Sabtu, 04 Agustus 2012

Kekuatan Doa

Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah acara di televisi berisi ceramah singkat dari ustadz favorit saya, Yusuf Mansyur, yang membahas mengenai kekuatan doa. Ust.Yusuf Mansyur menceritakan banyak kisah yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh doa dalam kehidupan kita. Bahkan, ketika kita sedang terjebak hujan sehingga tidak bisa keluar dari sebuah gedung, berdoalah kepada Allah, meminta kepadaNya untuk sejenak menghentikan hujan. Allah Maha Berkuasa, maka menghentikan hujan adalah sebuah hal yang sangat mudah bagiNya. Jika kita meyakini Kekuasaan Allah, mengapa kita jarang sekali meminta kepadaNya?

Sesaat setelah menonton acara tersebut saya menjadi tersadar, betapa sedikitnya doa yang saya panjatkan kepadaNya padahal keinginan yang ada di dalam hati saya begitu menggunung. Betapa ruginya saya, melewatkan waktu-waktu yang dianugerahkan olehNya tanpa berdoa kepadaNya. Akhirnya, saya bertekad untuk memperbanyak doa saya kepadaNya. Besok adalah hari kerja saya di bagian klinik anak. Di klinik anak ini, cobaan demi cobaan sudah pernah kami lewati sebagai koas. Mulai dari kondisi anak yang terkadang 'ogah-ogahan' untuk dirawat, dosen-dosen yang cukup perfeksionis dalam meng-acc hasil pekerjaan kami dan kondisi alat bahan yang kurang memadai. Perawatan yang sudah direncanakan di hari sebelumnya terkadang tidak bisa terpenuhi seluruhnya, bisa jadi hanya 50% saja atau bahkan bisa gagal sama sekali jika tiba-tiba sang anak tidak mau datang ke klinik. Untuk mewujudkan tekad saya, maka saya berdoa kepada Sang Maha Kuasa agar besok, seluruh rencana perawatan saya dapat terlaksana.

Besok paginya, saya terpaksa menggunakan taksi ke kampus karena tidak ada yang bisa mengantar. Mengingat kondisi jalanan Jakarta yang selalu macet, saya tidak berani mengambil resiko untuk pergi ke kampus menggunakan busway. Di dalam taksi, pak supir menanyakan kepada saya mengenai rute yang saya pilih untuk ke kampus. Biasanya saya lewat Tanah Abang untuk menghindari kemacetan di Sudirman. Walaupun di Tanah Abang juga sedikit padat, namun setidaknya tidak sepadat jalanan Sudirman. Alhamdulillah, pagi itu, jalanan Jakarta bisa dikatakan sangat lancar, pak supir taksi juga berpikiran hal yang sama dengan saya. 
"Alhamdulillah lancar ya mbak, doa saya dikabulkan Allah ini"
"iya pak, alhamdulillah"
"beneran lho mba, saya beneran berdoa tadi pagi. Sebelum ke Jakarta ini, saya cuma muter-muter di Tangerang-Bandara aja mbak, cuma dapet sedikit setorannya, trus saya berdoa, semoga setelah ini saya dapet penumpang ke jakarta, tapi jalanannya yang lancar, abis itu saya bisa pulang ke rumah. Eh, saya beneran ke Jakarta dan jalanannya lancar ini mbak. Jarang-jarang Jakarta bisa lancar begini."
Subhanallah, baru saja kemarin malam, saya mendengar kisah mengenai kekuatan doa dari acara televisi dan sekarang saya bisa mendengarkannya langsung dari orang yang bersangkutan. 

Akhirnya, saya tiba di kampus pukul 8 dan berencana untuk mulai bekerja di pukul 8.30-11. Kenyataannya, hari itu, saya bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 1 siang, mengerjakan dua pasien anak dengan berbagai hambatan, mulai dari anak yang datang terlambat, diskusi mendadak dengan dosen dan alat kedokteran gigi ( mikromotor ) saya yang dipinjam oleh teman dan sedikit menghambat pekerjaan saya. Tapi, dari semua hambatan yang saya hadapi di hari itu, ada sebuah hal penting yang membuat jerih payah saya terbayar dengan lunas. Alhamdulillah, semua target rencana perawatan saya di hari itu terlaksana.

Sebenarnya, hambatan-hambatan yang saya hadapi di hari itu hampir membuat saya memulangkan pasien kedua saya karena tidak memungkinkan untuk saya rawat (karena masalah waktu), tapi saya mencoba untuk tetap mengerjakannya. Dengan pertolongan dari Allah melalui teman dan situasi klinik yang cukup membantu saya, akhirnya saya berhasil mengerjakan dua pasien di hari itu dengan target perawatan yang berhasil saya capai. Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Allah. Hari ini, walaupun dihadapi dengan beberapa hambatan, akhirnya rencana perawatan yang sudah saya susun sebelumnya bisa terlaksana seluruhnya. 

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Mulai dari acara televisi mengenai kekuatan doa yang saya tonton tadi malam, pengalaman supir taksi tadi pagi,  sampai keberhasilan saya mencapai target perawatan di klinik siang ini, semuanya benar-benar menunjukkan kepada saya bahwa doa sangat berperan dalam kehidupan kita. Inilah kekuatan doa, inilah Kekuasaan Allah. 

Rabu, 25 Juli 2012

Sulawesi !!

Dua tahun yang lalu, saya berhasil menginjakkan kaki saya di tanah toraja, Sulawesi. Walaupun hanya transit di bandara Hasanuddin Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta dari Ternate, saya cukup senang sudah pernah menghirup udara segar di pulau berbentuk huruf K ini. Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu, saya lagi-lagi dianugerahi kesempatan untuk berkunjung bahkan menginap selama 7 hari di pulaunya Jong Celebes ini dalam kegiatan yang sama yaitu Kerja Sosial. Bagi saya, kersos tahun ini merupakan kersos yang ketiga setelah kersos 2008 di Banjarmasin dan kersos 2010 di Maluku Utara.


Keindahan alam Sulawesi benar-benar membuat saya dan teman-teman tidak merasa rugi  meninggalkan kegiatan klinik kami selama seminggu demi kegiatan sosial ini. Sesampainya di kota Palu, kami langsung memanfaatkan kesempatan yang ada untuk berkeliling kota Palu, menikmati pisang goreng dengan saus khasnya di pinggir pantai Talise , durian parigi yang cukup membuat kami ketagihan dan megahnya jembatan Palu yang katanya adalah jembatan lengkung ketiga di dunia. 

Jembatan Palu IV

Wilayah yang dijadikan sasaran dari kersos tahun ini adalah Sigi, Parigi Moutong, Donggala dan Poso. Dari keempat wilayah tersebut, yang sudah pernah saya dengar namanya sebelum kegiatan ini hanyalah Poso karena konflik yang pernah terjadi disana. Dan ternyata, saya ditempatkan di Poso bersama 3 orang teman seangkatan saya. Saya sempat mengkhawatirkan masalah keamanan disana jika mengingat kejadian konflik beberapa tahun yang lalu, tapi panitia sudah menyatakan bahwa saat ini, Poso sudah menjadi wilayah yang aman. 

Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih 6 jam, akhirnya saya dan teman-teman tiba di Poso. Begitu sampai di kecamatan, kami disambut dengan sangat baik oleh warga setempat. Sepertinya, Poso memang sudah menjadi wilayah yang aman. Desa yang menjadi pusat kegiatan kami adalah perkampungan kaum kristiani. Selama 4 hari disini, saya tidak bisa mendengar adzan sama sekali, karena tidak ada masjid. Tapi, walaupun begitu, masyarakat disini sangat menghargai kami yang mayoritas beragama islam. Kami benar- benar merasa dijamu, warga disini tidak ragu untuk memberikan bantuan kepada kami, sungguh berbeda dengan pembicaraan orang-orang diluar sana mengenai Poso. Jalan raya di desa yang saya tinggali ini hanya satu, yaitu jalan trans sulawesi yang selalu dilewati oleh truk-truk besar yang mengangkut muatannya dari ujung Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Utara. Cuaca di desa ini pun tidak terlalu panas karena dekat dengan pegunungan. Sepertinya, kegiatan selama 4 hari di desa ini akan menjadi sangat menyenangkan.


Jalan Trans Sulawesi

Hari kedua di Poso, sebelum melaksanakan pengobatan, kami diundang oleh bupati untuk mengikuti apel rutin di kabupaten bersama seluruh perangkat pemerintahan. Dengan menggunakan jaket kuning kebanggaan, kami pun ikut apel di lapangan kantor kabupaten Poso. Buatku, apel pagi itu menjadi sebuah kenangan yang cukup lucu untuk dikenang, karena hal ini baru pertama kali terjadi selama 3 kali saya mengikuti kersos, apalagi dengan warna kuning mencolok dari jaket alamamater yang kami gunakan, kami berhasil menjadi pusat perhatian di apel pagi hari itu. Setelah apel pagi selesai, kami mulai melaksanakan kegiatan utama kami, yaitu pengobatan dan penyuluhan. Sorenya, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk menikmati keindahan Danau Poso. Kata orang sini, belum ke Poso kalau belum melihat Danau Poso. Apa yang hebat dari danau ini? Ternyata, danau ini adalah danau terluas di Sulawesi dengan panjang 32 km dan lebar 16 km. Bahkan untuk melihat ujung dari danau ini, kami hanya bisa melihat gambaran pegunungan yang menjadi batas danau nun jauh disana. Sebenarnya, di dekat danau ini, ada wisata air terjun yang bertingkat-tingkat seperti niagara falls, namanya air terjun saloupa tapi karena lokasinya yang sangat jauh, kami tidak berhasil pergi kesana.

