Kamis, 22 November 2012

Ujian komprehensif, Hujan dan Jakarta



Siapa yang tidak tahu bahwa Jakarta itu sangat identik dengan kemacetan. Berbagai usaha sudah dilakukan oleh pemda Jakarta untuk mencoba menangani permasalahan ini, seperti peraturan 3 in 1 di daerah sudirman-thamrin, pembuatan jalan bebas hambatan di hampir seluruh wilayah kota Jakarta, pengadaan bus transjakarta dan commuter line. Tapi ternyata  usaha-usaha ini masih belum mampu menjadi solusi bagi  masalah kemacetan di Jakarta. Saya, sebagai pengguna rutin jalanan di jakarta, mungkin sudah cukup memahami kondisi Jakarta yang seperti ini. Saat hari raya idul fitri sajalah, Jakarta bisa terlihat lengang karena penduduknya banyak yang mudik ke kampung halaman. Selain hari itu, maka hari-hari sisanya adalah "tiada hari tanpa macet" di Jakarta.



Kemacetan yang biasa terjadi sudah menjadi pemakluman tersendiri buat saya yang bertempat tinggal di kota sebelah, Tangerang , namun beraktivitas di Jakarta. Dengan jarak kurang lebih 40 km, waktu yang saya butuhkan dari Salemba ke rumah biasanya berkisar 1-1,5 jam. Namun beberapa hari terakhir, yang saya alami bukanlah macet yang biasa, karena dilengkapi dengan hujan yang mengguyur jalanan Jakarta.  Hujan membuat para pengendara motor berteduh hampir  di bawah setiap jembatan, terowongan dan fly over yang mengakibatkan jalur yang tadinya ada tiga menjadi tinggal dua. Hujan juga membuat jalanan Jakarta tergenang dan mobil-mobil akan berjalan lebih lambat dibanding biasanya. 


Hari Selasa, 13 nov 2012, saya berencana untuk pulang lebih sore dari kampus karena akan belajar bersama dengan teman-teman di perpustakaan untuk mempersiapkan ujian komprehensif keesokan harinya. Tiba-tiba, hujan deras mulai mengguyur jalanan Jakarta sejak ashar. Saya masih berharap hujan akan reda disaat saya akan pulang kerumah. Tapi sampai pukul 17.00, hujan belum juga berhenti. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang menggunakan taksi. Kemacetan mulai terjadi dimana-mana karena hujan deras yang tidak kunjung reda. Alhamdulillah, akhirnya saya tiba di rumah tercinta pada pukul 19.30. 2,5 jam perjalanan cukup membuat saya lelah walaupun hanya duduk di dalam taksi. Mengingat besok akan ada ujian dengan 100 soal  yang harus diselesaikan dalam waktu 100 menit, maka saya pun segera beristirahat dan mempersiapkan diri untuk ujian besoknya. 

Ujian komprehensif dilakukan selama 2 hari, oleh karena itu,  Senin, 19 nov 2012, saya kembali belajar dengan teman-teman saya untuk persiapan ujian esok hari. Tapi, kali ini saya dan teman-teman mencoba belajar dirumah teman saya di daerah Cikini. Lagi-lagi, hujan mengguyur jalanan Jakarta sejak ashar. Rencananya, hari ini saya akan pulang dengan ayah saya yang akan menunggu saya di kantornya di daerah Monas. Setelah kegiatan belajar selesai dan melihat langit yang semakin gelap, saya memutuskan untuk mulai beranjak ke kantor ayah saya dengan menggunakan taksi dari arah Cikini sekitar Pukul 17.00. Biasanya, perjalanan cikini - monas akan membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit. Tapi, sepertinya hujan di sore ini akan membuat waktu perjalanan saya sedikit lebih lama.

Saya benar-benar tidak menyangka bahwa pada pukul 18.00, saya masih berada di daerah Menteng yang mungkin hanya berjarak sekitar 3 km dari tempat saya naik taksi pertama kali. Lampu lalu lintas di daerah Menteng Huis menuju Tugu Tani sudah menunjukkan warna merah dan hijau bergantian sebanyak 6 kali, namun taksi saya tidak menunjukkan adanya pergerakan sedikitpun. Setelah menelpon ayah saya yang sudah menunggu di kantornya sejak 1 jam yang lalu, akhirnya pada pukul 18.40 saya memutuskan untuk belok ke arah masjid cut meutia dan bermaksud untuk melewati kebon sirih. Tapi ternyata kondisinya tidak jauh berbeda, masih saja macet tanpa ada pergerakan yang signifikan. Bapak supir taksi pun mulai menyerah. Sempat terpikirkan oleh saya untuk turun dari taksi dan naik ojek, tapi hujan masih rintik dan kondisi yang kurang aman di malam hari membuat saya membatalkan niat saya itu. Dari bapak supir taksi, diketahui bahwa jalanan kebon sirih pun macet total dan tidak ada jalan lain lagi selain lewat Thamrin. Bapak supir taksi memberi saran agar saya turun saja di hotel Pullman di depan bundaran Hotel Indonesia, lalu menyambung dengan taksi lain atau bus transjakarta menuju kantor ayah. Akhirnya, setelah bertanya dengan ayah saya lewat telepon, saya pun menyetujui saran bapak supir taksi.

Alhamdulillah, pukul 19.50 saya sudah sampai di depan bundaran HI dan turun dari taksi yang argonya sudah mencapai angka 85.000. Ya, 85.000 rupiah untuk perjalanan dari Cikini menuju HI dalam waktu 3 jam. Sebenarnya saat itu, saya sedang berpuasa dan baru membatalkan puasa saya dengan sebuah permen yang ada di tas saya. Tapi, dari depan hotel Pullman menuju jembatan penyebrangan, saya tidak ingat lagi kebutuhan saya untuk membeli minum karena yang ada di otak saya saat itu hanyalah 'bagaimana caranya saya bisa sampai di kantor ayah saya secepatnya'. Ayah saya sudah dengan sabar menunggu saya di kantornya selama 3 jam. 

Di atas jembatan penyebrangan, sambil melihat arus jalanan Thamrin di bawahnya yang menuju Monas, saya mulai bingung untuk memilih antara naik bus transjakarta atau naik taksi. Setalah bolak balik, akhinya saya memutuskan untuk masuk ke dalam antrian para calon penumpang bus transjakarta. Antriannya cukup panjang sampai ke atas jembatan karena loket ditutup sementara sampai kondisi di dalam halte tidak terlalu penuh. Sambil menunggu, saya menelpon kakak saya dan menceritakan kondisi yang saya alami, sambil bercanda, dia menyarankan saya untuk jalan kaki saja ke kantor ayah. Sempat terpikir juga untuk mengikuti sarannya karena sekitar 2 tahun yang lalu, saya pernah mengikuti aksi gerakan anti rokok dan melakukan longmarch dari bundaran HI ke monas, jadi saya sudah bisa membayangkan bagaimana kondisinya kalau saya harus jalan kaki ke kantor ayah. Tapi, kondisi yang sudah malam dan kelelahan setelah duduk di taksi selama 3 jam membuat saya bertahan untuk tetap berada di antrian itu. Setelah beberapa menit menunggu bus transjakarta yang datangnya cukup jarang dan kondisi jalanan thamrin yang tiba-tiba kosong membuat saya menjadi bimbang. Tetap mengantri dengan sabar atau menyerah dan mencoba mencari taksi di sebrang? 

Pukul 20.15, saya tidak juga masuk ke dalam halte karena loket masih ditutup, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari antrian lalu bergerak menuju depan Plaza Indonesia (sebrangnya Hotel Pullman). Alhamdulillah, hujan sudah berhenti, tapi jalanan di depan saya cukup becek dan menyebabkan saya harus beberapa kali tersiram air genangan karena mobil-mobil yang bergerak cepat di jalanan. Saya terus berusaha untuk memberhentikan taksi yang melewati jalanan di depan saya, tapi taksi-taksi yang lewat  terus menolak. Akhirnya pukul 20.30, saya memutuskan untuk berjalan kaki saja sambil terus berusaha untuk menghentikan taksi yang lewat.


Sebenarnya ada sedikit rasa takut saat harus menyusuri jalanan Thamrin di malam itu, tapi alhamdulillah, dari ujung Plaza Indonesia sampai depan kantor ayah saya, selalu ada orang lain yang juga berjalan di depan saya atau di belakang saya. Sambil terus berdzikir meminta perlindungan Allah, akhirnya saya pun menyusuri jalanan Thamrin bersama beberapa mas dan mbak kantoran yang juga berjalan menuju arah yang sama. Dengan kondisi baju yang basah karena sisa hujan dan keringat, perut yang mulai kelaparan, mulut yang mulai kehausan dan kaki yang kelelahan , alhamdulillah, akhirnya saya sampai di kantor ayah saya pukul 20.55. Begitu masuk ke dalam mobil, alhamdulillah , ayah saya sudah membelikan saya seporsi nasi goreng dan sebotol air putih untuk saya berbuka puasa. Alhamdulillah, setelah itu perjalanan ke rumah tidak terlalu macet karena lewat tol bandara. Saya tiba di rumah pukul 22.00 dan langsung beristirahat tanpa sempat membuka lagi bahan ujian untuk esok harinya.     




