adalah para pelaku yang memang tidak setuju dan memiliki pendapat yang bertentangan dengan peraturan yang ada, misalnya seperti peraturan yang melarang para perokok untuk merokok di tempat umum . Mereka tidak setuju dengan peraturan tersebut karena mereka merasa bahwa asap rokoknya tidak mengganggu orang lain sehingga mereka dengan tenang akan melanggar peraturan yang ada yaitu tetap merokok di tempat umum. Untuk tipe pelanggar macam ini, saya masih lebih bisa memaklumi perilaku mereka karena yang menjadi masalah adalah pemahamannya. Mereka adalah orang yang belum paham, jadi yang harus dilakukan adalah memberikan pemahaman lebih kepada mereka sampai mereka memahami maksud dari peraturan tersebut. Namun, sayangnya orang-orang tipe pertama ini biasanya tidak mengungkapkan ke-tidak setuju-an nya terhadap peraturan yang ada, sehingga mereka pun tidak mendapatkan penjelasan dari pihak pembuat peraturan.
Ada lagi satu tipe yang menurut saya lebih parah dibandingkan yang pertama, yaitu para pelaku yang sebenarnya sudah paham maksud dari peraturan yang dibuat dan setuju dengan adanya peraturan tersebut namun tidak mau melakukannya karena mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Misalnya adalah peraturan yang melarang masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. “The Breaker” ini mengetahui dampak yang akan terjadi jika mereka masih membuang sampah sembarangan, namun karena hati dan pikirannya dimenangkan oleh egoisme diri sendiri , misalnya kemalasan, akhinya mereka telah menjadi “the breaker” yang menurut saya lebih merugikan. Mereka adalah orang yang paham namun pura-pura tidak paham atau sudah paham namun tidak sadar atau yang lebih parah, mereka adalah orang yang paham, sadar namun tidak mau. Biasanya mereka adalah orang-orang yang lebih sulit untuk ditangani karena kekuatan egoisme yang ada dalam diri mereka. Satu-satunya cara yang mungkin dilakukan adalah dengan memberikan tekanan lebih kepada mereka atau dengan sistem imbalan yang disebut reward and punishment.
Sampai saat ini, saya masih sering menemukan 2 tipe “the breaker” ini. Dalam bahasa mudahnya tipe pertama adalah orang yang tidak tahu dan tipe kedua adalah orang yang tidak mau. Tipe kedualah yang lebih sering membuat saya terheran-heran dengan perilaku “breaking the rules” yang mereka lakukan dengan bangga, santai dan dengan wajah “innocent”. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita dalam menghadapi tipe kedua ini dan semoga Allah segera memberikan penyadaran kepada mereka. Amin...
Allah telah menciptakan dunia ini dengan segala keteraturannya. Sebagai makhluk ciptaanNya, bukankah kita seharusnya juga menjadi pribadi yang taat peraturan?

Selasa, 22 Februari 2011

Pria vs Wanita

Allah menciptakan pria dan wanita untuk saling melengkapi. Menurut ilmu yang pernah saya dapatkan dari seorang guru, ada 4 ciri khas yang sering ditemukan menjadi pembeda antara pria dan wanita selain dari ciri khas fisik yang nampak oleh mata.

1. Kemampuan spasial pria lebih baik dibandingkan wanita. Hal ini bisa dibuktikan dengan sulitnya para wanita untuk membaca peta, menghafal jalan, atau menentukan bentuk dari suatu benda, apakah kotak, persegi panjang atau segilima. Sedangkan pria akan lebih mudah untuk menentukan jalan mana yang akan dipilih untuk dilalui.

2. Wanita lebih kuat merekam memori dibandingkan pria, apalagi memori yang buruk. Bagi wanita, suatu kesalahan mungkin bisa dimaafkan tapi tidak untuk dilupakan. Wanita menyimpan memori buruk secara terpisah, berbeda dengan pria yang lebih mudah melupakan kesalahan yang sudah dimaafkannya. Oleh karena itu, wanita lebih sering mengingat lagi permasalahan yang sudah berlalu karena sulit bagi wanita untuk menghapus memori buruk secara keseluruhan.

3. Sudut pandang wanita lebih besar dibandingkan pria. Bisa dikatakan, sudut pandang wanita sebesar 180 derajat, sedangkan pria tidak. Oleh karena itu, terkadang pria kesulitan untuk mencari barang di dalam sebuah lemari atau meja, sedangkan wanita akan lebih mudah menemukannya. Dan, pria lebih sering melirik / menengok untuk melihat sesuatu di sampingnya. Sedangkan bagi wanita, tanpa melirik / menengok pun, wanita sudah dapat melihat benda yang ada di sampingnya.

4. Wanita lebih 'multitasking' dalam bekerja, dibandingkan pria. Wanita bisa menonton televisi sambil memasak, atau mendengarkan orang berbicara sambil menulis. Sedangkan pria akan kesulitan untuk melakukan hal seperti itu.

Perbedaan ini tidak mutlak ada pada setiap pria maupun wanita. Ada beberapa wanita dan pria yang tidak sesuai dengan keterangan saya di atas. Karena memang setiap manusia itu unik dan memiliki ciri khasnya masing-masing. Subhanallah.. Itulah kekuasaan Sang Maha Kuasa.

Dari pemaparan saya di atas, dapat dipahami, mengapa wanita memiliki tugas untuk mengurus rumah tangga dengan pekerjaan yang begitu banyak sedangkan pria memiliki tugas sebagai pemimpin yang akan menunjukkan jalan dari bahtera rumah tangga tersebut.