Danau Poso

Hari ketiga, kami masih ingin menikmati sore terakhir kami di Poso, karena besok siang, kami akan pulang kembali ke Palu setelah melakukan kegiatan pengobatan di pagi harinya. Akhirnya, kami pergi ke sebuah pantai yang ada di Poso ini,  walaupun tidak terlalu besar, tapi kami cukup terhibur dengan hamparan pasir yang cukup indah dan menyegarkan. Refreshing di pantai sore itu sedikit melepas kelelahan kami setelah mengerjakan 100an pasien hari itu. Dan sebagai pelengkap, kami juga mencari makanan ringan untuk menutup jalan-jalan sore hari itu,  Pisang goreng khas Sulawesi.



Pantai di Poso

Setelah selesai melaksanakan kegiatan di masing-masing wilayah, sekuruh rombongan kembalu berkumpul di Palu untum memulai penjelajahan kota Palu. Kami berkunjung ke museum SulTeng, Sou Raja ( rumah raja ) dan terakhir, kami bermain di pantai yang sangat indah di Donggala, yaitu pantai Tanjung Karang. Jalan-jalan di kota Palu ini memang sukses menjadi penghilang penat dan stres kami, para koas tingkat akhir, sweet escape !!

Pantai Tanjung Karang

Jika di tahun 2008 saya mengikuti kersos sebagai seorang peserta dan di tahun 2010 sebagai panitia advance, di tahun 2012 ini, saya memiliki peran yang lain. Tahun ini, saya berangkat dengan 130 orang rombongan Kersos FKG UI 2012 sebagai seorang mahasiswa klinik tingkat akhir yang bertugas menjadi operator. Dalam sebuah bakti sosial, menurut saya, tugas sebagai operator merupakan tugas yang paling utama karena langsung berhubungan dengan pasien. Hampir di setiap bakti sosial, kami, mahasiswa klinik, akan merasa 'sudah menjadi dokter gigi', karena kami dipanggil 'dok' dan kami harus bisa merawat pasien dari semua kalangan dengan peralatan dan bahan yang seadanya dengan kasus yang bermacam-macam. Begitupu dengan kerja sosial tahun ini. Pengalaman yang saya dapatkan selama kersos ini benar-benar merupakan pengalaman yang tidak ternilai. Saya harus menangani kasus pasien yang tidak pernah saya temukan di klinik kampus dan saya harus bisa saya menyelesaikan perawatannya sendiri. Disini jugalah, saya akhirnya menggunakan alat-alat bedah mulut yang tadinya tidak pernah saya gunakan selama di klinik kampus. It's such a great experience!!

Malam terakhir di Palu, panitia mengadakan sebuah acara penutupan yang dihadiri oleh seluruh rombongan kersos dan perangkat pemerintahan provinsi Sulawesi Tengah. Malam penutupan ini diisi oleh sambutan-sambutan dan juga hiburan yang salah satunya dipersembahkan oleh adik-adik angkatan 2010 dan 2011 sebagai peserta preklinik. Kepanitiaan kersos tahun ini dipegang oleh angkatan 2008 dan 2009, walaupun saya dan 3 orang teman dari angkatan 2007 juga masih menjadi bagian dari kepanitiaan ini sebagai steering committe. Buat saya, malam penutupan kersos 2012 telah menjadi malam yang cukup mengharukan. Saya mulai memutar kembali semua kenangan tentang kersos yang sudah pernah saya jalani sejak tahun 2008 dan saya akhirnya menyadari bahwa insya Allah ini adalah kersos terakhir saya sebagai mahasiswa. Saat saya melihat jaket kuning yang digunakan oleh seluruh panitia di malam ini, saya juga menyadari bahwa ini adalah kepanitiaan terakhir saya sebagai seorang mahasiswa. Ini adalah peran terakhir saya sebagai mahasiswa kepada masyarakat. Mungkin terkesan berlebihan, tapi emosi saya memuncak ketika melihat persembahan yang diberikan oleh adik-adik 2010 dan 2011 di atas panggung. Seketika itu juga, saya langsung mengingat masa-masa di saat saya dan rekan-rekan lainnya menyambut mereka di kampus dan memberikan pembinaan kepada mereka untuk bisa melanjutkan peran kemahasiswaan. Ya, lagi-lagi, saya terharu karena menyadari bahwa mereka, adik-adik yang dulu datang ke kampus dengan seragam hitam putih sudah akan menggantikan posisi rekan-rekan 2009 dalam menjalani organisasi kemahasiswaan. Saat persembahan mereka berakhir, saya benar-benar merasa sangat terharu. Kersos terakhir ini telah berhasil menutup kenangan kemahasiswaan saya dengan cukup baik. Semoga, segala yang telah saya dan angkatan saya berikan kepada dunia kemahasiswaan FKG UI termasuk kersos 2012 ini bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Terima kasih Palu.
Terima kasih panitia kersos 2012 ( teman-teman 2008, 2009).
Terima kasih teman-teman 2010, 2011.
Terima kasih...











Sabtu, 30 Juni 2012

Biaya pendidikan yang selalu menjadi masalah

Biaya pendidikan memang selalu menjadi masalah di Indonesia. Tapi, alhamdulillah, perlahan-lahan, pemerintah mulai membuka matanya dan menyadari bahwa pendidikan merupakan hal yang penting dan mendasar dari pembangunan bangsa. Yang saya tahu, BOS ( Biaya Operasional Sekolah ) sudah mulai diberlakukan di Indonesia sejak tahun Juli 2005. Bahkan, di tahun 2008, saya dan teman-teman kampus mengalami kesulitan untuk menemukan anak-anak yang putus sekolah karena kekurangan biaya di daerah Jakarta Pusat karena biaya sekolah dasar sudah ditanggung oleh BOS sepenuhnya. Jika ada anak yang putus sekolah, biasanya bukan dikarenakan tidak adanya biaya, tapi kondisi lainnya. 

Berbeda dengan biaya pendidikan sekolah dasar, biaya pendidikan perguruan tinggi masih saja menjadi masalah hingga saat ini. Bahkan, perguruan tinggi negeri pun masih bisa dengan leluasa memungut biaya yang tinggi dari para mahasiswa, seperti yang terjadi di kampus saya yang nyatanya adalah sebuah universitas negeri. 

Beberapa tahun terakhir, kenaikan biaya kuliah telah terjadi di kampus saya. Saya masuk kuliah dengan uang pangkal sebesar 25 juta dan bayaran per semester sekitar 1,5 juta. Besar biaya kuliah ini bisa saja berkurang  tergantung dengan kemampuan mahasiswanya, yang untuk mewujudkan pengurangan biaya ini, diperlukan beberapa surat dan persayaratan yang harus dilengkapi oleh mahasiswa yang bersangkutan. Setahun kemudian, adik kelas saya , angkatan 2008 merasakan kenaikan biaya per semester menjadi 7,5 juta. Kenaikan sebesar 5 kali lipat dalam waktu satu tahun. Sistem yang sama dengan tahun sebelumnya masih berlaku. Angka 7,5 juta ini bisa disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa dengan persyaratan yang hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya. 

Yang pertama kali menjadi masalah besar di kampus saya adalah adanya uang pangkal kedua yang harus dibayarkan mahasiswa ketika ingin melanjutkan ke pendidikan profesi. Alasan yang diutarakan oleh pihak kampus adalah kebutuhan biaya untuk pembangunan ini dan itu yang nantinya pun akan menunjang pelaksanaan pendidikan profesi yang akan kami jalani. Hal ini baru pertama kali terjadi di angkatan saya. Dulu, di tahun 2007, kami hanya diberitahukan bahwa biaya untuk mengikuti pendidikan pra sarjana dan profesi sampai lulus adalah uang pangkal yang sebesar 25 juta dan bayaran per semester sebesar 1,5 juta selama kurang lebih lima tahun. Jika dijumlahkan semua, maka biaya yang harus kami keluarkan untuk lulus dengan gelar profesi adalah sebesar 40 juta ( jika membayar penuh). Tapi, sekitar satu minggu sebelum kami masuk ke dalam pendidikan profesi, kami diberitahukan mengenai adanya uang pangkal profesi sebesar 10 juta dan kenaikan biaya per semester menjadi 2 juta. Hal ini mengakibatkan angka 40 juta yang telah diperhitungkan sebelumnya akan mengalami kenaikan menjadi 51,5 juta. Selain itu, berbeda dengan biaya pra sarjana, untuk biaya profesi tidak ada lagi keringanan berupa penyesuaian biaya dengan kemampuan mahasiswa. Jadi, semua mahasiswa wajib membayar penuh. 