Dulu saya pernah mengalami perjalanan antar kota yang paling lama, yaitu saat saya ada acara di Depok menggunakan angkutan umum selama  3 jam 45 menit . Dan sekarang sudah ada pengalaman baru, saya menjalani 5 jam perjalanan dari Cikini ke rumah saya. Alhamdulillah, selama perjalanan itu, saya malah sering tertawa mengingat betapa lucunya pengalaman perjalanan  saya kali ini. Mulai dari menghindari daerah Tugu Tani tapi malah kena macet yang sama di Menteng sampai kebingungan saya antara naik bus transjakarta atau taksi yang akhirnya malah berujung dengan jalan kaki di malam hari. Terima kasih Jakarta untuk pengalaman yang tidak terlupakan. Semoga Jakarta bisa lebih baik lagi dalam penataan transportasinya. Semoga kata kemacetan tidak lagi identik dengan kota Jakarta, Aamiin... 

Minggu, 11 November 2012

Rumah Kita

Beberapa hari yang lalu, tanpa disengaja saya melewati sebuah sekolah mengaji yang terletak di sebuah gang kecil tempat pasien saya tinggal. Saat itu saya sedang menjemput pasien saya yang masih kelas 1 SD untuk dibawa ke klinik. Awalnya, saya tidak terlalu memperhatikan sekolah mengaji itu, tapi ketika saya melewatinya untuk kedua kali, saya menjadi teringat dengan kegiatan belajar mengajar yang dulu pernah saya lakukan dengan teman-teman kampus di daerah pemukiman seperti ini. 

Namanya Rumah Kita. 


Saat itu, saya masih berada di tingkat awal kuliah dan menjadi pengurus BEM FKG di departemen pengabdian masyarakat  (pengmas). Ada tiga orang senior saya angkatan 2003 yang tiba-tiba mengajak saya dan teman-teman dari pengmas untuk rapat membicarakan sebuah konsep rumah belajar. Tiga senior saya itu memaparkan ide mereka mengenai adanya sebuah rumah belajar yang dibuat oleh BEM FKG untuk masyarakat sekitar Salemba, mereka adalah petinggi BEM sebelumnya yang belum sempat merealisasikan ide ini. Awalnya sasaran kami adalah anak-anak jalanan yang tidak sekolah, tapi ternyata menjangkau anak-anak jalanan di daerah Jakarta sangat sulit, karena mereka sudah lebih dikuasai oleh preman-preman yang sulit diajak berkomunikasi. Akhirnya, kami mencoba mencari anak-anak di sekitar Salemba yang tidak mampu untuk sekolah. Tapi, kenyataannya, disaat program BOS sudah berjalan di Jakarta, sangat sulit menemukan anak-anak yang masih tidak sekolah, kalaupun ada, meraka adalah anak-anak yang memang tidak mau untuk sekolah bukan karena tidak mampu untuk membayar biaya sekolah. Akhirnya, kami turunkan lagi sasarannya. Kami mencoba untuk menjadikan rumah belajar ini sebagai tempat les gratis untuk anak-anak SD di daerah Salemba. 

Kami bersembilan ( enam orang anggota pengmas BEM FKG UI 2008/2009 dengan tiga orang senior angkatan 2003 ) mulai mencari tempat yang bisa dijadikan sebagai rumah belajar ini. Kami mulai mencari dan menyusuri jalanan di sekitar pemukiman padat Salemba sampai akhirnya di Salemba Bluntas lah, rumah belajar ini bisa diwujudkan. Setelah berbicara dengan pengurus RT dan RW, kami mendapatkan ijin untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar setiap sore di balai warga Salemba Bluntas. Akhirnya, rumah belajar ini bisa segera direalisasikan. Kami juga mulai mempersiapkan segala sarana dan prasaran untuk rumah belajar ini. Kami mengadakan studi banding ke TIS ( Teknik Informal School ) yang dimiliki Fakultas Teknik UI untuk mempelajari sistem rumah belajar mereka, baik mengenai kurikulum maupun sistem belajar mengajarnya. Kami juga mulai menjaring mahasiswa yang ingin berpartisipasi menjadi pengajar di rumah belajar ini. 

Alhamdulillah, di bulan Desember 2008, rumah belajar yang kami namakan RUMAH KITA ini pun dibuka. Perwujudan rumah belajar ini memang melalui proses yang cukup lama. Konsep rumah belajar ini mulai dirintis saat saya masih menjadi staf departemen pengmas dan akhirnya baru bisa mulai berjalan saat saya sudah menjadi kepala departemen pengmas BEM FKG. Kegiatan belajar mengajar mulai berjalan dengan baik. Anak-anaknya cukup antusias dalam mengikuti kegaiatan belajar mengajar ini. Kami membantu anak-anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan mempersiapkan ujiannya. Di akhir semester, kami memanggil orangtua anak-anak untuk memberikan buku laporan dari rumah belajar ini. Karena kami adalah mahasiswa kedokteran gigi, maka terkadang kami juga menyisipkan materi penyuluhan mengenai kesehatan gigi dan mulut kepada anak-anak dan para orangtuanya. Namun sayangnya, sejak awal jumlah tenaga pengajar masih saja kurang. Dan ternyata, sampai detik ini, tahun 2012, setiap saya menanyakan kabar rumah kita kepada adik kelas, permasalahan pengajar ini masih saja ada. 

Saat ini, RUMAH KITA sudah berusia hampir 4 tahun. Saya sendiri, memang sudah tidak terjun langsung di dalamnya. Bahkan, sejak masuk klinik, saya sudah jarang sekali ikut mengajar disana. Terkadang, saya ingin sekali mengajar lagi dan bermain-main dengan anak-anak disana, tapi akhirnya yang bisa saya lakukan hanyalah memantau perkembangan dan keberlangsungan RUMAH KITA dari pengurus BEM saat ini. Semoga suatu saat nanti, saya bisa kembali lagi memberikan kontribusi nyata untuk rumah belajar ini dan semoga rumah belajar ini bisa terus hadir untuk masyarakat Salemba. Aamiin.. 


Sabtu, 06 Oktober 2012

Kehilangan

Setiap orang pasti pernah mengalami kehilangan, baik kehilangan sesuatu yang dianggap kecil dan tidak terlalu penting sampai kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya. Beberapa hari yang lalu, sahabat saya kehilangan dompetnya, kakak kelas saya kehilangan ponselnya dan bahkan paman saya harus kehilangan anaknya. Setiap ada kehilangan, maka selalu ada pelajaran tambahan. Beberapa orang menganggap bahwa kehilangan  sesuatu yang sangat dicintai merupakan satu bentuk teguran dari Allah bahwa kita kurang amanah menjaga titipan Allah. Kehilangan juga mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang pernah kita miliki di dunia ini hanyalah titipan dari Allah yang akan kembali kepadaNya. Kehilangan mengajarkan kita akan arti sebuah kesabaran, keihklasan dan keyakinan kepada Allah atas segala rencanaNya. 

Menurut saya, ikhlas adalah pelajaran yang sangat sulit untuk dilalui. Saat mengalami kehilangan barang  seperti uang, ponsel atau perhiasan saja, terkadang kita sulit untuk ikhlas. Apalagi kehilangan orang yang kita cintai, rasanya ikhlas menjadi semakin sulit untuk dirasakan. Saya teringat sebuah film yang diadaptasi dari novel dengan judul "hafalan salat delisa". Film ini menggambarkan sebuah kehilangan besar yang dirasakan oleh seorang anak kecil. Anak ini harus kehilangan ibu, tiga kakak dan sebelah kakinya karena bencana tsunami di Aceh. Mungkin, untuk perempuan seperti saya, menonton film ini sama saja dengan menangis tiada henti. Tapi, hikmah yang bisa saya ambil dari film ini adalah sebuah keikhlasan yang bisa ditunjukkan oleh sang anak dalam menghadapi cobaan di hidupnya. Delisa memang masih anak-anak yang terkadang mudah terbawa emosi tapi dia dapat dengan sabar dan ikhlas menjalani hidup barunya dengan bahagia tanpa ibu, tiga kakak dan sebelah kakinya.

Berbicara tentang kehilangan dan keikhlasan, saya juga langsung teringat kepada kekasih tercinta, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang mengalami banyak kehilangan besar di hidupnya. Ayah, Ibu dan kakeknya meninggal saat beliau masih anak-anak. Bahkan, seluruh kerabatnya perlahan meninggalkan beliau saat beliau menyiarkan agama Allah. Seorang wanita yang amat dicintainya, Siti Khadijah , juga meninggalkan beliau di awal masa kenabiannya. Beliau juga kehilangan paman yang sangat dicintai dan mencintainya, Hamzah, di perang Uhud. Dan dari segala cobaan yang dihadapinya, Rasulullah tetap menjadi seorang manusia yang sabar dan ikhlas. Rasulullah tidak pernah mempertanyakan kehilangan yang dialaminya kepada Allah.