Setelah mengetahui perbedaan itu, maka siapkanlah diri kita masing-masing untuk dapat memahami karakter setiap orang karena kita akan selalu hidup berdampingan. Pria dan Wanita.


*thanks to mas Arief Munandar atas ilmunya

Jumat, 07 Januari 2011

Menunggu

Seorang teman pernah berkata kepadaku bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan. Saat itu, aku pun memiliki pemikiran yang sama dengannya, tapi di sisi lain, aku juga berpikir bahwa menunggu memiliki arti pelajaran tersendiri bagi kita. Dengan menunggu, maka secara gratis, kita telah mendapatkan pelajaran untuk bisa bersabar. Pelajaran yang sangat berharga bukan?

Menunggu bisa menjadi benar-benar tidak menyenangkan, ketika sesuatu yang kita tunggu tidak dapat menghargai waktu yang ada sehingga dengan santai melanggar janji yang telah dibuat. Dalam konteks ini, aku sama sekali tidak membenarkan pihak yang melanggar janji untuk dapat terus terlambat dan membiarkan kita menunggu dengan alasan kesabaran, walaupun pada kenyataannya, sabar memang tidak ada batasnya.

Lain halnya lagi dengan menunggu sesuatu yang memang belum bisa diketahui segala sesuatu tentangnya. Masa depan. Banyak sekali kudengar bahwa kita selalu merasa ingin tau apa yang terjadi selanjutnya, dan akhirnya kita berusaha membuat sendiri cerita yang kita inginkan agar masa depan itu dapat kita buat sesuai keinginan kita. Perencanaan masa depan memang sangat baik dan perlu dilakukan, karena kalau bukan kita yang merencanakan, lalu siapa ? Namun, terkadang kita lupa akan kekuasaan Sang Maha Kuasa, yang dapat saja memutarbalikkan semua perencaan yang telah kita buat dan akhirnya membuat kita jatuh tersungkur dalam lembah kekecewaan..

Allah adalah Dzat Yang Menciptakan kita dan seluruh isi dunia. Allah yang memiliki kuasa untuk membuat segala sesuatunya terjadi di dunia ini. Allah bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap seluruh hambaNya. Allah juga Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, sehingga hanya Allah yang mengetahui apa yang terbaik bagi hambaNya. Maka,

Apa yang harus kita khawatirkan akan masa depan, ketika kita meyakini bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Maha Kuasa, Maha Penyayang dan Maha Mengetahui atas diri kita dan yang terbaik untuk kita?

Jadikanlah kata menunggu itu sebagai sebuah anugerah bagi kita untuk menantikan kejutan terbaik dari kekasih kita, Allah Subhannalahu Wa Ta'ala. Semangat!

Kamis, 23 Desember 2010

There's only one hope

Aku punya sebuah harapan, karenanya aku berusaha keras untuk menggapainya. Harapan dalam kehidupan sosial dengan sesama makhlukNya. Terkadang, aku berharap untuk mendapatkan perhatian dari orang tersayang di saat tertentu, terkadang aku berharap untuk dapat memberikan perhatian kepada orang tersayang. Tidak jarang pula, aku berharap agar aku miliki waktu yang cukup untuk dapat berkumpul bersama mereka, berbagi ilmu, saling mengingatkan, saling menguatkan dan saling menyayangi..

Namun, itulah aku , seorang makhluk yang memiliki banyak kekurangan. Tanpa sadar, mungkin aku terlalu besar menaruh harapan kepada orang-orang di sekitarku. Begitu pula, terhadap diriku sendiri. Mulai muncul sedikit pecahan kekecewaan dalam hati, karena harapanku tidak dapat terpenuhi sebesar apapun usahaku. Kenyataannya, harapan itu tidak akan terwujud, jika aku hanya meletakkannya pada makhluk...

Mungkin saja, aku telah memberikan yang terbaik untuk menggapai harapanku. Namun ternyata setiap kebaikan tidak selalu dibalas dengan kebaikan. Setiap usaha terbaik tidak selalu berujung pada hasil yang baik, kecuali jika kau letakkan harapanmu itu pada Sang Maha Pencipta dan Maha Pemilik Atas Segalanya, termasuk harapan yang ada di dirimu...

Hanya ada satu harapan yang dapat membuatmu tersenyum bahagia tanpa ada sedikitpun pecahan kecewa yang mampu mengiris hati dan membuat luka di dalam dirimu, yaitu harapan atas segala keridhoanNya, harapan atas setiap berkah dan cintaNya, harapan atas segala keputusanNya...

Hanya ada satu , hanya kepadaNya..

Dia mengajarkan kita untuk ikhlas dan sabar ketika harapan itu belum dapat kita gapai, namun seandainya pun harapan itu bergerak semakin menjauhi kita, maka yakinlah bahwa Dia telah memilihkan harapan terbaik bagi kita.. Harapan hanya kepadaNya , berarti tidak ada rasa ingin mendapatkan balasan yang sama, tidak ada lagi rasa kecewa dan tidak ada lagi rasa menuntut yang tinggi..

*ikhlaslah dengan setiap ilmu, tenaga, waktu, dan materi yang telah kau berikan untuk orang lain walaupun kini kau tidak mendapatkan balasan apapun atasnya, karena harapanmu bukan kau letakkan pada manusia, melainkan kepada Sang Pencipta *