Saat itu, angkatan saya merasa menjadi marah, bingung dan kacau. Kami berusaha untuk melobi pihak kampus mengenai keputusan yang sangat mendadak ini. Kami seperti disandera oleh pihak kampus yang meminta uang tebusan kepada orang tua kami sebesar 10 juta dalam waktu kurang dari satu minggu, kalau tidak, maka kami terancam untuk tidak bisa mengikuti pendidikan profesi dan berakhir sebagai lulusan sarjana saja. Akhirnya, setelah perdebatan panjang dengan pihak kampus, termasuk menghadapi dekan secara face to face, pihak kampus memutuskan untuk memberi keringanan kepada kami berupa cicilan selama tiga bulan. Sebenarnya, keputusan itu sama sekali tidak meringankan kami. Kami masuk ke kampus ini untuk lulus sampai tingkat profesi dan keputusan baru ini sangat aneh dan tidak transparan. Dengan berat hati, demi mendapatkan gelar keprofesian kami, akhirnya dengan susah payah, kami berusaha keras untuk membayar uang pangkal kedua tersebut. 

Berlanjut ke angkatan 2008, peraturan mengenai uang pangkal kedua ini kembali berlaku. Tapi, bedanya, biaya per semester untuk angkatan ini 7,5 juta , sama dengan biaya pra sarjana. Saat itu, adik-adik kelas kami sudah lebih dahulu mengetahui adanya peraturan ini semenjak peraturan ini pertama kali dikeluarkan, yaitu setahun sebelumnya, jadi sepertinya mereka pun tidak terlalu mempermasalahkan hal ini ke pihak kampus. Alasannya tetap sama, untuk biaya pembangunan.

Dan sekarang, masalah baru muncul. Sebelum angkatan 2009 memasuki masa pendidikan profesinya, tersiar berita bahwa uang pangkal profesi akan mengalami kenaikan lagi menjadi 15 juta. Kali ini, mahasiswa angkatan 2009 pun tidak bisa tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan untuk bisa menolak keputusan ini. Melobi pihak kampus, meminta bantuan dari teman-teman universitas dan juga cara-cara lainnya. Lagi-lagi, alasannya adalah untuk biaya pembangunan dan SUC ( student unit cost ) yang tinggi menurut pihak kampus. SUC yang dimaksud adalah biaya yang dibutuhkan setiap mahasiswa untuk menjalani pendidikan di kampus kami termasuk bahan-bahan dan alat-alat yang kami gunakan selama masa pendidikan pra sarjana dan profesi. Tapi, SUC ini tidak mengalami perubahan sejak beberapa tahun sebelumnya, bahkan sebelum uang pangkal profesi ini ada, SUC di kampus kami memang sudah tinggi. Segalanya terlihat aneh dan tidak transparan. Saat ini, masih ada waktu sekitar 6 bulan lagi sampai mahasiswa 2009 memasuki masa pendidikan profesinya. Mereka masih terus berusaha untuk mengatasi permasalahan yang dianggap janggal ini, bahkan mereka meminta bantuan dari rekan-rekan mahasiswa satu universitas untuk menyetujui petisi mengenai penolakan biaya profesi ini. ( bisa dilihat di www.uigue.com ).

Lagi-lagi, biaya pendidikan masih menjadi masalah bagi bangsa ini. Bagaimana bisa pembangunan di Indonesia berjalan dengan baik kalau pendidikannya saja masih terus diganggu oleh permasalahan biaya? Bagaimana bisa jumlah tenaga kesehatan di Indonesia diperbanyak, jika untuk menjalani pendidikan kesehatannya saja, mahasiswa masih dibebankan biaya yang sangat tinggi? Bukankah perguruan tinggi berada di bawah struktur pemerintah? Lalu, mengapa harus mahasiswa yang menjadi sumber dananya? Apalagi untuk alasan biaya pembangunan, apakah hal ini bisa dibenarkan?

Semoga pemerintah bisa memberikan perhatian lebih kepada nasib perguruan tinggi negeri yang masih membutuhkan banyak biaya untuk pembangunan fisik maupun non fisik , agar bukan mahasiswa lagi yang menjadi korbannya. Aamiin.. 
*tetap semangat untuk rekan-rekan yang masih berjuang! 


Minggu, 10 Juni 2012

Be positive!

Walaupun ada yang disebut dengan prasangka baik , tapi pada kenyataannya hati manusia memang lebih mudah dihinggapi prasangka buruk.Hal ini bisa dialami oleh siapa saja dalam kondisi apa saja. Berprasangka buruk kepada teman, sahabat, orangtua, keluarga dan pasangan sangat mudah terjadi ketika tidak adanya komunikasi yang lancar dan juga kepercayaan. Bahkan, kita juga bisa berprasangka buruk kepada ketetapan Allah akan kehidupan kita. Ini yang paling berbahaya.

Prasangka buruk juga bisa timbul karena adanya kenangan buruk di masa lalu akan sesuatu atau seseorang. Manusia memiliki kemampuan untuk menyimpan memori dari setiap kejadian dalam hidupnya. Memori yang paling bertahan lama di otak manusia adalah memori yang terindah dan juga terburuk. Pengalaman kecopetan akan membuat seseorang selalu berprasangka buruk setiap ada orang yang mendekatinya di tempat umum. Pengalaman dibohongi juga akan membuat seseorang menjadi tidak mudah percaya kepada kata-kata seseorang.

Padahal, Allah telah menjelaskan tentang prasangka ini di dalam firmanNya
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka adalah dosa.. " ( QS.49:12)

Jadi, untuk menghindarkan diri kita dari dosa, ada baiknya, kita selalu memperbaiki komunikasi yang tidak lancar, termasuk komunikasi kita kepada Sang Pencipta. Memiliki keyakinan dan kepercayaan adalah salah satu kunci untuk menghindari prasangka. Pastikan dulu kebenaran dari setiap berita yang didengar untuk menghindari prasangka yang akan berujung pada hal buruk lainnya, karena dari sedikit prasangka, akan berlanjut kepada kesalahpahaman dan pertengkaran. Kenangan buruk dimasa lalu tidak seharusnya membuat kita menjadi mudah untuk mencurigai seseorang, lebih baik jika kita bisa bersikap waspada dibandingkan curiga.  

Be positive! 


Kamis, 31 Mei 2012

So, what's the plan?

Sebagai seorang mahasiswa kedokteran gigi, sudah pasti, saya dan juga teman-teman koas kedokteran umum akan mengalami sindrom 'masih koas' di antara teman-teman se angkatan saat SMA dulu yang berkuliah di fakultas non kedokteran. Teman-teman itu sudah lulus dari status mahasiswanya, sudah bisa mencari uang sendiri dengan bekerja atau bahkan sudah bisa menyusun rencana untuk mengambil S2. Sedangkan saya yang berada di tahap akhir masa per-koas-an harus berpikir "lebih serius" lagi mengenai rencana hidup ke depan.

Rencana mengenai kehidupan pasca klinik memang sudah pernah mampir di benak saya. Ingin praktek di klinik pribadi atau di Rumah Sakit, ingin PTT, ingin mengambil spesialis, dll. Tapi, sepertinya saat ini , saya harus  meletakkan kembali rencana-rencana itu, karena semakin dekat dengan deadline kelulusan, saya menjadi semakin berhitung mengenai waktu kelulusan saya. Yah, beginilah balada koas kedokteran gigi. Kelulusan bukanlah suatu hal yang bisa dipastikan oleh saya dan dosen semata. Ada faktor lain, seperti ke-kooperatif-an pasien dalam menjalani perawatan dan ketersediaan dental unit di kampus.

Terkadang semangat untuk menyelesaikan requirement tiba-tiba menurun bahkan hilang karena kejenuhan mulai memenuhi pikiran. Pergi ke kampus, tapi tidak mengerjakan pasien karena pasiennya tidak bisa datang tiba-tiba atau karena memang belum ada pasien yang sesuai dengan kasus yang dibutuhkan. Sedangkan, di kanan kiri saya, teman-teman lain bekerja dengan jadwal yang padat. Kondisi seperti inilah yang pernah membuat saya menjadi malas dan hampir menyerah. Alhamdulillah, saya masih memiliki teman-teman yang selalu saling menyemangati. Akhirnya, saya berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya dan mencoba untuk menjalaninya dengan terus berusaha. Insya Allah, kalau saya memang belum bisa lulus tepat waktu, pasti ada hikmahnya.Saya masih ingin membuat orangtua saya tersenyum bangga ketika melihat saya bisa lulus menjadi seorang dokter gigi dan sudah mampu mencari uang sendiri. Itu motivasi terbesar yang akhirnya berhasil membuat rasa malas dan menyerah itu perlahan menghilang. Walaupun rencana saya mungkin tidak bisa terealisasi dengan ideal, tapi setidaknya saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. ( baca : lulus dan wisuda di September 2012 ).

So, what's the plan?
It's not about PTT, or work in a hospital, or take a specialty, but 'Drg Aristyani Dwi Rahmani'  this year, aamiin...

Senin, 14 Mei 2012

Grazie..

Mungkin terkesan berlebihan, tapi saya benar-benar sedih malam kemarin. Saya sedih karena kemarin adalah malam terakhir saya melihat jagoan-jagoan saya bermain di lapangan hijau dengan seragam merah hitam. Pippo Inzaghi, Gattuso, Nesta, Seedorf, Zambrotta dan Van Bommel akan pergi meninggalkan kami, para milanisti. Sedih sekali rasanya. Untuk milanisti perempuan seperti saya, momen perpisahan tadi malam adalah momen yang sangat emosional dan penuh airmata.