Rasulullah memang seorang Nabi, seorang manusia yang sempurna. Tapi, sebagai pengikutnya, ada baiknya kita berusaha untuk mencontoh kesabaran dan keikhlasan yang dimiliki Rasulullah. Semoga semua teman dan kerabat yang sedang mengalami kehilangan diberikan kekuatan untuk sabar dan ikhlas menghadapi segalanya karena semua hanyalah titipan Allah yang akan kembali kepadaNya. Aamiin..

Selasa, 25 September 2012

Apa yang salah dengan jilbab saya?

Penggunaan jilbab di masyarakat Indonesia memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam waktu 20 tahun terakhir ini. Yang saya ingat, di tahun 90an, penggunaan jilbab masih sering dipermasalahkan oleh berbagai kalangan. Beberapa sekolah negeri, melarang siswinya untuk mengenakan jilbab. Beberapa kantor juga melarang pegawainya mengenakan jilbab. Muslimah yang mengenakan jilbab di masa itu sering sekali diasosiasikan dengan teroris, penganut ajaran aneh, atau orang-orang keluaran pesantren yang kuno. Di masa itu, orangtua pun akan sangat bertanya-tanya ketika anaknya yang baru saja beranjak dewasa memutuskan untuk berjilbab, disangka mengikuti pengajian tertentu lah, atau prasangka buruk lainnya. Yang boleh menggunakan jilbab dimasa itu adalah ibu-ibu yang sudah tua dan sudah pergi haji. Seingat saya, itulah persepsi masyarakat Indonesia mengenai jilbab di tahun 90an.

Menginjak tahun 2000an, masyarakat Indonesia sudah bisa lebih membuka pikirannya mengenai perintah jilbab yang sudah jelas terdapat di kitab suci umat muslim, Al-Quran. Penggunaan jilbab di kalangan para muslimah pun semakin ramai, walaupun memang masih ada beberapa kantor yang melarang pegawainya berjilbab atau masih ada juga orangtua yang beranggapan bahwa jilbab adalah penghalang bagi anak putrinya untuk mendapatkan jodoh. Alhamdulillah, saya sudah mulai mengenakan jilbab sejak tahun 2002. Saat itu saya duduk di kelas 1 SMP, dan dari sekitar 40 siswa perempuan angkatan saya, hanya 4 orang siswa yang menggunakan jilbab. Saat itu, penggunaan jilbab memang sudah tidak menjadi hal yang aneh, tapi masih terhitung sedikit dan tidak seramai saat ini. Bahkan, saat saya mengikuti lomba di sekolah yang mayoritas siswanya adalah non muslim, jilbab saya cukup menarik perhatian mereka karena mereka belum pernah melihat orang berjilbab seperti saya. 

Sepuluh tahun kemudian, tahun 2010, alhamdulillah, semakin banyak masyarakat muslim di Indonesia yang memahami perintah wajib dari penggunaan jilbab ini. Bahkan pemikiran mengenai jilbab yang sangat sering dianggap tidak modis pun sudah berubah. Di tahun ini, makin banyak public figure yang akhirnya memutuskan untuk berjilbab dan semakin banyak pula desainer-desainer muda yang berusaha untuk menunjukkan kepada seluruh masyarakat bahwa penggunaan jilbab juga bisa tampil modis. Tren jilbab pun menjadi semakin ramai di kalangan muslimah Indonesia. Bahkan, ada beberapa orang yang akhirnya memutuskan berjilbab karena tren jilbab ini. Jilbab pun tidak lagi diasosiasikan dengan teroris dan ajaran sesat.

Penggunaan jilbab di negara yang mayoritas non muslim pun sudah mengalami banyak perkembangan. Walaupun di tahun 2001, kejadian teror di Amerika sempat membuat jilbab sangat ditentang oleh beberapa negara maju, saat ini, berdasarkan pengalaman teman-teman saya, jilbab sudah lebih dihargai dan toleransi mereka pun sangat baik terhadap kebebasan beragama. 

Tapi ternyata sampai saat ini,  di negara kita sendiri, Indonesia, masih ada beberapa pihak yang menganggap jilbab sebagai sesuatu yang aneh dan tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam sebuah iklan televisi. Saya mengalaminya sendiri. Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman saya diminta untuk mewakili kampus  dalam wawancara dengan sebuah perusahaan besar yang berkaitan dengan dunia kedokteran gigi mengenai program kerjasama yang sudah dilaksanakan selama beberapa kali. Disaat saya sudah siap untuk memulai sesi wawancara, tiba-tiba pihak dari perusahaan tersebut meminta teman saya untuk mencarikan lagi satu orang mahasiswa yang akan menggantikan saya karena saya tidak jadi di wawancara dengan alasan jilbab. Seumur hidup saya menggunakan jilbab, baru kali ini ada seseorang yang mempermasalahkan jilbab yang saya kenakan. Saat itu, saya cukup merasa terganggu dengan pernyataannya dan akhirnya saya pun pergi tanpa menanyakan alasannya. Ternyata, alasan mereka adalah karena sebenarnya yang akan dilakukan bukanlah wawancara melainkan pengambilan gambar untuk iklan produk mereka, dan oleh karena itu , untuk "branding" produk mereka, mereka meninginkan sesuatu yang netral dan tidak mewakili apapun. 

Saya masih tidak habis pikir dengan pola pemikiran mereka. Saya bukanlah orang pemasaran yang mengerti mengenai strategi pemasaran yang baik, tapi saya masih belum memahami letak kesalahan jilbab saya dalam iklan mereka. Kalau produk mereka adalah shampoo atau pewarna rambut, mungkin saya bisa memahami. Tapi, produk mereka adalah sesuatu yang berkaitan dengan kedokteran gigi. Ternyata, di tahun 2012 ini, masih saja ada beberapa orang yang mempermasalahkan jilbab. Semoga Allah segera memberi mereka hidayah, aamiin.




Kamis, 20 September 2012

HIV dan kedokteran gigi


Saat saya belum menjadi seorang mahasiswa kedokteran gigi, setiap mendengar kata HIV/AIDS, yang ada dalam pikiran saya adalah sebuah penyakit mematikan yang sangat menular dan biasanya diderita  para pecandu narkoba dan pelaku seks bebas. Memang menyedihkan pengetahuan yang saya miliki sebagai orang awam saat itu. Alhamdulillah, setelah menjadi seorang mahasiswa kedokteran gigi, saya memiliki kesempatan untuk mempelajari lebih banyak mengenai penyakit yang satu ini.

Setelah mempelajari teori mengenai penyakit virus ini di bagian penyakit mulut, saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan penderitanya saat saya bertugas di poli bedah mulut RSCM dan RSU Tangerang. Reaksi yang saya dapatkan dari teman-teman saya kurang lebih sama, yaitu kaget karena bisa bertemu dengan penderitanya secara langsung dan tidak berani sedikitpun untuk menangani pasien tersebut. Para dokter dan perawat yang sudah lebih sering bertemu dengan pasien ini memang bisa bersikap lebih biasa dan mereka pun sudah memahami prosedur yang harus dijalankan saat menangani pasien dengan penyakit ini, misalnya menggunakan alat yang sudah dipisahkan sendiri, menggunakan sarung tangan dan masker dua lapis serta menggunakan baju plastik pelindung dan kacamata saat akan melakukan pencabutan yang mungkin dapat terkena cipratan darah pasien. Saat itu, saya beranggapan bahwa penanganan pasien ini atau yang biasa disebut dengan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) harus dilakukan di rumah sakit dengan prosedur yang cukup rumit. Tapi ternyata saya memiliki pandangan yang salah.

Saya pernah mendapat cerita dari seorang teman bahwa ODHA sering mengeluhkan kesulitan mereka untuk mendapatkan perawatan di bidang kedokteran gigi karena mereka diminta untuk menyediakan alat sendiri. Selain itu, mereka juga sering merasa dibedakan oleh para praktisi kesehatan karena penyakit yang mereka derita. Saya sendiri pun masih kurang memahami hal ini dan akhirnya saya bertanya kepada seorang dosen di kampus saya yang memiliki perhatian dan pengetahuan lebih mengenai hal ini yaitu drg.Gus Permana, Ph.D, Sp.PM. Dari kuliah privat singkat yang saya dapatkan dari beliau, ada beberapa hal yang sangat penting untuk diketahui oleh calon dokter gigi seperti saya, yaitu:

1.  Untuk penanganan pasien HIV sebenarnya bisa dilakukan di klinik pribadi asalkan sang dokter memahami prinsip universal precaution dan kontrol infeksi yang sesuai dengan SOP. Universal precaution adalah prinsip yang menganggap semua pasien memiliki status penyakit yang sama sehingga penggunaan sarung tangan, masker, sterilisasi alat dan dental unit selalu dilakukan ke semua pasien tanpa terkecuali. Untuk penanganan di klinik pribadi, sebisa mungkin rekam medik pasien mengenai status HIV nya dapat diketahui, seperti hasil pemeriksaan darah lengkap mencakup jumlah leukosit, CD4, dsb. Hal ini dilakukan untuk mengetahui status penyakit pasien yang akan menentukan apakah tindakan invasif dapat dilakukan di klinik, atau harus dirujuk ke RS. Misalnya, ODHA dengan jumlah leukosit yang sangat rendah dan sudah berada di tahap AIDS sebaiknya dirawat di Rumah Sakit.

2. Terkait dengan alat-alat yang digunakan untuk perawatan gigi dan mulut , sebenarnya selama alat tersebut sudah disterilisasi dengan prosedur yang sesuai, maka tidak perlu ada pembedaan alat untuk pasien dengan HIV, terutama alat-alat bedah yang tidak tersedia dalam bentuk disposable. Namun, alat-alat pemeriksaan yang tersedia dalam bentuk disposable tetap disarankan untuk digunakan jika kesulitan dalam proses sterilisasi. Dalam penggunaan alat-alat ini, proses sterilisasi harus benar-benar diperhatikan dengan baik. Misalnya, penggunaan autoklaf dan larutan sterilisator yang sesuai.

3. Penularan HIV hanya bisa terjadi melalui cairan tubuh ( darah, sperma, ASI, dll), bahkan pada kondisi awal, saat aktivitas virus berada di titik bawah, kemungkinan terjadinya penularan cukup rendah. Menurut drg.Gus Permana, Ph.D, Sp.PM , penularan hepatitis dirasa lebih mudah untuk terjadi dibandingkan penularan HIV. Oleh karena itu, kekhawatiran yang dirasakan para praktisi kesehatan terhadap pasien dengan HIV dianggap terlalu berlebihan.

Berdasarkan pemaparan yang telah disampaikan oleh drg.Gus Permana, Ph.D, Sp.PM, dapat disimpulkan bahwa perlakuan berbeda yang dirasakan oleh ODHA dari para praktisi kesehatan dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka mengenai cara penanganan pasien HIV, oleh karena itu sebagai seorang calon dokter gigi, pengetahuan mengenai kontrol infeksi dan status penyakit sistemik pasien  serta cara penanganannya harus menjadi perhatian utama.

Maksimalkan potensi kita sebagai calon praktisi kesehatan sehingga kelak kita dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada seluruh masyarakat tanpa ada pengecualian. Semangat teman sejawat!! 

Senin, 03 September 2012

OMAR


Membaca buku dan menonton film tentang sejarah islam membuat saya kembali merindukan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Dari sinilah, saya bisa lebih mendalami kisah perjuangan islam pada masa awal  dan mengenali lebih dalam sosok Rasulullah dan para sahabatnya. Sebelumnya, saya sudah pernah menulis tentang kesempurnaan Rasulullah sebagai seorang manusia utusan Allah. Dan kali ini, saya ingin menceritakan seorang sahabat Rasul yang terkenal keras dan tegas tapi juga bisa bersikap lembut. Dialah yang dikenal dengan sebutan amirul mukminin, Umar bin Khattab.

Dalam buku yang saya baca dan film berjudul 'OMAR' yang baru saja saya tonton di bulan Ramadhan lalu, sosok Umar bin Khattab digambarkan sebagi seorang muslim yang luar biasa. Perjuangannya bersama Rasulullah dan kepemimpinannya saat beliau sudah menjadi khalifah benar-benar menunjukkan pribadinya yang tegas, bersahaja, keras tapi juga bisa bersikap sangat lembut dan ramah.


Hal yang paling diingat dari seorang Umar adalah sifatnya yang keras. Beliau lah yang pernah menghunuskan pedangnya untuk membunuh Rasulullah disaat beliau belum masuk islam. Tapi, beliau jugalah yang pernah mengancam akan memotong anggota tubuh siapapun yang mengatakan bahwa Rasulullah telah meninggal saat berita wafatnya Rasulullah menyebar di umat muslim karena ketidakpercayaannya pada berita tersebut. Sesaat setelah beliau diangkat menjadi khalifah, beliau mengumpulkan anak-anaknya dan mengatakan kepada mereka bahwa siapapun dari anaknya yang melanggar hukum Allah, maka beliau akan menghukumnya sampai anak tersebut akan berkata 'seandainya aku bukan anak seorang amirul mukminin,maka aku akan bebas melakukan apa saja'. Beliau juga pernah memarahi anaknya, Abdullah bin Umar, saat kembali dari perang di yamamah. Saat itu, sang amirul mukminin menanyakan soal keberadaan adiknya, Zaid bin Khattab, yang lebih dulu masuk islam.
'Dimana zaid?', tanya Umar kepada anaknya.
'Zaid telah syahid di Yamamah', jawab anaknya.
'Zaid syahid dan kau hidup, dan kau tidak malu kepadaku?!'
Begitulah sifat keras dan 'galak' seorang Umar yang pernah membuat umat muslim meragukannya untuk menjadi khalifah pengganti Abu Bakar As-Shiddiq yang terkenal dengan kelembutannya.

Tapi, Umar bin Khattab juga seorang yang berhati sangat lembut, terlebih ketika beliau sudah menjadi seorang amirul mukminin. Dalam pidato pertamanya sebagai seorang khalifah, beliu mengatakan bahwa beliau akan bersikap keras kepada siapapun yang melanggar hukum Allah dan sunnah Rasulullah, namun beliau juga akan bersikap sangat lembut kepada siapapun yang menaati hukum Allah dan sunnah Rasulullah, beliau akan menjadi orang yang paling lembut bagi mereka. Hampir setiap malam, Umar memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan dan kegagalannya dalam memimpin umat sambil berlinang airmata. Beliau pun selalu merenung penuh kekhawatiran setelah memutuskan suatu keputusan untuk umat muslim. Beliau juga pernah membantu memasakkan makanan untuk sebuah keluarga kecil yang  kelaparan dan melindungi seorang anak kecil dari gangguan teman-temannya. Bahkan, pada saat terjadi kemarau panjang yang menyulitkan umat, Sang Amirul mukminin pernah menyuapi seorang anak yang tidak mau makan dan beliau juga berjanji untuk tidak makan apapun kecuali air dan gandum untuk ikut merasakan penderitaan umatnya. Inilah kelembutan yang terkadang tidak terlihat dari pribadi Umar.

Beliau juga sangat tegas dalam menjalankan ajaran Islam. Beliau pernah menghukum seseorang yang membiarkan tiga budaknya kelaparan sampai mereka harus mencuri dan memakan unta orang lain dengan cara, pemilik budak ketiga budak itu harus membayar ganti rugi kepada pemilik unta. Amirul mukminin juga pernah menegur seseorang dengan perut yang gendut karena hal itu dapat menjadikannya sulit bergerak dan malas beribadah serta menunjukkan hal yang berlebihan dalam makan. Beliau pun sangat marah ketika ada seorang pedagang susu yang mencampur susunya dengan air sebelum dijual di pasar. Ketegasannya dalam memimpin umat benar-benar menjadi hal yang sangat langka untuk kita temui saat ini.

Namun, walaupun Umar adalah sesosok khalifah yang sangat keras, tegas dan disegani, beliau tidak pernah menggunakan jabatannya tersebut untuk kesenangan duniawi. Beliau adalah orang yang sangat bersahaja. Setelah menjabat menjadi seorang khalifah, beliau meninggalkan kegiatan berniaganya, namun beliau tidak mengambil gajinya sebagai seorang khalifah dari baitul mal, sampai-sampai istrinya harus mengingatkan dirinya bahwa keluarganya sudah kelaparan. Saat beliau memanggul sekarung tepung untuk keluarga kecil yang kelaparan, beliau sama sekali tidak ingin dibantu oleh siapapun karena menurutnya itu adalah kewajibannya sebagai amirul mukminin. Bahkan, kesederhanaan beliau dalam berpakaian telah mengecoh seorang utusan perang yang ingin mengabarkan kemenangan. Saat itu, seorang utusan datang ke kota untuk membawa kabar dari medan perang. Mendekati Madinah, seorang kakek di pinggir jalan dengan pakaian bertambal-tambal bertanya kepada sang utusan mengenai kabar yang dibawanya, tapi utusan tersebut menolak untuk memberitahukan berita tersebut dengan rinci karena dia harus segera bertemu dengan khalifah. Kakek itu terus mengikuti utusan sampai ke kota dan sesampainya di kota, dengan gagahnya, di tengah kerumunan, utusan itu berkata, 'aku ingin bertemu khalifah Umar'. Para penonton pun tertawa dan mengatakan, 'itu dia tepat di belakangmu'. Sungguh bersahaja kehidupan seorang khalifah Umar bin Khattab. Kesederhanaan yang mencontoh kehidupan Rasulullah.

Semakin mengenal sosoknya, semakin membuat saya merindukannya. Kerinduan akan seorang pemimpin umat yang luar biasa. Saya sempat berpikir, jika Rasulullah hidup di zaman sekarang, mungkin beliau akan sangat sedih melihat kondisi umat yang dicintainya , sedangkan jika Umar hidup di zaman sekarang ini, bukan hanya sedih tapi mungkin beliau akan sangat marah atas segala kekacauan yang diperbuat umat muslim saat ini.