Saya yang biasanya paling malas untuk menonton pertandingan via streaming akhirnya berusaha mati-matian untuk mencari link streaming yang paling bagus tadi malam demi menonton pertandingan terakhir mereka. Sebenarnya, melihat mereka bermain di lapangan saja sudah membuat saya sangat senang karena mereka memang sudah jarang sekali dimainkan oleh pelatih. Saya tidak peduli dengan skor, yang penting saya melihat mereka bermain. Tapi, ketika Inzaghi mencetak gol ke 125 nya, saya benar-benar senang. Idola saya sejak kelas 4 SD ini memberikan kenangan yang sangat bagus di permainan terakhirnya.

Seusai pertandingan, para pemain masuk ke lapangan dengan anak-anak mereka. Ini yang saya kagumi dari tim favorit saya, kekeluargaan yang benar-benar terasa di antara pemain ( itu yang saya lihat dari media ). Mengharukan sekali saat melihat para pemain itu saling berpelukan dan menangis karena harus mengalami perpisahan. Buat saya, melihat seorang laki-laki menangis adalah hal yang paling mengharukan. 

Filippo Inzaghi, dialah yang membuat saya menjadi seorang milanisti. Saat pertama saya mengenal dunia sepakbola, saya menyukai si Nyonya Tua, apalagi dengan kehebatan Del-Pippo dikala itu. Tapi, di tahun 2001/2002, Inzaghi pindah ke AC Milan. Akhirnya, saya menjadi Juventini sekaligus Milanisti. Seiring berjalannya waktu, saya akhirnya menentukan pilihan untuk menjadi Milanisti saja dan Inzaghi lah yang menjadi alasannya.

Jagoan saya memang sudah pergi. AC Milan akan berganti wajah dengan pemain yang lebih muda. Semoga regenerasi berjalan dengan baik dan Milan akan kembali menjadi tim terbaik di Italia. ForzaMilan! Grazie Sandro, Pippo, Rhino, Seedorf, Van Bommel, Zambrotta..





Minggu, 13 Mei 2012

Tragedi Sukhoi dan identifikasi gigi


Tragedi Sukhoi yang mengejutkan seluruh warga Indonesia beberapa waktu lalu juga masih membuat saya kembali merinding ketika mengingat bahwa ayah saya sempat berada di dalam pesawaat naas itu di penerbangan uji coba yang pertama. Alhamdulillah, Allah masih memberikan berkah dan pertolongannya kepada keluarga saya.

Pesawat Sukhoi super jet 100 buatan Rusia yang terjatuh di tebing Gunung Salak memang telah memberikan luka yang sangat dalam bagi keluarga para korban yang sampai saat ini masih dalam proses evakuasi dan identifikasi. Berita di televisi yang membicarkan kerja tim DVI ( Disaster Victim Identification ) membuat saya teringat kepada beberapa dosen di kampus saya yang tergabung dalam tim elit tersebut. Tim DVI merupakan tim yang terdiri dari banyak elemen, diantaranya adalah polisi, dokter umum, dokter gigi dan elemen penting lainnya. DVI juga mengingatkan saya kepada sebuah karya tulis yang saya susun di tahun 2010 mengenai gigi sebagai alat Identifikasi korban bencana.

Untuk beberapa orang, data gigi mungkin bukanlah suatu hal yang penting. Tapi, dalam dunia forensik, gigi merupakan salah satu dari 3 data primer yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi korban selain dengan DNA dan sidik jari. Metode sidik jari akan sangat sulit dilakukan jika kondisi tangan korban sudah dalam keadaan yang hancur, misalnya pada korban ledakan bom, kecelakaan pesawat, atau tenggelam di lautan. Sedangkan, metode DNA membutuhkan waktu dan biaya yang lebih banyak. Oleh karena itu, metode identifikasi dengan gigi cukup sering digunakan oleh tim DVI  (termasuk dalam kasus tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi ) karena beberapa hal, yaitu :
1.   Gigi setiap orang berbeda. Dalam satu mulut, normalnya ada 32 gigi dengan masing-masing gigi memiliki   5 permukaan. Kondisi dan posisi dari ke 32 gigi tersebut pasti berbeda diantara satu orang dengan orang lainnya, baik itu sudah pernah ada tambalan, atau  sudah hilang. Seorang peneliti menyatakan bahwa kemungkinan kesamaan bentuk gigi antar individu adalah 1 berbanding 2 milyar
2.    Gigi sangat kuat. Gigi melekat erat pada tulang rahang, tahan terhadap proses pembusukan, tahan panas hingga 900° C dan tahan asam. 
3.       Gigi dapat memberikan informasi mengenai jenis kelamin, ras, usia dan bahkan bentuk wajah korban.

Kehebatan gigi ini sempat membuat saya tertarik pada dunia forensik sekaligus bersyukur menjadi mahasiswa kedokteran gigi.  Mungkin, suatu saat nanti, jika memang diijinkan, saya ingin mempelajari ilmu forensik lebih dalam lagi.

Semoga proses identifikasi korban Sukhoi dapat berjalan dengan lancar dan seluruh keluarga korban dapat diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah. Semoga kejadian ini memberikan banyak pelajaran bagi kita semua. Aamiin... 

Selasa, 01 Mei 2012

Rumah Sakit Umum


30 April 2012, 22.45

Malam ini adalah malam terakhir saya bertugas jaga malam di IGD RSU Tangerang. Kondisi rumah sakit ini masih sama seperti 1,5 bulan lalu, ketika saya pertama kali berkenalan dengan rumah sakit ini. Setiap hari, rumah sakit ini selalu saja ramai dengan pasien rujukan. Bagian pengurusan askes dan jamkesmas juga selalu dipadati oleh pasien yang kurang mampu.  Dari pagi sampai malam, rumah sakit ini juga ramai dengan keluarga pasien yang masih saja memanggil kami dengan sebutan 'sus' karena menyangka kami adalah suster rumah sakit.

Menurut beberapa teman dan senior di kampus, stase RSUT adalah stase yang paling menyenangkan karena disini kami menjalani hari-hari tanpa ada tekanan dan tuntutan requirement yang harus kami selesaikan. Kegiatan di poliklinik, IGD dan juga kehidupan asrama membuat kami benar-benar merasa nyaman menjalani stase ini , sampai-sampai kami pun merasa sedih ketika harus berpisah dengan RSUT. 

Kegiatan poliklinik mengajarkan kami berbagai hal yang berkaitan dengan ilmu kedokteran gigi seperti berdiskusi dengan dokter ahli, melihat berbagai kasus baru dan membantu para dokter gigi melayani masyarakat umum yang membutuhkan tenaga kami. Disini, kami melihat bagaimana program pemerintah di bidang kesehatan sudah cukup memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia. Untuk beberapa kasus yang dianggap penting, masyarakat dengan askes dan jamkesmas dapat ditanggung sepenuhnya, tanpa ada bayaran sedikitpun, asalkan mereka mau mengurus surat-suratnya.

Kegiatan IGD mengenalkan kami, para calon dokter gigi, kepada kondisi pasien yang lebih umum. Disini, kami belajar banyak hal baru yang tidak kami dapatkan dari tempat lain seperti menjahit kulit, menyuntik obat anti tetanus , memasang infus, dll. Disini, kami juga berinteraksi dengan banyak perawat dan dokter dari bidang lain yang terkadang memberikan kami kuliah singkat mengenai hal-hal baru. 

Menempati asrama di lingkungan rumah sakit juga memberikan kenangan tersendiri untuk saya dan teman-teman. Mencoba mandiri (belanja, memasak, mencuci sendiri) dan menjalin kekeluargaan diantara kami ( menonton dvd bersama ) adalah hal yang akan kami ingat dari asrama koas gigi RSUT. 

Berbagai pengalaman berharga telah saya dapatkan disini, baik pengalaman dalam bidang ilmu kedokteran maupun pengalaman lain yang tidak akan saya dapatkan di stase lain. Sedih memang, karena kami akhirnya harus pergi dari kehidupan RSUT. Namun, tugas di kampus telah menunggu untuk kami selesaikan agar kami dapat segera menjadi dokter gigi dan bisa terjun langsung ke masyarakat untuk mengabdikan diri kami. Terima kasih kepada para dokter, perawat dan pihak lain yang telah memberikan banyak pengalaman berharga kepada kami.




 We will miss RSUT... 

Sabtu, 21 April 2012

Sekolah lagi..

"Selesai sarjana, mau kerja dimana? "
" Rencananya mau lanjut sekolah lagi, S2 di luar negeri"

Jujur, saya merinding setiap mendapatkan jawaban seperti itu dari teman-teman saya. Subhanallah, betapa besar keinginan mereka untuk terus belajar. Kekaguman saya langsung muncul seketika. Mereka masih haus akan ilmu dan akan berjuang untuk mendapatkannya. Sedangkan, saya sendiri masih berkutat dengan dunia per-koas-an yang masih perlu tenaga dan tekad kuat untuk menyelesaikannya. 