Ya Allah, sampaikanlah salawat dan salam kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersama para sahabatnya dan berikanlah kesempatan kepada kami untuk bertemu dengn mereka di surgaMu, aamiin... 

Sabtu, 04 Agustus 2012

Kekuatan Doa

Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah acara di televisi berisi ceramah singkat dari ustadz favorit saya, Yusuf Mansyur, yang membahas mengenai kekuatan doa. Ust.Yusuf Mansyur menceritakan banyak kisah yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh doa dalam kehidupan kita. Bahkan, ketika kita sedang terjebak hujan sehingga tidak bisa keluar dari sebuah gedung, berdoalah kepada Allah, meminta kepadaNya untuk sejenak menghentikan hujan. Allah Maha Berkuasa, maka menghentikan hujan adalah sebuah hal yang sangat mudah bagiNya. Jika kita meyakini Kekuasaan Allah, mengapa kita jarang sekali meminta kepadaNya?

Sesaat setelah menonton acara tersebut saya menjadi tersadar, betapa sedikitnya doa yang saya panjatkan kepadaNya padahal keinginan yang ada di dalam hati saya begitu menggunung. Betapa ruginya saya, melewatkan waktu-waktu yang dianugerahkan olehNya tanpa berdoa kepadaNya. Akhirnya, saya bertekad untuk memperbanyak doa saya kepadaNya. Besok adalah hari kerja saya di bagian klinik anak. Di klinik anak ini, cobaan demi cobaan sudah pernah kami lewati sebagai koas. Mulai dari kondisi anak yang terkadang 'ogah-ogahan' untuk dirawat, dosen-dosen yang cukup perfeksionis dalam meng-acc hasil pekerjaan kami dan kondisi alat bahan yang kurang memadai. Perawatan yang sudah direncanakan di hari sebelumnya terkadang tidak bisa terpenuhi seluruhnya, bisa jadi hanya 50% saja atau bahkan bisa gagal sama sekali jika tiba-tiba sang anak tidak mau datang ke klinik. Untuk mewujudkan tekad saya, maka saya berdoa kepada Sang Maha Kuasa agar besok, seluruh rencana perawatan saya dapat terlaksana.

Besok paginya, saya terpaksa menggunakan taksi ke kampus karena tidak ada yang bisa mengantar. Mengingat kondisi jalanan Jakarta yang selalu macet, saya tidak berani mengambil resiko untuk pergi ke kampus menggunakan busway. Di dalam taksi, pak supir menanyakan kepada saya mengenai rute yang saya pilih untuk ke kampus. Biasanya saya lewat Tanah Abang untuk menghindari kemacetan di Sudirman. Walaupun di Tanah Abang juga sedikit padat, namun setidaknya tidak sepadat jalanan Sudirman. Alhamdulillah, pagi itu, jalanan Jakarta bisa dikatakan sangat lancar, pak supir taksi juga berpikiran hal yang sama dengan saya. 
"Alhamdulillah lancar ya mbak, doa saya dikabulkan Allah ini"
"iya pak, alhamdulillah"
"beneran lho mba, saya beneran berdoa tadi pagi. Sebelum ke Jakarta ini, saya cuma muter-muter di Tangerang-Bandara aja mbak, cuma dapet sedikit setorannya, trus saya berdoa, semoga setelah ini saya dapet penumpang ke jakarta, tapi jalanannya yang lancar, abis itu saya bisa pulang ke rumah. Eh, saya beneran ke Jakarta dan jalanannya lancar ini mbak. Jarang-jarang Jakarta bisa lancar begini."
Subhanallah, baru saja kemarin malam, saya mendengar kisah mengenai kekuatan doa dari acara televisi dan sekarang saya bisa mendengarkannya langsung dari orang yang bersangkutan. 

Akhirnya, saya tiba di kampus pukul 8 dan berencana untuk mulai bekerja di pukul 8.30-11. Kenyataannya, hari itu, saya bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 1 siang, mengerjakan dua pasien anak dengan berbagai hambatan, mulai dari anak yang datang terlambat, diskusi mendadak dengan dosen dan alat kedokteran gigi ( mikromotor ) saya yang dipinjam oleh teman dan sedikit menghambat pekerjaan saya. Tapi, dari semua hambatan yang saya hadapi di hari itu, ada sebuah hal penting yang membuat jerih payah saya terbayar dengan lunas. Alhamdulillah, semua target rencana perawatan saya di hari itu terlaksana.

Sebenarnya, hambatan-hambatan yang saya hadapi di hari itu hampir membuat saya memulangkan pasien kedua saya karena tidak memungkinkan untuk saya rawat (karena masalah waktu), tapi saya mencoba untuk tetap mengerjakannya. Dengan pertolongan dari Allah melalui teman dan situasi klinik yang cukup membantu saya, akhirnya saya berhasil mengerjakan dua pasien di hari itu dengan target perawatan yang berhasil saya capai. Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Allah. Hari ini, walaupun dihadapi dengan beberapa hambatan, akhirnya rencana perawatan yang sudah saya susun sebelumnya bisa terlaksana seluruhnya. 

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Mulai dari acara televisi mengenai kekuatan doa yang saya tonton tadi malam, pengalaman supir taksi tadi pagi,  sampai keberhasilan saya mencapai target perawatan di klinik siang ini, semuanya benar-benar menunjukkan kepada saya bahwa doa sangat berperan dalam kehidupan kita. Inilah kekuatan doa, inilah Kekuasaan Allah. 

Rabu, 25 Juli 2012

Sulawesi !!

Dua tahun yang lalu, saya berhasil menginjakkan kaki saya di tanah toraja, Sulawesi. Walaupun hanya transit di bandara Hasanuddin Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta dari Ternate, saya cukup senang sudah pernah menghirup udara segar di pulau berbentuk huruf K ini. Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu, saya lagi-lagi dianugerahi kesempatan untuk berkunjung bahkan menginap selama 7 hari di pulaunya Jong Celebes ini dalam kegiatan yang sama yaitu Kerja Sosial. Bagi saya, kersos tahun ini merupakan kersos yang ketiga setelah kersos 2008 di Banjarmasin dan kersos 2010 di Maluku Utara.


Keindahan alam Sulawesi benar-benar membuat saya dan teman-teman tidak merasa rugi  meninggalkan kegiatan klinik kami selama seminggu demi kegiatan sosial ini. Sesampainya di kota Palu, kami langsung memanfaatkan kesempatan yang ada untuk berkeliling kota Palu, menikmati pisang goreng dengan saus khasnya di pinggir pantai Talise , durian parigi yang cukup membuat kami ketagihan dan megahnya jembatan Palu yang katanya adalah jembatan lengkung ketiga di dunia. 

Jembatan Palu IV

Wilayah yang dijadikan sasaran dari kersos tahun ini adalah Sigi, Parigi Moutong, Donggala dan Poso. Dari keempat wilayah tersebut, yang sudah pernah saya dengar namanya sebelum kegiatan ini hanyalah Poso karena konflik yang pernah terjadi disana. Dan ternyata, saya ditempatkan di Poso bersama 3 orang teman seangkatan saya. Saya sempat mengkhawatirkan masalah keamanan disana jika mengingat kejadian konflik beberapa tahun yang lalu, tapi panitia sudah menyatakan bahwa saat ini, Poso sudah menjadi wilayah yang aman. 

Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih 6 jam, akhirnya saya dan teman-teman tiba di Poso. Begitu sampai di kecamatan, kami disambut dengan sangat baik oleh warga setempat. Sepertinya, Poso memang sudah menjadi wilayah yang aman. Desa yang menjadi pusat kegiatan kami adalah perkampungan kaum kristiani. Selama 4 hari disini, saya tidak bisa mendengar adzan sama sekali, karena tidak ada masjid. Tapi, walaupun begitu, masyarakat disini sangat menghargai kami yang mayoritas beragama islam. Kami benar- benar merasa dijamu, warga disini tidak ragu untuk memberikan bantuan kepada kami, sungguh berbeda dengan pembicaraan orang-orang diluar sana mengenai Poso. Jalan raya di desa yang saya tinggali ini hanya satu, yaitu jalan trans sulawesi yang selalu dilewati oleh truk-truk besar yang mengangkut muatannya dari ujung Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Utara. Cuaca di desa ini pun tidak terlalu panas karena dekat dengan pegunungan. Sepertinya, kegiatan selama 4 hari di desa ini akan menjadi sangat menyenangkan.


Jalan Trans Sulawesi

Hari kedua di Poso, sebelum melaksanakan pengobatan, kami diundang oleh bupati untuk mengikuti apel rutin di kabupaten bersama seluruh perangkat pemerintahan. Dengan menggunakan jaket kuning kebanggaan, kami pun ikut apel di lapangan kantor kabupaten Poso. Buatku, apel pagi itu menjadi sebuah kenangan yang cukup lucu untuk dikenang, karena hal ini baru pertama kali terjadi selama 3 kali saya mengikuti kersos, apalagi dengan warna kuning mencolok dari jaket alamamater yang kami gunakan, kami berhasil menjadi pusat perhatian di apel pagi hari itu. Setelah apel pagi selesai, kami mulai melaksanakan kegiatan utama kami, yaitu pengobatan dan penyuluhan. Sorenya, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk menikmati keindahan Danau Poso. Kata orang sini, belum ke Poso kalau belum melihat Danau Poso. Apa yang hebat dari danau ini? Ternyata, danau ini adalah danau terluas di Sulawesi dengan panjang 32 km dan lebar 16 km. Bahkan untuk melihat ujung dari danau ini, kami hanya bisa melihat gambaran pegunungan yang menjadi batas danau nun jauh disana. Sebenarnya, di dekat danau ini, ada wisata air terjun yang bertingkat-tingkat seperti niagara falls, namanya air terjun saloupa tapi karena lokasinya yang sangat jauh, kami tidak berhasil pergi kesana.