Sebuah hadits menggambarkan dengan jelas, betapa istimewanya orang-orang yang haus akan ilmu. Rasulullah bersabda bahwa mencari ilmu pengetahuan adalah jalan menuju surga. Dia mengatakan 'Barangsiapa yang mengikuti jalan untuk mencari pengetahuan, maka Allah akan memudahkan jalan baginya untuk mencapai surga' (Al-bukhari)

Dalam dunia profesi yang saya jalani, sekolah yang mungkin akan diambil setelah lulus menjadi seorang dokter gigi adalah melanjutkan ke pendidikan spesialis, walaupun ada beberapa senior saya yang lebih memilih untuk melanjutkan sekolah S2. Sejak awal saya menginjakkan kaki di fakultas kedokteran gigi, saya tertarik dengan bidang bedah mulut. Tapi, karena pertimbangan waktu sekolah yang cukup lama dan beberapa alasan lainnya, akhirnya saya mundur teratur dari keinginan saya menjadi seorang spesialis bedah mulut. Menjalani stase demi stase, saya pun mulai memiliki ketertarikan kepada bidang lain. Tapi, keinginan saya untuk mengambil pendidikan spesialis masih belum kuat, karena faktor waktu sekolah dan biaya yang cukup besar untuk dikeluarkan. 

Di satu sisi, saya memang memiliki keinginan untuk menuntut ilmu lagi sehingga bisa memberikan manfaat yang lebih banyak kepada masyarakat seperti yang saya lihat dari para doktor dan profesor yang ada di kampus saya. Tapi, di sisi lain, ada sebuah pemikiran dari dalam hati, bahwa kelak, saya bukanlah seseorang yang hanya memikirkan tentang pencapaian diri saya sendiri. 

Apapun yang akan terjadi nanti, sebagai seorang dokter gigi umum, dokter gigi spesialis, doktor ataupun profesor, insya Allah, saya akan terus belajar dan belajar ( formal atau informal ) untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat. Insya Allah. Aamiin.. 



Minggu, 08 April 2012

Pendidikan dokter/dokter gigi

"Kamu tidak perlu mempelajari sampai sejauh itu, itu bagiannya spesialis."
"Kamu tidak boleh mengerjakan kasus itu, itu sulit."

Kalimat-kalimat di atas cukup sering saya dengar dari dosen-dosen pengajar pendidikan dokter/dokter gigi, baik secara langsung maupun dari cerita-cerita yang disampaikan teman atau senior. Saya tidak menyalahkan cara mereka mendidik kami, tapi sepertinya ada yang salah dari kalimat di atas.

Bagi saya, pengetahuan adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak ada batasan bagi siapapun untuk bisa mendapatkannya dengan sebanyak-banyaknya. Seorang anak kecil usia 3 tahun tidak pernah dilarang untuk mulai mempelajari cara bermain piano dengan alasan terlalu muda. Apakah nantinya anak itu bisa bermain piano atau tidak, itu adalah hal yang berbeda. Begitu pula dengan ilmu-ilmu dalam bidang kedokteran/kedokteran gigi.

Dalam pelaksanaannya, para GP ( General Practicioner ) atau dokter/dokter gigi umum memang hanya boleh melakukan sebuah perawatan yang dirasa mampu untuk dilakukan, tapi dalam hal mendapatkan pengetahuan yang lebih, menurut saya, siapapun boleh berusaha mendapatkannya baik dalam seminar ataupun pengajaran informal.


" Kasus ini memang sulit, oleh karena itu, kamu harus lebih berhati-hati dan belajar lebih banyak lagi"
"Sebenarnya kalian tidak perlu mempelajari sampai sejauh ini, tapi sebagai tambahan ilmu, kalian boleh mempelajarinya"

Hanya sedikit sekali dari para pengajar yang akan mengatakan kalimat di atas. Mereka adalah pengajar yang dengan senang hati memberikan tambahan ilmu kepada muridnya. Ilmu yang tidak akan ditemukan di textbook atau jurnal manapun. Ilmu yang membuat muridnya menjadi percaya diri dan merasa siap untuk terjun ke masyarakat. Pengajar inilah yang selalu mengatakan bahwa mereka masih bodoh, sehingga mereka masih terus belajar. Merekalah yang membuat murid-muridnya tidak merasa takut melainkan segan dan hormat. Alasan mereka mengajar bukanlah untuk kebanggaan bahwa mereka adalah seorang ahli / profesor yang belum dapat ditandingi kemampuannya , tapi sebuahkebanggaan bahwa murid-muridnya kelak bisa lebih baik dari mereka.

Seorang teman mengatakan kepadaku bahwa dokter dan guru adalah dua pekerjaan yang paling mulia. Jika ada seorang dokter yang juga menjadi guru, maka seharusnya dia menjadi orang yang sangat mulia. Tapi, kemuliaan memang tidak bisa ditemukan dengan mudah. Kemuliaan itu hanya akan ditemukan pada seorang dokter yang mengajarkan murid-muridnya dengan ketulusan hati.

Untuk para dosen yang telah mengajarkan saya dengan sabar dan tulus, Terima Kasih, Dok!!


Selasa, 20 Maret 2012

Pahlawan masa kini

Ketika jam di ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Tangerang menunjukkan pukul 17.30, kami mendengar suara rintihan seorang anak yang menahan rasa sakit dan derap kaki yang terburu-buru, bergerak cepat memasuki ruang IGD. Pasien baru telah datang.

Setelah anak berbaju seragam putih merah itu dibaringkan diatas kasur IGD, seorang lelaki muda dengan usia mendekati 20 tahun , yang tadi telah menggendong anak kecil ini masuk , mulai berbicara kepada kami dan meminta pertolongan kami. Lelaki ini terlihat sedikit panik. Dia segera mengambil saputangan miliknya, lalu membasahinya dengan air dan berusaha untuk membersihkan darah yang ada di sekitar luka. Kami berpikir bahwa lelaki ini adalah keluarga atau kerabat dari pasien.

Kami pun bergegas memberi kabar kepada perawat bedah yang sedang bertugas di ruangan lain mengenai kehadiran pasien baru. Setelahnya, barulah kami mulai menanyakan kronologis kejadian yang dialami anak dengan luka robek pada kaki di bagian bawah lutut itu. Anak itu bercerita dengan panik karena melihat banyaknya darah yang keluar dari kakinya. Lukanya cukup besar, otot dalamnya pun terlihat dengan jelas. Akhirnya, kamipun bertanya kepada lelaki yang mengantarnya tadi yang kami yakini sebagai keluarganya. Tapi, ternyata, lelaki ini bukanlah keluarga ataupun kerabatnya. Dia hanyalah seorang lelaki yang tidak sengaja lewat di dekat lokasi kejadian dan melihat kondisi anak itu lalu segera membawanya ke Rumah Sakit. Dia pun tidak terlalu mengetahui kronologis kejadiannya apalagi identitas dari si anak. Yang dia ketahui hanyalah kondisi pasien yang harus segera diobati. Lelaki ini terus berdiri di samping kasur pasien sambil menunggu datangnya perawat dengan wajah penuh kekhawatiran dan iba. Tidak lama setelahnya, perawat pun datang dan segera memberikan pertolongan kepada pasien.

Memang sulit menemukan sosok pahlawan berhati mulia saat ini. Tapi, ketika aku melihat ketulusan dari seorang lelaki muda di ruangan IGD ini, aku pun menjadi percaya, bahwa hati yang mulia itu masih tersedia di bumi Indonesia walaupun sudah menjadi barang yang sangat langka. Lelaki itu mungkin bukan siapa-siapa, tapi dia adalah pahlawan bagi anak yang ditolongnya. Subhanallah.. Semoga Allah membalas semua kebaikannya, aamiin...


Sabtu, 03 Maret 2012

Anak-anak

Bekerja di stase anak memang memiliki pengalaman dan pelajaran yang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan stase lainnya. Biasanya saya dan teman-teman lebih banyak mempelajari hal-hal baru dalam bidang medis yang saya lihat secara langsung di masyarakat seperti korban kecelakaan lalu lintas, penyakit kanker dan penyakit-penyakit menyeramkan lainnya. Di stase anak, saya memperlajari banyak hal baru yang membuat saya dan teman-teman semakin mensyukuri rahmat dan anugrah dari Yang Maha Kuasa.

Di stase anak, saya harus mencari pasien sendiri. Akhirnya, saya dan kelompok mulai berusaha menyusuri wilayah di sekitar Salemba untuk mencari anak-anak yang giginya bermasalah dan mau dirawat oleh kami. Kami mencari selama beberapa hari , menyusuri jalanan kecil Paseban, Salemba Tengah, Salemba Bluntas hingga ke daerah Percetakan Negara.

Inilah Jakarta. Begitu keluar dari kampus UI yang terkesan mewah karena gaya hidup dosen dan mahasiswanya, kami langsung dapat menemukan rumah yang hanya terdiri dari seng dan berukuran tidak lebih dari 3 m x 3 m. Itu adalah rumah dari anak yang menjadi pasien saya. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci sedangkan ayahnya tidak bekerja. Pasien teman-teman saya pun bernasib sama. Rumah dengan ukuran sekitar 3 m x 5 m , dihuni oleh sekitar 10 orang. Cukup menyedihkan melihatnya. Setiap kami menjemput dan mengantar anak-anak itu pulang ke rumahnya, semakin kami merasa miris namun mensyukuri nikmat dari Allah.

Setelah beberapa minggu dirawat, akhirnya kami mengajak anak-anak itu untuk makan bersama di sebuah mal dekat kampus kami, Atrium Senen. Sebuah Mal yang mungkin dianggap tidak berkelas oleh sebagian orang. Jarak antara Mal Atrium Senen dengan rumah anak-anak ini cukup dekat, waktu tempuhnya tidak sampai 10 menit jika menggunakan kendaraan bermotor. Tapi, sejujurnya, saya dan teman-teman cukup terkejut ketika melihat reaksi anak-anak itu setelah masuk ke dalam Mal. Mereka sangat senang dan begitu excited saat melihat lift, menaiki escalator, melihat banyak manekin, bermain perosotan di Mcd dan melihat betapa tingginya gedung Mal yang terdiri dari 5 lantai.

Ternyata, adegan yang pernah saya lihat di film, benar-benar terjadi di depan mata. Mereka adalah anak-anak yang jarang sekali mendapatkan hiburan, padahal mereka tinggal di ibukota Jakarta. Senang sekali saat melihat senyum kelelahan di wajah mereka. Selama berada di Mall, mereka berlari-lari dan saling berebut untuk menaiki escalator, tapi mereka senang. Itulah yang membuat kami pun ikut senang.



Kamis, 16 Februari 2012

Penggenggam Hujan

Mungkinkah suaramu keluar bercampur isak yang tertahan? " Selama hidupku, aku tidak pernah marah separah yang kurasakan kali ini. Jika kelak Allah memberikan kemenangan kepada kita, akan kurusak muka tiga puluh mayat kaum Quraisy!"

Hamzah, pembelamu yang gagah tak tertandingi, hari ini terbujur dengan jasad yang terkoyak-koyak. Dadanya terbelah dan jelas ada bagian dalam tubuhnya yang hilang. Wajahnya juga rusak dengan organ-organ yang tidak lagi berada pada tempatnya.

Apakah yang engkau alami kemudian ketika keluar dari bibirmu kata-kata bersajak yang terdengar agung di telinga para sahabatmu? "Jika kalian ingin melakukan pembalasan, balaslah sesuai dengan yang mereka lakukan kepadamu, tetapi sesungguhnya memberikan maaf itu jauh lebih baik bagi orang-orang yang sabar. " Engkau membatalkan sumpahmu sebelumnya lalu melarang keras setiap tindakan merusak muka mayat pada setiap peperangan berakhir.


Itu adalah kutipan dari novel berjudul "Muhammad, lelaki penggenggam hujan" karya Tasaro GK. Bagian inilah yang membuatku menjadi sangat terkesan dengan isi novel ini. Bahasa yang disampaikan begitu indah dan seperti langsung tertuju ke hatiku. Membaca novel ini seperti menyelami peradaban di Persia dan Arab ketika itu, mengetahui betapa mulianya Sang Lelaki Penggenggam Hujan.

Buku ini memang tidak menceritakan sejarah dari awal Rasulullah lahir sampai meninggal. Tasaro hanya mengambil beberapa kejadian dari kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya dalam bentuk sebuah cerita yang sangat deskriptif. Dalam novel ini, ada seorang tokoh bernama Kashva dari Persia yang ingin sekali bertemu Rasulullah untuk membuktikan ramalan yang ada di agamanya. Cerita mengenai sosok bernama Kashva inipun dapat disampaikan dengan sangat menarik oleh Tasaro. Novel ini juga menggambarkan bahwa berita akan datangnya seorang Nabi untuk seluruh umat telah ada di seluruh agama yang ada di muka bumi. Subhanallah..

Membaca cerita tentang Rasulullah selalu memberikan dampak kerinduan yang sangat dalam kepadanya. Membuat kita menjadi semakin dan semakin mencintai pribadinya yang mulia. Untuk yang ingin menikmati kecintaan dan kerinduan kepada Sang Lelaki Penggenggam Hujan, novel ini sangat direkomendasikan.

Terima kasih kepada Tasaro GK



Senin, 06 Februari 2012

HFMD

Seperti mempraktekkan ilmu yang baru saja saya pelajari di stase Penyakit Mulut, saya terkena infeksi virus yang membuat saya harus beristirahat di rumah selama beberapa hari. Awalnya gejala yang timbul tidak terlalu jelas. Hanya demam dan sakit tenggorokan. Menurut dokter umum di kampus saya, saya menderita radang tenggorokan. Tapi keesokan harinya, mulai timbul vesikel ( bintil berisi cairan serum berwarna kuning ) di wajah saya. Akhirnya saya pergi ke dokter umum di klinik dekat rumah dan didiagnosis terkena infeksi virus , antara virus Herpes atau Coxsackievirus. Setelah timbul bintik-bintik merah di tangan dan kaki saya, akhirnya saya yakin kalau saya terkena infeksi virus coxsackie dengan nama penyakit Hand Foot Mouth Disease ( HFMD).

Saya memang baru saja mempelajari infeksi virus ini, tapi tidak terpikirkan sama sekali oleh saya untuk mengalaminya sendiri. Sebenarnya penyakit ini biasa menyerang anak di bawah usia 10 tahun, tapi memang terkadang bisa menyerang orang dewasa. Beberapa waktu lalu, saya memang sering berkontak langsung dengan anak-anak SD kelas 1-3 untuk mencari calon-calon pasien anak yang akan saya rawat di stase selanjutnya. Sepertinya, kondisi imun saya sedang turun dan akhirnya tertular penyakit ini dari salah satu anak SD tersebut. Tapi, ini hanyalah kemungkinan yang saya perkirakan sendiri.

Sebenarnya penyakit ini tidak lebih parah dari infeksi virus seperti influenza. Saya mengalami demam 1 hari, sakit tenggorokan yang cukup akut dan berat ditambah munculnya bintik-bintik merah di tangan , kaki serta wajah saya. Terkadang ada gejala pusing dan malaise ( lemas ). Terapi utamanya adalah istirahat dan peningkatan kondisi imun dengan makan yang banyak dan minum vitamin. Tapi, karena ini adalah infeksi virus, maka penularannya akan sangat mudah. Bahkan, menurut beberapa literatur, infeksi ini menular melalui udara. Oleh karena itulah, saya harus beristirahat di dalam kamar selama beberapa hari sampai masa inkubasi virus tersebut selesai dan saya sudah tidak menjadi orang yang paling "infeksius" lagi.

Tidak ada yang menginginkan sakit, begitupun dengan saya. Terlebih lagi, saya harus meninggalkan kegiatan klinik di kampus. Tapi, daripada saya mengeluh, lebih baik saya nikmati saja sakit ini. Bersyukur kepada Allah, karena masih diingatkan betapa berharganya sebuah kesehatan bagi saya. Bersyukur kepadaNya karena masih ditegur atas kelalaian dan kesombongan saya dalam menjaga kesehatan. Alhamdulillah..

Syukuri sehatmu sebelum sakitmu..

Minggu, 22 Januari 2012

Kuasa Allah

Apakah kau pernah melihat atau mendengar sebuah fenomena yang jelas-jelas menunjukkan betapa besar kuasa Allah dalam hidup kita sebagai hambaNya? Saya pernah dan beberapa akhir ini, saya semakin sering melihatnya.

Pertama, saya akan membicarakan soal kemungkinan seseorang terkena penyakit yang mematikan, seperti kanker ( maaf kalau topiknya soal kanker lagi, maklumlah, saya lagi sering bertemu dengan kasus ini :p). Seorang guru besar di kampus saya pernah menjelaskan kepada saya dan kawan-kawan tentang penyakit ini. Saat itu, kawan saya bertanya kepadanya, "Dok, sebenarnya, apakah yang menjadi penyebab terjadinya kanker?". Guru besar tersebut menjawab dengan santai, "Kanker itu tidak ada penyebab nya, karena itu semua sudah tertulis di tanganmu sejak kau lahir. Jika sejak awal, kau ditakdirkan mengidap kanker, maka apapun yang terjadi, kau akan tetap mengidap kanker. Tapi, jika kau memang tidak ditakdirkan mengidap penyakit kanker, maka kau tidak akan permah mendapatkan penyakit itu". Sejujurnya, saat itu, saya merasa jawaban beliau hanya sesuatu hal yang kurang ilmiah. Tapi, lama kelamaan, akhirnya saya menyadari bahwa yang dikatakannya adalah benar.

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan dua orang pasien kanker di RSCM. Kondisi kedua pasien sungguh berbeda dan bertolak belakang. Pasien pertama datang dengan kondisi lemah, sulit berbicara dan ditemani oleh istrinya. Setelah menggali informasi dari sang istri, akhirnya diketahui bahwa pasien pernah memiliki kebiasaan yang memang bisa menjadi faktor pemicu untuk terkena penyakit kanker, seperti merokok 3 bungkus per hari, memakan mie instan setiap hari, dll. Para dokter pun menjadi mudah untuk mengidentifikasi faktor yang memicu terjadinya kanker pada pasien pertama tersebut. Namun, pasien kedua sangat berbeda. Beliau datang sendiri dengan kondisi yang cukup baik walaupun ada gangguan pada penglihatannya. Beliau membawa sebuah tas yang berisikan toples dengan berbagai macam obat di dalamnya dan sebuah map yang berisi semua dokumen pemeriksaan yang telah beliau lakukan. Menurut saya dan kawan-kawan, pasien ini adalah orang yang rapi. Setelah bertanya beberapa hal, diketahui bahwa pasien ini sama sekali tidak memiliki kebiasaan yang dapat menjadi faktor pemicu terjadinya kanker. Bagi kami, bahasa kasarnya adalah " pasien ini tidak memiliki dosa untuk mendapatkan penyakit kanker". Beliau tidak merokok, beliau sangat jarang mengkonsumsi mie instan, dan hal-hal lainnya. Tim dokter pun cukup bingung untuk mencari faktor yang menyebabkan terjadinya kanker pada pasien kedua ini. Sampai, pada akhirnya, seorang dokter muda mengatakan kepada saya, " Inilah yang suka membuat saya bingung, dia (pasien) tidak memiliki kebiasaan apapun yang bisa membuatnya mengidap penyakit kanker, tapi jika ini sudah menjadi kehendak Tuhan, maka inilah yang terjadi".