Danau Poso

Hari ketiga, kami masih ingin menikmati sore terakhir kami di Poso, karena besok siang, kami akan pulang kembali ke Palu setelah melakukan kegiatan pengobatan di pagi harinya. Akhirnya, kami pergi ke sebuah pantai yang ada di Poso ini,  walaupun tidak terlalu besar, tapi kami cukup terhibur dengan hamparan pasir yang cukup indah dan menyegarkan. Refreshing di pantai sore itu sedikit melepas kelelahan kami setelah mengerjakan 100an pasien hari itu. Dan sebagai pelengkap, kami juga mencari makanan ringan untuk menutup jalan-jalan sore hari itu,  Pisang goreng khas Sulawesi.



Pantai di Poso

Setelah selesai melaksanakan kegiatan di masing-masing wilayah, sekuruh rombongan kembalu berkumpul di Palu untum memulai penjelajahan kota Palu. Kami berkunjung ke museum SulTeng, Sou Raja ( rumah raja ) dan terakhir, kami bermain di pantai yang sangat indah di Donggala, yaitu pantai Tanjung Karang. Jalan-jalan di kota Palu ini memang sukses menjadi penghilang penat dan stres kami, para koas tingkat akhir, sweet escape !!

Pantai Tanjung Karang

Jika di tahun 2008 saya mengikuti kersos sebagai seorang peserta dan di tahun 2010 sebagai panitia advance, di tahun 2012 ini, saya memiliki peran yang lain. Tahun ini, saya berangkat dengan 130 orang rombongan Kersos FKG UI 2012 sebagai seorang mahasiswa klinik tingkat akhir yang bertugas menjadi operator. Dalam sebuah bakti sosial, menurut saya, tugas sebagai operator merupakan tugas yang paling utama karena langsung berhubungan dengan pasien. Hampir di setiap bakti sosial, kami, mahasiswa klinik, akan merasa 'sudah menjadi dokter gigi', karena kami dipanggil 'dok' dan kami harus bisa merawat pasien dari semua kalangan dengan peralatan dan bahan yang seadanya dengan kasus yang bermacam-macam. Begitupu dengan kerja sosial tahun ini. Pengalaman yang saya dapatkan selama kersos ini benar-benar merupakan pengalaman yang tidak ternilai. Saya harus menangani kasus pasien yang tidak pernah saya temukan di klinik kampus dan saya harus bisa saya menyelesaikan perawatannya sendiri. Disini jugalah, saya akhirnya menggunakan alat-alat bedah mulut yang tadinya tidak pernah saya gunakan selama di klinik kampus. It's such a great experience!!

Malam terakhir di Palu, panitia mengadakan sebuah acara penutupan yang dihadiri oleh seluruh rombongan kersos dan perangkat pemerintahan provinsi Sulawesi Tengah. Malam penutupan ini diisi oleh sambutan-sambutan dan juga hiburan yang salah satunya dipersembahkan oleh adik-adik angkatan 2010 dan 2011 sebagai peserta preklinik. Kepanitiaan kersos tahun ini dipegang oleh angkatan 2008 dan 2009, walaupun saya dan 3 orang teman dari angkatan 2007 juga masih menjadi bagian dari kepanitiaan ini sebagai steering committe. Buat saya, malam penutupan kersos 2012 telah menjadi malam yang cukup mengharukan. Saya mulai memutar kembali semua kenangan tentang kersos yang sudah pernah saya jalani sejak tahun 2008 dan saya akhirnya menyadari bahwa insya Allah ini adalah kersos terakhir saya sebagai mahasiswa. Saat saya melihat jaket kuning yang digunakan oleh seluruh panitia di malam ini, saya juga menyadari bahwa ini adalah kepanitiaan terakhir saya sebagai seorang mahasiswa. Ini adalah peran terakhir saya sebagai mahasiswa kepada masyarakat. Mungkin terkesan berlebihan, tapi emosi saya memuncak ketika melihat persembahan yang diberikan oleh adik-adik 2010 dan 2011 di atas panggung. Seketika itu juga, saya langsung mengingat masa-masa di saat saya dan rekan-rekan lainnya menyambut mereka di kampus dan memberikan pembinaan kepada mereka untuk bisa melanjutkan peran kemahasiswaan. Ya, lagi-lagi, saya terharu karena menyadari bahwa mereka, adik-adik yang dulu datang ke kampus dengan seragam hitam putih sudah akan menggantikan posisi rekan-rekan 2009 dalam menjalani organisasi kemahasiswaan. Saat persembahan mereka berakhir, saya benar-benar merasa sangat terharu. Kersos terakhir ini telah berhasil menutup kenangan kemahasiswaan saya dengan cukup baik. Semoga, segala yang telah saya dan angkatan saya berikan kepada dunia kemahasiswaan FKG UI termasuk kersos 2012 ini bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Terima kasih Palu.
Terima kasih panitia kersos 2012 ( teman-teman 2008, 2009).
Terima kasih teman-teman 2010, 2011.
Terima kasih...











Sabtu, 30 Juni 2012

Biaya pendidikan yang selalu menjadi masalah

Biaya pendidikan memang selalu menjadi masalah di Indonesia. Tapi, alhamdulillah, perlahan-lahan, pemerintah mulai membuka matanya dan menyadari bahwa pendidikan merupakan hal yang penting dan mendasar dari pembangunan bangsa. Yang saya tahu, BOS ( Biaya Operasional Sekolah ) sudah mulai diberlakukan di Indonesia sejak tahun Juli 2005. Bahkan, di tahun 2008, saya dan teman-teman kampus mengalami kesulitan untuk menemukan anak-anak yang putus sekolah karena kekurangan biaya di daerah Jakarta Pusat karena biaya sekolah dasar sudah ditanggung oleh BOS sepenuhnya. Jika ada anak yang putus sekolah, biasanya bukan dikarenakan tidak adanya biaya, tapi kondisi lainnya. 

Berbeda dengan biaya pendidikan sekolah dasar, biaya pendidikan perguruan tinggi masih saja menjadi masalah hingga saat ini. Bahkan, perguruan tinggi negeri pun masih bisa dengan leluasa memungut biaya yang tinggi dari para mahasiswa, seperti yang terjadi di kampus saya yang nyatanya adalah sebuah universitas negeri. 

Beberapa tahun terakhir, kenaikan biaya kuliah telah terjadi di kampus saya. Saya masuk kuliah dengan uang pangkal sebesar 25 juta dan bayaran per semester sekitar 1,5 juta. Besar biaya kuliah ini bisa saja berkurang  tergantung dengan kemampuan mahasiswanya, yang untuk mewujudkan pengurangan biaya ini, diperlukan beberapa surat dan persayaratan yang harus dilengkapi oleh mahasiswa yang bersangkutan. Setahun kemudian, adik kelas saya , angkatan 2008 merasakan kenaikan biaya per semester menjadi 7,5 juta. Kenaikan sebesar 5 kali lipat dalam waktu satu tahun. Sistem yang sama dengan tahun sebelumnya masih berlaku. Angka 7,5 juta ini bisa disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa dengan persyaratan yang hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya. 

Yang pertama kali menjadi masalah besar di kampus saya adalah adanya uang pangkal kedua yang harus dibayarkan mahasiswa ketika ingin melanjutkan ke pendidikan profesi. Alasan yang diutarakan oleh pihak kampus adalah kebutuhan biaya untuk pembangunan ini dan itu yang nantinya pun akan menunjang pelaksanaan pendidikan profesi yang akan kami jalani. Hal ini baru pertama kali terjadi di angkatan saya. Dulu, di tahun 2007, kami hanya diberitahukan bahwa biaya untuk mengikuti pendidikan pra sarjana dan profesi sampai lulus adalah uang pangkal yang sebesar 25 juta dan bayaran per semester sebesar 1,5 juta selama kurang lebih lima tahun. Jika dijumlahkan semua, maka biaya yang harus kami keluarkan untuk lulus dengan gelar profesi adalah sebesar 40 juta ( jika membayar penuh). Tapi, sekitar satu minggu sebelum kami masuk ke dalam pendidikan profesi, kami diberitahukan mengenai adanya uang pangkal profesi sebesar 10 juta dan kenaikan biaya per semester menjadi 2 juta. Hal ini mengakibatkan angka 40 juta yang telah diperhitungkan sebelumnya akan mengalami kenaikan menjadi 51,5 juta. Selain itu, berbeda dengan biaya pra sarjana, untuk biaya profesi tidak ada lagi keringanan berupa penyesuaian biaya dengan kemampuan mahasiswa. Jadi, semua mahasiswa wajib membayar penuh. 