Hal kedua yang ingin saya ceritakan adalah sebuah kecelakaan yang baru saja terjadi di daerah Jakarta pagi tadi. Sebuah mobil menabrak 12 orang yang sedang berjalan di trotoar dan menyebabkan 9 orang di antaranya meninggal dunia dan 3 orang lainnya kritis. Sungguh menyedihkan dan menyeramkan ketika saya mendengar berita ini. Sebagai pejalan kaki, saya seringkali berpikir, selama saya berjalan di tempat yang seharusnya dan tidak melanggar, maka saya akan terhindar dari hal-hal buruk seperti kecelakaan. Berjalan di tengah jalan lalu tertabrak mobil yang sedang melintas masih mungkin dan biasa terjadi, tapi kali ini , berjalan di trotoar saja bisa tertabrak sampai meninggal. Inilah kuasa Allah.

Persoalan merokok juga sering sekali berkaitan dengan hal ini. Banyak perokok yang mengatakan "yang tidak merokok, juga bisa mati muda" atau "yang merokok sampai tua dan masih hidup dengan sehat juga banyak, jadi untuk apa saya berhenti merokok". Hal serupa juga bisa dikaitkan dengan persoalan kanker yang saya bahas sebelumnya, "Jika yang tidak merokok saja bisa terkena kanker, untuk apa saya berhenti merokok, toh sama saja". Sebenarnya bukan itulah kesimpulannya. Bagi saya, tubuh dan kesehatan yang telah diberikan oleh Allah kepada kita adalah sebuah amanah yang harus kita jaga. Oleh karena itu, kita harus mensyukuri hidup ini dengan selalu menjaga kesehatan kita.

Tidak ada yang bisa menjamin sesuatu dalam hidup kita, karena kepastian itu hanyalah milik Allah, tugas kita hanyalah berusaha dan berdoa demi kebaikan kita. Allah memiliki kuasa penuh atas diri kita. Apapun yang kita inginkan dan usahakan, jika Allah tidak meridhainya maka itu tidak akan terjadi. Hidup, mati, rezeki dan jodoh, semua bergantung kepada kehendakNya. Sebagai hambaNya, kita harus yakin bahwa apapun keputusan Allah itulah yang terbaik untuk kita. Allah knows best!!

Selasa, 03 Januari 2012

Karsinoma dan Jamkesda

Saat ini, aku sedang menjalani stase klinik Penyakit Mulut di RSCM. Disini, aku bertugas untuk membantu para dokter mengisi status pasien dengan baik dan benar. Aku tidak mengerjakan tindakan apapun kepada pasien, sama seperti saat aku bertugas di stase klinik Bedah Mulut sebelumnya, namun sekarang aku mendapatkan lebih banyak pengetahuan baru tentang dunia kesehatan di Indonesia.

Hari ini, aku bertemu dengan pasien yang memiliki penyakit KNF ( Karsinoma Naso Faring ), yaitu sejenis tumor ganas yang menyerang daerah nasofaring. Disini, aku memang sering sekali menghadapi pasien KNF. Hampir setiap hari, selalu ada pasien KNF yang datang ke poliklinik Penyakit Mulut. Sebetulnya, penanganan tumor ini bukanlah bagian dari pekerjaan kami , para dokter gigi. Biasanya pasien ini dirujuk oleh bagian THT ( Telinga Hidung Tenggorokan ) atau dari bagian Radioterapi kepada kami untuk diperiksa apakah ada sumber infeksi dari dalam mulut yang harus dihilangkan agar tidak memberikan dampak yang lebih buruk kepada pasien setelah menjalani perawatan tumornya ( radioterapi dan kemoterapi ).

Pasien yang kutemui hari ini adalah seorang lelaki berusia 60 tahun yang datang didampingi oleh anak perempuannya. Bapak ini berasal dari Parung, seorang petani yang menggarap ladangnya sendiri. Ternyata, anak Bapak ini juga mengalami keluhan yang sama, yaitu benjolan di bagian lehernya. Namun, anaknya ini belum sempat memeriksakan diri kepada dokter. Satu hal yang sangat aku ingat dari penyakit KNF ini. Hampir setiap pasien KNF selalu mengakui bahwa dirinya adalah seorang perokok berat dan pengonsumsi mi instan. Dua hal ini memang telah menjadi faktor yang memicu timbulnya tumor ganas ini. Bapak ini pun termasuk dari pasien KNF yang merokok dan mengonsumsi mi instan dengan rutin dulunya. Bahkan, bapak ini juga sering makan ikan asin dan terasi juga vetsin. Itupun menjadi faktor pemicu dari penyakit ini.

Setelah pemeriksaan selesai dilakukan, akhirnya diputuskan bahwa Bapak ini harus menjalani beberapa perawatan gigi sebelum menjalani perawatan radioterapi. Dokter mulai menanyakan jenis jaminan apa yang digunakan si Bapak. Ternyata Bapak yang seorang petani ini tidak menggunakan jaminan apapun untuk berobat di RSCM. Dokter menjelaskan bahwa perawatannya membutuhkan biaya yang cukup besar karena akan berkali-kali dilakukan. Dokter pun menyarankan Bapak ini untuk segera mengurus jaminan yang bisa digunakan, misalnya Askes atau Jamkesda ( Jaminan Kesehatan Daerah ). Ternyata Bapak ini sudah pernah menggunakan Jamkesda saat berobat di RS.Fatmawati, namun kata beliau, jamkesda tersebut tidak bisa digunakan di RSCM. Beliau menceritakan kepada kami bahwa beliau sudah sempat bolak-balik ke Dinkes untuk mengurus Jamkesda itu namun hasilnya nihil karena mereka tidak percaya bahwa Bapak memiliki penyakit tumor. (KNF itu terlihat seperti benjolan di leher).

Saat aku mendengar cerita Bapak, rasa ibaku muncul. Akhirnya, dokter pun menjelaskan kepada Bapak agar beliau meminta surat keterangan dari bagian radioterapi untuk dibawa ke Dinkes sehingga jamkesda dapat digunakan. Bapak terlihat bingung mendengar penjelasan dokter dan Bapak berkali-kali mengatakan bahwa beliau sudah berusaha untuk mendapatkan jamkesda tersebut namun tidak berhasil. Setelah itu, dokter mengatakan bahwa perawatan gigi yang harus dilakukan itu juga membutuhkan biaya dan dokter sempat menawarkan kepada Bapak, apakah untuk perawatan gigi masih bisa dengan uang sendiri, sambil mengurus jamkesda untuk perawatan tumornya? Bapak menjawab

"Sebetulnya saya maunya begitu dok, tapi sekarang uang saya tinggal ada untuk ongkos aja. Saya tadi abis kecopetan di Bus Patas".

Ya Allah, sedih sekali mendengarnya. Saat itu, rasanya aku ingin marah dengan pencopet di Bis itu. Tapi, aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berdoa agar jamkesda dapat segera digunakan oleh bapak itu di RSCM. Aamiin..

Kamis, 29 Desember 2011

2011 : new life!

Kehidupanku di tahun 2011 telah menjadi awal dari segalanya.

Di tahun ini, akhirnya aku merasakan wisuda yang kuimpikan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar dulu. Mimpi pertamaku telah tercapai. Lulus menjadi seorang sarjana dengan hasil yang membuat orangtuaku tersenyum bahagia. Kelulusan yang euforianya hanya kurasakan dalam waktu satu hari saja karena aku akan menghadapi tantangan baru untuk mencapai mimpiku selanjutnya, menjadi dokter gigi.

Kehidupan klinik mulai ku jalani sejak awal tahun hingga saat ini. Menghadapi sebuah kehidupan baru yang sungguh tak pernah kubayangkan sebelumnya. "Welcome to the jungle" yang dulu sering diucapkan senior ternyata memang sangat tepat diberikan kepada kami, mahasiswa klinik baru.

FKG UI 2007 , insya Allah lulus bareng semua!!

Di dunia klinik, aku mulai menghadapi 'real world'. Disini apapun bisa terjadi tanpa pernah aku bayangkan sebelumnya. "Kekuasaan" telah berkuasa sepenuhnya tanpa memandang kebenaran. Aku harus siap menghadapi semua kemungkinan kegagalan dan berusaha untuk terus semangat demi masa depanku. Berhubungan langsung dengan bermacam karakter pasien dan mengatur jadwal kerja yang harus bisa disesuaikan dengan jadwal pasien, dosen dan klinik adalah keseharianku. Di klinik jugalah, aku mengenal berbagai macam karakter orang, termasuk teman sendiri yang karakter aslinya baru diketahui saat sudah berada di klinik. Kehidupan klinik telah menjadi miniatur kehidupan pasca kampus bagiku dan ini adalah langkah awal untuk mencapai mimpi menjadi dokter gigi.

Selain awal dari masa depanku menjadi seorang dokter gigi, tahun 2011 juga telah menjadi awal dari masa depanku yang lain. Di tahun ini, beberapa temanku telah menjalani fase baru dalam kehidupannya. Dua orang teman SMA ku telah menjadi seorang ibu dan tiga orang teman kampusku telah menjadi seorang istri dan calon ibu. Aku pun mempunyai mimpi yang ingin kuraih di tahun 2012 dan rasanya tahun ini menjadi awal yang pas bagiku untuk mulai memikirkannya. Alhamdulillah, Allah telah memberikan jalan bagiku untuk mengawalinya. Di tahun ini, beberapa kejadian telah mengantarkanku pada pemikiran yang lebih lanjut dalam mencapai mimpiku ini. Walaupun , perjalanan ini masih panjang, namun aku sudah mulai bisa menyusun rencana untuk meraih masa depanku yang lain di tahun depan.

2011 telah meninggalkan begitu banyak kenangan yang akan terus hadir dalam ingatan. Persahabatan yang selalu menjadi kekuatan utamaku semakin kurasakan keindahannya. Rasa syukur dan ikhlas telah menunjukkan keajaibannya dengan luar biasa di tahun ini.

Terima kasih ya Allah atas segala perasaan yang pernah kurasakan di tahun 2011. Kasih, sayang, sedih, marah, bahagia dan semua perasaan yang membuatku semakin merasakan anugrah dan cinta dariMu. Terima kasih ya Allah, Alhamdulillah..

*quote of the year : Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, hasil akhir tetap menjadi kehendakNya...

Kamis, 15 Desember 2011

Garuda dan Sepakbola

Alhamdulillah. Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk menonton premier sebuah film nasional secara gratis karena adanya kerjasama antara kampus saya dengan perusahaan yang menjadi sponsor film tersebut. Saya dengan teman kelompok saya ditugaskan mengajak 65 anak SD binaan kampus saya untuk menonton premier film tersebut bersama-sama. Ini pengalaman pertama bagi saya untuk menonton premier sebuah film nasional. Disamping banyaknya artis-artis yang datang, saya juga bisa merasakan menonton film bersama para pemain di satu studio yang sama.

Tapi, bukan itu intinya.

Film yang saya tonton berjudul sama dengan sekuel pertamanya, Garuda di Dadaku 2. Sebuah film yang mengisahkan kehidupan sepakbola di tanah air kita tercinta. Kalau di film pertama, sang pemeran utama masih berusaha dari nol untuk menjadi pesepakbola nasional, di film kedua ini, masalah yang dihadapi pemeran utama adalah bagaimana caranya mempertahankan prestasi di tim nasional. Banyak sekali nilai-nilai yang bisa diambil dari film berdurasi sekitar 2 jam ini. Persahabatan , arti keluarga, cinta di masa SMP, dan juga tentang kondisi negeri kita saat ini.

Garuda di Dadaku telah menjadi simbol kecintaan masyarakat Indonesia atas olahraga yang satu ini. Olahraga yang nyatanya telah banyak disusupi intrik dan politik kotor yang merugikan banyak pihak, termasuk masyarakat Indonesia itu sendiri. Di film GDD 2 , kondisi sepakbola di Indonesia saat ini dapat digambarkan sang sutradara dengan cukup baik. Banyaknya campur tangan partai sponsor terhadap para pemain dan juga soal pelatih yang disingkirkan karena tidak mau menuruti kemauan para pengurus.

Kondisi sepakbola di negeri ini memang belum mengalami perbaikan yang signifikan. Harapan akan perubahan ke arah yang lebih baik setelah pergantian pengurus ternyata pupus sudah. Kenyataannya, persoalan sepakbola masih akan terus dihantui oleh tangan-tangan licik para politikus dan antek-anteknya. Ketua yang baru seolah-olah hanya ingin membalas perlakukan ketua sebelumnya tanpa mementingkan kemajuan sepakbola Indonesia dengan lebih baik. Entah kapan, mimpi akan sepakbola Indonesia yang sukses bisa tercapai. Tapi, selama kita masih bisa bermimpi, maka masih ada kemungkinan mimpi itu tercapai suatu saat nanti.

Saya hanyalah penonton film dan penggemar sepakbola yang merasa miris dengan kondisi sepakbola negeri kita saat ini. Semoga suatu saat nanti, ada yang bisa saya lakukan selain menulis tulisan ringan bobot ini , demi kemajuan sepakbola Indonesia.

Garuda di Dadaku, Garuda Kebanggaanku,
Kuyakin, Hari ini, Pasti menang!!


Senin, 28 November 2011

The power of smoke

Menurut wikipedia, rokok adalah

"Silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya."

Berdasarkan pernyataan di atas, rokok menjadi terlihat sangat sederhana. Rokok hanyalah silinder sepanjang jari tangan manusia dewasa yang berisi tembakau dan dapat dihisap. Namun, bagi saya, rokok tidak sesederhana itu.

Dampak buruk dari rokok sudah diketahui oleh masyarakat dengan cukup jelas. Hal ini juga sudah tertulis di setiap bungkus rokok yang mungkin hanya dianggap sebagai titik kecil yang tidak terlihat oleh para perokok. Salah satu dampak buruknya adalah kondisi kesehatan gigi mulut yang tidak baik. Sebagai calon dokter gigi, saya sudah cukup sering berhadapan dengan pasien perokok. Bahkan, sebelum saya menanyakan kebiasaan buruk pasien ( merokok ), saya sudah bisa mengetahui apakah pasien tersebut merokok dari kondisi gigi mulutnya yang tidak baik dan bau khas tembakau dari mulutnya. Kasus kanker atau tumor di mulut yang sering saya temukan juga memiliki kaitan yang kuat dengan riwayat rokok. Bagi praktisi kesehatan, merokok adalah kebiasaan buruk. Namun, pada kenyataannya, masih banyak praktisi kesehatan yang merokok dengan tenang.
The power of smoke #1: Rokok membuat para ahli dan praktisi kesehatan menutup mata atas efek buruk dari rokok terhadap kesehatan diri dan keluarga mereka sendiri

Selain membahayakan kesehatan, rokok juga mempengaruhi kehidupan perekonomian seseorang. Saya tidak membicarakan para jutawan yang memiliki cukup banyak uang untuk dibuang menjadi asap. Saya membicarakan orang-orang yang masih menikmati pekerjaannya sebagai pengemis dan menggunakan uang hasil mengemisnya tersebut untuk membeli silinder sepanjang 12 cm dibandingkan sebungkus nasi untuk diri dan keluarganya.
The power of smoke # 2 : Rokok telah membuat seseorang, dengan kondisi ekonomi yang kurang, lebih memilih untuk tidak makan dibandingkan tidak merokok

Di samping membahayakan kesehatan perokok, rokok juga dapat mempengaruhi kesehatan orang-orang di sekitar perokok karena menghidup udara yang telah terkontaminasi asap rokok dengan zat kimia di dalamnya. Peraturan mengenai kawasan anti rokok hanya menjadi wacana yang terus dilanggar oleh para perokok yang mungkin salah satunya adalah pembuat peraturan itu sendiri. Para pemimpin lembaga negara atau bahkan pemimpin keluarga tidak lagi memperhatikan kondisi orang-orang disekitarnya. Padahal mereka memiliki tanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya.
The power of smoke # 3 : Rokok telah membuat para pemimpin mengabaikan amanahnya untuk bertanggung jawab atas yang dipimpinnya dan rokok telah membuat "rules maker" menjadi "rules breaker"

Iklan mengenai bahaya rokok sudah semakin sering ditayangkan di televisi. Kampanye anti rokok pun semakin gencar dilakukan oleh para "musuh rokok". Namun, iklan-iklan rokok yang ada di televisi dan media cetak juga semakin meriah. Rumah-rumah dan warung-warung yang berada di pinggir jalan raya pun semakin didominasi oleh lambang-lambang rokok. Acara musik dan acara olahraga pun dikuasai oleh perusahaan rokok. Bahkan, atlet yang menggambarkan sosok 'paling sehat' pun mengiklankan rokok.
The power of smoke #4 : Begitu banyak yang mengkampanyekan anti rokok, tapi lebih banyak lagi yang mengiklankan rokok.

Persoalan rokok ini memang belum bisa diselesaikan karena saat ini, siapa yang beruang, maka dia yang berkuasa dan rokok adalah pihak yang memiliki uang dan kekuasaan. Entah apa yang membuat para perokok memiliki prinsip " saya bisa mati jika saya tidak merokok". Entah apa yang dapat menyadarkan mereka bahwa udara yang mereka hirup itu juga dihirup oleh banyak orang di bumi ini.

Jika saja para perokok mau menggunakan hati nuraninya. Mereka tidak perlu memikirkan banyak orang di dunia ini, mereka juga pasti sudah tidak lagi memikirkan kesehatan diri mereka sendiri, tapi paling tidak, pikirkanlah orang-orang yang mereka sayangi, keluarga mereka. Walaupun keluarga mereka mungkin tidak sering terpapar asap rokok tapi ketika mereka meninggal karena rokok, apakah keluarga mereka sudah siap menghadapinya?

Perubahan perilaku diawali dengan kesadaran dan keinginan. Kita hanya bisa mengingatkan mereka dengan sabar karena kesadaran dan keinginan harus benar-benar timbul dari diri mereka sendiri. Oleh karena itu, mulai saat ini, jika ayah, kakak, suami, adik, paman atau siapapun sedang merokok, ingatkanlah mereka. Karena jika kau tidak bisa mengubah seseorang dengan perbuatan, maka lakukanlah dengan perkataan.

Stop smoking for a better future!