Saat itu, angkatan saya merasa menjadi marah, bingung dan kacau. Kami berusaha untuk melobi pihak kampus mengenai keputusan yang sangat mendadak ini. Kami seperti disandera oleh pihak kampus yang meminta uang tebusan kepada orang tua kami sebesar 10 juta dalam waktu kurang dari satu minggu, kalau tidak, maka kami terancam untuk tidak bisa mengikuti pendidikan profesi dan berakhir sebagai lulusan sarjana saja. Akhirnya, setelah perdebatan panjang dengan pihak kampus, termasuk menghadapi dekan secara face to face, pihak kampus memutuskan untuk memberi keringanan kepada kami berupa cicilan selama tiga bulan. Sebenarnya, keputusan itu sama sekali tidak meringankan kami. Kami masuk ke kampus ini untuk lulus sampai tingkat profesi dan keputusan baru ini sangat aneh dan tidak transparan. Dengan berat hati, demi mendapatkan gelar keprofesian kami, akhirnya dengan susah payah, kami berusaha keras untuk membayar uang pangkal kedua tersebut. 

Berlanjut ke angkatan 2008, peraturan mengenai uang pangkal kedua ini kembali berlaku. Tapi, bedanya, biaya per semester untuk angkatan ini 7,5 juta , sama dengan biaya pra sarjana. Saat itu, adik-adik kelas kami sudah lebih dahulu mengetahui adanya peraturan ini semenjak peraturan ini pertama kali dikeluarkan, yaitu setahun sebelumnya, jadi sepertinya mereka pun tidak terlalu mempermasalahkan hal ini ke pihak kampus. Alasannya tetap sama, untuk biaya pembangunan.

Dan sekarang, masalah baru muncul. Sebelum angkatan 2009 memasuki masa pendidikan profesinya, tersiar berita bahwa uang pangkal profesi akan mengalami kenaikan lagi menjadi 15 juta. Kali ini, mahasiswa angkatan 2009 pun tidak bisa tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan untuk bisa menolak keputusan ini. Melobi pihak kampus, meminta bantuan dari teman-teman universitas dan juga cara-cara lainnya. Lagi-lagi, alasannya adalah untuk biaya pembangunan dan SUC ( student unit cost ) yang tinggi menurut pihak kampus. SUC yang dimaksud adalah biaya yang dibutuhkan setiap mahasiswa untuk menjalani pendidikan di kampus kami termasuk bahan-bahan dan alat-alat yang kami gunakan selama masa pendidikan pra sarjana dan profesi. Tapi, SUC ini tidak mengalami perubahan sejak beberapa tahun sebelumnya, bahkan sebelum uang pangkal profesi ini ada, SUC di kampus kami memang sudah tinggi. Segalanya terlihat aneh dan tidak transparan. Saat ini, masih ada waktu sekitar 6 bulan lagi sampai mahasiswa 2009 memasuki masa pendidikan profesinya. Mereka masih terus berusaha untuk mengatasi permasalahan yang dianggap janggal ini, bahkan mereka meminta bantuan dari rekan-rekan mahasiswa satu universitas untuk menyetujui petisi mengenai penolakan biaya profesi ini. ( bisa dilihat di www.uigue.com ).

Lagi-lagi, biaya pendidikan masih menjadi masalah bagi bangsa ini. Bagaimana bisa pembangunan di Indonesia berjalan dengan baik kalau pendidikannya saja masih terus diganggu oleh permasalahan biaya? Bagaimana bisa jumlah tenaga kesehatan di Indonesia diperbanyak, jika untuk menjalani pendidikan kesehatannya saja, mahasiswa masih dibebankan biaya yang sangat tinggi? Bukankah perguruan tinggi berada di bawah struktur pemerintah? Lalu, mengapa harus mahasiswa yang menjadi sumber dananya? Apalagi untuk alasan biaya pembangunan, apakah hal ini bisa dibenarkan?

Semoga pemerintah bisa memberikan perhatian lebih kepada nasib perguruan tinggi negeri yang masih membutuhkan banyak biaya untuk pembangunan fisik maupun non fisik , agar bukan mahasiswa lagi yang menjadi korbannya. Aamiin.. 
*tetap semangat untuk rekan-rekan yang masih berjuang! 


Minggu, 10 Juni 2012

Be positive!

Walaupun ada yang disebut dengan prasangka baik , tapi pada kenyataannya hati manusia memang lebih mudah dihinggapi prasangka buruk.Hal ini bisa dialami oleh siapa saja dalam kondisi apa saja. Berprasangka buruk kepada teman, sahabat, orangtua, keluarga dan pasangan sangat mudah terjadi ketika tidak adanya komunikasi yang lancar dan juga kepercayaan. Bahkan, kita juga bisa berprasangka buruk kepada ketetapan Allah akan kehidupan kita. Ini yang paling berbahaya.

Prasangka buruk juga bisa timbul karena adanya kenangan buruk di masa lalu akan sesuatu atau seseorang. Manusia memiliki kemampuan untuk menyimpan memori dari setiap kejadian dalam hidupnya. Memori yang paling bertahan lama di otak manusia adalah memori yang terindah dan juga terburuk. Pengalaman kecopetan akan membuat seseorang selalu berprasangka buruk setiap ada orang yang mendekatinya di tempat umum. Pengalaman dibohongi juga akan membuat seseorang menjadi tidak mudah percaya kepada kata-kata seseorang.

Padahal, Allah telah menjelaskan tentang prasangka ini di dalam firmanNya
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka adalah dosa.. " ( QS.49:12)

Jadi, untuk menghindarkan diri kita dari dosa, ada baiknya, kita selalu memperbaiki komunikasi yang tidak lancar, termasuk komunikasi kita kepada Sang Pencipta. Memiliki keyakinan dan kepercayaan adalah salah satu kunci untuk menghindari prasangka. Pastikan dulu kebenaran dari setiap berita yang didengar untuk menghindari prasangka yang akan berujung pada hal buruk lainnya, karena dari sedikit prasangka, akan berlanjut kepada kesalahpahaman dan pertengkaran. Kenangan buruk dimasa lalu tidak seharusnya membuat kita menjadi mudah untuk mencurigai seseorang, lebih baik jika kita bisa bersikap waspada dibandingkan curiga.  

Be positive! 


Kamis, 31 Mei 2012

So, what's the plan?

Sebagai seorang mahasiswa kedokteran gigi, sudah pasti, saya dan juga teman-teman koas kedokteran umum akan mengalami sindrom 'masih koas' di antara teman-teman se angkatan saat SMA dulu yang berkuliah di fakultas non kedokteran. Teman-teman itu sudah lulus dari status mahasiswanya, sudah bisa mencari uang sendiri dengan bekerja atau bahkan sudah bisa menyusun rencana untuk mengambil S2. Sedangkan saya yang berada di tahap akhir masa per-koas-an harus berpikir "lebih serius" lagi mengenai rencana hidup ke depan.

Rencana mengenai kehidupan pasca klinik memang sudah pernah mampir di benak saya. Ingin praktek di klinik pribadi atau di Rumah Sakit, ingin PTT, ingin mengambil spesialis, dll. Tapi, sepertinya saat ini , saya harus  meletakkan kembali rencana-rencana itu, karena semakin dekat dengan deadline kelulusan, saya menjadi semakin berhitung mengenai waktu kelulusan saya. Yah, beginilah balada koas kedokteran gigi. Kelulusan bukanlah suatu hal yang bisa dipastikan oleh saya dan dosen semata. Ada faktor lain, seperti ke-kooperatif-an pasien dalam menjalani perawatan dan ketersediaan dental unit di kampus.

Terkadang semangat untuk menyelesaikan requirement tiba-tiba menurun bahkan hilang karena kejenuhan mulai memenuhi pikiran. Pergi ke kampus, tapi tidak mengerjakan pasien karena pasiennya tidak bisa datang tiba-tiba atau karena memang belum ada pasien yang sesuai dengan kasus yang dibutuhkan. Sedangkan, di kanan kiri saya, teman-teman lain bekerja dengan jadwal yang padat. Kondisi seperti inilah yang pernah membuat saya menjadi malas dan hampir menyerah. Alhamdulillah, saya masih memiliki teman-teman yang selalu saling menyemangati. Akhirnya, saya berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya dan mencoba untuk menjalaninya dengan terus berusaha. Insya Allah, kalau saya memang belum bisa lulus tepat waktu, pasti ada hikmahnya.Saya masih ingin membuat orangtua saya tersenyum bangga ketika melihat saya bisa lulus menjadi seorang dokter gigi dan sudah mampu mencari uang sendiri. Itu motivasi terbesar yang akhirnya berhasil membuat rasa malas dan menyerah itu perlahan menghilang. Walaupun rencana saya mungkin tidak bisa terealisasi dengan ideal, tapi setidaknya saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. ( baca : lulus dan wisuda di September 2012 ).

So, what's the plan?
It's not about PTT, or work in a hospital, or take a specialty, but 'Drg Aristyani Dwi Rahmani'  this year, aamiin...

Senin, 14 Mei 2012

Grazie..

Mungkin terkesan berlebihan, tapi saya benar-benar sedih malam kemarin. Saya sedih karena kemarin adalah malam terakhir saya melihat jagoan-jagoan saya bermain di lapangan hijau dengan seragam merah hitam. Pippo Inzaghi, Gattuso, Nesta, Seedorf, Zambrotta dan Van Bommel akan pergi meninggalkan kami, para milanisti. Sedih sekali rasanya. Untuk milanisti perempuan seperti saya, momen perpisahan tadi malam adalah momen yang sangat emosional dan penuh airmata.

Saya yang biasanya paling malas untuk menonton pertandingan via streaming akhirnya berusaha mati-matian untuk mencari link streaming yang paling bagus tadi malam demi menonton pertandingan terakhir mereka. Sebenarnya, melihat mereka bermain di lapangan saja sudah membuat saya sangat senang karena mereka memang sudah jarang sekali dimainkan oleh pelatih. Saya tidak peduli dengan skor, yang penting saya melihat mereka bermain. Tapi, ketika Inzaghi mencetak gol ke 125 nya, saya benar-benar senang. Idola saya sejak kelas 4 SD ini memberikan kenangan yang sangat bagus di permainan terakhirnya.

Seusai pertandingan, para pemain masuk ke lapangan dengan anak-anak mereka. Ini yang saya kagumi dari tim favorit saya, kekeluargaan yang benar-benar terasa di antara pemain ( itu yang saya lihat dari media ). Mengharukan sekali saat melihat para pemain itu saling berpelukan dan menangis karena harus mengalami perpisahan. Buat saya, melihat seorang laki-laki menangis adalah hal yang paling mengharukan. 

Filippo Inzaghi, dialah yang membuat saya menjadi seorang milanisti. Saat pertama saya mengenal dunia sepakbola, saya menyukai si Nyonya Tua, apalagi dengan kehebatan Del-Pippo dikala itu. Tapi, di tahun 2001/2002, Inzaghi pindah ke AC Milan. Akhirnya, saya menjadi Juventini sekaligus Milanisti. Seiring berjalannya waktu, saya akhirnya menentukan pilihan untuk menjadi Milanisti saja dan Inzaghi lah yang menjadi alasannya.

Jagoan saya memang sudah pergi. AC Milan akan berganti wajah dengan pemain yang lebih muda. Semoga regenerasi berjalan dengan baik dan Milan akan kembali menjadi tim terbaik di Italia. ForzaMilan! Grazie Sandro, Pippo, Rhino, Seedorf, Van Bommel, Zambrotta..





Minggu, 13 Mei 2012

Tragedi Sukhoi dan identifikasi gigi


Tragedi Sukhoi yang mengejutkan seluruh warga Indonesia beberapa waktu lalu juga masih membuat saya kembali merinding ketika mengingat bahwa ayah saya sempat berada di dalam pesawaat naas itu di penerbangan uji coba yang pertama. Alhamdulillah, Allah masih memberikan berkah dan pertolongannya kepada keluarga saya.

Pesawat Sukhoi super jet 100 buatan Rusia yang terjatuh di tebing Gunung Salak memang telah memberikan luka yang sangat dalam bagi keluarga para korban yang sampai saat ini masih dalam proses evakuasi dan identifikasi. Berita di televisi yang membicarkan kerja tim DVI ( Disaster Victim Identification ) membuat saya teringat kepada beberapa dosen di kampus saya yang tergabung dalam tim elit tersebut. Tim DVI merupakan tim yang terdiri dari banyak elemen, diantaranya adalah polisi, dokter umum, dokter gigi dan elemen penting lainnya. DVI juga mengingatkan saya kepada sebuah karya tulis yang saya susun di tahun 2010 mengenai gigi sebagai alat Identifikasi korban bencana.

Untuk beberapa orang, data gigi mungkin bukanlah suatu hal yang penting. Tapi, dalam dunia forensik, gigi merupakan salah satu dari 3 data primer yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi korban selain dengan DNA dan sidik jari. Metode sidik jari akan sangat sulit dilakukan jika kondisi tangan korban sudah dalam keadaan yang hancur, misalnya pada korban ledakan bom, kecelakaan pesawat, atau tenggelam di lautan. Sedangkan, metode DNA membutuhkan waktu dan biaya yang lebih banyak. Oleh karena itu, metode identifikasi dengan gigi cukup sering digunakan oleh tim DVI  (termasuk dalam kasus tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi ) karena beberapa hal, yaitu :
1.   Gigi setiap orang berbeda. Dalam satu mulut, normalnya ada 32 gigi dengan masing-masing gigi memiliki   5 permukaan. Kondisi dan posisi dari ke 32 gigi tersebut pasti berbeda diantara satu orang dengan orang lainnya, baik itu sudah pernah ada tambalan, atau  sudah hilang. Seorang peneliti menyatakan bahwa kemungkinan kesamaan bentuk gigi antar individu adalah 1 berbanding 2 milyar
2.    Gigi sangat kuat. Gigi melekat erat pada tulang rahang, tahan terhadap proses pembusukan, tahan panas hingga 900° C dan tahan asam. 
3.       Gigi dapat memberikan informasi mengenai jenis kelamin, ras, usia dan bahkan bentuk wajah korban.

Kehebatan gigi ini sempat membuat saya tertarik pada dunia forensik sekaligus bersyukur menjadi mahasiswa kedokteran gigi.  Mungkin, suatu saat nanti, jika memang diijinkan, saya ingin mempelajari ilmu forensik lebih dalam lagi.

Semoga proses identifikasi korban Sukhoi dapat berjalan dengan lancar dan seluruh keluarga korban dapat diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah. Semoga kejadian ini memberikan banyak pelajaran bagi kita semua. Aamiin... 

Selasa, 01 Mei 2012

Rumah Sakit Umum


30 April 2012, 22.45

Malam ini adalah malam terakhir saya bertugas jaga malam di IGD RSU Tangerang. Kondisi rumah sakit ini masih sama seperti 1,5 bulan lalu, ketika saya pertama kali berkenalan dengan rumah sakit ini. Setiap hari, rumah sakit ini selalu saja ramai dengan pasien rujukan. Bagian pengurusan askes dan jamkesmas juga selalu dipadati oleh pasien yang kurang mampu.  Dari pagi sampai malam, rumah sakit ini juga ramai dengan keluarga pasien yang masih saja memanggil kami dengan sebutan 'sus' karena menyangka kami adalah suster rumah sakit.

Menurut beberapa teman dan senior di kampus, stase RSUT adalah stase yang paling menyenangkan karena disini kami menjalani hari-hari tanpa ada tekanan dan tuntutan requirement yang harus kami selesaikan. Kegiatan di poliklinik, IGD dan juga kehidupan asrama membuat kami benar-benar merasa nyaman menjalani stase ini , sampai-sampai kami pun merasa sedih ketika harus berpisah dengan RSUT. 

Kegiatan poliklinik mengajarkan kami berbagai hal yang berkaitan dengan ilmu kedokteran gigi seperti berdiskusi dengan dokter ahli, melihat berbagai kasus baru dan membantu para dokter gigi melayani masyarakat umum yang membutuhkan tenaga kami. Disini, kami melihat bagaimana program pemerintah di bidang kesehatan sudah cukup memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia. Untuk beberapa kasus yang dianggap penting, masyarakat dengan askes dan jamkesmas dapat ditanggung sepenuhnya, tanpa ada bayaran sedikitpun, asalkan mereka mau mengurus surat-suratnya.

Kegiatan IGD mengenalkan kami, para calon dokter gigi, kepada kondisi pasien yang lebih umum. Disini, kami belajar banyak hal baru yang tidak kami dapatkan dari tempat lain seperti menjahit kulit, menyuntik obat anti tetanus , memasang infus, dll. Disini, kami juga berinteraksi dengan banyak perawat dan dokter dari bidang lain yang terkadang memberikan kami kuliah singkat mengenai hal-hal baru. 

Menempati asrama di lingkungan rumah sakit juga memberikan kenangan tersendiri untuk saya dan teman-teman. Mencoba mandiri (belanja, memasak, mencuci sendiri) dan menjalin kekeluargaan diantara kami ( menonton dvd bersama ) adalah hal yang akan kami ingat dari asrama koas gigi RSUT. 

Berbagai pengalaman berharga telah saya dapatkan disini, baik pengalaman dalam bidang ilmu kedokteran maupun pengalaman lain yang tidak akan saya dapatkan di stase lain. Sedih memang, karena kami akhirnya harus pergi dari kehidupan RSUT. Namun, tugas di kampus telah menunggu untuk kami selesaikan agar kami dapat segera menjadi dokter gigi dan bisa terjun langsung ke masyarakat untuk mengabdikan diri kami. Terima kasih kepada para dokter, perawat dan pihak lain yang telah memberikan banyak pengalaman berharga kepada kami.




 We will miss RSUT...